Beranda/My Dengerous Husband/
Bab 6
Aldi mengendari Boci dengan kecepatan penuh sebisa dia. Tapi semua harus terkendala dengan kemacetan kota Jakarta yang tak pernah ada habisnya. Sedangkan Senja yang berada dibelakang tidak bisa tenang memikirkan sang ayah yang sekarang berada tangan Damar.
"Ayo Al cepet." Senja menepuk punggung Aldi yang memperlambat laju Boci karena didepan banyak mobil yang sudah terjebak kemacetan.
"Kita terjebak kemacetan Senja, gue gak bisa ngebut-ngebut." Ucap lagi dengan terus berusaha fokus mengendari Boci. Aldi juga tau ini sangat darurat, tapi keadaan yang tidak mendukung mereka untuk memperlaju Boci.
"Kita lewat jalan tikus aja Al." Senja mengusulkan untuk melewati jalan yang biasanya dia lewati ketika sudah terjebak macet. Jelas saja Senja mengetahui seluk beluk daerah sini, karena tempat ini selalu dilewati oleh dia ketika akan pulang.
"Gue gak tau jalan sini Senja."
"Setelah ini kita masuk gang yang itu aja Al." Senja menunjuk gang yang berada disebelah kiri didepan lampu merah.
"Ok, loe tunjukin aja jalannya kemana." Aldi mengikuti instruksi dari Senja untuk masuk ke gang yang padat penduduk.
Mereka telah sampai diperumah Bugenvil tempat Senja tinggal selama ini. Pak Mamat yang tau ada motor berhenti didepan sang majikan langsung membuka gerbang, karena tau itu adalah suara motor kesayangan Nona mudanya.
"Terima kasih pak Mamat." Aldi segera memasukkan Boci kehalam rumah Senja, setelah Senja mengucapkan terima kasih.
"Gue turun dulu, loe tunggu disini aja." Senja bergegas turun untuk menemui Bu Siti.
Senja memasuki rumah dengan langkah tergesa, sampai-sampai dia tersandung tangga yang berada diterasnya. Senja langsung bangun tanpa mengaduh sedikitpun, dia tak mempedulikan sikunya yang sekarang terasa sakit. Dipikiran dia sekarang hanya ada sang ayah yang tak tau ada dimana.
"Bu Siti....Bu Siti.!!!!!" Senja berteriak memanggil Bu Siti yang tadi mengabarinya jika sang ayah dibawa oleh orang suruhan Damar.
"Iya non, sebentar..." Bu Siti juga tergesa saat mendengar panggilan Senja barusan.
Kenapa Senja masih harus pulang kerumah, ini dikarenakan dia tidak tau dimana sang ayah sedang ditahan oleh Damar. Dia pulang kerumah berharap semoga ada petunjuk yang diberikan oleh orang suruhan Damar. Selama ini dia tidak pernah mau tau tentang apapun yang dilakukan sang ayah, Senja hanya tau jika sang ayah bekerja sebagai pimpinan suatu perusahaan dibawah naungan DJHARJO GRUP.
"Apa Bu Siti tau ayah dibawa kemana." Senja mengatakan itu dengan air mata yang sudah tumpah. Dia jelas saja sangat khawatir dengan keadaan ayahnya sekarang.
"Ibu tidak tau ayah non dibawa kemana, tapi orang-orang tadi hanya menitipkan ini untuk diberikan kepada non. Bu Siti mengambil sebuah kertas dari kantong baju dasternya. Senja menerima kertas itu dengan tergesa.
* Jika ingin ayahmu selamat segeralah datang ke gedung kosong dijalan Menteng.
DAMAR DJHARJO*
Kertas yang diberikan Bu Siti hanya berisi alamat tanpa ada alasan kenapa sang ayah harus ditahan oleh Damar. Dia memasukkan kertas tadi pada saku celananya. Senja bergegas keluar dan menghampiri Aldi.
"Ayo jalan kedaerah Menteng." Senja menepuk punggung Aldi. Aldi yang diperintahkan begitu langsung menjalan Boci kedaerah yang Senja minta.
Senja dan Aldi sampai didaerah Menteng yang tadi ditulis dikertas itu. Senja sangat tau jika memang didaerah ini ada sebuah bangunan kosong yang tak pernah digunakan kembali setelah terjadi kebakaran. Bangunan ini merupakan bekas perkantoran yang sudah lama tidak terpakai. Dulu dia pernah lewat daerah sini dengan Gano waktu terjadi kejar-kejaran dengan polisi.
"Loe tunggu aja disini, gue bisa atasin ini sendiri." Senja menyuruh Aldi untuk menunggu didepan, dia tidak mau Aldi juga akan berurusan dengan Damar nantinya.
"Loe sahabat gue Senja, apapun yang terjadi gue akan ikut loe." Aldi mestandar Boci dan lagsung turun. Dia menyeret Senja untuk masuk dengan dia berada disamping Senja.
Senja dan Aldi masuk kedalam gedung dengan menaiki tangga. Suasan seram dan mencekam sangat terasa bagi Aldi maupun Senja. Senja dan Aldi telah sampai dilantai paling atas, Damar telah menunggu kedatangan Senja sejak tadi dengan berada disamping pak Deni yang telah babak belur dengan kondisi tangan dan kaki terikat disebuah kursi. Damar yang melihat Senja tak datang sendirian dia mengernyitkan dahi.
"Berani macam-macam dia dengan Saya." Damar hanya tertawa sinis saat melihat mereka.
"Akhirnya Tuan putri yang ditunggu-tunggu telah datang." Damar bertepuk tangan dengan tatapan tajam seakan apa yang dia lakukan itu menyambut kedatang Senja dan Aldi.
Sedangkan Senja yang ditatap begitu oleh Damar lansung ciut seketika, lawannya sekarang jelas saja berbeda dengan anak kemarin sore yang biasa berkelahi dengan dirinya.
"Lepaskan ayah saya." Meskipun ada rasa takut, tapi Senja tak ingin memperlihatkan hal tersebut. Dia masih bisa menantang Damar dengan tatapan tak kalah tajam.
"Kamu mau orang pecundang ini lepas." Damar mencengkeram rambut pak Deni yang berada didekatnya. Tak ada rasa kasihan sedikitpun meski sekarang sang musuh sudah kelihatan tak berdaya.
"Akhhhh..." Pak Deni mengerang kesakitan saat Damar menarik rambutnya.
"Lepaskan ayah saya, saya akan mengikuti semua perintah yang anda inginkan." Damar hanya terkekeh mendengar perkataan Senja. Bukan dia yang menawarkan perjanjian itu tapi orang yang berada disebelahnya sekarang.
"Saya tak butuh apapun dari kamu, jika bukan tawaran yang dia berikan waktu itu mungkin sekarang kamu sudah tak melihat pecundang ini disini." Damar tertawa dengan menggelegar seakan meremehkan Senja dan sang ayah yang sekarang tak berdaya.
"Saya akan lakukan apapun yang anda minta Tuan." Senja terus mengiba meskipun sekarang dia tak melutut. Karena Senja tau kekuatan sekarang tak sebanding dengan kekuatan Damar. Dia tak ingin terjadi apa-apa dengan sang ayah jika dia menolak.
"Loe mau mengorbankan masa depan loe, jangan gila Senja semuanya bisa kita selesaikan meski tanpa loe menikah." Aldi menahan lengan Senja yang akan maju menghampiri Damar.
"Ayah juga masa depan gue Al, hanya ayah yang gue punya sekarang." Dia menyentak tangan Aldi dari lenganya. Senja sekarang tak peduli lagi dengan masa depan, cintanya kepada Gano, yang dia pikirkan sekarang hanya keselamatan sang ayah.
"Saya mohon Tuan lepaskan ayah saya. Saya akan melakukan semua yang Tuan perintahkan." Senja telah berlutut didepan Damar, dia sudah tak memikirkan lagi harga dirinya.
"Usir temanmu dari sini, setelah ini kita bicarakan semuanya." Damar tak mau apa yang akan dia sepakati dengan Senja diketahui oleh orang lain yang tidak ada kepentingan apapun.
Senja segera berdiri dan menghampiri Aldi yang terus menatap dia dari kejauhan.
"Sebaiknya loe pulang aja, terima kasih sudah mengantar gue. Boci loe bawa pulang aja." Senja mengatakan itu dengan mengiba kepada Aldi.
"Tapi Senja, gue takut terjadi apa-apa dengan loe." Aldi masih terus saja kekeh untuk tetap menemani Senja.
"Saya jamin dia tidak akan lecet sedikitpun jika kamu pergi." Damar sangat tau dengan kekhawatiran Aldi. Siapa juga yang akan meninggalkan seorang perempuan dengan dirinya yang terlihat kejam ini. Dia melakukan ini karena dia hanya ingin ada privasi untuk urusan dia dan Senja.
"Ok gue akan tinggalin loe berdua, tapi awas saja jika Senja sampai lecet sedikitpun gue cari loe meski kelubang semut." Aldi mengatakan itu sambil menunjuk Damar dari kejauhan. Dan respon yang diberikan Damar hanya mengangguk dan tersenyum sinis.
"Gue pergi sekarang, loe jaga diri baik-baik. Kalo ada apa-apa segera hubungi gue." Aldi harus terpaksa pergi dengan langkah berat setelah Senja mengangguk mengiyakan perkataannya.
Senja melihat Aldi yang telah menjauh. Tak ada lagi harapan dia sekarang untuk meminta bantuan. Senja menghampiri Damar yang masih saja tak beranjak dari sisi sang ayah.
"Lepaskan dia." Damar menyuruh ajudannya untuk melepaskan ikatan yang ada pada tubuh pak Deni.
Setelah perintah dia dilaksanakan, Damar menarik Senja menjauh dari sana untuk memulai membuat kesepakatan.
"Tapi ayah saya bagaimana Tuan." Senja masih saja menghawatirkan sang ayah yang saat ini sudah tak berdaya.
"Bawa dia ke rumah sakit keluarga saya." Damar mengqtakan itu dengan terus menyeret Senja untuk keluar dari gedung ini.
Senja yang mendengar perintah Damar barusan menghela nafas lega, saat tau sang ayah akan mendapat penanganan. Dia ikhlas meskipun sekarang dia yang harus berkorban demi keselamatan sang ayah.
Terima kasih telah membaca kisah Senja dan Damar.😘😘😘😘😘😘 Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (176)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
bagus
26/07/2025
0baguss
23/05/2025
0bagus
29/04/2025
0Lihat Semua