Beranda/My Dengerous Husband/
Bab 11
SELAMAT MEMBACA
Ttd
yaynuni
****
Senja terbangun karena sinar matahari yang mulai menyilaukan matanya. Dia mencoba duduk untuk mengumpulkan nyawa. Dia melihat sekeliling tapi tak ada tanda-tanda Damar di kamar ini. Senja melihat kamar ini masih sama dengan waktu dia masuk pertama kali tak ada tanda-tanda siapapun.
"Kemana tuh orang? Tapi gak papa lah biar gue lebih santai." Senja merenggangkan tangannya. Dia tidak peduli nantinya Damar akan tidur dimana, yang penting Damar tidak menggangu dia.
Setelah beberapa saat Senja turun dari kasur dan melangkah ke kamar mandi. Dia menggerakkan kakinya yang sekarang sudah lumayan, tidak terlalu sakit lagi.
Karena masih tak memiliki baju dia tetep menggunakan handuk yang tadi malam. Senja keluar dari kamar karena perutnya sudah terasa melilit. Saat melewati ruang televisi dia melihat Damar masih tertidur lelap dengan posisi meringkuk tanpa selimut hanya menggunakan bokser. Senja bergidik ngeri melihat itu, dia langsung menuju dapur tanpa memperdulikan Damar yang tampak kedinginan.
Senja hanya membuat sereal, karena cuma itu yang ada di kulkas dengan segelas susu hangat. Sedangkan Damar yang mendengar suara sedikit bising mengerjapkan matanya. Damar memang sangat tidak bisa jika ada suara bising sedikitpun pasti dia bangun.
Damar mencari sumber suara, dia melihat dari kejauhan ada seseorang yang sedang berada di dapur. Dia mendekati dapur dan setelah lebih dekat dia tercekat. Bagaimana bisa Senja masih menggunakan handuk yang tadi malam.
'Pagi-pagi udah disuguhi pemandangan yang menyesakkan diri.' kata Damar dalam hati. Karena dia gak mungkin mengucapkan itu saat ada Senja, jika dia tergoda dengan penampilan Senja sekarang, mau ditaruh dimana harga dirinya.
Tapi karena perutnya sekarang juga sedang merasakan lapar. Damar menghampiri Senja dan langsung duduk didepan sereal itu. Sedangkan Senja masih mengambil air minum. Damar langsung menyantap sereal itu tanpa memperdulikan Senja yang akan marah jika dia memakan sereal itu.
Senja yang dari dapur mengambil air langsung tercekat saat tau bahwa serealnya saat ini sudah dimakan Damar. Dia menghela nafas lelah, bagaimana bisa Damar memakan bekas dia.
"Maaf Tuan, itu bekas saya." Senja mendudukkan pantatnya di kursi sebelah Damar. Senja tak perduli lagi jika Damar akan marah, dia saja masih bisa agak sabar saat makanannya dimakan Damar, sedangkan perutnya masih lapar.
"Kamu buat lagi sana, ini sudah menjadi milik saya." Ucap Damar santai. Dia lebih memilih makanan bekas Senja karena menurut dia makanan ini lebih enek. Tapi dia jelas saja tidak akan mengakui itu, bisa-bisa nanti dia ditertawakan.
"Tapi serealnya sudah tidak ada lagi tuan." Senja menghela nafas mendengar perintah itu. Dia sih mau-mau saja membuat sereal lagi, tapi masalahnya serealnya yang tidak ada.
Damar yang mendengar itu mengiba. Dia melihat sereal didepannya masih tinggal setengah. Karena dia juga tak mau Senja kelaparan. Dia mengambil sendok dan langsung menyuapkan ke mulut Senja.
Senja yang melihat ada sendok didepan mulutnya mematung, apa benar ini Damar yang dia kenal. Dia hanya tak yakin sekarang kalau ini nyata. Sampai-sampai Senja menepuk pipinya memastikan ini bukan mimpi.
"Ayo makan, saya juga masih lapar. Saya tau kamu juga sangat lapar." Damar berkata dingin. Tapi karena perkataan itu Senja terpaksa membuka mulut untuk menerima suapan itu demi mengganjal perutnya.
"Saya bisa sendiri Tuan." Senja takut, maka dari itu dia berdiri untuk mengambil sendok lagi. Tapi ditahan oleh Damar.
"Gak usah, ini aja hampir habis. Sudah duduk saja. Mending kamu yang siapin saya, saya malas pegang sendok." Senja menerima sendok dari tangan Senja. Sebenarnya itu hanya alasan Damar agar Senja mau menyuapinya. Memang Damar ini terlalu licik untuk Senja yang memang sangat polos.
Mereka menghabiskan sereal tersebut dengan Senja menyuapi Damar. Mereka seperti pasangan romantis yang sesungguhnya. Senja maupun Damar sama-sama menikmati kegiatan berdua itu. Setelahnya Damar ke kamar mandi sedangkan Senja mencuci bekas makan tadi.
Senja bersantai di balkon dengan memandang hamparan gedung-gedung yang menjulang tinggi pagi ini. Sedangkan dilain tempat sudah setengah jam berlalu tapi Damar masih belum keluar dari kamar mandi.
Tak lama kemudian bel berbunyi, Senja langsung bergegas membuka pintu karena takut yang saat ini berada diluar adalah mertuanya.
