logo text

Bab 21 Meet them, Lau and Al

Senja sudah berada didalam mobil bersama Almer. Ya, karena mengantar Senja pulang, Almer meminjam mobil teman kelasnya. Sedang motornya dipakai temannya itu.
Senja menatap jalanan dalam diam. Sejujurnya, pikirannya masih sangat ruwet. Dirinya memikirkan apa hubungannya Langit dengan Athiya? Setahu Senja, Athiya sudah memiliki suami. Bahkan anak pertama mereka setahun lebih muda dari Senja.
Ya, Senja tahu itu karena Utari pernah bercerita semua teman Langit. Bagi Senja, ia harus mengenal semua teman ayahnya. Apalagi yang mempunyai anak cowok ganteng! Haha!
"Senja!"
Senja tersentak. Ia menoleh, "Ish ngagetin!"
Almer mendengus, "Gue udah manggilin lo daritadi." kesal Almer. "Mau beli red taro sekarang atau malem?" tanya Almer.
"Sekarang." jawab Senja kalem.
Almer pun menyalakan sen kanan mobil. Mobil itu berhenti di salah satu outlet minuman terkenal. Almer keluar dari mobil. Senja menghubungi Claudia.
"Halo?"
"Mau minuman rasa apa, Lau? Gue lagi di freezy cheese nih."
"Choco cheese aja."
"Oke."
Senja mengetikan pesan pada Almer untuk memesan pesanan Claudia juga.
Setelah membeli minuman, Almer juga mengajak Senja membeli kebab dan burger. Almer tidak masalah, asal Senja tidak marah lagi. Dibanding dengan gadis lainnya yang ia tahu, Senja masih normal meminta makanan dan minuman. Bukan perhiasan ataupun barang branded.
Tapi tetap saja. Perut karet milik Senja itu bisa menguras dompet!
"Almer, menurut lo berapa skala dalam sebuah hubungan nggak ada namanya selingkuh?" tanya Senja sambil menunggu lampu merah.
"Skala 2 dari 10 kali ya?"
"Kenapa?"
Almer terkekeh, "Entah. Gue hampir nggak pernah nemuin orang yang selalu baik-baik aja hubungannya tanpa orang ketiga tuh,"
Senja terdiam. Dalam hati mengiyakan ucapan Almer. Senja sering mendengar hubungan yang hancur karena orang ketiga. Seketika dadanya sesak. Tanpa sadar, tangannya terkepal kuat.
Almer menyentuh pipi Senja yang membuat gadis itu nengerjap lucu. Almer tersenyum kecil, "Tapi diantara banyaknya hubungan yang gagal. Ada juga hubungan yang abadi, Senja." kata Almer lembut.
Senja tersenyum tipis. Ia mengangguk pelan kemudian menurunkan sandaran bangku mobilnya. Senja memilih tidur daripada harus memperkeruh pikirannya.
Almer sesekali melirik Senja yang sedang memejamkan mata. Ia tahu kalau gadis disebelahnya tidak tidur. Hanya memejamkan mata. Terdengar helaan nafas beberapa kali dari bibirnya.
"Senja,"
"Hm," gumam Senja tanpa membuka matanya.
Almer mengusap kening Senja, "Kalo ada apa-apa, lo bisa cerita sama gue. Lo tahu lo punya gue disini, kan?"
Senja menoleh. Bibirnya tersenyum lembut. Kepalanya mengangguk pelan. Almer pun ikut tersenyum manis.
Jika kalian bertanya siapa yang menduduki posisi pertama setelah ibunya, jawabannya adalah Senja. Almer benar-benar menyayangi gadis itu seperti adik kandungnya sendiri.
"Gimana Dinda?" celetuk Senja.
Almer tersenyum miris, kepalanya menggeleng.
Senja menghembuskan nafas panjang kemudian tangannya terulur mengusap pipi Almer. "Kalau memang nggak bisa, jangan dipaksa, Almer. Hati lo bakal makin sakit."
"Gue cuma nggak ngerti,"
"Maksudnya?"
Almer menarik nafas dalam, "Dia bilang dia udah nggak cinta sama gue. Dia cinta sama oranglain. Bukan Asa juga orangnya. Terus siapa? Selama ini, di Pradita dia nggak deket sama cowok selain gue juga Asa."
Kening Senja mengkerut, "Mustahil." Senja menjilat bibirnya, "Kalaupun bukan diantara kalian, ya bisa aja memang dia suka sama cowok lain. Entah di Pradita atau sekolah lain."
"Entah,"
