Ester tiba-tiba datang menghampiri Emma diikuti oleh Jane di belakangnya. Mereka juga mendengar suara teriakan dari depan rumah. “Siapa itu, Emma?” tanya Ester dengan nada khawatir. “Orlando,” jawab Emma lalu pergi begitu saja. Ia terlihat acuh dengan kehadiran pria itu. Jika memang dijodohkan, mengapa ia dengan leluasa menikmati cumbuan di depan restoran tadi? Emma tidak habis pikir dengan lelaki itu. Sudah jelas-jelas Emma melihat keburukannya. Ester kembali menyusul Emma, sedangkan Jane berjalan keluar meladeni Orlando. “Mengapa dia kemari?” tanya Ester pada Emma yang sudah memasuki kamarnya. Emma yang sedang membuka bungkusan dan mengambil pakaian basanya hanya terdiam. Cokelat yang diberikan oleh Mac ditaruhnya di atas meja. Ia pun duduk di ranjang. “Paling datang minta maaf, Bu.” Ester mengusap bahu putrinya. Raut wajah dengan keriput yang mulai kelihatan, terukir kesedihan di sana. “Apakah ibu pergi mengusirnya saja?” tanya Ester pelan. “Biarkan saja, Bu. Biarkan dia berdiri di sana sampai jadi batu, aku tidak peduli.” Emma bangkit berdiri dan berjalan menuju lemari pakaiannya. Ia harus bertukar pakaian mengingat pakaian yang dikenakannya bukanlah miliknya. Dari dalam kamar mereka dengan jelas mendengar suara Jane yang memarahi Orlando. Wanita itu seperti mesin bicara yang berbicara tanpa henti dengan suara keras. Dapat dipastikan tetangga-tetangga sekitar pasti sedang menonton mereka. “Aku harus memarahinya juga.” Emma melempar pakaian rumahnya ke atas ranjang dan berjalan keluar dari kamar menuju pintu depan. Ester dengan setia mengekorinya. Setelah membuka pintu, Emma melipat kedua tangannya di dada dan dengan hodeed eyesnya menatap nanar ke arah lelaki yang pernah mengisi hari-hari hidupnya itu. “Jika engkau datang hanya untuk meminta maaf, tenang saja. Aku sudah memaafkanmu sejak di restoran tadi.” Suara Emma terdengar tegas. Ia datang mendekat ke arah pagar dan diikuti oleh Jane. “Ijinkanlah aku berbicara denganmu, Emma,” pinta Orlando. “Tidak ada yang perlu dibicarakan. Lebih baik kamu segera pergi sebelum kami menelepon polisi,” ujar Jane dengan nada ketus. “Emma…?” panggil Orlando lagi. “Bicarakan saja sekarang,” ucap Emma. Ia tidak berniat membuka pagar dan membiarkan lelaki itu masuk. Ia tidak sudi jika kakinya menginjak halaman rumahnya. Orlando menatap Emma sejenak. “Aku dijodohkan oleh kedua orang tuaku, Emma.” Wajah putus asa terukir di wajah Orlando. “Lalu?” tanya Emma ketus. “Aku tidak bisa menolaknya karena perjodohan ini guna memperkuat perusahaan Fuller.” “Lalu di restoran tadi?” Pertanyaan Emma membuat Orlando salah tingkah. Ia juga tidak bisa mengontrol hasratnya ketika berada di restoran tadi. “Wanita itu menginginkan hal itu kapan saja dan di mana saja, Emma. Aku tidak bisa menolaknya.” Emma tersenyum ketus. “Wanita itu atau kamu? Aku lihat kamu sangat menikmatinya.” Orlando mengusap wajahnya kasar. Ia kalah dalam hal ini. “Aku minta maaf karena telah hilang dan terlambat memberitahumu.” Orlando mulai frustrasi. Hanya kalimat itu saja yang mampu diucapkannya. “Semua sudah terjadi. Dan aku harap semoga kamu bahagia.” Emma dengan santai maju selangkah dan menatap lekat mata lelaki itu. Tersirat ada sesuatu yang disembunyikannya. Emma tahu jika Orlando tidak dijodohkan tapi murni pilihannya. Kedatangannya sekarang hanyalah