“Ibu...” Suara Emma sejak sore sangat berisik di rumah itu. Ester sampai kebingungan menghadapi putri sulungnya ini. Ia senantiasa bertanya lipstik mana yang cocok, blush on mana yang bagus, sampai meminta di ajarkan cara menggambar alis. Ester saja sampai bingung dengan putri sulungnya, sudah dua puluh lima tahun namun belum bisa berdandan. Sudah pukul lima sore dan Emma baru saja mulai mandi. Ia segera berdandan. Berbekal tutorial di YouTube, Emma mulai mengikuti step step cara make up untuk berpesta. Ia memilih untuk make up natural. Karena menggambar alis merupakan hal yang rumit, Emma memutuskan untuk tidak menggambar alisnya. Empat puluh menit berlalu. Emma akhirnya tersenyum puas dengan dandanannya. Ternyata dandanan pertamanya terlihat liar biasa. Emma membuka lemarinya dan mengambil gaun yang diberikan atasannya. “Wow...” Emma terpana ketika melihat dirinya yang jarang mengenakan gaun terlihat sangat cantik ketika mengenakannya. Gaun itu sangat cocok dengan make up dan kulitnya yang putih mulus. Di bawah dari paper bag itu Emma baru menyadari jika ada sebuah kotak. Ia langsung mengambilnya. “Cantiknya...” Emma terpana dengan high heels berwarna putih tulang di dalam kotak tersebut. Ia melihat ukuran sepatunya dan tersadar jika itu sesuai ukuran kakinya. Ternyata atasannya tidak hanya menyiapkan gaun tetapi sepatu juga. Emma sudah tidak sabar memakai sepatu tersebut. Ia langsung memakainya. Sungguh, Emma terlihat seperti Cinderella. Rambutnya dibiarkan terurai panjang. “Emma...” Terdengar Ester memanggilnya. “Iya, Ma...” jawab Emma dengan pandangan masih menatap kagum pada dirinya sendiri di depan cermin. “Atasan kamu sudah datang.” Emma sontak kaget lalu melihat jam di dinding. Ternyata sudah jam tujuh. Ia langsung mengambil tas samping berwarna putih dan tidak lupa pula sebuah kalung emas dengan permata bulat pemberian ibunya. Emma langsung memakainya. Emma melangkah keluar dari kamarnya. Ester dan Alin tidak bisa berkata-kata dan mulut mereka membentuk huruf 'O'. Emma hanya tersenyum melihat Ester dan Alin yang terkejut ketika melihat dirinya. “Cantik banget...” Puji Alin. Pertama kalinya ia melihat Emma begitu cantik. Bahkan begitu banyak wanita cantik di Vunia namun semuanya kalah dengan kecantikan kakaknya. “Jelas... Kan putri sulungnya ibu.” Ester dengan mata berbinar melihat putrinya. Mereka mengantar Emma ke depan. Di depan rumah sudah terparkir Limosin hitam dan Ryan berdiri di sampingnya. Untuk sesaat dia terpana dengan kecantikan Emma. Namun, dengan cepat dirinya tersadar karena tidak ingin membuat atasannya marah. Ryan memaksa menelan salivanya. Semakin dekat, Ryan berusaha mengalihkan tatapannya namun tidak bisa. Emma bagaikan magnet yang mampu membuat Ryan terus menatapnya. Ryan langsung menoleh ke kiri ketika mendengar deheman dari lelaki di dalam mobil. Ryan langsung membukakan pintu mobil untuk Emma. “Terima kasih,” ucap Emma pada Ryan. Ryan enggan menjawab dan hanya tersenyum. Setelah itu dia juga melambaikan tangan pada Ester dan Alin sebelum masuk ke dalam mobil. Limosin begitu mewah dan di dalamnya sudah duduk seorang pria tampan dan wanita cantik. Namun keduanya hanya bisa saling diam. Manik hitam sang lelaki diam-diam mencuri pandang pada wanita di sampingnya. “Selamat malam, Pak,” sapa Emma. Ethand hanya mengangguk dan tidak menjawab sapaan Emma. Sudah berapa kali Ethand berusaha menormalkan detak jantungnya. Wanita di sampingnya mampu membuat jantungnya berdetak tak karuan. Parasnya yang cantik dan dibaluti gaun pilihannya, sungguh Ethand tidak bisa menahan rasa di hatinya. Berulang kali Ethand membatuk hanya sekedar untuk menormalkan detak jantungnya namun tetap saja gagal. Dia juga diam-diam melihat ke arah Ryan yang juga diam-diam melihat Emma lewat kaca spion di depannya. “Fokuslah menyetir.” Ethand memberi peringatan pada Ryan yang sebenarnya memberitahu Ryan agar berhenti mencuri pandang ke arah Emma. “Iya, Pak.” Ryan mengutuk dirinya dalam hati karena gagal mengontrol dirinya. Emma ingin bertanya ke acara apa mereka malam ini. Ia berusaha mengumpulkan keberanian. Ia menoleh ke arah Ethand. Lelaki di sampingnya juga menyadari jika Emma sedang menatapnya. Ia hanya bisa membeku dan melihat lurus ke depan. “Kita mau pergi ke pesta apa, Pak?” tanya Emma. Ethand menghembuskan napas pelan. “Pernikahan.” Jawaban singkat dari Ethand membuat Emma enggan bertanya lagi. “Apakah kamu sudah siap?” Emma kembali menoleh ke arah Ethand dan mencoba memahami pertanyaannya. “Siap, Pak.” Emma menjawab begitu saja, sedangkan Ethand masih mengamati raut wajahnya. Emma langsung berbalik ke depan dan menormalkan posisi duduknya. Ia tidak mau terjadi kedua kalinya mereka saling menatap. “Apa pun yang akan terjadi, ada saya di sampingmu.” Dahi Emma berkerut bingung mendengar perkataan Ethand. Apa yang akan terjadi? Toh hanya mengikuti acara pernikahan kolega perusahaan. Emma akhirnya hanya bisa mengangguk tanpa mengerti maksud dari perkataan atasannya. Lima belas menit kemudian mereka sampai di sebuah gedung yang sangat megah dan mewah. Sebuah Ballroom yang digunakan untuk sebuah acara besar termasuk pernikahan. Sudah banyak tamu yang datang dan memenuhi pintu masuk gedung tersebut. Ketika melihat Limosin milik Ethand, semua tamu undangan langsung memberikan jalan. Mobil itu berhenti tepat di depan pintu masuk. Seorang penjaga langsung membuka pintu mobil. Tidak lama kemudian Ethand pun turun. Ia masih menunggu di pintu mobil. Karena melihat Emma tidak juga turun, Ethand menundukkan kepalanya dan melihat ke dalam mobil. Emma juga sedang melihat ke arahnya. “Ayo...” Ajak Ethand. Emma hanya bisa menyeringai lalu turun dari mobil. Hal yang tidak di duganya adalah tangan Ethand yang menyambutnya turun dari mobil lalu menggandengnya. Beberapa orang berusaha mengambil gambar namun sudah di jaga ketat oleh penjaga. Ethand sangat tidak menyukai jika gambarnya di publikasi. Semua mata tertuju pada mereka berdua. Ryan di belakang tidak dianggap dan dipandang oleh orang-orang sekitar. “Pasangan yang sangat serasi.” “Siapakah wanita itu?” “Cantik sekali wanita di sampingnya.” “Pria itu juga tampan sekali.” “Lelaki yang sangat tampan di Vunia.” Berbagai ungkapan dari tamu undangan yang melihat kedatangan Etahnd dan Emma. Emma terlihat gugup. Ada tatapan kagum dari banyak orang namun ada juga tatapan benci dari beberapa wanita. “Senyum saja, Emma.” Bisik Ethand di telinga Emma. Bukannya tambah tenang namun Emma semakin gugup karena diperlakukan demikian. Seorang pria dengan tuxedo menyambut kedatangan Ethand. Ia sangat tersanjung melihat petinggi Alves Corp juga menghadiri acara pernikahan putranya. “Selamat malam, Pak. Terima kasih sudah hadir,” ucapnya lalu mempersilahkan Ethand masuk ke dalam gedung yang sudah sangat banyak tamu undangan tersebut. Emma keasyikan melihat ke sekeliling dan tidak sempat melihat lelaki yang menyambut mereka. Ada meja makan yang menyajikan berbagai macam makanan dan juga minuman. “Apakah kamu ingin makan?” tanya Ethand yang menyadari ke mana tatapan Emma tertuju. Emma pun mengangguk. “Saya akan menunggu di sana. Jika sudah selesai, datanglah.” Emma sangat senang karena bisa makan dengan sesuka hati. Ia melangkah menuju meja makan tersebut. Sesampainya di sana, Emma langsung mengambil piring dan mulai mengambil makanan yang disukainya. Emma yang sibuk memilih makanan tidak menyadari jika acara akan segera di mulai. Kedua pengantin sudah berdiri di pintu masuk. Sang pembawa acara mulai berkata-kata. Emma langsung menghentikan acara makannya dan langsung melihat ke pintu masuk. Tanpa sadar piring yang di pegangnya terjatuh. “Jadi...” Emma terdiam seribu bahasa. Semua mata tertuju padanya. Ia baru saja memasukan sebuah kue ke dalam mulutnya, namun karena menyadari siapa pengantin pria, Emma sudah tidak kuat lagi memegang piringnya. “Bukankah dia adalah mantan Orlando?” Beberapa orang mulai berbisik. “Untuk apa dia kesini?” “Tidak tahu malukah ia?”
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (553)
Liaaaa
aaaa cinta banget sama cerita ini, setelah menunggu lama dan pemasaran akhirnya bab 150 adalah akhir dari cerita, thanks you thorr telah memberikan cerita terbaik, selalu semangat thorr❤️
01/04/2022
1
Arif Karisma
Cerita ny sungguh menarik dan menghibur saya suka sekali dengan alur ceritanya
27/03/2022
0
Umayyachan
suka suka suka, pdhl baru baca setengahnya tpi kuudah jth cinta dari bab 1❤
semangat updte sesering mungkin ya thor 💪
aaaa cinta banget sama cerita ini, setelah menunggu lama dan pemasaran akhirnya bab 150 adalah akhir dari cerita, thanks you thorr telah memberikan cerita terbaik, selalu semangat thorr❤️
01/04/2022
1Cerita ny sungguh menarik dan menghibur saya suka sekali dengan alur ceritanya
27/03/2022
0suka suka suka, pdhl baru baca setengahnya tpi kuudah jth cinta dari bab 1❤ semangat updte sesering mungkin ya thor 💪
29/12/2021
1Lihat Semua