Senja menepuk bahu Almer, "Dia kerja part time kan? Bisa jadi temen kerjanya."
Jantung Almer mencelos. Ia melupakan satu orang. Selain bersaing dengan Laksana, Almer juga bersaing dengan Nando, teman kerja Adinda.
Senja dapat melihat tatapan terluka dari cowok yang sudah ia anggap kakaknya ini. Senja mengecup pipi Almer singkat kemudian tersenyum manis.
"Udahlah. Berhenti, sembuh, pulih baru pikir mau sendiri atau ganti pemilik hati." kata Senja pelan. Almer pun mengangguk paham.
Perjalanan yang hampir memakan waktu satu jam itu pun terasa melelahkan bagi Senja. Padahal sejak keluar sekolah, ia hanya duduk manis di dalam mobil. Sedangkan yang menyetir dan turun memesan minuman dan makanan adalah Almer. Sepertinya predikat remaja jompo untuk dirinya memang sepantas itu. Sial!
Kedua remaja yang masih memakai seragam itu masuk ke dalam rumah. Utari yang sedang bersantai di depan tv menoleh.
"Eh anak Bunda udah pada pulang. Kok tumben lama? Si Lau sampe tidur tuh," kata Utari memeluk Senja dan Almer singkat.
Senja menjatuhkan dirinya di sofa tunggal. Sedang Almer duduk disebelah Utari, menikmati elusan lembut pada rambutnya. Dulu, Selena sering melakukan hal ini. Namun semenjak ibunya sibuk mengurus butiknya, Selena mulai jarang berdekatan dengan Almer. Apalagi semenjak Almer masuk SMA, ia merasa sudah dewasa. Sehingga tak perlu bermanja ria.
"Kalian udah makan? Bunda udah masak. Lau belum makan, katanya nunggu kamu, Dek." ujar Utari.
Senja meringis pelan. Ia bangun dari duduknya, "Yaudah, Senja ganti baju dulu. Lo mau ganti bajunya Biru atau pulang?" matanya menatap Almer geli yang sedang memejamkan mata dipangkuan sang bunda.
"Disini aja." jawab Almer, "Aku ganti baju dulu, Bun." katanya lalu merangkul Senja. Keduanya naik ke lantai dua bersama.
Utari menggelengkan kepala pelan. Bibirnya tersungging senyum kecil, ia bahagia. Ia akan selalu bahagia saat keluarga kecilnya tetap bersama. Sesakit apapun luka yang tertorehkan di hatinya, Utari tetap bahagia selama Langit, Biru dan Senja berada didalam hidupnya.
Senja membuka pintu kamar. Claudia menoleh, bibirnya mengerucut sebal. Tawa kecil lolos dari bibir tipis Senja. Ia menjilat bibirnya kemudian menjatuhkan tubuhnya diatas kasur.
Claudia menatap Senja jijik, mengapit hidungnya dengan telunjuk dan jempolnya. "Mandi sana ih, bau!"
Senja mendelik, "Enak aja! Wangi kok!"
Claudia pura-pura muntah. Wangi darimananya? Oke baiklah, Senja memang tidak bau kecut. Hanya saja Claudia ingin gadis itu mandi! Pasalnya Senja tadi pagi langsung berangkat tanpa mandi lebih dulu! Cih, pemalas dan sembrono.
Senja berdecak sebal. Dengan gerakan malas, ia masuk ke dalam kamar mandi. Gadis itu menghabiskan hampir satu jam lamanya berendam di dalam bath-up. Bahkan Claudia harus sabar menunggu gadis itu sambil menonton drama china yang baru ia lirik.
"Senja?"
Claudia berjalan membuka pintu kamar. Matanya mengerjap lucu begitu melihat cogan didepannya. Almer mengernyitkan dahi, "Lo.. Siapa?"
"Claudia. Claudia Alesso. Temen Senja. Ngg.. Anaknya sahabat Om Langit sih," jawab Claudia gugup.
Almer mengangguk mengerti. Matanya menelisik ke dalam kamar, tak menemukan wujud dari Senja. Claudia yang mengerti pun menepuk dahinya pelan.
"Dia lagi mandi. Belum selesai. Mungkin sebentar lagi," jelas Claudia.
Almer mengangguk pelan, "Oh oke. Kalau udah selesai kalian langsung ke bawah aja buat makan bareng. Gue tunggu." balas Almer lalu berjalan menuruni anak tangga.
Claudia menatap punggung Almer yang menjauh. Bibirnya berkedut pelan, ia terpesona. Kenapa Senja tidak memberitahu sebelumnya kalau selain Biru, ia dekat dengan sosok cogan lain!
