logo text

Bab 19 KEYAKINAN KIRANA

Zizi dan Kirana kembali ke rumah panti, bunda Mutia terkejut minta ampun melihat Kirana dipapah oleh Zizi dalam keadaan berdarah.
"Ya Allah ... kalian kenapa? Kok bisa berdarah gini sih, Zi?" Bunda Mutia memasang wajah cemasnya dan segera mengambil kotak P3K yang menempel di dinding tak jauh dari ruang tamu.
Kirana masih meringis kesakitan sementara Zizi perlahan membuka seragam Kirana sekedarnya dan meraih kapas yang sudah dibalut Betadine.
Zizi menekan pelan kulit Kirana yang sakit, sesekali terdengar jeritan sakit Kirana namun baik Zizi dan bunda Mutia tidak bisa berbuat apa – apa.
"Zi, bisa kamu ceritain ke bunda apa yang terjadi sama kalian?"
"Jadi gini bun, tadi si nona pahlawan kesiangan ini niat nolongin cowok yang dikejar preman. Nah, pas tu preman mau nusuk si cowok, eh, wonder womant datang nengahin ceritanya tapi ya gini deh, akibatnya,” tutur Zizi seraya tangannya masih sibuk memberikan perban pada pada luka Kirana.
Bunda Mutia berdecak dan menggelengkan kepala melihat kecerobohan Kirana
"Kamu tu ya Ki, kalau mau cari pahala jangan sampai nyawa taruhannya, kalau kamu sampai terluka parah gimana?" ketus bunda Mutia berlalu membawa kembali kotak P3K.
"Eh, Ki perasaan tadi terjadi sesuatu deh," celetuk Zizi teringat sesuatu.
"Ih..apaan sih lo?"
"Cciee ... ciee ... malu tuh, ceritanya," goda Zizi.
"Malu apaan sih?" ucap bunda Mutia menyela kedua gadisnya itu.
"Ini lho bunda ada adegan romantis gitu loh, Romeo nggak jelas sama si Juliet." Zizi menurun naikkan kedua alisnya seraya melirik Kirana.
Bunda Mutia duduk beringsut di dekat kedua gadis belia itu lalu menatap dalam kearah Kirana yang tersipu tak karuan.
"Beneran Ki, emang kamu apain anak orang?" tambah Bunda Mutia semakin menggoda Kirana.
"Yee bunda, sumpah bukan aku yang mulai duluan. Tuh, orang yang maen nyosor aja ke aku," jelas Kirana menimpali Zizi.
Mulut bunda Mutia menganga lalu ditutup dengan kedua tangannya.
"Beneran Ki, kamu dah ciuman?" tegas bunda Mutia menyodorkan wajahnya mendekat ke arah Kirana yang menunduk. Kirana hanya bisa mengangguk menjawabi sang bunda.
"Ya abis bukan Makhram main cium - cium segala, dasar anak zaman now, nggak bisa jaga kesucian."
"Bunda..?" pekik Kirana.
"Lho kalau nggak bisa jaga kesucian terus namanya apa Kirana?" tambah bunda menceramahi kedua gadis konyol itu.
"Kalian para gadis harus memberikan ciuman kalian pada suami kalian, apalagi itu ciuman pertama lho, ingat kalian ini masih virgine baik lahir maupun batin, tapi sekarang malah kamu Ki ...." ketus bunda Mutia berdecak menggeleng lagi, ia tak habis pikir dengan kelakuan Kirana.
Ia pun berdiri menjauh dari kursi mengacuhkan ucapan Kirana
"Ya, nanti Kirana akan cari cowok itu dan minta pertanggung jawabannya bun, dia harus nikahi Kirana apapun alasannya," pekik Kirana lagi.
Bunda Mutia berhenti dan berbalik menatap
"Emang bisa? Apa kamu yakin akan bertemu dia?Bagaimana kalau dia menolak? Bagaimana kalau dia sudah ada yang punya?"
"Kirana akan meminta dia pada tuhan di setiap sujud Kirana, dan meminta satu takdir bertemu dia lagi, perkara dia mau atau tidak itu urusan Kirana dengan dia, Kirana janji akan mendapatkan tanggung jawabnya apapun caranya, Kirana nggak mau nanggung dosa sendiri," jelas Kirana dengan penuh percaya diri.
"Dasar edan," lirih Bunda Mutia.
‘Bunda berharap Kirana, apa yang kamu katakan diijabah tuhan, Bunda hanya ingin kebahagiaan untukmu anakku, Ya Allah pertemukanlah mereka apapun keadaannya dan satukan mereka dalam pernikahan sebagai pengganti airmata gadis itu yang selama ini menghias wajah perinya,' gumam Bunda Mutia dalam hati sembari berlalu pergi.
Zizi masih menatap heran ke arah sahabatnya itu.
"Apa lo liat - liat !?" hardik Kirana kesal.
"Seyakin itu lo ama tuh, cowok? PEDE amat sih, lo," ujarnya.
"Seenggaknya gue udah pasang niat. Inget Zi, Allah itu suka sama hambanya yang pede, itu tandanya kita optimis, ya nggak?"
"Terserah lo deh." Zizi memasang wajah malasnya.
Gibran dan Julian kembali ke kediaman Sanjaya di L.A. Ya sambil menyelesaikan tugas magisternya Gibran juga membantu ayahnya menjalankan perusahaan, sehingga ayahnya sedikit terbantu dan bisa melakukan hal lain untuk dirinya termasuk diam dia menyelidiki keberadaan dan aktifitas Kirana.
"Pak, gadis itu sudah tamat dari sekolah jenjang SMAnya," lapor pak Mahendra ayah Julian yang merangkap menjadi tangan kanan pak Deka.
"Bagus, minta pak Dian untuk memasukkan dia bekerja di perusahaan kita di Indonesia, mengenai bagaimana caranya dia aturlah," pinta pak Deka.
"Baik pak."
Pak Mahendra segera melaksanakaan perintah Pak Deka dan Kirana pun mendapatkan pekerjaan meskipun ia tidak tau sosok yang berada di belakang keberhasilannya itu.
Bekerja di perusahaan JG Group haruslah memiliki kualifikasi tinggi syarat terendahnya minimal memiliki nilai tertinggi di pendidikannya dan berotak cerdas selain itu juga harus memiliki pengalaman kerja yang luas dan tinggi.
Tak mudah menapaki kaki di perusahaan raksasa itu, karena penghasilannya berlipat ganda dari nominal UMK negara. Oleh karena itu bekerja di perusahaan JG Group adalah impian setiap orang ,mendapat kesempatan di sana adalah reward hidup yang luar biasa.
Setidaknya itulah yang dirasakan Kirana setelah mulai bekerja di perusahaan besar seperti JG Group, berkutat dengan dokumen dan komputer sehari - hari membuatnya tenggelam di dalam dunia kerja yang menggila, ia bahkan sampai lupa akan apa tujuan hidupnya karena dalam hati dan pikirannya hanyalah meraih masa depan dan membantu bundanya menjalankan panti asuhan.
Sejak bekerja di JG Group Kirana dan Zizi memutuskan untuk hidup mandiri, merekapun mulai tinggal di sebuah kos - kosan kecil yang tak jauh dari tempat mereka bekerja.
"Zi tolong ambilkan handuk dong,"pinta Kirana yang baru saja selesai mandi sepulang kerja.
"Gila, hari ini kita banyak kerjaan Ki, gue aja sampai nggak bisa makan siang di kantor tadi, untung ada camilan kemarin yang gue simpen di tas,lupa buat di embat," cicit Zizi beringsut menyerahkan handuk ke arah pintu kamar mandi.
"Ya gue juga, tuh, sampai di bawa pulang gitu," sambut Kirana dari balik kamar mandi.
Tak lama ia sudah keluar dengan kemben handuknya dan mengusap rambutnya dengan handuk yang lain.
"Gue heran deh Zi, kita kan udah kerja empat tahun lebih gitu, kok, gue nggak pernah liat CEO tuh, perusahaan sih?" sela Kirana mengusut - ngusut rambut basahnya.
"Lo lupa ya, CEOnya dah meninggal kata pak Didi dua bulan yang lalu. Nah selama itu anaknya yang super duper sibuk katanya akan gantiin dia,lo lupa pak Didi sebulan lalu ke L. Ya, itu acara pemindahan jabatan perusahaan, tapi ya emang orang penting selama itu kita nggak pernah lihat batang hidungnya karena setiap rapat bulanan atau tahunan yang hadir cuma pak Julian aja itupun kadang – kadang," tutur Zizi.
"Itu dia makanya gue bilang aneh, ya udahlah tapi katanya besok nih dia bakal nongol kan gosipnya?" sela Kirana dan Zizi hanya menanggapinya dengan anggukan
"Gue bisa bayangin dia itu pendek, gendut, bulet terus sangar. Ya ampun, ampun bang jago deh!"
"Doraemon dong,"timpal Zizi dan gelak tawapun terlepas dari mulut keduanya sambil menikmati mie rebus yang di buat Zizi sepuluh menit yang lalu.
Gibran masih berkecibaku dengan tumpukan dokumen di ruang kerjanya, Julian datang membawa dua cangkir kopi cappucino kesukaan Gibran untuk menemani waktu lembur mereka.
"Lo yakin mau tampil bro?" tukasnya beranjak mendekati Gibran dan meletakkan kopi di sampingnya
"Hm, ya kasian mereka biar nggak mati penasaran jadi gue nggak digentayangin ntar." Gibran tak memindahkan pandangannya dari lembaran CV para karyawan JG Group.
"Oh iya nih, data personalia semua karyawan gue udah susun sesuai devisi," jelas Julian meletakkan sebuah lembaran di dekat tubuh Gibran.
Gibran membuka satu persatu dan melihat setiap cv dari semua karyawan. Tangannya berhenti di salah satu lembar CV seorang karyawati.
Ia menatap foto yang tercantum di atasnya dan matanya menyipit serta alisnya melekuk keningnya mengkerut, Julian terperanga melihat keseriusan sahabatnya menatapi kertas yang nempel di tangan sahabatnya itu
"Ada apa sih lo serius amat liatin data orang."
"Ju, kayak gue ngerasa pernah lihat nih cewek deh." selanya memiringkan kepalanya
"Mana ... mana?" Julian pun membelalak melihat foto polos gadis itu.
"Kenapa lo?"sela Gibran balik bertanya melihat ekspresi sahabanya itu
"Sumpah By, ccuuaanttiikk banget!" ucanya menekan semua hurup kata – katanya.
"Kirain apa, dasar ngeres lo,"maki Gibran
"Ya By, kalau yang ginian sih asli buatan Indonesia,Langka!" celotehnya lagi.
Gibran menepuk pundak Julian dengan lembar kertas yang dipegangnya sedari tadi dan kembali ia menatap lagi foto Kirana "KIRANA LARASATI" lirihnya
“Kayak gue pernah denger nama itu deh, tapi siapa nih cewek? Sepertinya gue udah ketemu dia nih, tapi dimana? Kapan? Aaahh mending gue lihat besok aja,siapa tau ada yang namanya SESUATU.” Gibran bermonolog.
( flashback off)

Komentar Buku (141)

  • avatar
    AminahBaiqaminah

    aku suka banget ceritanya,makasih ya kak udah bikin cerita yang baguuus bangaaat

    14/01/2022

      1
  • avatar
    DiamarthasariArina

    ceritanya bagus haru,lucu,menegangkan .. hebat penulisnya smoga sukses dg karya2 yg lain.. aku suka ceritanya

    06/01/2022

      1
  • avatar
    yunitaNurmah

    ending yg membahagiakan... thanks buat kk penulis🤗

    05/01/2022

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru