Bab 10

Sedang dikamarnya Reno tak kunjung memejamkan matanya dia merasa menyesal sudah membuat wanita yang kini sudah menjadi calon istrinya itu ketakutan, sesekali Reno menatap kearah pintu masuk memastikan Ellina masuk ke kamarnya lagi dengan wajah polosnya memaksanya untuk makan, namun Ellina tak kunjung datang, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 23.00.
“apa dia marah padaku? Mengapa dia tidak datang lagi, apa mungkin aku yang terlalu kasar padanya?” tanya Reno pada dirinya sendiri, sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
“Ah sebaiknya aku menemuinya di kamar, mungkin dia sedang dikamar sekarang,” sambung Reno lalu dia pun melangkah kan kakinya keluar dari kamar tamu, baru saja dia ingin membuka pintu kamarnya, Reno mendengar suara tangisan dari dalam kamar. Perlahan Reno membuka kamarnya lalu dia pun masuk tanpa sepengetahuan Ellina.
“Maafkan aku Ellin, tidak seharusnya aku bersikap kasar padamu tadi,” Ucap Reno, lalu dia pun memeluk Ellina dari belakang dengan erat, Ellina yang saat itu tengah berbaring menyamping pun membuka matanya dia terkejut karena Reno kini memeluknya dari belakang dengan erat, Ellina pun melepaskan pelukannya, membuat Reno terkejut.
“Sedang apa kau disini Ren?” tanya Ellina sambil mengusap air matanya yg menetes, Reno pun membalikkan tubuh Ellina dan menatap wajah Ellina yang penuh dengan air mata, lalu Reno pun menghapus air mata Ellina, mendapatkan perlakuan lembut dari Reno membuat Ellina terdiam mungkin dia akan kembali luluh, karena sikap manis Reno.
“Maafkan aku Lin, aku salah karena sudah membuatmu ketakutan, besok kita akan pergi ke London dan aku akan melamarmu pada orang tuamu, setelah itu kita akan menikah,” ucap Reno berusaha meyakinkan Ellina.
“Apakah bisa kita menikah dihari Valentine saja Ren? dari dulu aku sangat menginginkan pernikahanku dilaksanakan dihari kasih sayang,” ucap Ellina sambil menatap Reno dengan harap-harap cemas.
“Apa alasannya kamu mau menikah dihari itu?” tanya Reno.
“Karena aku ingin hari peringatan pernikahan kita sama dengan hari kasih sayang sedunia, dan kita akan selalu bahagia dan penuh kasih sayang nantinya,” jawab Ellina.
Pemikiran yang konyol mungkin. Namun, nasib orang siapa yang tahu.
“Baiklah jika itu yang kau mau,” sahut Reno, dan kali tanpa penolakan.
“Kau kenapa?”
Reno terlihat khawatir saat Ellina memegangi perutnya seperti menahan sakit.
“Tidak apa-apa aku hanya..., aku hanya lapar Ren dari tadi aku belum makan," jawan Ellina sambil tertunduk karena malu, membuat Reno kini tertawa karena melihat Ellina yang terlihat malu-malu.
“Kenapa malah tertawa?” tanya Ellina yang kini mencebikan bibirnya.
“Tidak kenapa-napa, hanya kau ini lucu saat sedang malu-malu seperti tadi itu, terus kenapa tidak makan bersama keluargaku tadi hm?”
“Karena..., karena aku menunggumu pulang, dan aku khawatir takut terjadi sesuatu padamu, jadi nafsu makanku hilang karena kepikiran kamu terus,” ucap Ellina sambil tersipu malu, namun ucapan Ellina kini membuat Reno merasa menyesal karena sempat berpikir untuk membatalkan pertunangannya dan menyuruh Ellina untuk kembali ke London seorang diri.
“Ya sudah aku ambilkan makanannya ya, nanti kita makan sama-sama,” Ucap Reno lalu kini Reno pun pergi ke dapur untuk mengambil makanan.
“Sebenarnya Reno itu sangat baik, pasti mommy seneng punya menantu seperti Reno, oh ya ampun mommy dan daddy aku belum memberi tahu kabar ini pada mereka," ujar Ellina yang kini kembali cemas pada orang tuanya, tak lama Reno pun membawa dua piring spageti dan susu hangat lalu menghampiri Ellina yang kembali terlihat gelisah, kini Reno pun duduk di samping Ellina lalu menggenggam tangan Ellina erat.
“Ada apa lagi Ellin? Apakah ada yang kau pikirkan?” tanya Reno yang melihat kegelisahan diraut wajah Ellina.
“Itu Ren, aku bingung aku belum memberi tahu kan mommy dan daddy tentang rencana kita, bagaimana aku menjelaskan pada mereka, pasti mereka akan syok karena rencana pernikahan kita, yang mendadak,” Ucap Ellina sambil menggigit bibir bawahnya, Reno pun tampak berpikir bagai mana caranya memberi tahu orang tua Ellina tentang rencana pernikahan mereka yang terkesan dadakan itu.
“Sudahlah kita pikirkan nanti, sekarang kita makan dulu, katanya tadi kau lapar,” ucap Reno sambil memberikan sepiring spageti pada Ellina, akhirnya kini Reno dan Ellina pun memakan spageti itu dan setelah selesai makan Ellina pun merapikan piring dan gelasnya di meja.
“Sudah larut malam, sebaiknya kita tidur soal orang tuamu kita pikirkan solusinya besok,” ucap Reno lalu mengambil piring kotor bekas makannya bersama Ellina untuk dibawa ke dapur.
“Baiklah, lalu kau tidur di mana?” tanya Ellina yang kini sudah duduk diranjang.
“Tidur di kamar tamu seperti yang nenek perintahkan, atau kau ingin aku tidur disini bersamamu,” goda Reno, namun Ellina dengan cepat menggelengkan kepalanya, membuat Reno tersenyum karena melihat tingkah Ellina yang menggemaskan.
“Ya sudah kau istirahatlah sudah larut malam,” ucap Reno, Kemudian Reno keluar dari kamarnya yang kini menjadi tempat untuk Ellina beristirahat.
Setelah Reno meninggalkan kamar itu, Ellina pun tersenyum lalu dia pun akhirnya memutuskan untuk tidur agar esok dia bisa bersiap-siap menghadapi orang tuanya di London.

Bersambung

Komentar Buku (182)

  • avatar
    Effan

    Sangat menarik

    22/11

      0
  • avatar
    ZuswantiniLilik

    bahus sekali

    18/07/2025

      0
  • avatar
    SusantiSusi

    baguss banget

    10/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru