logo text

25. Jaka Sembung Bawa Golok.

Alexa memandang motor Honda Cup 70-nya dengan mata berbinar. Ia sama sekali tidak menyangka, kalau Pak Syamsul, montir yang direkomendasikan Risma ternyata sedahsyat ini. Pak Syamsul mampu merealisasikan semua keinginannya. Lihatlah penampakan motor Honda cup tua ini sekarang.
Motor yang tadinya ringkih, kini terlihat seksi dengan bokong bondol ala Japanese style dan gaya street cub.
"Sesuai dengan yang Mbak Milah mau, garpu depannya saya diperlebar menjadi 14,5 sentimeter. Rangka belakangnya juga sudah saya potong 35 sentimeter dan diperlebar menjadi 12 sentimeter," terang Pak Syamsul. Alexa mengangguk puas. Ia sungguh mengagumi kinerja luar biasa Pak Syamsul.
"Wah, motor ini sekarang keren banget ya, Pak? Bapak memang hebat." Alexa mengacungkan jempolnya. Pak Syamsul tersenyum malu namun lega. Ia gembira karena pelanggannya puas dengan hasil kerja kerasnya.
"Ini swing arm belakangnya juga saya perlebar 22 sentimeter agar ban besar ini bisa terpasang sempurna," terang Pak Syamsul lagi.
"Ban ini berapa harganya, Pak? Saya takut uang saya nanti tidak cukup untuk membayarnya," ungkap Alexa terus terang. Ia memang sudah menyiapkan sejumlah uang untuk membayar jasa Pak Syamsul. Namun tidak untuk ban besar ini. Ia masih harus membeli ponsel. Ia takut kalau uang pesangon dari Gala ini habis nantinya. Sementara gajiannya masih lama.
Pak Syamsul tersenyum mendengar kekhawatiran ibu guru berwajah import ini. Ia memaklumi kekhawatiran Jamilah. Risma sudah memberitahunya bahwa Jamilah ini baru saja mulai bekerja. Tentu saja ia belum gajian.
"Bannya tidak usah dibayar, Mbak Milah. Gratis," tukas Pak Syamsul menenangkan.
"Kok gratis? Nanti Pak Syamsul rugi lho."
"Iya, gratis. Saya juga tidak rugi kok, Mbak. Soalnya ini ban bekas konsumen saya dulu. Jadi saya tidak rugi karena saya tidak keluar modal. Memang sudah rezekinya Mbak Milah," lanjut Pak Syamsul lagi.
"Terima kasih ya, Pak." Alexa lega karena ia tidak harus membayar dana untuk ban motor extra. Pak Syamsul mengangguk singkat seraya membereskan peralatan bengkelnya. Hari sudah semakin sore. Saatnya untuk menutup bengkel.
Ketika sedang beres-beres peralatan itulah, sebuah motor ber-cc besar memasuki bengkel. Alexa menoleh. Ia mengernyitkan kening saat mengenali motor besar itu. Demi memastikan dugaannya Alexa melirik pengendaranya sekilas. Benar, pemilik motor ini adalah orang yang berpapasan dengannya kemarin. Pengendaranya bahkan sempat memberikan peringatan padanya akan adanya lubang besar di sisi jalan.
Alexa membuka mulut. Ia bermaksud mengucapkan terima kasih kepada sang pengendara. Kemarin ia tidak sempat mengucapkannya, karena sang pengendara berlalu begitu saja. Namun ia menelan kembali kalimatnya, saat sang pengendara membuka helm full facednya. Astaganagadragon. Gala rupanya. Kalau begitu lebih baik ia tidak mengucapkan apa-apa. Gala ini 'kan tidak pernah enak ucapannya. Lebih baik ia cabut saja dari bengkel ini.
"Motor saya sudah selesai 'kan, Pak? Sudah bisa saya bawa pulang?"
"Sudah," jawab Pak Syamsul.
"Belum!" bantah Gala.
Nah loh!
Alexa memberengut mendengar jawaban tidak kompak antara Pak Syamsul dan Gala. Tentu saja ia lebih mempercayai Pak Syamsul alih-alih mantan bossnya ini. Tahu apa Gala soal motor? Kalau masalah macul dan pupuk hama, baru si Gala ini kompeten.
"Eh tapi sepertinya belum selesai seratus persen, Mbak Milah. Saya harus mengencangkan baut-bautnya lagi. Takutnya ada yang longgar. Nanti dijalan malah kenapa-kenapa pula." Dengan cepat Pak Syamsul meralat ucapannya.
Alexa mendengkus sebal. Ia mencium adanya aroma-aroma persekongkolan di sini.
"Mbak Milah mengobrol saja dengan Mas Gala di bawah pohon rambutan itu. Di sana lebih adem, Mbak. Ada bale-balenya lagi. Nanti kalau semua sudah beres, saya akan memanggil Mbak Millah. Bagaimana?" usul Pak Syamsul lagi.
"Jangan keras kepala, Jamilah KW. Ikuti apa yang dikatakan Pak Syamsul. Lagi pula Pak Syamsul pasti merasa grogi kalau kamu terus memelototinya saat bekerja," pungkas Gala lagi. Alexa mendiamkannya saja. Ia kesal karena Gala selalu ikut campur dalam setiap urusannya.
Eh tapi tunggu... tunggu... Gala memanggilnya apa tadi? Jamilah KW? Jangan... jangan... Alexa refleks memandang Gala. Dan air muka yang ditunjukkan Gala menjelaskan semuanya. Sepertinya Gala telah mengetahui kalau dirinya bukanlah Jamilah. Tadi Gala memanggilnya Jamilah KW bukan? Padahal biasanya Gala ini memanggilnya dengan julukan Midun. Baiklah. Mungkin memang sudah saatnya penyamarannya ia buka. Lagi pula, bisa jadi ini adalah awal dari proyek masa depannya. Yaitu rencana terselubungnya untuk menggiring Gala ke Alcatraz. Seperti yang diusulkan oleh Antonio kemarin dulu.
"Baiklah kita duduk di sana saja, Pak." Alexa setuju berbincang-bincang debgan Gala. Ia bahkan berjalan terlebih dulu ke arah bale-bale di bawah pohon rambutan. Dari sudut mata, Alexa memindai Gala ikut berjalan di belakangnya. Setelah mereka berdua duduk, barulah Alexa bersuara.
"Oke, Pak. Silakan Bapak bertanya apa saja. Saya akan menjawab semuanya. Tapi dengan satu syarat."
"Kamu ini anak dukun ya? Sedikit-sedikit minta syarat," cela Gala sinis.
"Anak mafia," jawab Alexa tegas. Saat mengatakan anak mafia, Alexa menatap Gala tepat di kedua matanya. Gala balas menatap Alexa tak kalah tajam. Perlahan ingatan akan potongan percakapan mereka di waktu lalu, bermunculan satu persatu.
"Apa ini, Pak Boss?"
"Buka saja dulu agar kamu tahu isinya?"
"Tidak mau! Bisa saja itu isinya bom atau granat."
"Kamu ini paranoid sekali. Takut sekali dibom orang. Memangnya kamu ini siapa? Anak mafia? Pakai takut mau dibom orang segala?"
"Emang. Eh, emang saya paranoid soal bom. Soalnya saya keseringan nonton film-film tentang mafia."
"Lo masih mau menganggar ayah lagi? Dengar, kalau gue mau, gue bisa saja meminta papa gue mengeluarkan jantung lo dengan kedua tangannya sendiri. Gue sungguh-sungguh, Pasha. Gue nggak pernah main-main dengan ucapan gue."
"Ternyata kamu memang benar-benar anak mafia," Gala tersenyum sumir. Ia berhadapan dengan anak orang berkuasa rupanya. Seperti kisah sinetron saja.
"Dengar baik-baik, Jamilah KW, saya memang ingin sekali mengetahui siapa jati dirimu yang sebenarnya. Akan tetapi saya juga bukan orang bodoh yang bisa kamu paksa memberikan sesuatu, tanpa saya ketahui apa yang harus saya korbankan. Saya tidak sedungu itu," tutur Gala santai.