basa basi belaka. “Mulai detik ini kita tidak ada hubungan lagi. Anggap saja dua tahun ini aku sedang sial karena telah membuang-buang waktu dengan lelaki sepertimu.” Raut wajah Orlando langsung berubah. Bukan karena menyesal tapi marah. Pertama kalinya ia mendengar kalimat menyakitkan dari wanita yang selalu manis padanya. Bagaikan di sayat sembilu, Orlando tersenyum sinis. “Aku juga demikian. Hubungan macam apa yang memelukmu saja tidak bisa.” Perkataan Orlando membuat Emma tertawa. Begitu lucu dan sungguh bodoh. Ester dan Jane hanya menggelengkan kepala karena tidak menduga Orlando akan berkata demikian. Mereka juga ikut tertawa melihat kebodohan lelaki itu. “Aku bersyukur karena Tuhan lebih dulu menunjukkan siapa sebenarnya dirimu sebelum kita melangkah ke jenjang yang lebih serius.” Emma mendekat ke pintu pagar lalu membuka tangannya. Sebuah kalung pemberian dari Orlando setahun yang lalu pada saat ulang tahunnya. “Aku tidak ingin menyimpan segala kenangan darimu. Semuanya sudah ku hapus sejak keluar dari restoran tadi.” Emma memberikan kalung itu pada Orlando. “Terimalah,” ucap Emma ketika melihat Orlando hanya menatapnya saja tanpa menerima kalung itu. Beberapa saat kemudian, Orlando pun mengambil kalung itu. “Pulanglah. Kehadiranmu menganggu ketenangan di rumah ini,” ucap Emma lalu berbalik menuju Ester dan Jane. “Hush… Pergi sana.” Usir Jane yang sudah merasa jengah melihat wajah Orlando. Ia pun tersenyum puas terhadap sahabatnya yang mampu menghadapi Orlando tanpa sedikit pun air mata dan penyesalan. Melihat kehadirannya di sana tidak diterima. Orlando pun kembali masuk ke mobilnya dan melaju pergi. “Kamu hebat, Emma. Lelaki seperti itu harus dikasarin biar kapok.” Jane dengan kedua jempol mengarah pada Emma. “Aku ganti baju dulu.” Emma kembali masuk ke dalam rumah. Hatinya sudah legah dan tenang karena sudah mengatakan kata pisah terhadap Orlando. Walau pun sebuah kenyataan membuatnya sedih. Bagaimana bisa ia memberikan pelukan begitu saja pada lelaki yang belum mengahalalkannya? “Dasar lelaki tidak tahu diri,’ umpat Emma lalu menutup pintu kamarnya. Setelah bertukar pakaian, Emma membuka jendela kamarnya. Ia mendapati mawar Sunsprite sudah di beri tambahan pupuk. Pasti Alin lah yang sudah memberikannya. Ia melihat ke toko bunga miliknya. Sudah ada Ester dan Jane di sana. Emma pun memutuskan untuk bergabung bersama mereka. “Apakah hari ini ada pembeli, Bu?” tanya Emma pada Ester yang sedang memetik beberapa daun kering dari tangkai mawar. “Banyak malah,” jawab Ester dengan wajah berseri. “Syukurlah,” ujar Emma. “Tapi, tadi ada ibu-ibu yang datang menanyakan tentang mawar kesukaan kamu itu,” lanjut Ester setelah mengingat ada seorang pembeli yang menanyakan mawar Sunsprite. “Ibu-ibu?” tanya Emma dengan dahi berkerut. “Iya. Dia meminta anakan mawarmu itu. Tapi ibu bilang jika mawar jenis itu tidak ada di sini. Dan dia pun pergi.” Jelas Ester. “Apakah ibu itu keluarga dari pak Ethand?” tanya Emma dalam hati. Setelah mengetahui pembeli dari mawar itu adalah atasannya, Emma yang semula kesal kini hanya pasrah saja. Ia juga berniat mengembalikan ponsel milik Alin beserta uangnya. “Alin dimana, Bu?” tanya Emma karena melihat hari sudah mulai gelap. “Iya, Alin dimana? Sejak tadi aku tidak melihatnya.” Jane juga ikut bertanya karena tidak mendegar suara cempreng gadis itu di rumah ini. “Tadi sekitar jam dua siang ia pamit pergi ke rumah temannya.” Ester pun mulai khawatir karena putri bungsunya belum juga kembali. Emma mengambil ponselnya dan berniat menelepon namun ia akhirnya mengurungkan niatnya karena mengingat ponsel Alin disita kemarin olehnya. “Ponsel Alin mana, Bu?” tanya Emma pada Ester yang menyimpan barang-barang Alin. “Tunggu ibu ambilkan.” Ester pun berjalan ke dalam rumah. Dua menit kemudian Ester datang membawa ponsel Alin. Emma langsung mengambilnya dan menghidupkannya. “Ah dikunci lagi,” ucap Emma kesal. Ia harus bypass ponsel adiknya. Setelah setengah jam berkutat dengan ponsel Alin, akhirnya layar tidak terkunci lagi. Emma mulai membaca satu persatu kontak di ponsel itu. Emma mengambil ponselnya dan mulai mengetik nomor. Ia mencoba melakukan panggilan namun panggilan itu di luar jangkauan. Emma mendesah kesal. Ia melihat jam di layar ponsel sudah jam setengah delapan. Emma kembali membaca nomor di ponsel Alin. Ada sebuah nama yang membuatnya penasaran. Ia pun menghubungi nomor tersebut. Panggilan itu terhubung lalu terdengar sapaan dari seberang. “Halo selamat malam,” sapa Emma dengan anda lembut. “Saya Emma, kakaknya Alin.” “Iya, bagaimana, Kak?” Terdengar suara seorang gadis dari seberang. “Apakah Alin sedang bersamamu?” tanya Emma harap-harap cemas. “Dia sudah kembali sejak jam empat sore tadi, Kak.” Perasaan cemas mulai meliputi Emma. “Apakah kamu tahu Alin pulang bersama siapa?” “Dia bersama lelaki bernama Juan.” “Bolehkah saya meminta nomor ponsel lelaki itu?” Pinta Emma. “Oh boleh, Kak.” “Baik, terima kasih.” Emma pun menutup panggila itu setelah mendengar balasan dari gadis itu. “Kemana adikmu pergi, Emma?” tanya Ester dengan nada khawatir. “Aku juga belum tahu keberadaanya, Bu.” Bunyi notifikasi masuk di ponsel Emma. Sebuah nomor ponsel dikirim oleh gadis sebelumnya. Tidak menunggu lama lagi, Emma langsung menghubungi nomor tersebut. Pangiilan pertama masuk namun tidak diangkat. Emma mencoba menghubungi lagi namun lagi-lagi tidak di angkat. “Ingin main kasar yah.” Emma mulai kesal dan masuk ke dalam rumah. Ia segera menuju ruangan kerjanya. Tiga buah komputer yang dirancang oleh Emma sejak kuliah dulu masih tersimpan rapih dan biasa digunakannya. Ia sudah lama tidak masuk kesini karena alasan tertentu. Namun hari ini ia harus mencari keberadaan Alin.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (553)
Liaaaa
aaaa cinta banget sama cerita ini, setelah menunggu lama dan pemasaran akhirnya bab 150 adalah akhir dari cerita, thanks you thorr telah memberikan cerita terbaik, selalu semangat thorr❤️
01/04/2022
1
Arif Karisma
Cerita ny sungguh menarik dan menghibur saya suka sekali dengan alur ceritanya
27/03/2022
0
Umayyachan
suka suka suka, pdhl baru baca setengahnya tpi kuudah jth cinta dari bab 1❤
semangat updte sesering mungkin ya thor 💪
aaaa cinta banget sama cerita ini, setelah menunggu lama dan pemasaran akhirnya bab 150 adalah akhir dari cerita, thanks you thorr telah memberikan cerita terbaik, selalu semangat thorr❤️
01/04/2022
1Cerita ny sungguh menarik dan menghibur saya suka sekali dengan alur ceritanya
27/03/2022
0suka suka suka, pdhl baru baca setengahnya tpi kuudah jth cinta dari bab 1❤ semangat updte sesering mungkin ya thor 💪
29/12/2021
1Lihat Semua