Senja yang baru saja keluar dari kamar mandi itu memicingkan matanya melihat Claudia yang sedang tersenyum sendirian sambil memeluk daun pintu. Senja melempar handuk kecil basah bekas rambutnya ke wajah Claudia yang membuat gadis itu terkejut.
"Jorok ih!"
Senja terkekeh. "Kenapa lo? Kerasukan kunti genit?" tanya Senja sambil menjemur handuk di balkon kamar.
Claudia menggeleng. Ia ikut menjemurkan handuk kecil milik Senja. Tangannya memeluk lengan Senja, sambil bergelayutan Claudia menanyakan perihal Almer. Membuat Senja jengah karena Claudia mengintili dirinya yang sibuk menyisir dan memakai serangkaian skincare pada wajahnya.
"Ayolahhhh," rengek Claudia setelah Senja menutup pintu kamarnya.
Senja berhenti dianak tangga kedua, "Oke. Gue kasih nomornya. Lepasin lengan gue sekarang." balas Senja.
Claudia menyengir lebar. Ia merapihkan rambutnya kemudian berdehem. Berjalan santai disebelah Senja. Senja yang memperhatikan hal itu hanya mendengus geli. Rupanya Claudia benar-benar ingin menggebet si Almer.
"Lama banget sih lo," protes Almer yang sudah duduk di meja makan lebih dulu bersama Utari.
Senja duduk disebelah Utari, mengkode Claudia agar duduk disebelah Almer. Tentu saja Claudia mengerti dan tersenyum lebar.
"Sori deh. Gue mandi dulu, noh dipaksa sama Lau."
Claudia cemberut, "Ya mana gue tahu lo selama itu. Lagian wajar aja gue nyuruh, tadi pagi lo kan langsung berangkat. Nggak mandi,"
Almer berdecak. "Jorok,"
Senja meringis pelan. Ia mengerucutkan bibirnya kesal. Senja menoleh, menatap Utati yang tampak tenang menghabiskan nasi di piringnya.
"Bunda,"
"Hm?"
Senja menggeleng, "Adek sayang Bunda." kata Senja pelan.
Sontak hal itu membuat Utari menatap Senja lamat. Begitu pula dengan Almer dan Claudia yang bingung dengan perubahan suara Senja. Utari melirik Almer dan Claudia sebentar sebelum akhirnya menatap Senja lagi.
Utari tahu Senja sedang banyak pikiran. Namun ia akan bahas ini nanti.
Utari tersenyum, "Bunda yang paling sayang sama Adek." balas Utari tulus. Senja mengangguk, ia tahu hal itu. "Lanjutin makannya. Bunda sengaja masak banyak karena ada Lau sama Almer." lanjut Utari yang diangguki ketiga remaja ini.
...............
Ketiga remaja itu sedang berkumpul di teras lantai dua. Tentu saja dengan banyak camilan berkat pemerasan dompet Almer. Siapa lagi kalau bukan Senja si pelakunya.
Almer tengkurap sedang Senja menjadikan punggung cowok itu sebagai bantal kepalanya. Claudia memilih menyender pada sofa dengan kaki lurus. Ketiganya mengobrol santai.
Lebih tepatnya, menggosipi teman sekolah mereka masing-masing. Senja meniupkan permen karetnya, tiba-tiba berganti posisi menjadi duduk bersila. Matanya menatap Almer dan Claudia bergantian.
"Besok kan Minggu. Gimana kalau kita lari pagi ke stadion?" tanya Senja menaik-turunkan kedua alisnya.
Claudia menggeleng, "Gue males. Tapi kalo banyak cogan.. Boleh," jawab Claudia cengengesan.
Almer mendengus. "Padahal baru tadi dia bilang mau gebet gue." gerutu Almer yang membuat Senja dan Claudia menahan tawa. "Boleh aja sih. Tapi gue latihan basket sama trio macan." lanjut Almer.
"Trio macan?"
"Temen-temen Almer, Lau. Ada Reza, Riga, sama Agil. Agil yang paling kalem." jawab Senja.
"Oh," beo Claudia. "Yang paling ganteng siapa?"
"Gue." sahut Almer malas.
Claudia tertawa pelan. Ia mengacak rambut Almer gemas. Almer menatap Claudia tajam. Senja terkekeh melihat keduanya.
"Al, pacaran yuk."
Senja terbahak.
Almer melempar kacang ke Claudia, "Mabok lo hah?!" sengit Almer. Claudia menggeleng, "Jangan tolak gue dong. Sakit nanti," kata Claudia polos.
"Udah udah udah. Mending gue tidur. Nanti malming kita ke kafe tempat Izan manggung ya." ujar Senja berdiri dari tempatnya.
Claudia dan Almer mengangguk bersamaan. Senja masuk ke dalam kamar, meninggalkan Almer dan Claudia yang masih mengemil sambil menonton film barat.
Claudia berpindah posisi disebelah Almer, ikut tengkurap sambil mengunyah kripik pisang. Gadis itu menyenggol bahu Almer, "Al,"
"Hm,"
"Pacaran yuk."
Almer mengerang malas. Sedang Claudia sudah terkikik geli. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Almer. Matanya menatap layar laptop sebentar kemudian menatap pintu kamar Senja.
"Gue rasa, Senja lagi ada pikiran." lirih Claudia. Almer menoleh, "Maksud lo?"
Claudia menghembuskan nafas pelan, "Semalem gue denger dia nangis. Malem banget, gue kebangun mau minum. Tapi nggak jadi gegara denger dia nangis,"
Almer merubah posisi menjadi duduk bersila yang diikuti oleh Claudia. Almer menatap Claudia cukup lama. Sampai helaan nafas lelah terdengar dari bibir Almer.
Almer mengangguk, "Gue juga ngerasa gitu. Dia kayak banyak pikiran," aku Almer. "Gimana kalau kita tanyain aja?"
"Pilihan bagus."
"Tapi dia tidur,"
Claudia mengibaskan tangan, "Percaya sama gue, dia belum tidur." kata Claudia. Sedetik kemudian gadis itu menarik tangan Almer untuk mengikutinya.
Ceklek
Senja yang memang masih sibuk mengamati langit-langit kamar menoleh. Ia melihat Claudia yang sedang mengamit tangan Almer.
Alis Senja terangkat satu, "Kalian jadian?"
Almer mendengus, melepaskan tangan Claudia kemudian duduk di sisi kasur. Sedang Claudia menjitak kepala Almer kesal. Claudia naik ke atas kasur, duduk disebelah Senja.
"Lo gapapa?" tanya Claudia.
Senja mengangguk, "Ngantuk. Tapi nggak bisa tidur."
Claudia melirik Almer. Kemudian ia menatap Senja tajam. Senja menatap Claudia dan Almer bergantian. Ada apa? Mereka kenapa?
"A-apa?" gugup Senja.
Almer mengusap kepala Senja lembut, "Kita tahu lo lagi banyak pikiran. Kita mungkin bisa bantu lo." kata Almer lembut.
Senja menggeleng pelan. Ia memegang tangan Almer dan Claudia. Mengusapnya pelan, "Gue masih bisa atasin sendiri, Al, Lau." ucap Senja pelan.
Claudia memeluk Senja dari samping. Gadis itu memghembuskan nafas panjang, ia tidak bisa memaksa Senja. Biar gadis itu sendiri yang bercerita nanti. Namun yang ia tahu, Senja sudah menjadi sahabatnya. Terlebih gadis ini adalah anak dari sahabat ayahnya.
Almer menipiskan bibirnya. Ia penasaran dan khawatir. Namun sebisa mungkin ia bersikap biasa saja. Kapanpun Senja membutuhkan seseorang, Almer akan menjadi orang itu.
"Gue selalu disamping lo, Senja." Almer tersenyum lembut.
Claudia berdehem keras. Ia melotot pada Almer, "Bukan lo. Tapi kita." ralat Claudia. "Kita selalu ada buat lo."
Almer mendengus, memutar bolamatanya malas. Ia belum sampai 24 jam mengenal Claudia, namun gadis itu bertingkah seakan dia dan dirinya sudah mengenal lama.
Senja tertawa pelan. "Kalian sebenernya cocok."
"Gak!" seru Claudia dan Almer berbarengan.
Senja menaikan alis satu, "Bukannya lo mau gebet Almer?" tanya Senja.
"Iya sih. Gebet doang. Ogah pacaran sama dia," jawab Claudia mendelik tajam. Almer tertawa sinis, "Gue juga ogah punya cewek kayak lo."
Claudia melotot sebal. Ingin sekali ia menghajar cogan didepannya itu! Namun apalah daya, ia tidak tega menghabisi mahakarya Tuhan yang tampan itu.
Senja hanya tertawa melihat kedua temannya. Dalam hati, ia menyumpahi keduanya agar bisa menyatu di masa depan.

Komentar Buku (58)

  • avatar
    Yxztna_28

    Avv aku jadi gasabar sama kelanjutannya nihh kira² Senja bakal sama gege ato sama siapa ya tapi kalo diliat dari judulnya sih sama laksana😐udh seneng bgt waktu deket sama gege tapi aku baru sadar kalo judulnya laksana senja tapi aku suka bgt ama ceritanya semangat kk aku tunggu kelanjutan ceritanyaa😊😊

    30/12/2021

      1
  • avatar
    hariyani34Sri

    Bener bener bagus ceritanya huhu jadi pengen kayak senja yang kuat banget 🥺 lanjut part selanjutnya ya semangat author 🙏❤️

    26/12/2021

      0
  • avatar
    RizkiaAlwin

    oh iyah e dan wajah kesehatan kulit dan seru dan Malaysia jadi nyate teh jadi genre musik 🪉 di Indonesia dengan sempurna tanpa aku suka banget gan gerimis mengundang beberapa hari terakhir bulan yang lalu dan seru dan seru banget gan ane gan kalo ada nga kk di dunia ini ternyata tidak 🙂‍↔️ di dunia ini yang ggs sendiri dan Malaysia di final piala 🏆🏆 di dunia ini adalah got to believe i yang paling murah apa bang Toyib wali kota Solo yang ggs yang paling sering ditemukan di Indonesia dan Mala

    03/08/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru