logo text

Bab 44 KIRANA TERPURUK

Malam itu Si kembar berlari kecil meraih ibu mereka yang baru nongol di ruang tamu.
"Bunda?" panggil keduanya serempak.
Kirana meraih mereka dan melekatkannya dalam dekapannya, kembali sang air mata membanjir pipi Kirana.
"Bunda, ayah mana?"tanya Rakha.
Kirana mengusap pipinya kasar dan kembali mengatur emosinya.
"Maafkan Ayah, ayah ada urusan mendadak ke luar negeri jadi ayah buru buru perginya tadi."
"Yaahh nggak ada temen main dong bun," keluh Sakha mengkerucutkan mulut imutnya.
"Sayang, kok cemberut kan ada bunda dan Eang, juga tante Zizi, nah sekarang temen main dedek tambah banyak." hibur Kirana.
"Ya ponakanku gemes, tante Zizi akan temenin kalian main sampai puas," sambut Zizi berjongkok meraih si bungsu.
"Janji?"
"Janji kelingking,"ketiganya saling mengaitkan kelingking mereka.
Zizi berebahan di pangkuan bunda Mutia masih meratapi kesedihannya akan apa yang menimpa Gibran.
"Sudahlah ndok, tabahkan hatimu, kamu harus tegar menghadapi semua ini," hibur bunda Mutia mengelus kepala Kirana.
"Bunda, Kirana masih tidak percaya kenapa semua ini terjadi sama Kirana, dulu ayah dan ibu Kirana pergi sekarang kenapa mesti Giby?"
"Hush ... eling cahayu, kita nggak boleh ngeluh gitu ,pamali!, sebaiknya kamu banyak banyak berdoa dan kuatkan hatimu ,kalau bukan untuk anakmu setidaknya untuk Gibran, bunda yakin Gibran juga tidak mau lihat kmu kayak gini ndok."
Sesekali Kirana menyeka airmata di pipinya yang terus menetesinya. Tak lama Zizi datang mendekatinya dan duduk di sampingnya.
"Bunda, pertama Zizi minta maaf, tapi Zizi harus memberitahu hal ini sama Kirana," ujarnya.
Mendengar keseriusan ucapan Zizi, Kirana beringsut duduk dan menyiapkan hatinya dengan apa yang akan di dengar dari Zizi
"Ada apa Zi?"
"Bunda, Kirana, barusan pak Julian telpon dan minta aku kasi tau Kirana."
"Masalah apa Zi?, apa terjadi sesuatu dengan Giby."
"Nggak,ini bukan masalah Giby."
"lalu apa?"
"Kirana, keadaan perusahaan nggak baik karena ulah pak Budiawan dan Pak Hendra,"jelas Zizi hati hati.
"Pak Hendra, maksud kamu Hendra? Iyakah Kirana? Apa yang bunda maksud itu benar?" tegas bunda Mutia menyela dan diiyakan Kirana dengan anggukan.
"Ya bunda, om Hendra adik ayah."
"Astagfirullah Kirana, lagi - lagi dia berulah, bunda nggak habis pikir hati bejat apa yang mengisi otak orang itu, Hendra ... Hendra belum cukup menghancurkan ayahmu sekarang mau menghancurkan orang lain." keluh bunda Mutia.
"Aku akan ke rumah sakit mas Julian pasti masih di sana, bunda, Zizi aku minta tolong jagain si kembar, mungkin aku akan kembali subuh."
"Ya udah, hati- hati ndok."
Kirana segera membangunkan pak Sofyan dan memintanya mengantarkan dia ke rumah sakit, kali ini Kirana tersadar ke alam nyatanya. Perih hatinya memang belumlah terobati namun kenyataan hidup harus di hadapi tanpa harus menunggu pulihnya sang hati.
‘Bunda benar, aku harus kuat,harus tegar, kali ini sebaiknya aku menahan duri ini aku harus membantu Gibran mengatasi semua ini, Giby ... maaf aku sempat mengecewakanmu, kini aku sudah bangun, aku akan ikut berjalan disampingmu, menemanimu melewati semua ini. Allah bantu aku.’Batin Kirana.
Julian terperanjat bangun dari rebahannya yang sudah sepuluh menit lalu melihat Kirana sudah berada di sampingnya.
"Mana Mommy mas Ju?"lirihnya pelan.
"Masih di dalam jaga sama Elsa," selanya mengusut matanya.
"Kita bicara di kantin yuk mas," kata Kirana menyeret Julian tanpa mengganggu istirahat Elsa dan Jeslin.
Kantin rumah sakit malam itu memang masih buka maklum 24jam on. Kirana dan Julian mengambil tempat duduk di salah satu kursi pengunjung dengan dua cup kopi cappucino pesanan mereka.
Julian segera meneguk kopinya begitu pelayan kantin meletakkannya di depannya.
"Mas Ju, tolong beritahu aku kondisi perusahaan sebenarnya?"
"Kamu serius?, apa batinmu sudah siap?"
"Iya."
"Nggak baik Ki, sejak Mr.Takamura menarik sahamnya ke perusahaan Om Budi, omset kita menurun drastis dan melihat kondisi ini pihak investor di Prancis juga sudah berniat mau menghentikan kerjasama sepihak,tapi di sana sudah ada om Dian yang atasi."
"Lalu Apa yang bisa kita lakukan?"
"Tadinya setelah penangkapan om Budi dan om Hendra tertangkap ,aku dan Giby mau ke Jepang untuk mengajukan kontrak kerjasama dalam bidang taman bermain dan kebetulan kami punya seorang komikus terkenal di Jepang baru baru ini yaitu Takeshi Obata, Giby dan Tn.Obata sudah berbicara via DM dan beliau bersedia berpartisipasi. Dalam hal ini kita akan bekerjasama dengan pembisnis top Jepang yaitu Tn. Kazuki salah satu pemilik homeshopping terbesar dan termegah di Tokyo."
"Maksud mas Ju, kita akan menambah karakter taman bermain kita di salah satu obyek wisata kita di Jepang gitu?"
"Ya."
Kirana menarik napas panjang dan pandangannya menerawang jauh. Kirana meneguk kopinya dan bersuara kembali.
"Berarti di tempat lain perusahaan JG Group masih aman ya mas?"
Julian hanya mengangguk dan masih menghawatirkan pikiran Kirana.
"Tapi Ki,kita ada sedikit masalah."
"Apa?"
"Sejak om Budi membuat investasi bodong itu, JG Group kehilangan triliunan uang dan kita nggak tau semua uang itu dikemanain sama mereka."
"Kita bisa mas, aku akan pastikan mereka akan mengembalikannya."
"Apa maksudmu?"
"Aku akan membuat Fanya dan tante Erin mengembalikan uang JG Group yang mereka curi, ingat mas aku dan keluarga om Hendra masih punya dendam kesumat sama mereka, tapi ...." Kirana menjeda.
"Tapi apa Ki? katakan saja."
"Aku butuh kekuasaan mutlak sebagai pemilik perusahaan, setidaknya kali ini aku akan menggunakana hakku sebagai Nyonya Gibran Sanjaya isteri CEO JG Group."
Kata - kata Kirana sontak membuat hati Julian bergetar merinding, dalam hati ia tak henti- hentinya memuji sosok wonder woman dihadapannya itu Tuhan... sungguh sangat beruntung Giby memiliki wanita dihadapanku ini, By kamu pasti bangga dengan bidadarimu ini,lihatlah dia begitu tegar dan percaya diri,aku kagum padanya. Kirana kamu memang tidak ada tandingannya di lautan wanita di dunia ini lirih Julian dalam hati.
"Baik , aku akan mengatur semuanya, mulai besok kita akan ke kantor, lalu bagaimana dengan ponakan gue Ki?"
"Mas tenang aja Rakha dan Sakha anak yang pintar adanya nenek mereka, mereka tidak akan kesepian, aku juga minta tolong Zizi, dan kalau mas dan Elsa tidak keberatan juga boleh sesekali meluangkan waktu untuk mereka agar kesibukanku tidak membuat mereka kehilangan orang tua mereka."
"Baik nyonya Gibran, saya paham dan akan menyiapkan semuanya dengan rapi."
"Mas Julian ... terima kasih ... terima kasih atas semuanya mas," lirih Kirana mengharu kepada Julian.
"Udah ah,lo bikin gue baper aja," ucapnya menggenggam tangan Kirana menyemangatinya.
Jeslin dan Elsa terbangun dan mendapati Kirana dan Julian di luar ruangan,keduanya mengucek mata menormalkan pandangan mereka.
"Kirana, kapan kamu datang sayang?" sapa Jeslin memeluk Kirana.
"Mommy maaf, aku mengejutkanmu, aku sudah di sini sejam yang lalu, ada yang ingin aku bicarakan dengan mas Julian masalah perusahaan, lebih jelas Mommy tanya sendiri sama orangnya,aku mau lihat Giby dulu boleh," ucapnya memandang Jeslin dan Elsa bergiliran.
"Ya udah, kamu masuk gi, aku sama tante akan bicara dengan Julian.

Komentar Buku (141)

  • avatar
    AminahBaiqaminah

    aku suka banget ceritanya,makasih ya kak udah bikin cerita yang baguuus bangaaat

    14/01/2022

      1
  • avatar
    DiamarthasariArina

    ceritanya bagus haru,lucu,menegangkan .. hebat penulisnya smoga sukses dg karya2 yg lain.. aku suka ceritanya

    06/01/2022

      1
  • avatar
    yunitaNurmah

    ending yg membahagiakan... thanks buat kk penulis🤗

    05/01/2022

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru