Bab 15 Debt Clear

Melihat Adam memejamkan mata pasrah, Verrel tertawa terbahak - bahak.

" Siapa orang yang menyewa kita, untuk menyakiti wanita tadi malam?! "

Tawa Verrel yang lebih menyeramkan dibanding jurang dengan kedalaman ratusan meter bagi Adam saat ini, nyalinya ciut menghadapi emosi boss besarnya yang tengah tidak stabil meskipun ia telah mengirim seorang artis untuk melayaninya hari ini. Ia mengira - ngira akankah snag artis membuat ulah hingga bossnya marah besar?

" Anak buah Vincent tuan, mereka membayar kita 3x lipat dari hutang wanita jalang itu tuan.. "

Dengan nada ketakutan Adam menjawab sedikit pede karena ia berfikir telah memberi omset kepada Bossnya itu.

Tapi bukannya pujian yang ia peroleh justru ciuman dari gagang pistol yang sudah mengenai kepalanya hingga darah mengalir dari kepala itu.

Dan Adam terkejut melihat reaksi Bossnya yang tidak senang walaupun ia telah mendapatkan uang banyak tanpa resiko

" Bangasaaaattt...!!”

PLAKK..!!!

Tamparan keras mengenai pipi Adam hingga mengalir darah segar dari sudut bibirnya, Adam semakin bingung karena melihat reaksi sang boss tak bisa berkata apapun hanya mampu menahan rasa sakit yang ia terima.

" Lalu sudah sejauh mana yang kalian lakukan??" Tanya Verrel dingin.

Adam menjawab dengan penuh percaya diri.

" Orang kita sudah merusak seisi rumah nya tuan, dan orang kita juga sudah mengawasi anaknya 24 jam tuan .."

Buughhhh....

Tendangan kaki Verrel mengenai betis Adam, ia menjadi panas dingin melihat reaksi sang boss.

" Mulai sekarang, hutang wanita itu sudah dianggap lunas, jangan pernah kalian datang untuk menagih kesana, dan jangan sampai berani menyentuh dia dan anak nya, tugas baru kalian per hari ini adalah bukan untuk meneror wanita itu, tapi untuk menjaganya dari jarak jauh jangan sampai ceroboh apalagi ketahuan, Ingat..! jangan sampai ada yang berani menyakiti wanita itu, siapapun yang mencoba menyakitinya, maka akan berhadapan dengan Verrel Gondokusumo..! Camkan itu..!! Dan uang yang sudah kalian terima sebagai imbalan untuk menyakiti wanita itu, kembalikan 10 x lipat sekarang juga.. saya tunggu kabar penyelesaian masalah dalam 3 jam dari sekarang..!!" Ujar Verrel berjalan kearah kursinya lalu duduk

" Baik tuan...kami akan melaksanakan perintah " Jawab Adam kebingungan dengan tingkah aneh sang boss kali ini.

Meski ia tak mengerti jalan pikiran boss tampan tersebut, tapi tetap saja ia mematuhinya, tampak Ad memerintahkan anak buahnya untuk melaksanakan perintah boss besarnya itu melalui telpon.


Sementara itu di tempat berbeda ,Dendi baru saja terbangun, hari telah menunjukkan pukul 03.00 sore, dengan kepala yang masih sedikit pusing efek alkohol hingga membuatnya mabuk berat tadi malam.

Ia mengedarkan pandangan sekitar ruangan, ia mengerutkan dahi sejenak karena tak mendapati Vania dan koper berisi 5 Miliar, Hal ini semakin melukai hatinya ia semakin meyakini bahwa Vania selama ini ternyata hanya menginginkan Hartanya saja.


Dengan memegangi kepala yang terasa sakit, sembari berjalan terhuyung - huyung, Ia duduk diatas sofa kamar penthouse miliknya.

Dendi menghela nafas panjang dan memejamkan mata sejenak, dengan menyandarkan kepala di sofa, ia membuka matanya perlahan, namun matanya justru tertuju pada secarik kertas yang berada diatasnya.

Dengan kecepatan kilat ia menyambar kertas lalu membacanya, ia tersenyum getir karena sebenarnya ia telah hafal bahwa akan ada kata - kata Permintaan maaf seperti wanita - wanita jalang yang tidur dengannya.

Hatinya semakin yakin bahwa Vania sama persis seperti yang di lakukan para wanita yang selama ini ada di sekitarnya, mereka rela menjajakan diri di malam hari hanya demi rupiah yang ia miliki, lalu ketika pagi hari meninggalkan nya dan membawa uang yang sudah ia berikan.

Dendi menitikkan air mata tanpa sadar, hatinya perih karena harapannya telah musnah.

Ia berharap tadi malam yang terjadi antara dirinya dan Vania hanyalah ilusi sehingga ia enggan membuka matanya pagi itu, tapi kenyataan pahit kembali menghampirinya, ternyata harapannya agar memiliki pagi yang indah bersama Vania, dimana memulai hari dengan secangkir kopi dan obrolan ringan untuk menambah keakraban mereka dan memupuk semua rasa agar semakin besar, akhirnya sirna sudah seiring dengan secarik kertas ditangannya yang telah membuktikan bahwa Vania dan wanita lainnya sama.

Dengan amarah yang menyesakkan dada, Dendi berdiri dan melempar cangkir berisi susu yang sudah dingin diatas meja yang di persembahkan untuknya pagi ini, tapi apalah artinya secangkir susu jika orang yang diharap telah merusak seluruh angan dan harapannya

Dendi menendang semua yang ada disekitarnya dengan suara teriakan yang sengaja ia keluarkan untuk meluapkan kemarahannya.

Aksinya terhenti ketika mendengar telphone gengam miliknya berdering.

Ia mengangkat dan menerima panggilan masuk itu dan ternyata dari pihak rumah sakit mengatakan ada pasien darudat yang butuh tindakan segera, karena dokter bedah yang ada di rumah sakit itu juga saat ini tengah menjalani operasi untuk pasien mereka yang telah terjadwal, mau tak mau Dendi sang dokter bedah andalan rumah sakit tersebut segera bergegas mengenakan kemejanya dan membasuh wajahnya, sebelum meninggalkan kamar itu tak lupa ia meminum obat untuk menghilangkan efek mabuknya.

Setengah berlari, ia menghubungi supir pribadinya agar menyiapkan mobil di parkiran karena ia hendak kerumah sakit segera.


Setelah selesai menghubungi sang sopir, ia mengencangkan larinya menuju lift, dan segera memasukinya, ketika lift itu terbuka hingga membawanya ke lantai dasar dimana supirnya sudah menunggu di depan.

Tak lupa Dendi meminta sopir pribadinya untuk mencari jalan pintas agar segera tiba di rumah sakit, diluar permasalahan hidupnya yang rumit, ketika menghadapi pasien yang membutuhkan pertolongannya Dendi tak pernah melupakan sumpah dokter yang pernah ia ucapkan dulu.

Sesampainya dirumah sakit, ia langsung menuruni mobil dan berlari dengan kencang seperti orang kesurupan menuju ruang kerjanya dimana beberapa rekan medis telah menunggunya disana, Sesampainya di ruangannya ia segera meminta dan memeriksa Rekam Medis pasien yang hendak ia operasi.

Setelah mempelajari sejenak, mereka melakukan meeting sejenak dengan team yang akan membantunya di ruangan operasi tersebut.

Ia menyadari bahwa ini tindakan yang sangat berbahaya sehingga di perlukan ketelitian dan profesionalisme.

Setelah meeting selesai dan ruangan operasi telah siap untuk aksinya dan rekan sejawatnya, Dendi dan Rekan sejawat nya segera meninggalkan ruangan dan bergegas menuju kamar operasi yang terletak di lantai 3 rumah sakit itu.

Sebelum memasuki ruang operasi, tak lupa mereka melakukan ritual bersih - bersih dan cuci tangan, setelah selesai mereka memasuki ruangan, begitu pintu terbuka Dendi melangkah masuk dan dengan doa yang tulus ia meminta agar diberikan konsentrasi penuh selama menangani pasien ini agar operasi berjalan dengan lancar sehingga nyawa pasien yang saat ini tergantung dengan kemahiran tangannya bisa terselamatkan.

Ada ketakutan melintasi hatinya, ia takut bayangan Vania serta rangkaian kejadian tadi malam yang menyakitkan hatinya akan mengganggu focus nya di meja operasi, ia takut jika sampai terjadi kegagalan dalam sejarahnya ia tak pernah membayangkan bagaimana ia akan menghadapi keluarga pasien jika sampai gagal menolong pasien di meja operasi.

Dengan tarikan nafas yang panjang ia memulai jalan nya operasi dan tak terasa telah berlangsung 2 jam sudah mereka berjibaku dan bertarung demi menyelamatkan nyawa pasien tersebut.

Dan untuk pasien komplikasi ini Ia memerlukan waktu hingga 6 jam karena tergolong rumit sehingga membutuhkan ketelitian dan kehati hatian agar jangan sampai mempengaruhi organ yang lain.

Tampak diruangan itu semua sibuk, ada yang mengelap keringat Dendi yang mulai mengucur karena telah lelah, ada yang bertugas memberikan alat yang ia butuhkan, semua bekerja sama demi kelancaran dan menyelamatkan nyawa sang pasien.

***

Sementara itu di sebuah gedung yang megah, hari telah mulai gelap, matahari telah kembali ke peraduan dan hanya menyembulkan sisa - sisa cahayanya,tampak Verrel memandang jendela dengan taman terhampar indah disana untuk mengurangi amarahnya, karena ia melihat darah segar mengalir dari pelipis milik Adam tidak berhenti mengalir.

Verrel dengan sigap memanggil anak buahnya untuk segera memanggil dokter keruangannya.

Selain para pria berbadan kekar, Verrel juga menyediakan beberapa dokter pribadi di rumah itu untuk mempermudah segalanya.

Sang anak buah pun mengangguk sigap disaat bersamaan terlihat Vania berjalan memasuki rumah Verrel dan menunggu di ruang tamu seperti tadi malam, karena untuk bertemu dengan boss mereka, tidak bisa sembarang waktu.

Segera salah satu anak buah Verrel melapor kepada Verrel apakah memperbolehkan tamunya itu bertemu dengannya.

Verrel bertanya siapa gerangan tamu yangvberani mengganggunya senja begini, senyum mengembang dibalik wajah tampannya setelah mengetahui siapa tamunya, ia adalah tamu yang sangat ia nantikan tak perduli apapun, dengan sedikit tidak sabar ia menunggu Vania berada di ruang kerjanya, perasaannya tak tentu arah saat detik - detik menghadapi Vania yang terdengar langkahnya semakin mendekat.

Entah mengapa kali ini jantungnya berdebar semakin kencang, ia semakin tak kuasa menahan debaran yang timbul dihatinya, sana seperti bocah SMA di datangi sang pacar kerumah, perasaannya melambung tinggi, karena bahagia.

Konyol sekali pikirnya, ia menarik nafas nya panjang, terdengar langkah kaki Vania memasuki ruangan itu dengan penuh percaya diri, lalu dengan sigap ia memutar tubuhnya karena tak sabar ingin melihat sosok wanita yang telah membuatnya tak dapat melewati malamnya dengan nyaman.

Vania memasuki ruangan kerja dimana ua telah mendapat ciuman dari pria yang tengah berdiri tersenyum menyambutnya.

Matanya terbelalak, ia terkejut, langkahnya terhenti sejenak melihat orang yang menamparnya tadi malam sudah berdarah, tak lama kemudian dua orang berpakaian perawat dan seorang dokter memasuki ruangan yang  sama, mereka langsung memeriksa Adam dan hendak menbuka tas yang berisi peralatan medis untuk melakukan pertolongan pertama, Verrel dengan sigap menyuruh mereka ke ruang perawatan pasien yang sengaja ia sediakan di gedung ini, untuk kelancaran semua kegiatannya gedung ini memiliki fasilitas lengkap rumah sakit, termasuk dokter - dokternya.

Tapi karena tak ingin waktunya bersama vania terganggu, bahkan melakukan pertolongan pertama pun tak ia izinkan diruangan itu.

" Urus dia di kamar pasien jangan disini "


Adam dan sang dokter mengangguk lalu berjalan menuju ruangan lantai atas, dimana disana terlihat beberapa kamar rawat dan tersedia ruang ICU, plus ruangan pemeriksaan dengan beberapa alat tersedia didalamnya termasuk MRI dan CT SCAN.

Tak ingin Vania merasa tidak nyaman diruangan itu, segera Verrel mengalihkan pikiran Vania, dan berkata kepada salah satu anak buahnya.

" Bawakan minuman untuk tamu kita A1
Segera..!! "


Verrel menatap tajam kepada salah satu anak buahnya yang ada di luar ruangan dengan penuh wibawa.

Komentar Buku (309)

  • avatar
    SimangunsongFeby Yesa

    saya sangat menghargai setiap karya kamu, setiap kata² yg tersusun menjadi sebuah kalimat semakin memudahkan saya untuk membaca dan menerima setiap kesan ² indah. semoga kamu dapat menjadi seorang penulis yg di mana setiap pelosok negeri mengetahui betapa hebatnya karya ² mu ini

    15/06/2022

      1
  • avatar
    Laelatul IMamik

    Seneng bacanya, alurnya bagus kayak penulis profesional. Ada sisipan SQ, Spiritual Question nya diakhir tulisan. Karena sejauh mata memandang, tidak bisa dilepaskan bahwa kita yang membutuhkan Tuhan.

    05/02/2022

      0
  • avatar
    Faridah Fasha

    sumpah cerita ini best sgt.... byk2 novel ini yg la novel yg pling best.. smoga sehat sllu dn trs brkarya dgn lbh baik lg👍👍👍👍👍

    06/01/2022

      2
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru