Gibran berhambur merangkul istrinya yang baru saja siuman. "Aku di rumah sakit ya By?" Lirih Kirana. "Maafin aku sayang, maafin aku, aku gagal jagain kamu." desis Gibran di balik dekapan leher istrinya. "Sudahlah, jangan menyalahkan diri sendiri,Mommy sama siapa kemari?" "Di antar sopir sayang." "By gimana keadaan bayi kita." Gibran mengangkat kepalanya dan menyeka airmatanya yang sejak tadi membanjiri pundak Kirana. "Anak kita selamat, tapi kita masih tetap harus menjaganya,"kisah Gibran. "Ya Kirana, kata dokter kamu harus istirahat total" lanjut Jeslin. "Syukurlah anakku selamat,"lirih Kirana meraba perutnya. "Maafin bunda sayang, bunda tidak bisa menjagamu dengan baik," keluhnya pada sang janin. Jeslin merasa lega setelah kondisi Kirana semakin membaik, ia pun pamit dan harus kembali ke London, karena sejak pagi ia terus mendapat telpon memintanya untuk kembali. "Giby, Kirana sayang, Mommy harus kembali ke L.A.” keduanya terkejut mendengar kepulangan Jeslin yang mendadak. "Mommy kenapa baru bilang sekarang?" Tegas Gibran terkejut. "Iya Momm,Giby benar," sambung Kirana. "Sorry, soalnya tadi pagi pagi kamu sudah bikin Mommy jantungan, sekarang lagi, gimana Mommy mau kasi tau." "Maafkan Kirana Momm." "Its oke dear, kamu jaga diri dan bayi kamu sayang, kalian adalah hal terpenting bagi mommy." "Mommy apa ada hal penting?"tukas Gibran menyidik. "Ya, Mommy harus bereskan saham Budiawan, Mommy akan segera menariknya dan mengadakan rapat dewan direksi, urusan di luar negeri biar Mommy dan Pak Dian yang selesaikan ... kamu fokus sama Sanjaya junior,okay." Kata - kata hangat Jeslin inilah yang selalu membuat hati Kirana tenang dan damai di sisi wanita paruh baya itu, ia hanya menangis haru memeluk wanita yang menggantikan kasih sayang orang tuanya sepeninggal mereka. Bersamanya ia merasa menemukan kembali KELUARGA yang pernah hilang darinya. "Sudahlah sayang, Mommy sayang kamu karena kamu memang pantas mendapatkannya.” "Terimakasi Mommy, thank you for everything." Mata Kirana berkaca-kaca memandangi wanita yang sudah memberinya kasih sayang itu. "Sama - sama dear," ucap Jeslin hangat dalam rangkulannya pada Kirana. Gibran mengantar ibunya sampai depan pintu, di sana sudah ada Julian yang baru saja tiba. "Ju antar Mommy ke bandara,ntar aja lo jenguknya" tukas Gibran sekedarnya. Gibran kembali ke sisi Kirana ,iapun meraih kedua tangan lembut wanita pujaannya itu dan menciuminya lama. "By kamu kenapa sih?" "Jujur Ki, aku takut banget tadi, aku nggak bisa bayangin kalau kamu dan anak kita ...." selanya menggantung. "Udahlah suamiku tersayang yang penting anak kita selamat dan sehat, aku yang salah karena terlalu lemah menjadi seorang ibu," "Ki, gimana kalau kamu resign aja, biar kamu fokus aja sama anak kita." "Tapi By ....” "Udah kamu nggak boleh protes, ini demi kebaikan kamu dan anak kita apalagi kata dokter anak kita akan lahir kembar lho." "Apa? Serius sayang? Aku akan punya anak kembar?" "Mmm, kenapa nggak senang?" "Seneng banget!" Kirana memeluk erat Gibran seakan ia ingin meluahkan seluruh kebahagiaannya pada laki- laki pilihan hatinya itu. "Udah ... udah ... sekarang kamu mendingan istirahat dulu, aku akan jaga di sini, urusan kantor biar Elsa dan Julian yang atasi," nasehat Gibran. Sore beranjak datang Pak Didi dan Zizi datang untuk menjenguk Kirana, selang lima menit bunda Mutia dan Kevinpun juga datang menjenguknya, Kirana kagum sendiri melihat perhatian dari sahabat dan keluarganya itu. "Ya Allah, Zizi lo bawa orang seRT ya?" jerit Kirana. "Ya buat jagain lo dari nenek sihir itu," ketus Zizi. bunda Mutia beringsut merangkul Kirana yang tengah duduk menyender. "Gimana keadaan kamu dan bayi kamu ndok?"lirihnya mengelus kepala Kirana. "Untungnya bayi Kirana selamat Bun, kalau nggak Kirana nggak bisa bayangin apa jadinya Kirana." "Wes ... yang penting kamu sekarang jaga bayi kamu biar sehat, kamu nggak usah datang dulu ke panti kalau keadaan kamu lagi nggak sehat," ujar bunda Mutia. "Nak Giby bunda minta ijin sama nak Giby, nanti kalau hari minggu tiba apa boleh bunda saja yang berkunjung, sekalian lihat keadaan Kirana." "Nggak apa apa bunda, saya malah senang dan juga tidak khawatir Kirana kenapa kenapa di jalan nanti, terima kasih ya bunda atas pengertiannya." "Bunda yang harusnya terimakasih nak Giby sudah mengizinkan." Zizi dan Kevin merapikan keranjang buah bawaan mereka sementara pak Didi masih berdiri di samping ranjang Kirana. "Ternyata kamu bisa hamil juga Ki?" goda pak Didi "Yee si bapak ... ya iyalah bisa emang kayak bapak masih aja wara - wiri sendiri nggak bisa punya anak." "Bukannya nggak bisa Ki, nggak ada temen bikin." "Makanya bapak cari sendiri gi, ngaremi kandang sendiri ... sepia kan jadinya." "Kamu tuh ya, ada - ada aja ngatain saya." Gibran terkekeh melihat Kirana dan Pak Didi yang saling mengolok olok. "Kalau begitu saya pamit dulu ya pak Gibran,"sela pak Didi menunduk hormat. "Ya pak, terima kasih atas perhatiannya." "Ki, ponakan gue cewek atau cowok?" sela Zizi giliran menggoda Kirana. "Belum tau," jawab Kirana mengangkat bahu. "Tapi kayaknya gue butuh bantuan lo deh Zi buat asuh anak gue, soalnya kata dokter ni anak nggak sendirian lho." "Hah? Maksud lo anak lo kembar Ki?" tukas Zizi kegirangan. Dan diiyakan Kirana dengan anggukan. "Asiikk Kevin gue bakal punya ponaan kembar, bunda ... cucu bunda kembar!” seru Zizi menatap satu persatu isi ruangan itu. Bunda Mutia mengecup kening Kirana dengan penuh haru dan bahagia. "Bunda turut bahagia buat kamu anakku, bunda hanya sedih andai Asti ada di sini mungkin dialah orang yang akan lebih berbahagia dari siapapun." Kenang Bunda Mutia akan sahabatnya yang tak lain ibu kandung Kirana. Kirana berhambur kedalam pelukan bunda Mutia dan Gibran beringsut mendekat. "Ki, doakan saja mereka semoga tenang di alam sana, aku yakin mereka bisa melihat kamu, dan mereka juga bahagia untuk kamu," hibur Gibran. "By, aku cuma kangen aja sama mereka," lirih Kirana dalam isakannya. Bunda Mutia, Zizi juga Kevin akhirnya berpamitan. Magrib datang menyapa, Gibran mengambil tempat dekat tempat tidur Kirana untuk menunaikan sholatnya. ‘Kirana hanya memandang haru dan bahagia ke arah suaminya itu Tuhan, entah kebaikan apa yang pernah kulakukan hingga kau memberiku lelaki terbaik di dunia ini, izinkan aku tuhan untuk terus menghujaninya dengan kebahagiaan cintaku. Dan terimakasih atas hadiah terindahmu ini Tuhan.’ lirih Kirana dalam hati "Lamunin apa sih?" goda Gibran mendekat ke arah Kirana yang menyalaminya penuh cinta, sementara Gibran mengecup mesra kening dan pipi istrinya itu. "Kamu belum makan dari tadi, makan dulu sana gi" "Ntar Julian datang bawain aku makanan, aku nggak mau pergi sedetikpun dari sisi kamu sayang." "Lebay ...." "By boleh aku mengungkit sesuatu nggak dari kamu?" "Apa itu?" "Apa kamu pernah jatuh cinta sebelum ketemu aku?" "Kenapa kamu tanya gitu?" "Entahlah, kalau dipikir secara logika, waktu kita bertemu dulu aku masih SMP sementara kamu udah mau lulus SMA, menurut sejarah kamu dan Fiona berteman sejak kecil, bahkan dijodohkan, masak iya sih, diantara kalian nggak ada rasa sedikitpun bahkan hanya simpati." Gibran menarik napas panjang dan menatap ke depan, seolah memorinya tengah mencoba membuka bab kehidupan terpahitnya. "Kamu tau nggak sayang saat itu sebenarnya adalah momen terpahit dalam hidup aku." "Kenapa?" "Ya kau benar aku menjalani masa kecilku bersama Fiona, kami main bersama kemana - mana bersama, sebenarnya ada sahabat aku yang sangat menyukai Fiona, jadi aku kerap di bully olehnya karena dekat dengan Fiona. Fiona juga bukan gadis baik Ki, sering ke club malam, pulang mabuk mabukan, bahkan sering aku lihat dia jalan dengan cowok yang berbeda beda." "Terus kok, bisa papa kamu jodohin kamu sih?" "Hmm ... papa di kelabui oleh om Budiawan, tapi setelah penculikan ku itu akhirnya papiku sadar siapa musuhnya dan siapa temannya." "Gila dramatis sekali kisahmu, di satu sisi kamu di bully penggemarnya Fiona di sisi lain ayah Fiona mencoba melenyapkanmu belum lagi Fiona nyakitin perasaan kamu dengan tingkah egoisnya itu." "Tapi aku beruntung kok, karena dengan melihat sendiri kelakuannya aku jadi tidak punya rasa cinta bahkan simpati padanya dan berkat perbuatan ayahnya aku jadi ketemu cinta sejati aku, yang sekarang duduk manis dalam dekapanku nama Kirana Larasati," jelasnya mengusut - ngusutkan wajahnya ke leher Kirana. "Iihhh Giby apa - apaan sih, geli tau.” "Habis kamu ngangenin sayang, Ki aku mau ngomong dong sama Giby junior." melasnya memanja pada Kirana. Gibran menciumi perut Kirana dan mengelus elusnya lalu berbicara seolah tengah bercakap dengan seseorang yang nyata. "Sayang, apa kabarmu anakku? Ayah kangen sama kalian, baik - baik di sana ya, ayah janji ayah akan menjaga kalian dan bunda oke? Janji kelingking." Kirana mengharu biru melihat tingkah konyol suaminya itu, ia pun tak elak mengusap kepala Gibran yang berebah di pangkuannya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (141)
AminahBaiqaminah
aku suka banget ceritanya,makasih ya kak udah bikin cerita yang baguuus bangaaat
14/01/2022
1
DiamarthasariArina
ceritanya bagus haru,lucu,menegangkan .. hebat penulisnya smoga sukses dg karya2 yg lain.. aku suka ceritanya
06/01/2022
1
yunitaNurmah
ending yg membahagiakan... thanks buat kk penulis🤗
aku suka banget ceritanya,makasih ya kak udah bikin cerita yang baguuus bangaaat
14/01/2022
1ceritanya bagus haru,lucu,menegangkan .. hebat penulisnya smoga sukses dg karya2 yg lain.. aku suka ceritanya
06/01/2022
1ending yg membahagiakan... thanks buat kk penulis🤗
05/01/2022
0Lihat Semua