logo text

Bab 63 Pemikiran Yang Rumit

Dunia memang selebar daun kelor. Ethand tidak menyangka, urusan penting sekretarisnya hari ini adalah datang ke kafe ini. Setelah mendengar nama Jane, Ethand tidak menyangka bahwa wanita itu adalah sahabat dekat Emma. Sungguh kisah cinta mereka sangat luar biasa. Ethand menggeleng kepalanya dan terdiam menatap lekat Ryan.
“Apakah pak Ryan sering ke kafe ini?” tanya Emma penasaran. Jika memang Ryan sering datang ke sini maka Emma tentu mengetahuinya karena dirinya senantiasa menghabiskan waktu di kafe ini bersama sahabatnya.
“Baru hari ini saya datang.” Jawaban Ryan membuat semua yang ada dalam mobil bingung.
“Bukankah tempat ini adalah tempat makan favorit Nak Ryan?” tanya Ester.
“Mulai hari ini, Bu,” jawab Ryan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ethand hanya membuang tatapan kesal. Ester hanya manggut-manggut dan berusaha mencerna kalimat Ryan. Dahinya mengernyit dan berbalik menoleh ke arah Emma. Emma hanya mengangkat kedua bahunya sambil menahan tawa.
“Ini adalah kafe milik Jane, Bu. Apakah kita jadi makan di sini?” tanya Emma dengan tangan sibuk membuka sabuk pengaman.
“Jelas jadi,” Ryan yang terlebih dahulu membukakan pintu mobilnya. Ia berniat untuk membuka pintu mobil Ethand namun lelaki itu sudah membuka pintunya sendiri.
“Jadi kafe ini adalah urusan pentingmu hari ini?” Ethand dengan suara dingin di telinga Ryan. Mendengar perkataan Ethand, Ryan hanya cengar cengir di depan Ethand. Mata Ethand tertuju pada pintu mobil. Ryan langsung menyadari apa arti tatapan tersebut.
“Mari, Bu,” ucap Ryan setelah membuka pintu mobil untuk Ester.
“Makasih Nak Ryan,” balas Ester lalu turun dari mobil.
Mereka bersama-sama berjalan masuk menuju kafe dengan tulisan Café Janases di atasnya. Ryan terlihat gugup. Ia berulang kali membatuk dan raut wajahnya terlihat tidak biasa.
Ethand seperti permen karet yang terus berada di dekat Emma. Alin sempat merasa curiga ketika melihat Ethand begitu perhatian terhadap kakaknya. Ryan dan Ester sudah masuk ke dalam kafe.
“Hati-hati, Pak,” ucap Emma ketika menaiki tangga.
“Terima kasih,” jawab Ethand dengan senyum paling tulus seumur hidupnya.
“Ternyata Pak Ethand ada lesung pipinya,” ujar Alin dengan telunjuk mengarah pada wajah Ethand yang masih saja tersenyum. Emma langsung berbalik dan langsung menatap atasannya. Ternyata benar apa yang dikatakan Alin.
Senyum itu langsung lenyap di wajah Ethand ketika Emma berbalik menatapnya. Emma berdehem sejenak lalu berjalan melewati Emma dan masuk ke dalam kafe Janases.
“Kamu sih.” Emma mencolek lengan Alin.
“Lagian kan tampan sekali pak Ethand ketika senyum seperti tadi, Kak. Aku saja sampai kaget,” protes Alin pada Emma.
“Tapi pak Ethand-nya jadi malu kan sekarang,” tukas Emma. Alin hanya mengangkat kedua bahunya dibarengi dengan bibir monyongnya.Emma langsung menarik lengannya memasuki kafe.
“Emma…” Suara Jane langsung menyambut kedatangannya. Wajah sahabatnya itu berkerut ketika melihat rombongan Emma masuk ke dalam kafenya. “Mengapa kalian berbondong-bondong kemari? Terus ada mereka.” Ekor mata Jane tertuju pada Ethand dan Ryan yang sudah duduk di salah satu meja makan dan Ester ada di antara mereka berdua.
“I don’t know, Bestie.” Emma mengangkat kedua bahunya. Tidak lama kemudian Emma menarik lengan Jane dan berbisik di telinga sahabatnya itu. “Apakah kamu memiliki hubungan dnegan Ryan?”
Jane memundurkan badannya dan menatap Emma dengan tatapan heran sekaligus terkejut. “Ryan yang itu?” Jari telunjuk Jane mengarah pada Ryan. Emma mengangguk. “Aku saja baru dua kali bertemu dengannya,” jawab Jane. Emma berpikir sejenak dan berusaha mencari kejanggalan dalam raut wajah Jane. “Sumpah.” Jane dengan ke dua jari menunjuk ke langit.
“Baiklah.” Emma melepaskan genggaman tangannya di lengan Jane. Kini giliran Jane menatapnya penuh curiga.
“Lalu apa hubunganmu dengan atasan kamu itu?” tanya Jane.
“Sama sepertimu,” jawab Emma acuh.
“Benarkah?” tanya Jane lagi karena tidak percaya. “Bagaimana bisa seorang atasan begitu dekat dengan pegawai barunya?”
“Kita tidak sengaja bertemu di mall tadi. Pak Ethand menawarkan untuk makan bersama. Lalu kita dibawa ke sini oleh pak Ryan, Katanya Janases adalah tempat makan favoritnya,” jelas Emma. Alin merasa jengah mendengar perdebatan kedua orang dewasa itu, ia berjalan menuju sebuah meja dan duduk sendiri di sana.
“Tempat makan favorit?” Jane dengan ekor matanya melihat ke arah Ryan. Tanpa di duganya lelaki itu juga sedang menatap ke arahnya. “Dia baru hari ini masuk ke dalam kafe ku, Emma.”
“Aku pun tahu jika dia baru hari ini datang kemari,” balas Emma.
“Kapan kita makan nih, Kak?” Saura Alin sudah terdengar tidak sabar. Emma dan Jane sama-sama menatap ke arah Alin.
“Sabar yah, Alin. Mau makan apa?” tanya Jane. Karena keasikan membahas Ryan dan Ethand membuat keduanya lupa bahwa sudah saatnya menyajikan makanan. Beberapa pelayan mulai melayani Ethand dan juga Ryan. Melihat beberapa menu di daftar menu, Ethand teringat akan rendang yang dimakannya bersama Alin tempo hari. Ia memutuskan untuk memesan rendang. Begitu pula Ryan. Sedangkan Ester memesan makanan yang rendah lemak mengingat kondisinya yang sakit-sakitan.
Emma membantu Jane mempersiapkan makanan. Ia membuka long coat yang dipakainya sehingga tubuhnya terlihat jelas ramping dan seksi. Hal itu tidak luput dari perhatian Ethand. Beberapa pelayan pria menatap kagum dan penuh tubuh Emma. Raut wajah Ethand berubah kesal. Ia mengetuk-ngetuk meja dengan telunjukknya sembari manik hitamnya menatap tajam ke beberapa pria yang terus menatap Emma.
Melihat kedatangan Emma, Ethand langsung berdiri dan berjalan menuju kursi dimana long coat Emma berada. Ethand mengambilnya lalu dan berhenti pada beberapa pria yang masih saja berfokus pada tubuh Emma. Dengan tatapan dinginnya menatap tajam ke arah mereka. Menyadari bahwa Ethand menatap marah ke arah mereka, para pelayan pria itu akhirnya bubar dan mulai sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
Ethand menghampiri Emma yang sibuk menata makanan di atas meja. “Pakailah kembali.” Ethand memakaikan long coat itu pada Emma. Ester tersentuh dengan perhatian Ethand pada putri sulungnya. Begitu pula Jane dan Alin. Ryan yang sudah menyadari hal itu sejak tadi hanya tersenyum.
Emma terkejut dan menoleh ke arah lelaki yang berdiri di belakangnya itu. “I-iya, Pak.” Emma hanya bisa mengikuti apa yang dikatakan atasannya. Setelah menaruh makanan di atas meja, ia kembali memakai long coat itu dengan benar.
“Mengapa Pak Ethand tidak membiarkanku membuka long coat ini? Ataukah…?” batin Emma. Matanya tiba-tiba memelotot kala menyadari apa yang dipikirkannya. Emma menggeleng kepalanya sesaaat dan menepis segala dugaan dalam pikirannya.
“Alin kok makannya sendiri?” tanya Ester ketika melihat putri bungsunya duduk sendiri.
Alin menoleh ke arah Ester. “Aku tidak ingin berada di antara orang dewasa yang memiliki pemikiran rumit.” Alin dengan nada ketusnya.
“Pemikiran rumit?” Jane yang datang mengantarkan makanan ke meja Alin sedikit terkejut dengan jawaban anak remaja itu. “Kenapa demikian?”
“Menebak-nebak pemikiran seseorang, padahal bisa ditanyakan secara langsung. Mengapa di persulit kalau bisa dipermudah?”
Baik Ethand, Ryan dan juga Emma langsung merasa ketika mendengar perkataan Alin. Itulah yang mereka alami saat ini.
“Mengapa dipersulit kalau bisa dipermudah.” Ethand mengulang kalimat itu dalam hati. Maknanya sungguh dalam. Emma yang duduk di depannya hanya bisa terdiam.
“Putri Ibu semuanya pada menggunakan logika daripada hati,” ujar Ryan pada Ester.
“Padahal ibu tidak begitu loh. Mungkin sifat itu diturunkan dari ayah mereka.” Sangkal Ester dengan senyum simpul dibibirnya. Semuanya sontak tertawa kala mendnegar jawaban Ester.
“Silahkan makan. Jika ada yang kurang bisa sampaikan pada saya,” ucap Jane.
Ryan mengangkat tangannya. Jane yang hendak berbalik akhirnya mengurunkan niatnya. “Apakah ada yang kurang, Pak?” tanya Jane.
“Iya, ada,” jawab Ryan dengan nada serius.
“Apakah makanan atau minuman, Pak?”
Ryan menggeleng. “Makanan dan minuman sudah lengkap yang kurang hanyalah kamu.” Ryan tersenyum tulus. Ethand yang sudah memegang sendok tiba-tiba terlepas dari tangannya.

Komentar Buku (553)

  • avatar
    Liaaaa

    aaaa cinta banget sama cerita ini, setelah menunggu lama dan pemasaran akhirnya bab 150 adalah akhir dari cerita, thanks you thorr telah memberikan cerita terbaik, selalu semangat thorr❤️

    01/04/2022

      1
  • avatar
    Arif Karisma

    Cerita ny sungguh menarik dan menghibur saya suka sekali dengan alur ceritanya

    27/03/2022

      0
  • avatar
    Umayyachan

    suka suka suka, pdhl baru baca setengahnya tpi kuudah jth cinta dari bab 1❤ semangat updte sesering mungkin ya thor 💪

    29/12/2021

      1
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru