Beranda/My Dengerous Husband/
Bab 14
SELAMAT MEMBACA
Ttd
yaynuni
****
Damar saat ini tengah berada diruang gym yang masih berada dikawasan hotel ini. Dia lebih baik melampiaskan emosinya dengan berolah raga dari pada nantinya akan menyakiti Senja dan berakhir dengan hubungan mereka tambah senggang. Dia bukan marah sebenarnya tapi lebih kepada banyak berharap dari kejadian tadi malam. Dia pikir dengan Senja membalas pelukannya berarti kedepannya hubungan mereka akan lebih baik. Tapi ini malah sebaliknya, Senja malah tanpa sengaja melukai aset dia.
Entah kenapa dia sekarang malah tak bisa lagi trun on saat bersama wanita lain. Tapi sekarang melihat Senja memakai piyama saja itu bisa merangsang libidonya untuk naik. Itu yang dia sesali dalam dirinya, kenapa dia sangat murahan saat berada didekat Senja. Padahal Senja bukan wanita yang sexy menurut dia. Tak ada lekukan yang berarti ditubuh Senja, malah cenderung tak ada lekukan.
"Aku bisa gila kalo begini terus." Damar memukul wastefel yang berada didepannya. Saat ini dia tengah berkaca dan berbicara sendiri agar mengenyahkan semua pikiran itu.
Damar mengambil gawai yang berada di sakunya. Dia langsung mendial nomor sang sekertaris yang pasti sekarang sedang sibuk karena dia yang Damar beri kepercayaan untuk mengurus perusahaan selama dia cuti.
Memang rencananya dia akan mengajukan cuti selama seminggu. Tapi karena hal ini sekarang dia akan memperpendek cutinya agar sang sekertaris tak kerepotan lagi.
Di deringan pertama telfonnya sudah diangkat oleh Angga. "Atur semua jadwal saya besok." Ucap Damar tanpa basa-basi.
"Baik Tuan." Hanya itu yang dikatakan Angga diseberang sana. Dia hanya bisa langsung mengiyakan apa yang diucapkan Damar tanpa mencela ataupun menanyakan alasannya kenapa Damar memperpendek masa cuti .
Damar yang mendengar itu langsung mematikan saluran telfonnya. Selam sang sekertaris sudah mengatakan iya maka semua akan beres. Damar beranjak keluar untuk menyudahi kesendiriannya. Dia melangkah dengan langkah tegap dan penuh pesona. Dengan kaos yang telah basah penuh keringat menambah kesan maskulin dan sexy sekaligus. Semua pasang mata melihat dia tanpa berkedip sampai Damar tak terlihat lagi karena lift yang mulai menutup.
Damar menuju kamar untuk membersihkan diri sekaligus bersiap-siap untuk kembali ke rumah. Karena menurutku jadwal dia dan Senja akan pulang. Dia memasuki kamar dengan mantap, Damar tak menengok kemampuan selain kearah kamar mandi. Sehingga Senja yang saat ini memandang Damar dari arah televisi menjadi takut. Senja tak digubris sedikitpun oleh Damar, melihat kearahnya saja tidak.
Tapi Senja hanya dia saja dan hal ini jelas tak terlalu berpengaruh untuk dia. Lebih baik seperti mereka tak pernah kenal saja agar hubungan yang dia harapkan berjalan dengan semestinya. Dia tak ingin jika Damar selalu ada didekatnya itu membuat dia akan mempengaruhi hatinya. Dia sangat tau jika dia mudah tersentuh oleh perlakuan orang yang selalu memperhatikan dirinya.
Dulu saja dia jatuh dalam pesona Gano karena dia selalu diperhatikan oleh ketua geng Pedro itu. Dia selalu didahulukan oleh Gano dalam segala hal, tapi hal itu sudah tak berlalu lagi saat Prisil datang mengacaukan semuanya. Prisil memang mengincar semua yang disenangi Senja terutama saat dia tau jika Senja menyukai Gano. Maka dengan sekuat tenaga Prisil merebut Gano dari Senja.
Dan mulai detik itu Senja selalu waspada pada hatinya terutama soal laki-laki. Dia tak mau lagi patah hati karena masalah hati. Menurut dia lebih baik begini, hidupnya bebas tanpa beban.
Senja masih asik dengan film action yang sedang ditayangkan itu. Dia mengambil keripik singkong yang sedang dia pangku sekarang. Hanya keripik ini yang menemani dia untuk menghabiskan waktu membosankan ini. Bagaimana tak membosankan jika biasanya dia sudah ada dimana-mana dan mengobrol dengan banyak orang tapi yang ada sekarang suasananya sangat sepi dan sunyi.
Damar keluar dari kamar kembali dengan wajah segar. Sepertinya Damar telah mandi untuk yang kedua kalinya pagi ini. Dia menghampiri Senja dan berdiri di samping sofa.
"Cepat bersiap-siap, kita akan pulang sekarang." Ucap Damar tenang, dan balasan yang dia dapat adalah lemparan kacang dari Senja. Senja hanya refleks karena kaget tiba-tiba ada orang yang berbicara didekatnya.
"Maaf Tuan." Senja langsung kaget saat tau yang dia lempar dengan kacang adalah Damar.
"Udah sana cepat siap-siap kita pulang." Damar tak memperdulikan ucapan maaf Senja. Dia lebih memilih melenggang kearah dapur untuk minum.
Senja langsung masuk kamar untuk membereskan beberapa barangnya untuk dibawa pulang. Setelah selesai dia keluar kamar dan didepan televisi tempatnya tadi Damar sudah menunggu.
"Ayo cepat, lama sekali." Damar langsung berdiri setelah Senja terlihat oleh matanya. Dia keluar terlebih dahulu.
Tak ada percakapan sama sekali diantara keduanya. Suasana mobil sangat terasa dingin dan sunyi. Damar mengendarai mobil Ferrari hitam dengan tenang dan santai.
Tiga puluh menit kemudian baru mobil Ferrari tersebut memasuki sebuah gerbang tinggi yang waktu itu sudah pernah Senja datangi. Dia masih ingat dengan rumah ini, pertama kali dia kesini Senja sangat takut sekaligus takjub dengan desain rumah. Tapi sekarang dia akan menempati rumah ini.
"Cepat keluar, dan tanya sama bibi kamu dikamar yang mana?" Senja bingung dengan ucapan Damar. Kenapa hanya dia yang akan turun. Apakah Damar akan keluar setelah mengantarnya.
"Tuan mau kemana?." Ujar Senja memberanikan diri.
"Jangan banyak tanya, cepat keluar!!!!." Senja tersentak mendengar bentakan Damar yang masuk ke telinganya. Bukanya dia takut tapi ini auranya sangat menyeramkan. Dia jadi teringat kata-kata Bu Viona tadi bahwa jika Damar marah akan sangat menyeramkan. Dan hal ini terbukti sekarang, dia saja sampai spot jantung mendengar itu.
Senja langsung keluar dengan tergesa-gesa setelah mendengar itu. Setelah Senja keluar baru Damar kembali menjalankan mobilnya. Senja mengamati hal itu sampai mobil yang dikendarai Damar sudah tak terlihat dimatanya. Kemudian Senja masuk kedalam rumah yang langsung disambut oleh pelayan yang waktu itu melayaninya.
"Mari nona saya antarkan ke kamar." Senja mengikuti pelayan itu. Dia telah sampai didepan sebuah pintu yang sangat Senja kenal. Ini kamar yang dipakainya dulu saat itu. Senja memasuki kamar yang masih sama dengan waktu itu.
"Saya keluar dulu Nona." Senja hanya mengangguk, dia masih sibuk meneliti kamar ini. Sekarang kamar ini yang akan menemani hari-harinya selama dirumah ini. Entah sampai kapan dia akan menempati kamar ini. Tapi dia berharap semoga hal itu tak akan lama karena dia berharap pernikahannya dan Damar juga tidak akan lama. Tapi entahlah semua itu hanya harapannya saja.
*
*
*
*
Ihhh kok Damar ngambeknya awet banget sih. Apa nantinya Senja akan membujuk Damar ya, kita liat saja part selanjutnya 😍😍😍😍 TERIMA KASIH. Jangan lupa follow Instagram author ya. Yuni250330Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (176)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
bagus
26/07/2025
0baguss
23/05/2025
0bagus
29/04/2025
0Lihat Semua