logo text

Bab 10 Elfreim's Message

“Selamat ya Dim, kamu bisa punya cowok setampan dan se-high class Juno!” Zia memeluk Dimi erat, seakan Dimi telah memenangkan lomba terbaik sepanjang tahun dan aku adalah salah satu peserta yang kalahnya. Tanpa sadar aku menggigit sudut bibir.
“Ayo bayar, Dim!”
“Hei, bukan aku saja tahu yang kena Pajak Jadian. Mina juga!”
“Kya!! Dimii!”
“Barusan aku melihatnya ditembak senior sastra Jepang di taman kampus. Pajak Jadian kali ini harus dibagi dua dong, biar adil!”
“Yang mana? Yang mana?”
“Ah, Dimi…aku kan mau berhemat!”
Seharusnya adegan yang terjadi sangatlah lucu. Seharusnya aku tersenyum lepas sekarang, melihat tingkah Mina yang menggemaskan, sikap heboh Zia, ucapan memanas-manasi Stepani dan gaya tak mau kalah Dimi. Seharusnya aku bisa. Tapi yang terjadi malah perasaan teriris yang menyakitkan. Ketika harapan menghilang, the sick of broken heart. Ketika lebih memilih menyimpan semua perasaan ini sendiri dan menyadari tidak ada yang tahu bahkan simpati padaku.
Kuputuskan untuk mengundurkan diri dari lingkar harmoni mereka seperti biasa. Aku tahu aku tampak dingin dan kaku untuk genk kelewat ramah seperti mereka. Tapi entah kenapa, aku selalu bisa bergabung kembali dan sering melangkah bersama mereka.
Mengenyahkan pikiran tentang persahabatan, aku melangkah cepat menuju ruang laboratorium. Ada tugas yang diberikan Mr.Lee untukku, aku harus segera bergegas sebelum tugasku diberikan ke mahasiswa lain.
“Sayang, mau kemana?” langkahku terhenti melihat dua orang pemuda seperti brandal berjalan dari dua arah yang berbeda, tersenyum licik menghalangi jalanku.
“Kalian mau apa?!” tanyaku, bersikap seketus mungkin.
“Diata, Diata…apa kamu tidak ingat pernah menjalin cinta bersama pemuda setampan diriku?” salah satu dari kedua brandal itu membuka topinya, memperlihatkan wajah mulusnya yang terlalu mulus untuk disebut sebagai laki-laki.
Alis sebelah kananku terangkat, merasa tidak mengenali pemuda itu sama sekali. “Maksudmu? Maaf, aku sedang tidak ada waktu untuk berdebat saat ini. Minggir!” kucoba menghindar, namun kalah cepat karena ia segera menarik tanganku dengan kasar dan menatapku marah.
“Aku pacarmu yang kau campakkan dua bulan yang lalu!! Kenapa kau bisa setega ini, DIATA!!”
Aku menatapnya tanpa ekspresi, lalu berpaling melihat teman laki-laki itu yang berbadan lebih besar terus melihatku dengan pandangan mengawasi. Aku tidak tahu. Aku tidak pernah merasa punya pacar seperti dirinya.
“Kenapa kamu mencampakkan aku, Diata sayang?” ia mengengam kedua tanganku dan mengangkatnya dengan sikap memohon. Ia terlihat terluka sepertinya.
Merasa ini hanya membuang waktu, aku berusaha melepaskan diri.
“Aku lupa, namamu saja aku tidak tahu.”
Matanya terbelalak, ia tampak sangat marah. Ketika ia mengunci tanganku dengan tenaga laki-laki, aku mulai kesakitan. Aku baru sadar ini akan berakhir buruk.
“Hei dud,” DUG!
Seseorang meninjunya dari belakang hingga terjungkal, lalu ia menendang laki-laki yang lain dengan telak dan beberapa pukulan jitu sebagai tambahan. Aku jatuh tersudut melihat adegan perkelahian yang begitu cepat dan menawan. Hanya butuh satu menit. Eh, tidak. Butuh beberapa detik saja untuk melihat dua pemuda yang mengangguku menyerah dan berlari ketakutan sampai sosoknya tidak terlihat lagi.
“Uh, chicken.” Ledek satu orang pemuda yang tertinggal.
Mataku menyipit lalu mulutku terbuka dalam waktu bersamaan. “EL! Oh My God, you again!!”
Ia menoleh, tersenyum sinis. “You're welcome.”
Aku mendekatinya, masih dengan sikap siaga. “Kamu kuliah di sini juga?”
“Mana mungkin, bukan levelku belajar di tempat seperti ini, bahkan fountain saja tidak ada.” El menyeka keringat di dahinya seperti model iklan penambah ion tubuh. Pakaiannya memang casual dengan T-shirt putih dan jeans, tapi potongan rambut hitamnya yang tersisir rapi ke belakang membuatnya seperti anggota mafia yang mencoba berbaur. Aneh, seperti kelakuannya yang satu ini. sok-high class dengan tingkat kesombongan tertinggi. Aku sama sekali tidak habis pikir bisa mengenalnya di kehidupanku yang sudah cukup sempurna ini.
“Lalu ada perlu apa ke sini? Menemui Dimi?” tebakku langsung, aku ingin sekali pergi dari tempat ini dan langsung bekerja di laboratorium, sampai malam kalau perlu.
El menghela nafas, “Bukan. Aku ingin menemuimu.”
***
Karena sikap serius dan aura kuasa El aku seakan terhipnotis menuruti keinginannya. Sambil memberikanku minuman bersoda, kami duduk di sudut pekarangan kampus yang tampak jauh dari keramaian.
“Aku tidak peduli apa perasaanmu, tapi perlu kuberitahu. Akhir-akhir ini Juno akan memerlukan bantuanmu.” Ucap El, dengan nada dingin seperti biasa.
“Apa?” otakku langsung berputar cepat, tidak mau percaya begitu saja.
“Kau tuli ya?”
Wajahku berubah kesal, El pun melanjutkan bicara. “Juno akan sangat membutuhkanmu nanti, kusarankan kau bisa memanfaatkan keadaan.”
“Maksudmu apa, El? Minta bantuan apa?”
“Nanti juga tahu.” gumamnya seraya menegak minuman kaleng itu sampai habis.
Aku terus berpikir. “Lalu memanfaatkan seperti apa?”
“Tidak perlu kuberitahu, kau pasti sudah tahu.” ia menoleh, menatapku serius. “Kau termasuk temannya Dimi kan?”
Aku mengernyit, tidak suka dengan obrolan rumit ini. “Yaa bisa dibilang seperti itu.”
“Tolong jaga dia.” aura arogannya menghilang, berganti dengan aura kekhawatiran yang dalam. “Jangan biarkan ia terlalu mencintai Juno, cukup sebatas suka saja.”
“Kenapa, kau cemburu?”
“Ya. I’m jealous.” Hening sejenak lalu El bergumam pelan. “Dan terlalu berbahaya baginya.”
Aku tidak mengerti, namun perhatian El untuk Dimi membuatku bersedih. “Kalau begitu bagaimana dengan perasaanku? Kak Juno…”
“Kau bisa mengatasinya.” El memotong ucapanku, untuk sekian detik kami saling pandang. Aku bisa melihat pantulan diriku di mata hitamnya yang tajam. Aku begitu kacau dengan ekspresi terluka yang terlihat jelas. I really need help I think.
“Ssstt! Itu kan Diata, lihat dia bersama siapa?”
“Wow…tampannya! Itu pasti pacar barunya.”
Sekelompok wanita berjalan melewati kami, saling berbisik dengan lirikan mata penasaran.
“Udah cantik, pacarnya tampan pula. Irinya…” mendengar komentar seperti itu membuatku responsif memasukkan tanganku ke ruang di lengannya yang besar dan kuat. El memang tidak setampan Kak Juno, tapi ia bisa mempertahankan citra mempesonaku sebagai mahasiswi populer.
Aku tersenyum ke arah mereka, memperlihatkan betapa serasinya aku dengan pasangan fake ku. Namun kenyataan pahit kuterima, aku lupa menyadari bahwa laki-laki di sebelahku ini sama sekali tidak bersahabat.
Dengan ekspresi datarnya, ia mendorongku menjauh. Merasa tidak mengenal dan tidak peduli dengan pencintraanku. UH! Mood baikku hilang seketika. Aku sudah tidak peduli lagi dengan pandangan bingung orang-orang yang melihat kami. Aku menatap tajam ke arah El, menuduhnya tidak bisa diajak kerja sama.
“Kenapa? Wanita yang tangannya seharusnya berada di lenganku bukanlah kau.”
Tiba-tiba El berdiri, tidak sabar menungguku mengumpulkan kalimat untuk memarahinya.
“Aku harus pergi. Ingat saranku, Diata.”
Kubalas tatapannya dengan wajah tak minat.
“Manfaatkan kesempatan itu untuk berada di sisi Juno. Dan jangan lupa, usahakan untuk tidak menyakiti hati wanitaku, Dimi.”
***

Komentar Buku (54)

  • avatar
    FajeriansaFaje

    ANJIR COBA BANYAK AKU NONTON SAMPAII LIBET HP KUU ANJJING ANJJING

    18/08/2025

      0
  • avatar
    MaisaraRini

    bagus bangeeeettttt

    26/04/2025

      0
  • avatar
    FauzianaAtika

    sangat bagus ceritanya

    16/03/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru