logo text

Bab 10 Terasa Lelah

Wening pulang sekolah dengan lesu, latihan cheerleader hari ini benar-benar membuatnya lelah. Belum lagi, Bu Amira dengan segala latihan konyolnya.
Setelah meletakkan sepedanya, Wening segera melepas sepatunya, mencuci tangan dan kakinya, lalu masuk ke dalam rumah. Kicau perutnya terdengar nyaring, rasa lapar sudah mendera sejak tadi. Tanpa melepaskan seragamnya, Wening segera membuka tudung saji. Tapi ternyata kosong, tak ada lauk yang tersedia di atas meja, bahkan rice cooker juga dibiarkan terbuka tutupnya, pertanda nasi pun juga tak ada.
Tidak ada satu umpatan pun yang keluar dari mulutnya, seperti halnya orang lain, yang jika marah langsung mengumpat kasar. Dia hanya diam, dan gegas ke kamarnya. Di ruang keluarga, adik-adiknya sedang sibuk bermain gawai. Kegiatan sehari-hari mereka hanya bermain game online, dan menghabiskan banyak sekali kuota internet. Jika dibilang tidak adil, tentu saja Wening akan merasa ibunya tidak adil terhadapnya. Tapi bagi Wening, saat ibunya tidak marah-marah padanya, hal itu sudah cukup membuatnya bahagia.
"Mbak, tumben baru pulang! tadi dicariin Emak lo! marah kayaknya!" ucap Arjuna, adik Wening, saat gadis itu hendak masuk ke kamar.
"Sekarang Emak di mana?" tanya Wening santai.
"Di rumah Bu RT, paling bentar lagi pulang," sahut Lani.
"Oh," tukas Wening.
"Mbak, kalau pergi ke sekolah naik sepeda, jangan lewat jalan utama ya," timpal Rama.
Wening mengeriyitkan keningnya.
"Kenapa memang?" tanya Wening.
Rama membanting ponselnya ke atas bantal.
"Kenapa?! malu lah Mbak! aku jadi bahan gunjingan teman-temanku, apalagi ada cewek yang ku taksir!" sentak Rama.
"Malu kenapa Rama? Mbak kan gak maling, bukan tahanan, dan gak ngemis, kenapa kamu mesti malu?!" tukas Wening, masih bernada datar.
Rama berdecak kesal. "Pokoknya aku malu Mbak! mereka bilang, Mbak itu gendut, jelek, sekolah naik sepeda, dan masih banyak lagi lah!" tukas Rama. Rama bersekolah di tempat yang berbeda dengan Wening dan juga Arjuna, tapi masih dalam kategori sekolah elite juga di tempatnya. Sedangkan Lani masih duduk di bangku SMP. Sebenarnya jarak umur antara Wening dan Arjuna sekitar tiga tahun, tapi karena Wening terlambat masuk sekolah, jadi selisih sekolah mereka hanya satu tahun.
"Iya Mbak, mending Mbak lewat gang belakang! aku juga malu, setiap Mbak Wening berangkat sekolah, pasti teman-temanku mengejekku. 'Eh! itu Kakakmu kan? si goweser gendut! yang sering jatuh masuk ke got?!' kata mereka sambil ketawa-ketawa!" timpal Lani ikut menyudutkan Wening.
"Kenapa kalian berdua memojokkan Mbak Wening sih?" sela Arjuna.
Wening yang sedari tadi menyimak protes kedua adiknya, mengulas sedikit senyuman karena Arjuna nampaknya hendak membelanya.
"Lah aku?! satu sekolah! dan kalian tau kan kalau sekolahku itu favorit anak-anak konglomerat?! coba bayangkan kalian jadi aku!" lanjut Arjuna.
Kecewa dan sedih, mendarat menjadi satu dalam hati Wening. Ternyata Arjuna juga ingin menghinanya.
"Jadi mau kalian apa?" tanya Wening.
"Ya, kami malu punya Mbak, seperti Mbak Wening!" ketus Lani.
"Benar, dan Mbak itu jangan banyak tingkah deh di sekolah. Semua orang juga tau, Mbak Wening sering deketin Jacky, padahal Jacky kan pacarnya Siska!" sahut Arjuna.
Wening mengerjapkan matanya, lalu tersenyum ke arah ketiga adiknya.
"Pertama, baiklah! Mbak akan lewat jalur belakang, kalau kalian malu punya Mbak yang naik sepeda saat pergi ke sekolah. Kedua, kamu Arjuna, kamu tidak tau apa-apa, yang kamu lihat dan dengar, tidak semuanya benar. Jadi sebaiknya tidak perlu berkata seperti itu, Mbak tidak pernah punya hubungan apapun dengan Jacky selain pertemanan, dan Siska? dia bukan pacarnya Jacky. Paham?!" jelas Wening. "Satu hal lagi, kalau kalian malu punya Mbak seperti aku, ya! tidak masalah. Tapi aku mohon, jangan campuri urusan pribadiku, atau menghinaku dengan mengatakan kalau aku mendekati seseorang, siapapun itu!" kecam Wening.
"Kamu memang pantas dihina!" Ibu mereka ternyata sudah berdiri di ambang pintu ruang tamu. "Kamu Ning! kamu memang pantas dihina!" ulang ibunya lagi.
"Kenapa Mak?!" tanya Wening tidak mengerti.
"Semua orang sudah membicarakan kedekatanmu dengan Jacky, Emak gak nyangka! ternyata kamu itu materialistis ya?! kelihatannya aja polos! sampek kamu bela-belain ribut sama Siska anaknya Pak Imron yang kaya itu?! kamu itu benar-benar memalukan Ning! dan sekarang kamu berani membentak adikmu?!" sentak Tiwi. "Aku saja yang ibunya, tidak pernah berkata kasar seperti itu ke Arjuna! lah kamu?! berani sekali?!" hardik Tiwi lagi.
"Wening cuman,-"
Plak... Lagi-lagi dengan entengnya, telapak tangan Tiwi mendarat di wajah Wening.
"Cuma apa?! pulang sore, kencan sama Jacky? biar dapat uang jajan?!" tuduh Tiwi.
Wening terdiam, sekali lagi, dia berpikir bahwa tidak ada gunanya berdebat dengan ibunya.
"Latihan, mau ada lomba," jawab Wening singkat.
Derai tawa Tiwi membahana di ruang tamu.
"Latihan jadi apa? lomba apa?! lomba jadi wanita gatal! Ning! kalau kamu tidak bisa menjadi anak yang penurut, setidaknya jangan membuat malu keluarga!" bentak ibunya.
Tidak seberapa rasa tamparan yang Wening terima, dan mungkin juga, kata-kata yang terucap dari bibir ibunya, juga tidak melukai fisiknya. Tapi bagaimana pun juga, Wening adalah manusia biasa yang punya batas sabar. Tidak ada satu menit semua kata itu terucap, dan sebagai gantinya, Wening harus menyembuhkan luka hatinya, mungkin seumur hidupnya.
Wening sendiri juga belum tau pasti, di mana letak kesalahannya. Apa yang membuat ibunya begitu membencinya, sampai terkadang tega berbuat kasar, hingga berkata yang menyakitkan hati. Tapi satu hal yang pasti, Wening tidak pernah membenci ibunya. Bahkan hingga detik ini, dia masih berusaha mendapatkan kasih sayang ibunya.
Menjelaskan pun tidak ada gunanya, ibunya tidak akan pernah percaya dengan ucapannya.
"Apa se-sayang itu Emak sama Arjuna dan yang lainnya, dan sebenci itu sama aku? sampai-sampai tidak bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar?" ratap Wening.
"Gak usah sok dramatis! kamu tidak perlu merasa paling sedih di dunia ini, dan membenarkan dirimu sendiri! nyatanya kamu salah, besok lagi kalau aku lihat kamu dekat-dekat sama Jacky itu, lebih baik kamu keluar saja dari sekolah!" ancam Tiwi.
Wening menghela nafas berat, lalu pergi ke kamarnya. Tidak perduli, seberapa panjang ocehan ibunya, ocehan yang terus dibarengi dengan hinaan, makian, umpatan, dan semua kata buruk lainnya. Bukan doa baik, dan motivasi yang baik, yang keluar dari bibir ibunya, melainkan sumpah serapah yang orang pun enggan untuk mendengarnya. Tapi itu bukan masalah besar buat Wening, sejak kecil hingga dia nyaris dewasa ini, semua itu sudah menjadi cambuk baginya. Dia sudah cukup kuat untuk menerimanya.
Gadis itu benar-benar kelelahan sekarang, lelah jiwa dan raga, lelah hati dan pikiran. Dia ingin memejamkan matanya sejenak, lalu tertidur, berharap setelah terbangun nanti, ibunya telah berubah menjadi ibu yang sangat menyayanginya.
Rupanya harapannya untuk istirahat pun hanya isapan jempol. Suara keributan kembali terdengar dari ruang tamu.
Ayahnya pulang dalam keadaan mabuk.
"Pak! mabuk lagi?!" sentak Tiwi.
Rudi menatap tajam ke arah Tiwi, matanya merah, dan nafasnya tercium menyengat efek dari minuman keras yang ditenggaknya.
"Gak usah rewel kamu Wi!" bentak Rudi, sambil menggebrak meja. Walaupun berjalan sempoyongan, tapi gebrakannya masih sangat kuat.
"Mau sampai kapan?! kita ini sudah hidup miskin, kamu malah gak mau berhenti minum! dari pada kamu gunakan untuk minum, uang itu bisa kita gunakan untuk beli beras!" oceh Tiwi.
Rudi berjalan ke arah tikar usang yang sudah bertahun-tahun berada di lantai ruang tamunya, tanpa pernah dicuci. Ayah Wening itu merebahkan tubuhnya dia atas tikar, lalu berpindah posisi menelungkup sambil menutup telinganya.
"Bukannya cari uang! malah asik minum-minum, sampai mabuk begini! kenapa gak sekalian dihabiskan semuanya?! masih banyak tu di warungnya Sio! habiskan semuanya, ajak teman-temanmu itu, biar pindah alam sekalian!" umpat Tiwi.
Rudi meraih asbak yang ada di dekatnya, lalu dilemparkannya ke arah Tiwi, nyaris kena jika wanita itu tidak mengelak.
"Tutup mulutmu itu Wi! di pikiranmu cuma ada uang, uang, dan uang saja! aku lelah Wi, bosan, capek!" tukas Rudi dengan suara parau.
Setelah mengatakan hal itu, Rudi memegangi perutnya, dan huek... Huek... Huek... Semua isi perutnya keluar. Rudi muntah hingga beberapa kali tanpa terjeda.
Wening gegas menolong ayahnya, namun langsung dihentikan oleh ibunya.
"Berani maju selangkah kamu nolongin dia, kamu ku usir dari rumah ini!" ancam Tiwi lalu masuk ke dalam kamarnya. "Laki-laki gak da guna, penghasilan seuprit. Bukannya bekerja keras, malah mabuk-mabukan! dia pikir anak-anaknya mau dikasih makan apa?! yang begitu minta supaya diberi anak yang berbakti, yang soleh! bapaknya saja amburadul! biar saja, mati juga gak bakal ku tangisi. Orang sudah tua, dibilangin kok gak pernah mau mendengarkan. Anak sudah besar-besar! bukannya semangat kerja, malah semakin gak jelas!" cerocos Tiwi di dalam kamarnya.
Brak... suara benturan daun pintu menggema di seluruh ruangan, bahkan hingga ke rumah tetangga.
"Kasihan Bapak," gumam Wening.
"Huh! kenapa sih?! gak Mbak Wening, gak Bapak! semua biasanya cuma bikin malu!" oceh Lani kesal.
"Iya! kenapa aku mesti terlahir di rumah seperti ini! di keluarga seperti ini!" sahut Rama.
"Kalian benar, aku rasanya tidak tahan. Aku juara kelas, banyak cewek-cewek mengidolakan aku! bahkan ada cewek kaya yang selalu mendekatiku. Ini yang selalu ku takutkan, dia tahu keburukan keluargaku. Ayahku pemabuk, dan tukang main togel, Mbakku gendut dan memalukan!" timpal Arjuna.
Wening tidak ingin menambah masalah di keluarganya dengan membalas ucapan adik-adiknya yang menyakitkan. Dia segera pergi ke kamarnya lagi. Tapi sebelum itu, diliriknya ayahnya yang sedang terkapar tak berdaya. Sedih, bercampur kecewa mendera hati Wening. Kasihan melihat ayahnya seperti itu, tapi kecewa dengan sikap ayahnya yang selalu melampiaskan kelelahannya lewat minuman keras. Wening tahu, kalau sedang seperti ini, pikiran ayahnya sedang tidak baik. Ibunya selalu menuntut ayahnya untuk bekerja dan memberinya uang. Seberapapun usaha, kerja keras, dan uang yang Rudi berikan, Tiwi tidak pernah merasa bersyukur atau merasa puas. Gaya hidup yang mewah dari segi makanan, Tiwi tidak pernah mau makan jika tidak ada ikan atau daging. Ketiga adik Wening, mereka sangat dimanja. Uang saku yang berlebihan, dan hampir semua keinginan mereka dipenuhi Tiwi, bagaimana pun caranya. Sedangkan Wening? dia terkadang harus menahan rasa lapar, karena tidak ada makanan yang tersisa untuk dirinya. Dia bahkan tidak pernah diberi uang saku oleh ibunya.
Wening selalu dituntut untuk bekerja, di minta untuk bekerja keluar negeri, jadi pembantu rumah tangga di apartemen, atau pekerjaan lainnya yang menurut ibunya akan mendapatkan gaji besar.
