logo text

Bab 74 Della vs Vincent

Air matanya mengalir deras membasahi wajahnya. Suara tangisnya meledak memecahkan suasana ruang ICU yang seharusnya hening, dan tenang.

Tuhan! Inilah balasan atas kejahatanku selama ini, aku bahkan menyia-nyiakan orang yang amat sangat aku inginkan. Bagaimana mungkin hal ini terjadi. Aku yang terlalu berdosa ini, apakah tak pantas menikmati senyum wanita yang benar-benar aku inginkan!



Isakan tangis penyesalan Dendi yang begitu pilu, di tambah sunyinya ruangan ICU menambah semakin menyayat hati.

Tentu saja tangis dan reaksi Dendi, yang terkenal sebagai dokter genius di rumah sakit membuat sang perawat yang sedari tadi mendampinginya dan dokter jaga itu heran saling pandang.

Mereka berfikir ada apa dengan dokter tampan itu.? Secepat kilat dokter jaga itu berlari mendekat karena mengira terjadi sesuatu pada pasien.

" Dokter Dend, ada apa Dok.??"

Tanya dokter Jaga yang cantik rupawan bak model, sembari memegang punggung Dendi yang menunduk dan memeluk pasien.

Mendengar pertanyaan itu Dendi menoleh dan semakin deras air matanya mengalir.

" Wanita ini, Pasien ini.. dia.. dia Vaniaku...." Dendi terisak sesegukan menjawab pertanyaan rekan sejawatnya.

Sedangkan dokter jaga dan Perawat yang berada di ruangan itu tidak mengerti maksud Dendi

" Maksudnya dok.? Pasien ini mengidap apa dok tadi.?” Dokter jaga itu bertanya karena tidak mengerti maksud dokter spesialis kebanggan rumah sakit.

Bisa saja dia salah dengar karena mengingat suara Dendi tercampur dengan tangis.

Dendi berdiri dan seperti orang kesurupan memeriksa tiap peralatan pasien tersebut yang ternyata Vania sang wanita pujaan hatinya.

Dendi berdiri dan berlari menuju ruangan prakteknya, tanpa menghiraukan dokter jaga dan perawat tadi yang masih terbengong dan saling pandang sambil mengangkat bahu lalu memeriksa kondisi pasien itu, yang membuat dokter spesialis tampan itu bereaksi berlebihan.

Mereka tidak menemukan keanehan hanya melihat jalannya detak jantung yang memang lemah sedari awal dan belum ada perubahan signifikan sejauh ini.

Lalu mereka kembali duduk dan melanjutkan rumpian yang tertunda karena kehadiran Dendi di ruang ICU.

Tak lama berselang Dendi kembali memasuki ruang ICU, dengan nafas yang terengah - engah efek berlari, mungkin karena jarak ruang praktek dengan ruang ICU Lumayan jauh karena berbeda lantai.

Mereka kembali terheran dan saling pandang. Rasa penasaran menggiring mereka mendekat kearah sang dokter tampan yang sedang membuka hasil rekam medis sang pasien.

Dendi dengan sibuk terus mengecek suhu tubuh dan denyut nadi pasien sambil bergumam.

" Bangun Van, aku mohon bangunlah..Maafkan aku yang membuatmu seperti ini. Please Vania... banyak hal yang harus aku sampaikan..." Gumam sang dokter tampan sembari menggenggam tangannya dan mengecek denyut nadi.

Sesekali ia mengelap air mata yang tak henti mengalir dari sudut matanya.

Pemandangan itu membuat mereka berkerut

" Dokter kenal dengan pasien dok..?" Kali ini tanya sang perawat yang sedari tadi penasaran melihat tingkah dokter terbaik mereka melakukan hal yang di luar dugaan.

Bahkan ini kali pertama mereka melihat sang dokter bereaksi berlebihan hingga menangis

" Dia calon istri saya yang menghilang selama ini....daaan..Sekarang saya di pertemukan seperti ini. Bahkan saya terlambat datang untuk menolongnya..Andai saya hadir di ruang OK lebih cepat mungkin dia akan jauh lebih baik lagi..."

Sesalnya karena tidak lebih cepat hadir di rumah sakit, agar membuat keadaan Vania lebih baik. Kedua petugas medis itu menjadi tersentuh hatinya.

" Sabar ya dok. Saya berdoa semoga ibu lekas sembuh dan bisa bersama dokter lagi.. Yang kuat ya dok.. saya akan jaga ibu dok disini kalau ada perkembangan akan segera saya info dok..Dokter pulang dan istirahat lah, agar lebih maksimal dokter dalam mengobati..” Ujar sang perawat tadi dan di sambut oleh dokter cantik di sebelahnya

" Bener dok, semoga esok ada keajaiban, dokter istirahat saja dulu.." Suara dokter cantik dan perawat itu membuat Dendi menghela nafas

" Terimakasih atas perhatian kalian terhadap saya dan Vania..Tapi saya tidak mungkin meninggalkan dia disini dalam keadaan seperti ini. Kalian Fokus saja dengan pasien lain. Saya yang akan merawat Vania, jika sampai esok tidak ada perubahan saya harus membawanya ke luar negeri..."

Jawab Dendi sembari keluar ruang ICU,
Dengan menghubungi salah seorang profesor di luar negeri dan berkonsultasi mengenai Vania di luar ruang ICU.

Ia tak ingin lengah menangani Vania, wanita yang amat ia rindukan.


Kalau aku telah membuat kesalahan dengan menyia-nyiakan waktu kebersamaan kami, maka aku akan membayarnya sekarang. Aku tak akan meninggalkannya walau sedetikpun. Vania adalah orang yang selama ini aku cari dan aku butuhkan, aku tak memerlukan apapun di dunia ini selaij melihat senyumnya dan selalu bersamanya.

Hatinya pilu, mengapa ia di pertemukan dalam keadaan seperti ini. Banyak hal yang telah ia korbankan demi wanita itu, termasuk keluarga dan warisannya.


Betapa bodohnya aku sebagai dokter, yang tak memeriksa latar belakang pasien, tapi andai aku melakukan itu, mungkin aku lebih terlambat dalam menolongnya. Dan aku tak tahu andai aku terlambat sebentar lagi, mungkin aku… ahh, tidak! Jangan. Aku belum siap. Dan aku tak akan sanggup! Dasar bodoh kau Dendi!

Ia merutuki dirinya, yang merasa menjadi dokter tak berguna, setelah ia tak mampu menyembuhkan Vania.

Setelah selesai menelpon semua koleganya, Dendi mengabari bu Innah agar mereka menjaga Ketat cameella Putrinya karena dirinya harus menjaga Vania yang sedang Kritis dan lebih butuh dirinya saat ini

Sang Kepala Asisten Rumah tangga itu memahami dirinya. Dan setelah menutup panggilan telponnya Dendi segera menuju ruang administrasi, mencari informasi bagaimana asal muasal Vania datang ke Rumah sakit tersebut.

Setelah mendapat keterangan dari petugas administrasi, Dendi mencatat kontak orang yang telah menolong Vania.

Ia berencana akan menghubungi ornaf itu keesokan harinya dan mengucapkan terimakasih.

Dendi kembali ke ruangan ICU. Tampak ia duduk sembari menggenggam tangan Vania sembari berkata

" Bangunlah sayang..Kumohon...Maafkan aku yang kemarin terlalu lemah dan ragu dalam megambil keputusan..Maafkan aku yang menelantarkanmu. Bangunlah anak - anak sudah merindukanmu sayang..."

Bisik Dendi pilu. Ia membelai rambut  Vania sembari matanya memperhatikan ventilator yang ada di dekatnya.

***

Sementara di sisi lain di sebuah ruangan sedang berlangsung pesta di sertai tawa lepas seorang wanita yang menggema seisi ruangan.

" Kamu yang terbaik Vincent..." Ucap wanita itu seraya mencium bibir pria itu.

Vincent tersenyum penuh kemenangan mendapat perlakuan istimewa dari wanita bertubuh sintal bak gitar spanyol.

" Aku sudah tidak sabar, menantikan kabar kematian wanita sialan yang telah menghancurkan hidupku, dan melihat air mara darah mas Dendi yang kehilangan wanita yang di cintainya..” Ujar Della merasa puas atas kinerja anak buah Vincent kali ini, karena telah berhasil mencelakai Vania bahkan jika melihat dari kecelakaannya akan sulit Vania tertolong walaupun cepat dibawa ke rumah sakit.

" Jadi, apa hadiah special untukku sayang..." Bisik Vincent sembari menggigit telinga Della.

" Apa yang kau butuhkan saat ini? kau sebut saja..." Bisik Della.

" Aku ingin, kau memberikan pelayan istimewa kepadaku, seperti yang belum pernah kau lakukan sebelumnya...." Bisik Vincent yang di sambut antusias oleh Della

" Baiklah, kalau hanya itu inginmu,..” Della menyambut dengan senyum senang “ Apapun yang membuatmu bahagia aku akan ikut bahagia karena kau telah membuatku bahagia melebihi apa pun di dunia ini untuk saat ini…”


Della tersenyum senang, dirinya merasa puas atas rasa sakit hati dan rasa malu yang di lakukan mantan tunangannya kepadanya.









Komentar Buku (309)

  • avatar
    SimangunsongFeby Yesa

    saya sangat menghargai setiap karya kamu, setiap kata² yg tersusun menjadi sebuah kalimat semakin memudahkan saya untuk membaca dan menerima setiap kesan ² indah. semoga kamu dapat menjadi seorang penulis yg di mana setiap pelosok negeri mengetahui betapa hebatnya karya ² mu ini

    15/06/2022

      1
  • avatar
    Laelatul IMamik

    Seneng bacanya, alurnya bagus kayak penulis profesional. Ada sisipan SQ, Spiritual Question nya diakhir tulisan. Karena sejauh mata memandang, tidak bisa dilepaskan bahwa kita yang membutuhkan Tuhan.

    05/02/2022

      0
  • avatar
    Faridah Fasha

    sumpah cerita ini best sgt.... byk2 novel ini yg la novel yg pling best.. smoga sehat sllu dn trs brkarya dgn lbh baik lg👍👍👍👍👍

    06/01/2022

      2
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru