logo text

Bab 9 KERIBUTAN DI RUANG CEO

Perlahan Julian berjalan dan mengamati ketiga penghuni ruangan yang saling menyalahkan itu. Kirana hanya duduk diam setelah Elsa mencecarnya habis - habisan belum lagi pak Didi menghardiknya.
"Ada apa sih, ini ribut-ribut kayak di pasar aja?" ucap Julian menyela perdebatan mereka "Suara kalian kedengaran ampe lantai dasar lho" ketusnya lagi.
Semua terdiam, ia melihat Kirana masih duduk terdiam sementara Elsa, Pak Didi dan juga Gibran masih berdiri beradu mulut.
Julian beringsut mendekati berkas yang berceceran di meja dan melihat satu persatu.
"Sumpah Julian ini bukan aku yang buat laporannya," jelas Elsa membela diri.
"Bagaimana bisa, bukanya kamu bagian keuangan dan kok bisa kayak gini," sambut Gibran.
"El, siapa yang kamu suruh nganter laporan ini?" tanya Julian lebih tenang sementara Gibran membuang pandangannya ke luar jendela dan mengusap kasar wajahnya, Kirana dikejutkan dengan sikap arogan Gibran yang tiba- tiba muncul.
‘Sumpah ini pertama kalinya gue lihat malaikat berubah jadi iblis dalam hitungan menit, kemana perginya Gibran yang hangat kemarin' omel Kirana dalam hati.
Seketika Gibran tak sengaja matanya melirik ke arah wajah Kirana yang menatapnya penuh takut, iapun perlahan meredam dan menarik napas panjang, sementara Kirana segera menunduk tak berani melihat lagi.
Tak lama Fanya datang. Fanya karyawati baru yang baru enam bulan bekerja di devisi keuangan. Fanya wanita cantik, fashionable di perusahaan dan berkelas. Bukan rahasia kalau ia mengincar Gibran dan karena alasan keberadaanyalah wanita-wanita lain hanya menelan air liur ketika melihat Gibran karena tak mau terlibat masalah dengan Fanya.
"Ada apa kalian memanggilku?" tanyanya ketika sudah berada di ruangan itu juga.
"Fa, saya kan suruh kamu kasi pak Gibran laporan keuangan yang dari perusahaan cabang di Cina, Jepang dan Prancis?" cecar Elsa.
"I ... I ... iya, lalu?" timpal Fanya ketakutan.
" Kok laporannya berubah gini yang bermasalah itu hanya di Prancis yang lainnya normal aja, kamu sengaja ganti ya?, ayo ngaku!" bentak Elsa.
Ekspresi Fanya semakin ketakutan
"Fa, mending kamu jujur deh, nih satu RT ribut gara-gara ulah kamu, sampe - sampe anak orang yang nggak berasalah jadi ikutan," desak Julian melirik ke arah Kirana, sesaat.
"I ... I ... iya saya ngaku," lirih Fanya.
Akhirnya Fanya mengaku dan Elsa merebahkan diri di sofa sementara Gibran kembali merasa bersalah lagi kepada Kirana karena sempat mencurigainya, ia semakin bingung.
"Kamu ngelakuin ini sendiri atau ada yang nyuruh?" tanya Gibran.
"Maaf Giby, ya aku salah aku yang ganti laporan itu, sejak dulu aku suka ma kamu, sejak dulu aku ngejer - ngejer kamu. Kupikir Fiona yang kamu pilih tapi kamu malah nikah ama perempuan jelek kayak dia," oceh Fanya seraya menunjuk ke arah Kirana yang duduk menunduk.
Spontan pak Didi yang baru mendengar kabar berita itu menganga dan segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Sementara Elsa hanya diam tanpa ekpresi meskipun sedikit terkejut dengan berita pernikahan Gibran, sepupunya itu.
Semua hening hanya Fanya yang masih ngomel.
"Sebenarnya aku mau menjatuhkan Kirana, tujuanku adalah Kirana agar kamu membencinya dan pandangamu kepadanya jadi berubah makanya aku mamfaatin Elsa untuk jalan aku jatuhin dia." Elsa terkejut dan seketika berdiri mendekat melototi Fanya
PLAKK
Sebuah tamparan keras melayang di pipinya Fanya
"E manusia plastik! Berani - beraninya lo ya, mamfaatin gue, gue nggak nyangka lo selicik ini." Fanya memekik kesakitan namun Elsa malah ingin langsung melabraknya namun Julian segera melerai Elsa.
"Fanya kamu keluar dan mendingan kamu segera angkat kaki dari perusahaanku." tegas Gibran.
"Kamu gila ya By, papaku pemegang saham terbesar di sini, kalau kamu berani ngeluarin aku, aku bisa pastikan kamu akan bangkrut!" tukas Fanya seraya beranjak keluar dan membanting pintu hingga mengejutkan seisi ruang CEO.
Pak Didi kembali duduk mendekat ke arah Kirana, begitu juga dengan Gibran.