Sebenarnya selama ini Wening tidak hanya berdiam diri. Cita-citanya tinggi, dia sangat bersemangat sekolah. Dia berhasil mendapatkan beberapa beasiswa, bahkan selama tiga tahun sekolah di SMA elit itu, dia tidak mengeluarkan biaya sepeserpun untuk membayar spp-nya atau yang lainnya. Dia mendapatkan beasiswa hingga lulus nanti. Wening tetap membantu perekonomian keluarga, dia memelihara beberapa bebek dan ayam. Itupun, dia tidak pernah menikmati hasilnya, telur bebek selalu dijual oleh ibunya. Ayam pun begitu, Wening hanya mendapatkan bagian capeknya saja.
Sampai larut malam, Wening masih saja terjaga. Dia tidak tega melihat ayahnya tergeletak di atas tikar, tanpa bantal, dan juga tanpa selimut. Tapi kalau ibunya tahu, dia membantu ayahnya, pasti masalah akan semakin rumit. Wening hanya bisa berdiri sambil menyandarkan tubuhnya di pintu kamarnya. Tangannya bersedekap, sambil menatap ke arah ayahnya. Tanpa terasa air mata menetes, membasahi pipinya. Bagaimana pun juga, ayahnya yang selalu membelanya saat dia dimarahi ibunya. Yang selalu berusaha memberinya uang saku, meski sembunyi-sembunyi, dan berisiko kena marah Tiwi, istrinya.
Wening mengambil selimutnya, dan juga bantal, lalu diberikan ke ayahnya.
"Berapa nomer yang keluar?" ceracau Rudi dalam ketidaksadarannya, lalu merubah posisi tidurnya. Mungkin karena terlalu bingung, mau kerja apa, dapat uang dari mana lagi, sedangkan keahliannya hanya membuat kerajinan tangan dari anyaman bambu. Sampai-sampai yang dia pikirkan hanya togel saja. Meski begitu, Wening tetap tidak sependapat dengan ayahnya. Hal itu diharamkan agama, dan Wening tentu tidak akan mendukungnya.
*
Rasanya baru saja Wening memejamkan mata, tapi azan subuh sudah berkumandang. Gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali. Lalu beringsut dari kamarnya ke kamar mandi.
Di ruang tamu, ayahnya masih terlelap, semua penghuni rumah juga belum nampak batang hidungnya. Ini kesempatan Wening untuk mengambil bantal dan juga selimut yang dipakai ayahnya, sebelum ibunya bangun.
Selesai shalat subuh, Wening segera mandi dan bersiap untuk pergi ke sekolah. Untung saja beberapa hari ini hanya mengurus persiapan lomba dan tidak ada jam pelajaran, jadi dia tidak takut mengantuk di kelas nanti.
Tepat pukul setengah tujuh pagi, Wening mulai mengayuh sepedanya menuju ke sekolah. Di sepanjang jalan, pikiran Wening kacau. Ucapan adik-adiknya yang teramat menyakitkan hati, dan ayahnya yang nampak frustasi. Hingga tanpa disadari, ternyata ban sepedanya kempis. Wening berhenti sejenak, lalu memeriksa ban sepedanya.
"Pantas saja berat gowesannya! aku pikir hidupku yang berat, ternyata karena ban sepedaku kempis!" gerutunya. "Hah! kasihan sekali kamu ban, apa kamu juga tertekan karena aku?" keluh Wening dengan raut wajah penuh keputusasaan.
Setelah diperiksa, ternyata kedua ban sepeda Wening tertancap paku payung. Masing-masing ban, ada tiga buah paku, dan letaknya berurutan.
Wening menghela nafas berat, lalu duduk di tanah, menyandarkan tubuhnya pada sepedanya. Dia benar-benar lelah, lelah dengan peliknya hidup, lelah dengan semuanya. Dia yakin, pasti ini kerjaan ketiga adiknya. Jika dipikir, kurang apa dia terhadap mereka. Wening mengalah dalam segala hal, semengalah mungkin. Tapi mereka tetap saja tidak pernah menghargai Wening sebagai kakaknya.
Tapi, setiap kali Wening merasa lelah, dia berpikir lagi. Masih banyak di luar sana, yang ujian hidupnya jauh lebih sulit dari pada dirinya, dan mereka mampu, lalu kenapa Wening tidak?

Komentar Buku (194)

  • avatar
    MandasariAnnisa

    sangat cocok untuk di baca

    06/10

      0
  • avatar
    Fanisari jajungFransiska

    lanjut

    04/12/2024

      0
  • avatar
    RatnasariDesi

    bagus bangett😍😍😍

    02/12/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru