Beranda/ANTARA AKU , KAU dan 5 MILIAR/
Bab 58 Verrel with Vania
Vania tampak melihat Carroline yang setia mendampingi putrinya, di tambah dua orang pria duduk bersama ayahnya dengan santai sembari menikmati ubi goreng khas sang ibu.
Vania tersenyum terharu menatap bagaimana Verrel membuat dirinya dan keluarganya sangat nyaman. Tak hanya memberikan penjagaan ketat untuk keluarganya, Vania juga mengetahui jika Verrel diam - diam telah menyewa apartement di lantai yang sama dengannya, dan para bodyguardnya berjaga untuk memantau keselamatannya.
Hingga pelukannya terganggu dengan getar ponsel miliknya yang kembali berdering. Terlihat nama Sarah memanggil hingga berulang kali.
“ Angkatlah! Siapa tahu penting. Lagian sepertinya dia ngebet banget mo ngomong ma kamu...” Ujar Vania dengan wajah sedikit masam.
Verrel tak menghiraukan ucapan wanita yang terdengar sedang mendiktenya.
“ Biarkan saja, tak penting.. kebiasaan baruku, ketika lelah menghampiri adalah melihat tingkah lucu gadis kecil ini...” Jawab Verrel santai sembari menunjuk kearah wajah Issabella yang terlihat di layar tengah terkena marah oleh guru lesnya.
“ Disini aja ngomong gitu, coba di luaran! Udaaaah....langsung ngemper ke cewek lain...” gumam Vania dengan memutar tubuhnya memunggungi pria itu.
Membuat Verrel tersenyum simpul.
“ Dia itu artis yang akan mengisi acara grand opening club yang akan lounching sayang, dan aku juga baru bertemu dengannya sekali, pertemuan itupun di dampingi managernya dan aku bersama Arjun..” Ujar Verrel berusaha menarik bahu Vania untuk menghadap kearahnya. Tapi Vania mengibaskan tangan Verrel hingga membuat Verrel merasa berbunga - bunga melihat Vania sudah mulai sedikit cemburu kepadanya.
“ Hhh...Bacrit.! “ ( Note : Banyak cerita. *pen ) Vania menghela nafas panjang.
“ Siapa yang tahu, kalau kalian diem - diem janjian di luaran atau ketemuan dirumahnya, tuh buktinya dianya ngubungin kamu kayak kesurupan!!” Ucapnya menyindir.
“ Sudahlah sayang, jangan rusak suasana kita hanya karena orang yang bekerja untuk kita, yang ada di hatiku hanya kamu dan Issabella, aku seperti ini untuk kalian berdua..” Ucap sembari membelai rambut Vania dari belakang.
“ Di hati siapa yang tahu, yang jelas tu cewek sudah membuktikan bahwa sepertinya dia punya hak atas kamu.!” Celetuknya lagi merasa tak puas dengan jawaban Verrel.
Entah mengapa ia merasa kesal melihat wanita lain dekat dengan Verrel. Seolah membuatnya tidak nyaman.
“ Aku bukan tak ingin mengangkat panggilannya, bisa saja aku menjawab aku sedang bersama keluargaku, hanya saja aku tidak ingin, dengan adanya aku mengangkat panggilannya akan membuatnya berfikir bahwa masih ada celah di luar pekerjaan, sehingga akan membuatnya berharap. Dengan begini dia akan berfikir bahwa ia tak memiliki peluang..” Bisik Verrel lagi mendekatkan diri kearah Vania.
“ Ayoolah sayang, jangan berfikir macam - macam tentangku hanya karena background ku, selain kau dan Issabella, tidak ada lagi di hatiku..percayalah...” Bisik Verrel sembari mendekap tubuh Vania dari belakang dan mencium rambut wangi wanita itu.
Vania tak bisa berkata, ia hanya menghela nafas panjang. Ia terdiam disaat Verrel mencium lehernya dengan hangat.
“ Hanya kau yang aku inginkan, aku menyudahi pencarianku dan berakhir di kamu sayang, aku bisa merelakan apapun kecuali kau..., aku tak sanggup tanpamu..” Bisik Verrel lagi, hingga membuat Vania terpejam. Hatinya sedikit mereda, ia membiarman Verrel mencium dirinya.
Melihat Vania yang tampak memberinya ruang, Verrel menarik perlahan bahu Vania hingga ia terlentang bebas.
Verrel memeluknya dan perlahan ia mengecup bibir mungil alami tanpa terpoles lipstick.
Ciuman yang hangat dan dalam membuatnya merasa terbang keangkasa menuju langit ketujuh.
Apakah aku benar-benar menginginkan Verrel?
Vania dapat merasakan bagaimana semua ketulusan yang di lakukan oleh pria itu terhadapnya, bahwa semua yang di lakukan pria itu saat ini bukanlah sekedar nafsu. Ia menyadari betapa Verrel telah berusaha semaksimal mungkin sebagai seorang pria.
Luntur sudah segelnya sebagai janda baik - baik, karena saat ini ia tak bisa menolak atas apa yang telah di lakukan pria itu. Naluri sebagai wanita menghancurkan pertahanannya.
Tentu saja Verrel merasa bahagia, setelah mendapat respon positive dari wanita yang sangat dia cintai sejak kebersamaan mereka.
Mungkin dulu, aku pernah berbuat baik, hingga Tuhan mempertemukan Vania denganku, dan membuatku meninggalkan semua yang tak baik untuk di lakukan. Dia adalah penerang jalanku. Dan aku bahagia dengan semua ini.
Bisik hati Verrel sembari mendekap hangat wanita yang sangat di cintainya. Wanita yang telah menuntunnya ke jalan yang baik, jalan dimana semua bisnis kotornya harus dia lepaskan secara perlahan.
Cinta, kebahagiaan dan kenikmatan semua ia dapatkan hanya di dalam tubuh satu orang, Vania! Seorang janda muda yang mampu membuatnya merasa nyaman dan merasa cukup atas segala rasa penasarannya di dunia ini.
Hingga tanpa sadar jam telah menunjukkan pukul 04.00 subuh.
Permainan demi permainan panas telah terlewati bersama dan berakhir dengan bahagia. Berkali - kali Verrel mencium pipi Vania, menandakan rasa bersyukurnya terhadap wanita yang telah membuatnya mabuk kepayang untuk kesekian kalinya.
Terimakasih, Tuhan. Karena telah baik kepadaku, memberiku sosok yang aku butuhkan. Sosok wanita yang membuatku merasa cukup dan sudah.
Vania melirik jam di atas nakas sisi tempat tidurnya.
Gila. Sudah pagi. Aku sebaiknya mandi. Dan langsung bergegas kekantor dan menyelesaikan pekerjaanku dengan baik.
Karena takut akan mengakibatkan keterlambatan dan hal itu akan membuat sang pimpinan mencoretnya dari daftar karyawan perusahaan.
Sehingga Vania memutuskan untuk mandi dan bersiap untuk ke kantor.
Setelah menyelesaikan mandinya dan berkemas, Vania mengenakan baju dan kembali memoles wajahnya dengan make up tipis untuk siang hari.
Setelah menyelesaikan semuanya, ia berjalan menuju ranjang dimana Verrel masih terbaring dan terlihat enggan untuk beranjak.
“ Rel, sepertinya aku berangkat sekarang saja, daripda terlambatkan..” Ujarnya sembari duduk di tepi ranjang dan menatap pria yang baru saja memberinya kepuasan hingga berkali - kali.
“ Baru jam 5 sayang, apa yang akan kau lakukan subuh gini disana? Istirahatlah dulu, aku pastikan kau tidak akan terlambat nanti, percayalah..” Bisik Verrel menatap kearahnya.
“ Kalau aku tidur sekarang, akan berkelanjutan nantinya, jadi lebih baik aku menunggu di kantor, ruanganku terbuka kok, lagian security 24 jam stanby disana..”Jawab Vania yang menyadari bagaimana boss killer nya itu.
Verrel beranjak dengan enggan dari tempat tidur, lalu membalut tubuhnya dengan kimono yang tersedia disana.
“ Sayang...jangan terlalu memforsir dirimu, kau akan sakit nantinya, dan aku tak ingin melihatmu sakit.. ayolaah istirahat dahulu..aku berjanji akan mengantarkanmu tepat waktu..”
Tangannya membelai rambut wanita yang baru saja berjuang keras menggapai puncak keninmatan.
“ Tunggu aku mandi sebentar ya..” Bisiknya sembari mengecup keningnya.
Vania menuruti permintaan Verrel, ia duduk dan memainkan game di ponselnya. Tak lama setelahnya Verrel telah berganti baju dan kembali ke atas ketempat tidur dimana Vania berada.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (309)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
saya sangat menghargai setiap karya kamu, setiap kata² yg tersusun menjadi sebuah kalimat semakin memudahkan saya untuk membaca dan menerima setiap kesan ² indah. semoga kamu dapat menjadi seorang penulis yg di mana setiap pelosok negeri mengetahui betapa hebatnya karya ² mu ini
15/06/2022
1Seneng bacanya, alurnya bagus kayak penulis profesional. Ada sisipan SQ, Spiritual Question nya diakhir tulisan. Karena sejauh mata memandang, tidak bisa dilepaskan bahwa kita yang membutuhkan Tuhan.
05/02/2022
0sumpah cerita ini best sgt.... byk2 novel ini yg la novel yg pling best.. smoga sehat sllu dn trs brkarya dgn lbh baik lg👍👍👍👍👍
06/01/2022
2Lihat Semua