Dan benar saja, Bu Viona langsung tersenyum saat Senja membukakan pintu. Bu Viona terlihat membawa paper bag yang berada ditangan kiri dan kanannya.
"Masuk dulu ma." Senja menyingkirkan tubuhnya untuk mempersilakan sang ibu untuk masuk.
"Gak usah sayang, mama cuma mau ngasih ini kok. Ini baju untuk kamu dan Damar ya. Setelah ini kebawah ya sayang, kita sarapan." Bu Viona memberikan kedua paper bag itu pada Senja.
"Baik ma, nanti Senja sampaikan pada mas Damar." Senja menerima paper bag itu. Dia juga mengganti panggilan untuk Damar karena takut sang mertua curiga. Karena juga dulu Damar pernah meminta hal tersebut.
Senja kembali masuk setelah menutup pintu. Dia berfikir kenapa dia diberikan dua paper bag yang salah satunya punya Damar. Apa mungkin mereka berdua tadi malam sama-sama tidak memiliki baju ganti. Itu mengapa tadi dia melihat Damar hanya menggunakan bokser saat tidur.
Senja mendekati kamar mandi untuk memberikan paper bag itu pada Damar. Dia mengetuk pintu sebanyak lima kali. Baru setelah itu ada jawaban dari dalam. Damar membuka sedikit celah pintu karena dia masih telanjang.
"Ada apa?." Kata Damar cuek.
"Ini titipan dari Bu Viona Tuan." Senja mengangsurkan paper bag yang tadi diberikan oleh Bu Viona untuk Damar.
"Isinya apa?." Damar menerima itu, setelahnya dia melihat apa isi dari paper bag tersebut. Karena didalam berisi pakaiannya Damar langsung menutup pintu tanpa berkata apa-apa lagi.
Brak...
Senja terperanjat saat Damar menutup pintu dengan keras. Dia baru saja akan menjawab pertanyaan Damar barusan.
"Emang tuh lakik gak pernah tau terima kasih. Awas aja nanti." Kata Senja lirih agar tidak didengar oleh Damar.
"Saya masih bisa dengar Senja!!!!." Ada sahutan dari dalam kamar mandi. Itu membuat Senja takut, apa nanti Damar yang akan balas dendam pada dia. Tapi kenapa Damar masih bisa dengar apa yang Senja katakan, sedangkan Senja mengatakan itu agak lirih.
"Maaf Tuan." Senja lebih baik meminta maaf terlebih dahulu dari pada nantinya menjadi masalah. Karena tak ada sahutan dari Damar, Senja memilih menata rambutnya agar waktu yang mereka butuhkan lebih efektif.
Damar keluar dengan style yang bisa dibilang sangat simpel dan terlihat sangat santai. Dengan celana berwarna krem selutut dipadukan dengan kaos lengan pendek berwarna kunyit. Damar mampu menghipnotis Senja yang saat ini terlihat mengamati Damar dari atas sampai bawah. Senja tak pernah melihat Damar memakai pakaian santai seperti ini, yang biasanya dia lihat adalah Damar yang memakai pakaian formal seperti jas ataupun kemeja.
"Kenapa lihat saya sampai segitunya." Damar memandang Senja pelik. Dia hanya heran kenapa Senja melihatnya begitu lama dan intens.
"Maaf Tuan." Senja langsung menunduk setelah mendapat teguran dari Damar. Dia sangat malu saat ketahuan memandang Damar dengan intens.
Senja langsung melenggang masuk kamar mandi untuk berganti baju. Sedangkan Damar kini lebih memilih membenahi penampilannya yang sangat berbeda dari biasanya. Dia memang tidak pernah memakai pakaian yang dikenakan dia kali ini. Ini pasti ulah dari mamanya. Bisa-bisanya sang ibu malah mengirim baju yang bisa dia bilang bukan style banget. Memang dia akui bahwa dia kelihatan lebih muda dan fresh dari biasanya. Tapi Damar merasa tidak percaya diri dengan memakai ini. Maka dari itu dia sangat lama untuk meyakinkan dirinya tadi waktu di kamar mandi. Apa lagi melihat respon Senja barusan itu membuat dia lebih tak percaya diri lagi.
Senja keluar dari kamar mandi dengan tampilan celana pendek sepaha dan juga kaos dengan gambar dan warna sama dengan yang saat ini dipakai Damar. Damar tercengang melihat itu. Jelas ini konspirasi sang ibu untuk membuat dia dan Senja terlihat sangat kompak.
"Tuan, tadi mama bilang kita disuruh cepet turun. Katanya mau sarapan." Meskipun Senja malu tapi tak ada pilihan lain selain tetap dipakai. Dari pada nanti malah menggunakan handuk kayak tadi malam.
"Ya udah ayo." Damar mengulurkan tangannya. Tapi respon yang diberikan Senja hanya melihat tangan itu tanpa menyambutnya. Karena geram Damar langsung mengambil tangan Senja dan langsung menggandeng tangan itu untuk membawanya keluar sarapan.
*
*
*
*
Emang ada2 aja ya tingkah mereka berdua ini. Apa lagi Bu Viona ada2 aja caranya untuk mendekatkan mereka. Love deh buat Senja dan Damar apa lagi Bu Viona 😍😍😍😍😍😍Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (176)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
bagus
26/07/2025
0baguss
23/05/2025
0bagus
29/04/2025
0Lihat Semua