Sandra mengernyit menelisik gadis yang berdiri di hadapannya saat ini. Sedangkan Sari tadi langsung refleks berdiri saat melihat kedatangan majikannya karena menurutnya tidak sopan jika duduk di meja makan saat sang majikan sudah datang. 'Cantik sekali, siapa Ibu itu. Eh tapi kenapa wajahnya seperti tidak asing. Aku pernah melihatnya di mana yah?!' Sari membatin seraya mengingat-ingat apakah dia pernah melihat Sandra sebelumnya. "Kenapa kalian saling diam?!" tanya Tuan Jordan heran saat melihat kedua wanita itu seperti tidak saling mengenal. Pertanyaan Tuan Jordan tadi semakin membuat Sandra bingung. Bahkan kini pandangan wanita cantik itu beralih menatap Tuan Jordan seakan bertanya apa maksud dari pria itu. "Hey ... kenapa kalian diam saja?!" Tuan Jordan mengulangi pertanyaannya. "Apa maksudmu?!" Sandra menjawab pertanyaan pria di sampingnya itu dengan pertanyaan. Hingga membuat Tuan Jordan menghela nafas lelah. "Berapa lama lagi kalian akan berdiri seperti orang asing begini?!" Pria itu mulai tampak kesal. Sedangkan Sari yang juga tidak mengerti dengan maksud Tuan besarnya itu hanya mampu mematung di tempatnya dengan sesekali menundukkan kepala. "Memangnya aku harus bagaimana?!" tanya Sandra semakin tidak mengerti. "Astaga ...!" Tuan Jordan mengusap wajahnya kasar karena merasa frustasi. Apakah hubungan Ibu dan anak itu sebegitu buruknya sehingga sama sekali tidak ada getaran emosi saat mereka bertemu? Begitu pikirnya. Sandra yang merasa tidak terjadi apa-apa malah berjalan menuju sofa dan mendudukkan dirinya dengan santai di sana. Hal itu tentu saja membuat Tuan Jordan semakin bertambah kesal. "Apa kau tidak ingin memeluk putrimu?!" sentak Tuan Jordan seperti habis kesabaran. "Putri ...?!" Sandra semakin tidak mengerti dengan tingkah konyol pria itu. "Konyol ...!" imbuhnya. Sedangkan Sari langsung mengangkat wajahnya karena terkejut mendengar teriakan sang majikan. Apalagi saat majikannya itu menyebut kata 'putrimu' tadi. 'Memangnya siapa putri Ibu cantik itu?!' Sari membatin. "Sandra, sudahlah jangan bermain-main lagi denganku! Dan kau Sari jangan bersikap dingin seperti itu kepada Ibu kandungmu. Tidak baik, Nak!" tutur lembut Tuan Jordan yang membuat mata Sari membeliak karena kaget. 'Ibu? Apa maksudnya?!' Sedangkan Sandra masih tercenung di tempatnya karena berusaha memahami situasi ini. Kemudian dia menyadari ada kesalah pahaman di sini. Kemudian berkata- "Jangan bilang kau-" "Kalian ini Ibu dan anak tidak sepatutnya bersikap seperti orang asing. Apapun masalahnya bisa kita bicarakan baik-baik. Aku di sini ingin menjadi penengah di antara kalian berdua!" cerocos Tuan Jordan tidak memberikan kesempatan Sandra dan Sari untuk menjelaskan. Akhirnya kedua perempuan itu hanya bisa pasrah dan memilih untuk mendengarkan ocehan pria itu sampai selesai. "Sudah bicaranya?!" sarkas Sandra. "Aku hanya ingin-" Tuan Jordan menggantungkan ucapannya karena Sandra mengangkat sebelah tangannya pertanda pria itu harus stop. "Siapa yang kau bilang putriku itu?" tanya Sandra kemudian bangkit dari tempat duduknya untuk mendekati Sari. "Apakah dia?!" tanya-nya sekali lagi. "Bukan kah dia-" "Jangan menyela pembicaraanku Jordan!" hardik Sandra yang membuat pria itu kesulitan untuk menelan ludahnya sendiri. "Atas dasar apa kau mengirah gadis itu adalah putriku? Apa kau sudah membuktikannya?" "Tapi-" "Sudah ku bilang jangan menyela!" teriak Sandra yang membuat Tuan Jordan menutup rapat-rapat mulutnya. "Aku heran, kenapa pria secerdas dirimu bisa menjadi sangat bodoh untuk mengenali seseorang. Ternyata seperti ini orang yang disebut penguasa Ramiro group. Menggelikan sekali!" ejek Sandra. "Asal kau tahu Jordan, aku tidak peduli siapapun gadis itu. Tapi jangan pernah kau memaksaku untuk mengakuinya sebagai putriku!" desis Sandra sebelum kembali ke kamarnya. Blamm- Terdengar suara pintu ditutup dengan sangat keras oleh Sandra. Hingga membuat orang yang masih berada di ruang makan menjadi kaget. Sekarang Sari sudah bisa memahami keadaan, ternyata majikannya itu telah salah paham terhadapnya. Tetapi bagaimana bisa Tuan Jordan menyimpulkan bahwa dirinya adalah putri Ibu cantik tadi? Begitulah pertanyaan yang bersarang di otak gadis itu sekarang. Mendengar perkataan yang terlontar dari bibir Sandra tadi membuat Tubuh pria berwibawa itu menegang. Apakah benar ia telah salah mengirah selama ini. Jika memang demikian siapa sebenarnya putri kandungnya? "Ma-maaf Tu-tuan ...!" Mendengar ucapan gadis di sampingnya membuat Tuan Jordan tersadar dari lamunan-nya. Kemudian mengalihkan pandangannya ke arah gadis itu. Namun ia masih tetap bergeming. "A-apa be-benar anda telah salah sangka dengan mengirah saya adalah putri dari Ibu cantik tadi?!" tanya Sari dengan ragu namun ia harus memperjelas masalah ini agar tidak ada lagi kesalahpahaman ke depannya. "Kalau boleh saya tahu atas dasar apa anda memiliki pemikiran tersebut. Maaf jika pertanyaan saya ini terkesan lancang!" imbuh Sari. Tuan Jordan pun merogoh saku celana bahan yang dipakainya kemudian mengeluarkan sesuatu. "Dari foto ini. Bukankah foto ini milikmu?!" "Boleh saya lihat fotonya, Tuan?!" Tuan Jordan pun memberikan foto di tangannya kepada gadis itu. "Di mana anda menemukan foto ini Tuan? Saya sudah mencarinya ke mana-mana tapi tidak ketemu?!" tanya Sari dengan wajah sumringa karena berhasil menemukan foto milik Bening. "Jadi benar foto itu milikmu? Aku menemukannya di ruang tamu saat kau tidak sengaja menjatuhkannya!" jawab Tuan Jordan. "Memang benar saya yang menjatuhkan foto ini tapi foto ini bukan milik saya. Karena foto ini milik-" Belum sempat Sari menyelesaikan ucapannya Tuan Jordan langsung menyela- "Foto ini milik siapa?!" tanya pria itu dengan mengguncang bahu Sari karena tidak sabar mendengar jawaban dari gadis itu. "Mi-milik Nona Bening Tuan!" Degh- Bagai tersambar petir di siang bolong. Tuan Jordan menegang di tempatnya, jantungnya seakan jatuh ke dasar perut, dadanya sesak tak bisa bernafas. Kenapa dia begitu bodoh? Begitu pikirnya. Kenapa dia tidak bisa mengenali wajah putrinya sendiri. Bukankah wajah Bening sangat mirip dengan Sandra. Bahkan di awal pertemuan mereka dirinya sempat tertegun karena merasa melihat Sandra sewaktu muda. Ya Tuhan kenapa dia bodoh sekali? Kenapa tidak bisa peka dengan keadaan? Rasa kecewanya terhadap hidup membuatnya jadi hilang naluri. Hati Tuan Jordan semakin hancur saat mengingat sikap kasarnya kepada Bening. Bahkan dia pernah memukul Bening dengan tangannya sendiri. Ia menyesal sangat menyesal hingga rasanya ingin memotong tangannya sendiri. Tangan yang sudah kurang ajar menyakiti putrinya kandungnya. Tubuh pria itu merosot di lantai, dia menangis terguguh sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan. "Maafkan Papi Nak! Maafkan Papi! Hiks ... hiks ...!" Sari melihat sang majikan yang terpuruk itupun merasa iba, namun tidak tahu harus berbuat apa. Sehingga dirinya hanya bisa duduk bersimpuh di samping majikannya itu. Namun yang lebih menyakitkan lagi, Tuan Jordan bingung harus memanggil Bening dengan sebutan apa. Anak atau menantu? Yah, masalah ini semakin rumit ketika pria itu menyadari bahwa putri yang dicarinya selama ini telah berada di rumahnya tanpa ia sadari, dengan status sebagai seorang menantu. Apalagi ini Tuhan? Setelah merasa sedikit tenang, Tuan Jordan pun mengangkat kepalanya kemudian menoleh kepada gadis yang sejak tadi setia menungguinya. "Maafkan aku Sari, karena sudah membawamu masuk ke dalam kerumitan ini." "Tidak apa-apa Tuan saya mengerti. Tapi ada yang ingin saya tanyakan kepada anda. Apakah orang yang ada di dalam foto ini adalah Ibu cantik tadi?!" "Iya, namanya Sandra!" "Jadi Ibu cantik tadi Ibunya Nona Bening?!" "Iya Sari." "Nona Bening pasti akan sangat senang jika bisa bertemu dengan Ibunya Tuan. Karena Nona selalu bercerita kepada saya bahwa dia sangat merindukan Ibunya. Saya mohon Tuan pertemukan mereka berdua," mohon Sari. "Aku pasti akan mempertemukan mereka berdua Sari. Karena aku juga ingin meminta maaf kepada Bening," jawab Tuan Jordan sendu. "Minta maaf untuk apa Tuan? Maaf jika saya terlalu banyak bertanya!" ucap Sari seraya menundukkan kepalanya. "Tidak apa-apa Sari karena aku akan mengatakan yang sebenarnya kepadamu. Bahwa sesunggunya Bening adalah putri kandungku. Aku ingin meminta maaf kepadanya karena belum bisa menjadi Ayah yang baik untuk dirinya." Mulut gadis itu terbuka lebar mendengar pengakuan majikannya tadi. "Jadi Nona Bening menikah dengan kakaknya sendiri?!" Sari membekap mulutnya dengan telapak tangan seakan tak percaya dengan pendengarannya. "Itulah kenyataan yang sangat aku sesali sekarang. Seandainya aku tahu lebih awal maka pernikahan itu tidak akan mungkin terjadi. Tapi aku berjanji akan menyelesaikan masalah ini dengan benar, karena aku tidak ingin mengulang kesalahan lagi!" tutur sang Tuan. ***** Di kediaman Ramiro. Bening sedang bercengkerama dengan Tuan sepuh untuk melupakan kesedihannya saat mengingat sang suami. Mereka berdua kini berada di samping akuarium besar tempat di mana koleksi ikan-ikan mahal sang Opa berada. "Yang besar kehitaman itu namanya Jordan!" ucap sang Opa yang membuat Bening mengerutkan kening. "Kenapa Opa memberikan nama yang sama seperti Papi?!" tanya Bening heran. "Ha ... ha ... ha ... Opa sengaja memberi nama itu agar kami bertemu setiap hari. Kau tahu sendirikan anak itu jarang sekali pulang ke rumah. Walaupun kami tinggal di atap yang sama kami jarang sekali bertemu. Jadi ku berikan saja namanya kepada ikan kesayanganku!" jawab sang Opa. "Lalu yang gendut warna merah itu siapa namanya Opa?!" tanya Bening kemudian. "Itu si Arga!" jawab sang Opa bangga. "Kenapa harus Arga, Opa? Gendut gitu!" ucap Bening seakan tak rela suaminya disamakan dengan ikan gendut. "Itu karena Arga waktu kecil bertubuh gemuk, pipinya sampai tumpah ke mana-mana. Pokoknya lucu sekali dia. Setiap kali Opa melihat ikan itu jadi teringat Arga kecil yang berbadan bulat!" terang sang Opa. "Apa benar seperti itu Opa?!" "Tentu saja, Arga menjadi kurus sejak kelas 3 SMP karena malu dengan teman-temannya yang sering mengatainya gendut. Sejak saat itu Arga rajin sekali olah raga dan memiliki badan bagus hingga saat ini!" "Ternyata ejekan teman-teman Arga ada gunanya juga ya Opa. Kalau tidak pasti tubuh Arga masih gendut sampai sekarang!" "Ha ... ha ... iya! Tapi mereka sepertinya mulai kelaparan. Biar Opa ambil makanan-nya dulu!" "Biar Bening saja yang ambil. Opa duduk saja!" Bening pun berdiri dari duduknya. Namun tiba-tiba kepala gadis itu terasa berputar. Hingga- Brukk- Bening terjatuh pingsan di hadapan Tuan sepuh. "Bening ...?!"
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
baguss
15/09/2024
0cerita yang luar biasa tentang si cantik Juwita
10/09/2024
0bagus
10/07/2023
0Lihat Semua