Pertama kalinya dalam hidup Ester melihat Emma begitu marah. Bahkan kata-katany sudah tidak terkontrol lagi. Alin yang mendengar hanya bisa mengernyit sebelum mengerti sepenuhnya. “Ayah? Ayah yang mana? Ayah kandungku?” Alin juga nampak kaget namun masih terlihat bingung. Ester membeku. Hal terbesar yang disembunyikannya selama ini akhirnya ketahuan. Ia merasa bingung dan tidak kuat bagaimana menghadapi kedua putrinya. “Aku sudah tidak bisa ada di rumah ini lagi. Jangan mencariku!” Emma memegang tali ranselnya dan mulai berjalan keluar dari apartemennya. “Emma…” “Kakak?” “Rumah yang kuanggap adalah tempat pulang dan pemberi kenyamanan ternyata menyimpan luka dan bom yang kini membunuhku dengan kejinya. Membunuh harapan dan juga cinta dalam hatiku. Ibu juga tahu bagaimana kejadian Alves dan Prima tapi masih berlaku baik di depan Ethand. Betapa memalukan itu, Bu. Aku sudah tidak punya muka di depannya. Kedua lelaki yang kini ku cintai adalah musuh.” Air mata kembali mengalir dari hodeed eyes Emma. “Ma-maafkan, Ibu,” ucap Ester dengan air mata mengalir di pipinya. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Alin sudah menangis tersedu-sedu dan memeluk lengan tangan ibunya. “Jangan pergi, Kak,” pinta Alin. “Prima sudah mengetahui siapa diriku. Kemungkinan besar ayah juga sedang di siksa oleh mereka.” Emma menghapus air matanya. “Jangan mencariku.” Emma kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. “Emma…” Ester menahan lengan putrinya. Begitu pula Alin. “Jangan pergi…” Alin kini menangis lebih keras. Emma menggeleng kepalanya dan menghempaskan kedua tangan yang melingkar di lengannya. “Jangan mencoba mencariku.” Emma kini berjalan keluar dari apartemen dan tidak pernah berbalik walaupun hanya sekadar menatap ibu dan adiknya. Terdengar tangisan dari Ester dan Alin. Emma sudah memutuskan untuk pergi dari keluarga dan orang yang dikenalnya. Termasuk kekasih dan juga sahabat. Ia melihat kedua penjaga tidak ada di depan apartemennya. Ia bernapas lega dan berjalan menuju lift. Lift terbuka dan keluarlah Jane, sahabatnya itu tidak mengenali Emma dan hanya mengangguk sejenak ke arah Emma lalu berjalan menuju apartemennya. Emma hanya bisa membeku dan menundukkan kepalanya. Ia segera masuk ke dalam lift sebelum Jane menyadarinya. Ponsel Emma sudah dimatikkan. Wanita itu memilih turun di lantai dua belas apartemen untuk menemui seseorang. Jika ia melewati basemant apartemen maka akan bertemu Ethand atau anak buahnya. Di lorong lantai dua belas nampak kosong. Ia segera menuju pintu apartemen di sebelah Mac. Tidak menunggu lama ia langsung menekan bel apartemen tersebut. Tidak lama kemudian pintu apartemen terbuka dan Emma langsung mendorong wanita itu masuk ke dalamnya. “Siapa kamu?” wanita itu nampak terkejut dan berniat memukul Emma. Namun Emma segera membuka topi dan maskernya. “Ini saya,” ucap Emma. Wanita itu mengamati wajah Emma sejenak. Untuk sesaat ia tidak mengenali wanita di depannya namun tidak lama kemdian ia akhirnya sadar dan menutup mulutnya. “Apa yang terjadi dengan rambutmu?” tanya wanita itu. “Kamu pasti sudah mengetahuinya. Sekarang katakana padaku, di mana Melissa?” tanya Emma dengan nada serius. “Duduklah. Kamu terlihat mengerikan dengan mata bengkakmu itu.” Wanita itu berjalan menuju kulkas dan mengeluarkan sebotol dari dalam dalamnya. “Minumlah.” Emma menatap wanita itu sejenak. “Kamu bukan Caroline yang ku kenal,” ucap Emma seraya mengambil botol air minum itu dan menenggaknya. “Kamu belum sepenuhnya mengenalku, Emma.” Caroline kemudian duduk di sofa depan Emma. Desain monokrom apartemennya membuat Emma mengernyit. “Kamu menyukai hal-hal yang biasa kenapa harus memaksakan diri menjadi orang lain?” tanya Emma. Ia tahu jika Caroline juga pandai meretas. Hal itu membuktikan dengan adanya tato di lengan wanita itu, Ch4r7ch4. “Aku tahu kamu sudah mengetahuinya. Sekedar mengetesmu saja.” Caroline mengedipkan sebelah matanya. Emma langsung mengulum senyumnya. “Tindakanmu terlalu kentara,” ucap Emma kembali meneguk air mineral yang dipegangnya. “Mengapa kamu masuk ke dalam rumahku? Apakah kamu tidak takut jika aku berniat membunuhmu?” tanya Caroline. “Jika kamu berniat membunuhku maka sudah dari jauh hari kamu sudah melakukannya.” Emma terlihat tidak takut sedikitpun. Caroline mengangkat ujung bibirnya. “Tinggalah sesuai keinginanmu,” ucap wanita itu dan kembali berjalan ke dapur. Benar dugaan Emma jika Caroline adalah wanita baik. Prima hanya sekedar memanfaatkannya sehingga wanita itu berbuat sesuatu yang berlawanan dengan keinginannya. “Kamarmu ada di sebelah kiri. Aku yang akan belanja tapi uangnya darimu,” ucap Caroline. Emma mengangguk setuju. Sepertinya Caroline memiliki masa lalu kelam sepertinya. Kedua wanita yang sebelumnya bermusuhan kini menjadi dekat. *** Jane menekan password di pintu apartemen. Ketika pintu di buka ia langsung di sambut oleh suara tangisan Alin dan Ester. Wanita itu langsung berlari menuju sumber suara. “Ada apa, Bu?” tanya Jane dengan wajah khawatir. “Kak Emma pergi,” jawab Alin masih dengan tangisannya. Jane merasa bingung. “Pergi? Maksudnya?” tanya Jane. “Kak Emma sudah pergi dan menyuruh kita tidak perlu mencarinya.” Jane lebih tidak mengerti lagi. Ia tidak memahami apa yang terjadi. Mengapa Emma tiba-tiba memilih pergi. “Ibu dan Alin duduk di sofa dulu. Lantainya dingin, Bu.” Jane kemudian memapah Ester dan duduk di sofa. Air mata Ester terus mengalir dan suara tangisannya tidak terdengar. Berbeda dengan Alin yang menangis dengan suara keras. Merasa bingung dengan situasi yang ada, Jane segera menghubungi Ryan. Namun sudah tiga kali menelepon panggilan itu tak kunjung di angkat. Jane berdecak kesal dan kembali mendekati Alin. “Alin, sejak kapan Emma pergi?” tanya Jane. “Baru beberapa menit yang lalu.” Jane kembali mengernyit. “Jika dia baru saja keluar maka saya akan bertemu dengannya,” balas Jane. “Kak Emma menggunting rambutnya dan memakai masker.” Mendengar ucapan Alin, Jane tersentak kaget. Ia langsung berlari keluar dari apartemen tersebut dengan harap bisa mengejar Emma. Belum sempat ia sampai lift, Ryan sedang berlari ke arahnya. “Apakah Emma ada?” tanya Ryan. “Tidak ada, Sayang.” Jane mulai panik. Ia mengira jika Alin dan Ester hanya melebih-lebihkan saja ternyata semuanya benar adanya. “Apa yang terjadi?” tanya Jane. Ia sudah penasaran apa yang terjadi dengan sahabatnya itu. Ryan mengusap wajahnya kasar. “Melissa adalah ayah Emma.” Jane memelotot kaget dengan mata membulat sempurna. Ternyata kepergian Emma ada alasannya. Bahkan jika ia menjadi Emma tentu dia akan pergi juga. Namun Jane merasa kecewa karena sahabatnya itu bahkan tidak berpamitan padanya. Mereka berdua berpapasan di lift dan ia tidak mengenali Emma begitu pula Emma yang tidak menyapanya. “Aku bertemu dengannya di sini sekitar sepuluh menit yang lalu. Apakah kalian tidak bertemu dengannya?” tanya Jane. “Mengapa kamu tidak menahannya?” tanya Ryan. “Dia memakai topi dan masker. Aku tidak mengenalinya.” Mata Jane mulai berkaca-kaca. Ia tahu kepribadian sahabatnya itu. Sekalinya pergi dia tidak akan kembali. Apalagi telah terjadi hal sebesar ini. “Kita pergi mencarinya.” Ryan memegang tangan Jane dan berjalan bersama menuju lift. “Jika kamu sempat bertemu dengannya maka dia belum jauh dari Eves The Hill Vunia.” “Iya benar.” Jane berharap Emma belum pergi jauh. Jika Emma sudah memutuskan pergi maka akan sulit ditemukan. Apalagi sahabatnya itu memiliki mimpi untuk tidak dikenali dunia luar. Hidup sendirian dan komputer sebagai pasanganya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (553)
Liaaaa
aaaa cinta banget sama cerita ini, setelah menunggu lama dan pemasaran akhirnya bab 150 adalah akhir dari cerita, thanks you thorr telah memberikan cerita terbaik, selalu semangat thorr❤️
01/04/2022
1
Arif Karisma
Cerita ny sungguh menarik dan menghibur saya suka sekali dengan alur ceritanya
27/03/2022
0
Umayyachan
suka suka suka, pdhl baru baca setengahnya tpi kuudah jth cinta dari bab 1❤
semangat updte sesering mungkin ya thor 💪
aaaa cinta banget sama cerita ini, setelah menunggu lama dan pemasaran akhirnya bab 150 adalah akhir dari cerita, thanks you thorr telah memberikan cerita terbaik, selalu semangat thorr❤️
01/04/2022
1Cerita ny sungguh menarik dan menghibur saya suka sekali dengan alur ceritanya
27/03/2022
0suka suka suka, pdhl baru baca setengahnya tpi kuudah jth cinta dari bab 1❤ semangat updte sesering mungkin ya thor 💪
29/12/2021
1Lihat Semua