"Ki ... jadi kamu udah merried? " Sidik pak Didi.
"Iyalah pak saya kan wanita normal nggak kayak bapak udah usia mau senja masih membujang," sindir Kirana.
"Terus beneran dengan pak Gibran?" lanjut pak Didi lagi.
"Bapak tanya aja sendiri dengan orangnya tuh, dia masih di sini." Kirana menunjuk pada Gibran yang mengkekeh tunduk.
"Ya pak Didi, Kirana istri saya, maaf sudah membuat kalian khawatir, El maafin aku ya?" ucapnya melihat ke arah Elsa yang sudah mulai tenang dan Julian kembali duduk di sofa membongkar berkas yang berserakan.
"Udahlah makanya kasi tau istri lo bang, jangan terlalu baik jadi gini deh," ketus Elsa beranjak keluar.
"Kamu mau kemana?" tanya Gibran.
"Ya ngambilin abang laporan yang aslilah," ketusnya lagi beranjak keluar sementara Gibran hanya mengangguk.
Ya Kirana yang hanya, diam sejak keributan terjadi kini memiliki setumpuk pertanyaan kepada laki-laki yang mengaku suaminya itu.Namun suara Julian menyadarkan dia kembali ke alam nyata dengan PR di depan matanya.
"By, tadi Elsa bilang yang bermasalah hanya di Prancis, coba kita analisis deh sementara nunggu Elsa."
Kini masing-masing sudah memegang lembar laporan dari cabang Prancis. Di Prancis JG Group membuka usaha di bidang Kuliner dalam beberapa tahun resto milik JG Group di serbu habis dan memiliki income yang tidak sedikit pertahunnya. Bahkan sudah membuka anak cabang di seluruh Eropa dan Prancis.
"Mmm kalau aku lihat memang menurun By," sela Julian ,Gibran menghubungi CS yang ia tempatkan untuk mengatasi bisnis di sana.
"Halo pak Deni bisa ceritakan ke saya kendala di sana ?kok bisa income kita merosot ?"
"Peminat sekarang agak kurang pak, dan juga persaingan semakin banyak, dan menawarkan berbagai harga alternatif pak,"jelas pak Deni dari seberang.
"Oke saya mengerti.” Gibran memutuskan sambungan telpon dan kembali pada diskusi mereka.
Kirana mengkerutkan kening lalu dengan lantangnya mulai membuka suara dan menatapi berkas di tangannya.
Permasalahan di Prancis adalah Sudah banyaknya resto - resto lain yang senada dengan produk kita dan mereka bermain dalam harga dengan menekan harga pasar," beber Kirana.
Julian dan Gibran juga Elsa dan pak Didi saling berpandangan mendengar analisis Kirana.
"Jurusnya ampuh tapi lemah" sindir Kirana lagi.
"Apa kelamahannya ?" tanya Julian dan Elsa bersamaan.
"Umur pendek,"jawab Kirana singkat, Julian dan Elsa mengkerut lagi.
"Ya ini tidak akan berlangsung lama dan ketika berakhir akan gulung tikar, karena habis modal."
"Lalu solusinya?" tanya Elsa
"Pak Didi, bapak suka makan pizza kan?" tanya Kirana dan diiyakan oleh pak Didi.
"Iya, kenapa Ki? Kamu mau makan Pizza?" balas Pak Didi.
“Ih si bapak nggaklah, saya mau kasi bapak Pizza yang buaaannyaakk dan bapak bisa setiap hari ,pagi ,siang, malam hanya makan pizza,vbapak mau nggak?"
"Ya nggaklah ,meskipun bapak ini suka pizza tapi ya nggak kayak gitu kali Ki, bapak juga butuh nasi dan ikan asin buat makan," timpal pak Didi sekenanya.
"Nah begitu juga dengan warga Prancis sehari aja kita bisa bosan pada makanan dengan menu yang sama apalagi warga Prancis bertahun tahun, jadi kita harus pariasikan menu dan juga sebentar lagi kan even legue Inggris nah kita harus menambah menu yang sesuai dengan lidah dari negara - negara tersebut. Dan mengenai Dubai? ini dekorasi interiornya tidak menarik."
"Kok bisa ? Ki ini dananya triliunan lho," jelas Julian
"Itulah kesalahan kita, ketika kita ingin membuat sebuah bangunan maka jangan kita ikuti gaya orang, Pak Julian. Kalau saya ikuti gaya stylenya mbak Elsa apakah saya akan berbeda? tentu tidak jadi saya harus membawa style saya supaya saya berbeda dengan yang lain dan itu menggambarkan karakter saya. Jadi dalam membuat desain interior harus yang unik dan berbeda sehingga gedung ini bukan hanya sebagai tempat menginap atau membuat even acara saja. Sebab itu akan membatasi sasaran pasar kita nanti, jadi bisa kita tambahkan satu sudut yang variatif dimana anak remaja dan muda mudi bisa membuat memory di sana, jadi ini ada beberapa rekomendasi tempat unik yang bisa kita tambahkan di salah satu sudut hotel." jelas Kirana memutar Laptop yang sejak tadi ia kutak katik.
"Sejak kapan kamu desain ini Ki?" tanya pak Didi
"Sejak bapak panggil saya kemari dan ngomelin saya pak jadi ketika bapak sedang sidang tadi saya sibuk nyelesein ini pak." Kirana menayorot datar pada atasanya itu.
"Tapi kamu nggak tau masalahnya kan tadi?"
"Sebenarnya ini pesenan temen saya yang sedang saya kerjakan iseng-iseng tadi pak tapi saya malah dipanggil terus tanpa a,b,c, saya di semprot," jelas Kirana.
Elsa dan Julian serempak bertepuk tangan sementara Gibran yang sedari tadi menopang dagu dan memandangi wanita yang didekatnya itu tanpa memalingkan mukanya bahkan tak berkedip sedikitpun. Ia masih dengan puji - pujiannya di dalam hati, memuji isteri kebanggaannya itu.
‘Sumpah Ki kali ini apapun itu aku tidak peduli Kirana maafkan aku tapi aku akan melanggar semua kesepakatan kita, baik kamu suka atau tidak, cinta atau tidak aku akan tetap melakukannya.’ Gumam Gibran.
Elsa menyenggol Julian dan mengerdikkan alis melirik ke arah Gibran. Sontak kaki Julian menyenggol kaki Gibran mengalihkan perhatiannya mengingat ada pak Didi di ruangan itu.
"Baiklah kalau begitu pak Gibran, pak Julian, mbak Elsa dan pak Didi, semua sudah terselesaikan apa saya bisa kembali ke ruangan saya, kaki saya keram duduk sejak tadi, " ucap Kirana datar.
“Pak Didi minta tolong suruh Pak Faiz urus bagian desain ubah semua profilnya sesuai yang dijelaskan Kirana tadi, Elsa kamu boleh pergi” Gibran beranjak bangkit, hendak memindahkan tubuhnyanke meja kerja.
"Ckckck, gue kecewa ma lo bang, lambat banget pergerakan lo,” ucap Elsa menggeleng - geleng dan beringsut keluar bersamaan dengan pak Didi sementara Julian yang mengerti situasinya pun segera beranjak keluar juga.
Kirana merasa akan ada hal aneh dari gerak - gerik mereka.
Gibran berdiri dan mendekat ke arah mejanya lalu membuka laci mengambil balsem kemudian beranjak ke arah Kirana. Tanpa banyak kata ia mengangkat kedua kaki Kirana dan menaruhnya di atas pangkuannya.
Kirana spontan berusaha menyibak tangan Gibran, namun Gibran segera memasang wajah datar hingga membuat wajah Kirana memerah.
"Bapak ngapain sih?"
"Bisa nggak kamu panggil aku dengan namaku, kita cuma berdua aja Ki," protes Gibran.
"Maaf Giby, kamu mau apakan kakiku?"selanya dengan suara lirih.
"Mau aku patahin," ketus Gibran.
"Ha? Tega kamu By, aku jalan pake apa?"
"Ya kursi rodalah, soalnya kaki ini udah lupa jalan pulang ke rumah semalem, jadi mau aku patahin." ucapnya seraya mengurut kaki Kirana perlahan-lahan
"Giby, Elsa itu apanya kamu?"
"Adik sepupu aku, Fanya anak baru di sini, aku nggak tau gimana ceritanya dia bisa kerja di sini, sudah ... coba kamu berdiri dan jalan sedikit," ucapnya membantu Kirana berdiri.
Kirana mengikuti saran Gibran, berjalan pelan mencoba merasakan pergerakan sendi dan tulang kakinya.
Tak lama Kirana berbalik dan mencium pipi Gibran. Gibran mengkerutkan keningnya menatap Kirana yang tersipu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Tau dapet ciuman dari kamu mendingan aku alih profesi aja jadi tukan pijit," goda Gibran mendekat ke telinga Kirana.
"Hei bos ganteng, ini ucapan terima kasihku sebagai karyawan mu tau," elak Kirana beranjak menjauh.
Namun langkahnya terhenti dan berbalik ketika suara Gibran terdengar lagi.
"Ki pulang bareng ya?" Kirana mengangguk menerima tawaran Gibran.

Komentar Buku (141)

  • avatar
    AminahBaiqaminah

    aku suka banget ceritanya,makasih ya kak udah bikin cerita yang baguuus bangaaat

    14/01/2022

      1
  • avatar
    DiamarthasariArina

    ceritanya bagus haru,lucu,menegangkan .. hebat penulisnya smoga sukses dg karya2 yg lain.. aku suka ceritanya

    06/01/2022

      1
  • avatar
    yunitaNurmah

    ending yg membahagiakan... thanks buat kk penulis🤗

    05/01/2022

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru