logo text

Bab 10 Berkunjung ke rumah

“Jadi di sini Dina tinggal sekarang, bersama keluarga kecilnya. Aku harus mengambil kesempatan untuk bisa berbicara dengannya, tapi apa ini waktu yang tepat,” batin Diko seraya mengamati rumah Dita dari luar.
“Terima kasih ya Pak, maaf maksud aku Diko udah mau nganterin aku pulang. Apa kamu mau mampir?” tawar Dita.
“Apa boleh?” tanya Diko balik.
“Tentu saja boleh, itu pun kalau kamu mau.”
“Baiklah, aku parkir di sini ya mobilnya,” ujar Diko dan di jawab dengan anggukan oleh Dita. Lalu mereka berdua pun turun bersama dari mobil.
Saat akan masuk ke dalam rumah, Dina sedang menggendong Daniel yang sejak tadi rewel lalu ia membawanya keluar rumah untuk menenangkan anaknya. Tanpa ia duga dirinya bertemu lagi dengan mantan kekasihnya, Diko.
Dina dan Diko saling bertatapan, pandangan yang tidak dapat di artikan. Namun beberapa detik kemudian Dita mengalihkan tatapan mereka dan mereka pun berpura-pura untuk tidak saling mengenal sebelumnya.
“Daniel kenapa kak? Sini sama aunty sayang,” tanya Dita seraya mengambil Daniel dari gendongan Dina.
“Iya nih dari tadi rewel terus, kangen sama kamu kayaknya,” sahut Dina.
Benar saja Daniel langsung terdiam begitu berada di gendongan Dita. Daniel memang sangat akrab dengan Dita, karena sejak ia lahir Dita lah yang membantu Dina merawat Daniel hingga sekarang. Daniel selalu mencari tantenya, jika sehari saja tidak bertemu maka ia akan rewel.
“Cup.. cup.. ya sayang, aunty udah di sini. Jangan sedih lagi ya,” hibur Dita seraya mencium pipi Daniel.
Diko hanya terdiam menyaksikan Dita yang menenangkan keponakannya seperti anaknya sendiri, melihat itu Diko merasakan kehangatan tersendiri di hatinya yang belum pernah ia rasakan sebelumnya bahkan saat dengan Dina dulu. Perlahan ia tersenyum seakan meresapi kehangatan dan kedamaian dalam hatinya.
Dita baru tersadar jika ia tidak pulang sendiri melainkan bersama Diko, “Maaf sampai lupa, kak kenalin ini teman aku namanya Diko.”
“Ah ya Diko ya, saya Dina kakak iparnya Dita,” kata Dina berpura-pura baru mengenal Diko, seraya mengulurkan tangannya.
Dengan sedikit ragu Diko menyambut uluran tangan Dina dan mereka berjabat tangan beberapa saat, “Salam kenal, saya Diko,” katanya singkat lalu melepas jabatan tangan mereka.
“Yaudah yuk, ajak masuk dek temannya. Kakak siapkan makan malam dulu ya,” ujar Dina seraya berjalan ke arah dapur.
“Oke kak, yuk masuk Ko,” ajak Dita.
Diko hanya mengangguk sambil mengikuti Dita untuk masuk ke rumahnya. Terlihat Dave, papi Dita sedang duduk di ruang tamu sambil menonton acara di televisi.
“Pi, Dita udah pulang,” kata Dita seraya mencium tangan papinya, diikuti oleh Diko.
“Malam om, kenalkan saya Diko temannya Dita,” ujar Diko memperkenalkan dirinya.
“Malam, tumben kamu bawa teman. Laki-laki lagi jangan bilang kalau kalian...,” goda Dave seraya tersenyum genit pada anaknya.
“Apa sih papi, Diko ini atasan aku di kantor tempat aku kerja sekarang. Diko aku ajak mampir karena udah nganterin aku pulang, kasian kan kalau langsung pulang gitu aja jadi aku ajak mampir dulu kesini,” kata Dita menjelaskan.
“Iya.. iya sayang, justru papi senang kamu sudah mau membawa teman pria kamu ke rumah ya nak Diko,” sahut Dave seraya melirik Diko.
“Oh iya om,” jawab Diko seraya tersenyum malu-malu.
“Yaudah aku mau nidurin Daniel dulu ya di kamarnya, Diko aku tinggal sebentar nggak papa ya?” tanya Dita lalu dijawab dengan anggukan oleh Diko.
“Oh ya nak Diko, om permisi juga mau ke kamar mandi ya. Kamu santai saja dulu disini, nanti kita makan malam bersama.”
“Baik om,” sahut Diko diiringin dengan senyum manisnya.
Diko mengamati sekeliling rumah Dita, terdapat foto keluarga dengan ada Dina di dalamnya yang tersenyum bahagia sambil menggendong seorang anak kecil yang bisa ditebak itu adalah buah hatinya bersama Dino. Di samping keluarga kecil Dina ada foto Dita bersama Papi dan Maminya saat masih kecil, senyuman yang manis pikirnya dan senyuman itu yang hingga sekarang terlihat masih sama pada Dita yang beranjak dewasa.
Beberapa saat kemudian, masuklah ke dalam rumah seorang pria dengan perawakan tingginya hampir sama dengan Diko namun dengan kulit yang sedikit lebih gelap dan itu adalah Dino, suaminya Dina. Diko dan Dino saling melihat satu sama lain beberapa saat, sebelum kemudian Diko memperkenalkan dirinya sebagai teman Dita.
Makan malam pun dimulai, awalnya Diko merasa canggung karena harus berhadapan dengan mantan kekasihnya. Namun Dina terlihat sangat santai dan menganggap Diko bukan masalah lagi buatnya, energi itu membuat Diko bersikap yang sama hingga ia sangat menikmati waktu bersama keluarga Dita.
Makan bersama dengan keluarga, suatu hal sederhana yang hampir tidak pernah Diko lakukan dengan keluarganya. Keluarga Diko disibukkan dengan bisnisnya masing-masing, sehingga tidak pernah ada waktu bersama untuk sekedar makan bersama dengan keluarga.
Namun dengan keluarga Dita, Diko seakan menemukan kembali kehangatan keluarga yang pernah ia rasakan saat kecil dulu dimana mama dan papanya selalu ada untuknya. Tidak seperti sekarang, mereka seakan mempunyai dunianya sendiri-sendiri.
*
*
*
Next...

Komentar Buku (102)

  • avatar
    salmasani

    suka banget sama cerita roman seperti ini, bikin gemes sama tokohnya. 😁

    19/01/2022

      1
  • avatar
    PonselXiaomi

    CERITA BAGUS SANANG BAGUS

    16/05/2025

      1
  • avatar
    SaebahIneu

    bagusssss

    05/05/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru