Diko bersyukur bisa mengenal keluarga Dita, perlahan ia mulai bisa memaafkan dan melupakan rasa dendamnya pada Dina. Karena yang Diko lihat, Dino memanglah pria yang baik, bertanggung jawab, dan sangat tepat untuk menjaga Dina. Baru Diko sadari itu, karena Dino lebih berani melamar Dina saat itu dibanding dirinya yang pengecut. Jadi tak ada lagi alasan untuknya membalas dendam, sepertinya ikut Dita ke rumahnya adalah cara yang tepat untuk menyembuhkan luka hati pikirnya. Karena berhadapan langsung dengan hal yang menyakitkan itu sendiri, tanpa disadari bisa menyembuhkan luka hatinya. * Selesai makan malam, Dita dan Diko sedang berbincang di depan teras rumah Dita. Dengan ditemani suasana malam yang begitu syahdu dan segelas teh hangat untuk menemani perbincangan mereka. “Kebiasaan deh kamu kenapa suka melamun?” tanya Dita membuat pikiran Diko yang sedang menerawang kembali ke pusatnya. “Eh, nggak kok. Aku merasa nyaman aja ada di tengah keluarga kamu. Makasih ya kamu udah ajak aku kesini,” jawab Diko tulus. “Makasih? Keluarga aku nggak ngelakuin apa pun, cuma ajak makan malam aja,” ujar Dita masih tidak mengerti dengan yang di maksud Diko. “Iya makasih, karena udah buat aku merasakan artinya kebersamaan dengan keluarga. Kamu tahu? Aku udah nggak pernah ngerasain ini, bahkan makan bersama pun nggak pernah lagi sejak bisnis papa makin berkembang orang tuaku nggak ada waktu lagi untuk sekedar berkumpul makan bersama. Kalau pun iya itu pun hanya di acara atau pesta-pesta dengan relasi bisnis aja,” ujar Diko mencurahkan isi hatinya. Dita mengangguk paham dengan apa yang dirasakan oleh Diko, “Kamu sabar ya, aku yakin suatu saat nanti keluarga kamu bakal bisa kumpul lagi kayak dulu,” katanya menghibur Diko. Tiba-tiba Diko menggenggam tangan Dita. Merasa kaget Dita lalu menoleh pada Diko, “Kenapa Diko?” tanyanya seraya melirik ke arah genggaman tangan Diko. Diko menggeleng lalu tersenyum, “Aku bersyukur Tuhan kirim kamu ke hidup aku di waktu yang tepat,” ujar Diko. Dita mengernyitkan keningnya tak mengerti dengan maksud Diko. “Aku mau jujur sama kamu kalau sebenernya... aku mulai ada perasaan sama kamu,” kata Diko memberanikan diri mengungkapkan isi hatinya pada Dita. Hening... Dita masih menatap fokus pada mata hazel Diko seraya menunggu kalimat apa yang akan Diko katakan selanjutnya, “Aku... sayang sama kamu, Dita. Apa kamu mau membuka hati kamu untuk aku?” tanya Diko hati-hati. “Kamu nggak lagi bercanda kan Diko?” tanya balik Dita karena tidak percaya dengan ucapan Diko. Dengan cepat Diko menggeleng, “Aku beneran sayang sama kamu, Dita. Ya mungkin ini terdengar nggak masuk akal dan terlalu cepet buat kamu, tapi ya... memang ini yang aku rasain ke kamu. Aku cuma mau kamu tahu perasaan aku, itu aja,” jawab Diko seraya mengeratkan genggaman tangan mereka untuk meyakinkan Dita. Dita hanya tersenyum tidak tahu harus menjawab apa, “Aku bingung harus jawab gimana, jujur aku belum siap untuk...” “Nggak masalah, aku nggak maksa buat kamu terima cinta aku. Aku cuma mau kamu tahu perasaan aku, dan aku pengen kamu coba buka hati buat aku.” Dita mengangguk, “Aku coba ya Diko, maaf karena aku rasa ini memang terlalu cepat. Dan juga...,” “Apa ada masalah?” “Ehmm, Joe. Sebelum kamu, dia juga udah nyatain perasaannya tapi aku belum kasih jawaban apa pun.” “Apa kamu mencintai Joe?” tanya Diko menyelidik. Dengan cepat Dita menggeleng, “Aku belum tahu Diko, hanya saja aku dan Joe sudah bersahabat sejak lama. Aku memang sayang sama dia, tapi itu hanya sebatas sahabat.” “Lalu, apa masalahnya? Kenapa nggak langsung kamu tolak dia?” tanya Diko lagi. “Karena aku mau yakinin hati aku dulu, supaya aku nggak menyesal nantinya,” jawab Dita dengan yakin. “Lalu aku bagaimana? Apa kamu nggak punya perasaan sedikit pun sama aku?” tanya Diko penasaran. “Jujur sebenernya...” “Dek..., kesini sebentar,” panggil Dino dari dalam rumah. “Iya kak, aku permisi sebentar ya,” pamit Dita lalu di jawab dengan anggukan oleh Diko. “Belum pulang juga teman kamu? Ngobrolin apa aja sih kalian lama banget,” tanya Dino penasaran. “Apa sih kak Dino kepo banget, jadi ada apa manggil aku?” tanya Dita balik. “Nggak ada apa-apa sih, cuma pengen tahu aja. Dia nembak kamu? Kok kayak serius banget dari tadi,” bisik Dino seraya memperhatikan Diko dari dalam rumah. “Kak Dino, kalau nggak ada hal penting lebih baik kakak tidur ya temenin kak Dina tuh kasian di kamar sendirian. Jangan kepoin aku terus,” usir Dita. “Kamu nih sama kakak sendiri juga, kakak di sini mau melindungi kamu kalau misal dia macam-macam nanti.” “Macam-macam gimana, orang kita cuma ngobrol biasa. Dan lagi pun aku bisa teriak kan nanti, jadi nggak usah khawatir ya udah sana masuk kamar bye,” ujar Dita seraya keluar dari rumah dan menghampiri Diko lagi. Diam-diam Dino tetap mengawasi adiknya tersebut dari dalam rumah, ia tidak ingin ada seorang pria pun yang menyakiti adik tersayangnya. Ia akan melakukan apa pun untuk melindungi orang-orang yang ia sayangi. * * * Next...
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (102)
salmasani
suka banget sama cerita roman seperti ini, bikin gemes sama tokohnya. 😁
suka banget sama cerita roman seperti ini, bikin gemes sama tokohnya. 😁
19/01/2022
1CERITA BAGUS SANANG BAGUS
16/05/2025
1bagusssss
05/05/2025
0Lihat Semua