"Saya.. Cuma ingin bilang sesuatu ke mereka. Apa boleh, Bu Vivi?" tanya Senja lembut menatap guru BK itu. "Tentu." Senja menyengir, "Fuck you, bitches!" seru Senja tanpa dosa mengangkat dua jari tengahnya ke arah lawan. Senja.. Serius? Gila! Berani banget woy! Depan emaknye juga anjingggg Ih masa depan gua banget Yaallah, tontonan seru anjay Utari memijat pelipisnya. Untuk hal ini, ia memang salah membiarkan Langit mencuci otak anak itu dalam berekspresi. Adinda melotot kaget seperti Bu Vivi. "Ehem," Senja meringis saat mendengar deheman bundanya. Viona memutar bolamatanya malas, "Ibu lihat sendiri tingkah kurangajar anak itu, kan?" kata Viona memandang rendah. Belum mendengar balasan Bu Vivi, Viona kembali menatap Utari. Tersenyum miring, "Apa kamu tidak mengajari anakmu etika, Nyonya? Atau perlu aku menyewakan guru etika untuk anakmu itu?" Utari tersenyum lembut, berusaha menghadapi Viona dengan tenang. Padahal jiwa wanita itu sudah berontak ingin mencabik-cabik wajah dempulnya itu! Utari menyesap teh dengan anggun. Ia tersenyum, "Dan apa Nyonya juga tidak mengajari anakmu etika, sopan santun, serta cara berpakaian yang baik? Hah, wajar saja anaknya dempul. Toh Nyonya mencontohi." balas Utari lembut. "That's my fucking mom!" bisik Senja pada Adinda. Gadis itu meringis, mengangguk mengerti. Semua yang melihat adegan ini pasti setuju, Utari dan Senja adalah perpaduan yang sempurna. Mereka jadi bertanya-tanya, seperti apa ayah Senja? John berdehem, "Sebaiknya kita membahas hukuman yang pantas. Seperti skorsing satu minggu, mungkin?" Utari langsung menatap John tajam. Bibirnya menyeringai lebar, "Jika anak saya yang membela dirinya saat ditindas mendapatkan skorsing satu minggu. Apa itu artinya Tuan mengizinkan anak Tuan diskorsing satu bulan karena melakukan penindasan? Bukan hanya kepada anak saya. Tetapi juga Ananda Adinda. Hm?" Lidah John kelu. Sial, tatapan Utari sangat menghanyutkan dengan manik mata cerah itu. Bagaimana bisa ada wanita yang berani menentangnya? "Hei! Memangnya kamu punya bukti, wanita angkuh?!" sahut Viona. Utari mengendikan bahu, "Bisa saja. Saya rasa banyak saksi di sekolah ini." balas Utari tak peduli. "Ckckckck, kalian berdua sama-sama keras kepala. Apa suamimu tidak malu punya istri sepertimu, Nyonya? Bila saya jadi suamimu, saya sangat malu atas kelakuan istri dan anak saya seperti ini." komentas John. Utari berdiri dari tempatnya. Ia tersenyum manis, "Ah apa begini cara kerjanya? Dua lawan satu? Baiklah.. Biar bapak tanyakan pada suami saya." kata Utari lembut. Wanita itu menoleh, "Bu Vivi, mohon waktunya sebentar ya." Utari menghubungi seseorang. Tak butuh sepuluh menit, seorang pria tampan dengan rahang tegas dan tatapan dinginnya masuk ke dalam ruang BK. Semua yang menonton diluar ruangan sempat terperangah dengan wajah pria itu. "Sayang.. Ada apa?" tanya Langit merangkul Utari. Pandangannya beralih ke Senja, "Ah, Senja. Dasar kesayangan Papa. Baru hari pertama menjadi murid pindahan, kamu udah bikin kami masuk BK lagi?!" seru Langit kemudian mengecupi pucuk kepala Senja. "Anak pintar." puji Langit yang membuat semuanya menganga tak percaya. "Mereka.. Keluarga macam apa?" tanya seorang cowok yang sejak tadi ikut menonton. Orang disebelahnya menggeleng, "Ah andai keluargaku seperti mereka itu." Ucapan cowok itu diangguki banyak anak yang menyaksikan perdebatan dari belasan menit lalu. Senja memilih berdiri dibelakang Utari. Membiarkan tempatnya diduduki oleh Langit. Langit mengangkat kakinya satu, menatap John dan Viona bergantian. "Apa? Kenapa saya dipanggil? Apa istri tangguh saya kurang jelas mengatakan sesuatu?" suara serak Langit membuat para gadis memekik tertahan diluar ruangan. Mau jadi sugar babynya! Anjayyyy suaranya canduuu Senja plis tukeran posisi anjeng! Utari mendengus, "Kata si bapak buncit itu ia akan malu punya istri dan anak seperti aku sama Senja." adu Utari. John terbelalak saat dikatakan bapak buncit. Hei! Walaupun agak berisi, ia tidak buncit. Ya.. Walaupun pria yang diduga suami wanita itu lebih seksi. Langit terkekeh. Langit menatap Bu Vivi, "Ini pemecahan masalah atau sebagai ajang menjelekan keluarga saya, Ibu?" Bu Vivi tergagap. Ia tidak bisa fokus, pria ini sangat tampan dan menawan. Bahkan Viona menatap Langit lama. Senja memperhatikan Rachel yang tampak tidak suka melihat keluarganya. Hah, bodoamatlah! "Biar saya luruskan." kata Langit. "Saya rasa ini masalah para anak. Bukan para orangtua. Bukankah memalukan bila orangtua saling mengejek satu sama lain? Ah, saya yakin istri saya juga melakukan itu." Langit mendengar Utari yang mendengus kesal. Langit kembali tersenyum, "Tapi saya yakin, istri saya tidak mungkin bertingkah bila kalian tidak memulainya duluan. Jadi katakan apa inti masalahnya dan hukumannya. Jangan bertele-tele. Mengganggu waktu intim saya dengan istri saya saja." Utari merona. Langit benar. Ia ditelfon pihak sekolah saat ehem melakukan itu. Senja mendengus, "Papa!" seru Senja tak terima. Bahkan ia bisa melihat Bu Vivi terlihat malu-malu mendengar ucapan Langit. Ya Tuhan, Senja ingin menghilang. Senja dapat merasakan aura ruangan ini kembali mencekam. Terlebih sejak tadi Langit hanya diam sambil menatap Viona dan John. Bahkan Bu Vivi belum bersuara lagi. Rachel dkk pun terlihat ketakutan. Senja menyenggol lengan Adinda, "Kok pada diem sih?" bisik Senja. Adinda menggeleng, "Nggak tahu, Senja." Senja berdehem. Ia duduk dipangkuan Langit, menatap Bu Vivi lembut. "Ibu, jadi ini gimana? Saya diskorsing?" "Yaiyalah! Lo udah nampar gue sialan!" "Language, Miss." tegas Langit. Rachel menurunkan jarinya perlahan. Terlihat takut dengan tatapan Langit. "Baik. Saya tahu apa yang dilakukan Senja sebatas pertahanan diri, namun kekerasan tetap tidak bisa ditolerir di sekolah ini. Jadi, untuk Senja Mahesa akan mendapatkan skors selama tiga hari. Dan untuk Rachella Smith, Siska Lee, serta Gretta Bellatrix akan mendapat skorsing selama satu minggu. Sedangkan Adinda Kirana bisa kembali ke kelasnya karena hanya menjadi korban." ujar Bu Vivi. Viona menggebrak meja tak terima. "Bagaimana bisa anak saya seminggu?! Bahkan Rachel jadi korban disini!" seru Viona. Bu Vivi menyuruh Adinda keluar dari ruangan. Kemudian menghembuskan nafas panjang, "Maaf, Bu. Sesuai penjelasan Senja dan Adinda, putri anda dan kedua temannya sudah melakukan perundungan." balas Bu Vivi tenang. Senja menatap jengah wanita menor itu, "Nyonya, terima saja. Memang anak anda sejahat itu." "Tutup mulut lo, jalang!" seru Rachel. PLAK! Utari mendengus, "Jaga ucapanmu, Nona muda." Utari beralih menatap Viona, "Ibumu tidak mengajari caranya berbahasa yang baik kepada orang yang tidak punya masalah denganmu?" "KAMU–" Langit menahan tangan Viona yang ingin menampar Utari. Langit sudah tidak bisa sabar, "Saya tidak peduli kalau suami anda seorang anggota DPRD sekalipun, Nyonya Smith. Saya malah suka bermain-main dengan sebuah keluarga yang sewenang-wenang dengan jabatan yang mereka miliki. Apalagi seperti anakmu yang menghalalkan penindasan hanya karena status keluarga kalian tinggi." tegas Langit menatap Viona tajam. Langit menghempaskan tangan Viona. "Diatas langit masih ada langit, Nyonya Smith. Dengan sikap anda dan anakmu, saya rasa kalian sudah sangat berada diatas awan karena jabatan suami anda. Hati-hati, Nyonya. Anda akan mendapatkan apa yang anda tanam selama ini." sambung Langit kemudian memeluk Utari posesif. Dua orang itu pamit undur diri dengan Bu Vivi. Senja mengikuti kedua orangtuanya. Baru beberapa langkah, Langit berhenti. Ia membalikan badannya. Dengan senyuman lebar, Langit memanggil John. "Tuan John?" John berdehem, membenarkan jasnya. "Ya?" "Saya bersyukur bukan anda yang memiliki Utari sebagai istrimu. Karena Utari begitu berharga buat serpihan rengginang sepertimu. Selain cerdas, cantik, sopan, ramah, juga tahu cara melawan musuh dengan tenang dan baik– wanita anggun ini bisa sangat sshhh membuatmu tak bisa berhenti bahkan menahan sesuatu di bawah sana." kata Langit yang membuat semua orang terkejut. Senja sudah menutupi wajahnya, ia sangat malu. "Dan lagi, kalau bukan saya yang jadi suaminya– tidak akan ada Utari yang bahagia dan anak yang cerdas dan tahu cara membela diri dengan anggun seperti Senja. Saya dan Utari benar-benar produsen dan pengajar yang sukses, asal anda tahu. Anak ini tahu cara menghormati orang yang pantas dihormati dan tahu cara menyelamatkan harga dirinya yang jauh lebih pantas dari kelakuan anda, anak anda, bahkan harta berlimpah milik anda." Langit memakai kacamata hitamnya kembali lalu menunduk sopan, "Permisi, semuanya. Semoga kebahagiaan menyertai kalian," akhir kata Langit lalu keluar dengan memeluk pinggang Utari posesif. Wanita itu memeluk lengan sang suami lembut. Sedangkan lengan kanan Langit merangkul Senja penuh sayang. Semua orang yang berada di depan ruang BK terperangah. Aura intimidasi keluarga Mahesa bukan main! Semuanya sangat pandai bersilat lidah dan menahan ketenangan diri. "Cepat ambil tas kamu, Dek. Kita pulang sekarang." kata Langit. Senja mengangguk, "Tunggu disini ya." Senja kembali ke kelasnya. Baru saja masuk, suara tepukan tangan terdengar sangat berisik. Senja bahkan terkejut. Semua teman kelasnya berdiri menghampiri. Memeluknya seperti akan pergi ke planet lain! "Ngg.. Kalian oke?" Izan tertawa, "Gila! Lo keren banget, Senja!" "Bukan lo doang! Bahkan nyokap lo! Ckckckck," timpal Irene. "Bener! Bokap lo apalagi, ish keren!" sahut Mario. "Iya, gue seneng banget! Akhirnya ada yang bales Rachel," "Tahu nggak, muka Rachel pias banget weh!" "Anjinnggggg! Seru banget! Kapan-kapan lagi yak!" Senja hanya menyengir mendengar pujian teman-teman kelasnya. Rupanya saat situasi memanas, guru-guru pun ikut penasaran. Hah, setelah ini ia tidak akan tentram. "Lo mau balik?" tanya Mario setelah semuanya sudah kembali ke tempat masing-masing. Senja mengangguk, "Iya. Gue diskors tiga hari. Gue balik ya." "Tiati!" Senja keluar dari kelasnya. Baru saja melangkah, Adinda memanggil Senja. Gadis itu berterimakasih karena sudah menolong dirinya. Walaupun ia tidak yakin akan terbebas dari Rachel. Namun ia lega Rachel tetap terkena hukuman. Senja melanjutkan langkahnya. Keningnya mengerut saat melihat Almer bersama kedua orangtuanya disamping mobil mereka. Apa Almer tidak sadar menjadi pusat perhatian? Senja mengendikan bahu acuh. Ia menepuk pundak Almer, "Oi! Kok nggak di kelas?" "Mau nyapa Om sama Tante. Enak lo ya, liburan baru masuk!" dengus Almer mengacak rambut Senja. Senja menyengir. "Biasalah." Utari mendelik, "Tetep aja nggak boleh jalan! Di rumah aja!" titah Utari. Senja membelalak, "Tapi Bun! Kan aku nggak salah!" bantah Senja. "Papaaa.." rengek Senja memeluk Langit manja. Utari dan Almer memutar bolamata mereka malas. Sudah jengah dengan tingkah Senja yang berubah-ubah. Sedang Langit hanya tertawa mengecupi pucuk kepala Senja. "Yaudah, kami balik dulu ya, ganteng." kata Utari mengusap pipi Almer gemas. Utari meringis saat mendengar pekikan para gadis. Ia menatap sekeliling, terperangah saat melihat penggemar Almer cukup banyak. Tapi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya Rachel. Itupun Senja benar-benar bisa melawan. Almer mengangguk, "Hati-hati di jalan, Om, Tan." "Tentu." Langit menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan SMA Pradita. Senja menurunkan kaca jendela kemudian mengeluarkan setengah badannya. "Dadah, pangerankuuu!" seru Senja melambaikan tangan. Almer membalas lambaian tangan Senja sambil tertawa pelan. Dasar bocil. IH ALMER KETAWA! ASTAGA GANTENG Senja beruntung banget siiii Mama anakmu patah hati. Almer mengendikan bahu acuh. Mengabaikan bisik-bisik disekitarnya. Ia melangkahkan kakinya menuju kelas. Namun di tengah koridor bertemu dengan Laksana. Keduanya berdiri berdampingan dengan arah pandang yang berbeda. Laksana menoleh, "Gue harap lo nggak nyakitin Adinda karena gadis itu, Almer." "Pasti. Gue bukan bajingan kayak lo yang punya banyak cadangan." balas Almer tenang melanjutkan langkahnya. Sedangkan Laksana mengepalkan tangannya kencang. ............... Senja menatap langit dari balkon kamarnya. Baru saja ia selesai menelfon Biru dan menceritakan apa yang terjadi hari ini. Biru tertawa tak percaya, adiknya benar-benar menghancurkan hari pertamanya dengan panggilan BK. Senja baru ingat ia belum membaca buku harian sang ayah. Senja mengambil buku harian Langit dan memilih membacanya di balkon kamar. For my beloved Edelweiss I love you Ney Forever and always Langit Mahesa. Senja tersenyum kecil melihat lembaran pertama. Ia tahu, sang ayah suka menulis. Segala hal tentang ayahnya, rumit. Namun ia menyukai hal itu. Senja terlalu larut dalam tulisan sang ayah untuk bunda. Bahkan tanpa ia sadari, sejak tadi airmatanya mengalir membasahi kertas usang itu. Senja tak menyangka, terlalu banyak masalah dalam hubungan kedua orangtuanya dulu. Tuhan Mahabaik. Segala kepedihan itu berganti menjadi kebahagiaan termanis yang bunda dan ayahnya cicipi setelah menikah. Bila Senja harus mengatakan satu kata untuk mereka. Kata itu adalah bangga. Senja bangga memiliki orangtua seperti Langit dan Utari. Bahkan sebelum dirinya lahir, sebelum Utari mengandung dirinya dan Biru, kedua manusia itu sudah mempersiapkan segalanya. Hujan di Bulan Oktober, Aku tersenyum lebar saat mendengar suara Utari yang bercerita banyak malam ini via telfon. Aku ingat jelas bagaimana ia berkata, "Mas, aku mau anak kita yang pertama nanti cowok ya. Biar dia bisa kuat dan jaga bunda sama adiknya." aku tersenyum malu-malu. Untung ia tidak bisa melihatnya. Aku membalas, "Tidak. Aku ingin cewek, Utari. Pasti akan menggemaskan." "Cowok." "Baiklah. Setelah itu cewek ya?" "Hm-hm." "Mereka akan bangga punya Papa seperti Mas." aku tersenyum sedih, di dunia ini hanyalah Utari yang selalu mendukungku. Bahkan saat aku melakukan kesalahan. Utari menerima dan mengatakan hal baik untuk tidak melakukan hal buruk itu lagi. "Mereka yang akan bangga punya bunda sepertimu, Utari." balasku. Jika dipikir-pikir, kami baru berumur 16 tahun tapi sudah yakin dengan masa depan kami. Nak, Papa dan Bunda menanti kalian. Kami mencintai kalian. Senja menutup buku itu. Ia mengusap wajahnya yang sudah sembab akibat menangis terlalu banyak. Ia sangat terharu. Ia merasakan ikatan itu. Ikatan jiwa antara Langit dan Utari. Bahkan mereka menyalurkan segala rasa cinta mereka untuk anak mereka. Tidak, pikiran mereka tentang anak itu sendiri. Senja tersenyum menatap langit malam. "Papa, Bunda, kalian.. Hebat." lirihnya. Senja pun masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (58)
Yxztna_28
Avv aku jadi gasabar sama kelanjutannya nihh
kira² Senja bakal sama gege ato sama siapa ya
tapi kalo diliat dari judulnya sih sama laksana😐udh seneng bgt waktu deket sama gege tapi aku baru sadar kalo judulnya laksana senja
tapi aku suka bgt ama ceritanya
semangat kk aku tunggu kelanjutan ceritanyaa😊😊
30/12/2021
1
hariyani34Sri
Bener bener bagus ceritanya huhu jadi pengen kayak senja yang kuat banget 🥺 lanjut part selanjutnya ya semangat author 🙏❤️
26/12/2021
0
RizkiaAlwin
oh iyah e dan wajah kesehatan kulit dan seru dan Malaysia jadi nyate teh jadi genre musik di Indonesia dengan sempurna tanpa aku suka banget gan gerimis mengundang beberapa hari terakhir bulan yang lalu dan seru dan seru banget gan ane gan kalo ada nga kk di dunia ini ternyata tidak 🙂↔️ di dunia ini yang ggs sendiri dan Malaysia di final piala 🏆🏆 di dunia ini adalah got to believe i yang paling murah apa bang Toyib wali kota Solo yang ggs yang paling sering ditemukan di Indonesia dan Mala
Avv aku jadi gasabar sama kelanjutannya nihh kira² Senja bakal sama gege ato sama siapa ya tapi kalo diliat dari judulnya sih sama laksana😐udh seneng bgt waktu deket sama gege tapi aku baru sadar kalo judulnya laksana senja tapi aku suka bgt ama ceritanya semangat kk aku tunggu kelanjutan ceritanyaa😊😊
30/12/2021
1Bener bener bagus ceritanya huhu jadi pengen kayak senja yang kuat banget 🥺 lanjut part selanjutnya ya semangat author 🙏❤️
26/12/2021
0oh iyah e dan wajah kesehatan kulit dan seru dan Malaysia jadi nyate teh jadi genre musik di Indonesia dengan sempurna tanpa aku suka banget gan gerimis mengundang beberapa hari terakhir bulan yang lalu dan seru dan seru banget gan ane gan kalo ada nga kk di dunia ini ternyata tidak 🙂↔️ di dunia ini yang ggs sendiri dan Malaysia di final piala 🏆🏆 di dunia ini adalah got to believe i yang paling murah apa bang Toyib wali kota Solo yang ggs yang paling sering ditemukan di Indonesia dan Mala
03/08/2025
0Lihat Semua