Alexa tersenyum kecil. Petani borjuis ini pintar. Pendidikannya mungkin hanya sampai SMA. Tapi pengalaman hidupnya sudah S3. Gala tidak mau membeli kucing dalam karung. Alexa memahami tipe laki-laki yang cara berpikirnya logis seperti Gala ini. Laki-laki yang lakik banget begini justru akan berjuang sampai akhir jika mereka sudah mentekadi sesuatu. Gala sungguh kandidat yang tepat. Antonio memang benar. Ia jeli melihat peluang potensial. Alexa mengangkat bahu. Berpura-pura menyayangkan sikap defensif Gala. Ia teringat akan nasehat Antonio sesaat sebelum si anak sultan itu pulang. Bahwa ia harus mengelus ego Gala hingga batas maksimal.
"Kalo lo mau nantang ego laki, gampang, Lexa. Lo elus-elus aja egonya. Ntar kalo si ego kegelian, pasti ia minta digaruk. Nah, pada saat itulah lo beraksi."
"Apa boleh buat. Sepertinya Bapak memang tidak punya peluang untuk mengetahui jati diri saya yang sebenarnya. Soalnya persyaratan saya memang tidak mudah. Padahal besar harapan saya kalau Bapak, ehm bisa memperjuangkan saya." Alexa merasa pipinya memanas saat mengucapkan kata memperjuangkan.
Ge-er banget gue berharap diperjuangkan elah.
Akan halnya Gala, ia memicingkan sebelah matanya, saat mendengar Jamilah menyebut soal kalimat memperjuangkan. Apa sebenarnya yang ingin disiratkan Jamilah padanya?
"Coba katakan saja persyaratanmu. Kalau saya mampu, saya akan memenuhinya." Gala akhirnya menyerah. Ia tidak kuasa menahan rasa penasarannya lebih lama lagi.
Umpan mulai dimakan. Saatnya beraksi!
Alexa menarik napas lega. Semoga saja Gala tertarik untuk menerima tantangannya. Kalau pun tidak, toh yang penting ia sudah berusaha.
"Syaratnya adalah, apakah Bapak bersedia memperjuangkan saja di Alcatraz, dengan menantang Brandon. Orang yang akan dijodohkan dengan saya?"
Hening.
"Saya sederhanakan dulu pertanyaanmu. Apakah maksudmu saya harus baku hantam dengan laki-laki yang akan dijodohkan padamu di Al--apa tadi namanya?"
"Al catraz, Pak. Benar. Bapak harus bertarung dengan Brandon di sana dan harus menang! Sanggupkah Bapak menerima persyaratan dari saya?" tantang Alexa serius.
Hening lagi.
"Mari kita perjelas dulu. Dari kata-katamu tadi, saya menangkap satu hal. Bahwa kalau saya menang dalam duel itu, artinya kamu akan menjadi milik saya. Begitu? Saya tidak ingin ada kesalahpahaman di sini." Gala menegakkan punggungnya. Sikap tubuhnya yang tadi santai, kini menjadi siaga. Ia tidak ingin salah dalam mengartikan persyaratan dari Jamilah.
"Benar," Alexa menjawab singkat namun tegas. Jawaban tegas Jamilah menghadirkan getaran dalam dada Gala. Kalimat tadi mengindikasikan kalau Jamilah telah memilihnya. Lebih jauh lagi, apakah Jamilah mempunyai perasan lebih terhadapnya?
"Kamu memilih saya untuk membantai calon yang dijodohkan padamu. Apakah itu artinya kamu menyukai saya? Makanya kamu memilih untuk saya miliki daripada si Bandot-Bandot itu tadi?"
Matiiii... mau jawab apa ini? Udah Lex. Lo jawab aja sesuai yang Antonio usulkan. Lo nggak mau dimiliki siapa pun 'kan?
"Brandon, Pak. Brandon. Bukan bandot. Bapak hobby banget sih mengganti-ganti nama orang?" gerutu Alexa.
"Jawab dulu pertanyaan saya. Jangan mengalihkan pertanyaan." Gala mengupayakan pembicaraan tetap pada topik utama.
Mampus gue!
Bohong... jangan. Bohong... jangan. Jangan... bohong.
"Saya tidak tahu, Pak. Satu yang pasti. Saya sekarang takut menyukai seseorang. Saya takut kalau nantinya saya jadi tidak mengenali diri saya sendiri, saat saya terserang virus cinta. Saya kapok mencintai orang. Apalagi mencintai orang yang salah." Alexa akhirnya memilih jujur. Nuraninya tidak mengizinkan kalau ia mengelabuhi Gala, demi keuntungannya sendiri. Ia tidak sejahat itu.
"Saya memilih Bapak, karena saya pikir Bapak adalah kartu As saya untuk bebas," timpal Alexa lirih. Kadung sudah basah, ia sekalian mandi saja. Kalau saja ada Antonio di sini, pasti ia sudah dimaki-maki. Ibarat kata ia ini mau niat menjadi maling. Tapi malah mendatangi kantor polisi duluan. Bodohnya natural tanpa skin care, kalau menurut istilah sahabatnya itu.
"Kartu As untuk bebas? Jelaskan. Sepemahaman saya, kalau saya menang, maka kamu akan menjadi milik saya. Kamu bebas dari mananya?"
Nah 'kan? Gala tidak mengetahui rencana liciknya. Jahat sekali kalau ia mengorbankan orang yang sudah berjuang untuknya.
"Begini, kalau pun Bapak menang, Bapak masih harus menghadapi dua orang kuat lainnya. Dua orang itu adalah papa dan abang saya. Dan saya tidak yakin kalau Bapak bisa memenangkan pertarungan dengan abang saya. Walau, taruhlah Bapak menang melawan papa saya. Dengan begitu, saya akan bebas dan tidak dimiliki siapa pun bukan? Sementara Bapak, mohon maaf, mungkin sudah setengah hidup karena dihajar habis-habisan oleh abang saya." Makin lama suara Alexa makin lirih. Di ujung kalimat, suaranya bahkan bergetar. Ia putus asa karena sepertinya tidak ada lagi jalan keluar. Ia akan segera menjadi nyonya Sanjaya sepertinya.
"Mari kita pastikan sekali lagi. Kalau saya menang melawan abangmu, maka kamu akan menjadi milik saya bukan?" Gala memastikan. Ia tidak mau salah dalam memaknai kalimat Alexa. Padahal ia sudah menanyakan hal ini tiga kali. Ia hanya mencegah kesalahpahaman saja. Ia harus yakin dulu, baru ia akan bertindak. Ia tidak mau buang nyawa sia-sia.
"Benar,"
"Kalau begitu, saya bersedia memenuhi persyaratanmu. Saya akan menantang si Bandot dan juga papa dan abangmu. Sekarang ceritakan pada saya. Siapa sebenarnya dirimu?"
Gimana... gimana... Gala setuju? Alhamdullilah.
Alexa menarik napas lega. Ia tadi sudah jujur pada Gala. Ia tidak menjebak Gala. Jadi kalau pada akhirnya Gala dihabisi Xander, ia tidak bersalah bukan? Tapi kalau bisa, ya Gala jangan kalah juga dong. Kasihan.
Ya elah, lo ini ngebatin apa sih, Lexa? Memang dasar Jaka sembung bawa golok. Eh sekali-sekali bawa keris kali ya? Masa golok terus? Dahlah. Yang penting ia bahagia. Titik. Tidak pakai koma.

Komentar Buku (94)

  • avatar
    CarvalhoCaroline

    you bom 😄

    11/11/2024

      0
  • avatar
    BoteWabote

    FF 🥰🥰🥰🥳😭

    16/06/2024

      0
  • avatar
    Sovia Ardiansyah

    suka banget sama cerita ini

    05/02/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru