Kunang-Kunang

Kabar kebangkitan Raja Kegelapan yang tersebar membuat semua orang di dunia bawah ingin bertemu dengan raja mereka. Simpang siur kabar membuat Yui dan Yuan terpaksa bersembunyi. Mereka diungsikan ke sebuah kastil tua yang sudah tidak pernah lagi digunakan.
“Sementara Yang Mulia tinggal di sini, sampai kondisi memungkinkan,” ucap Aizen yang mengantarkan Yui dan Yuan.
Sarang laba-laba dan debu yang tebal menutupi hampir seisi kastil. Kesan angker tak bisa dipungkiri lagi. sementara Aizen langsung pamit meninggalkan mereka berdua.
“Yuan, kira-kira muncul hantu tidak?” Yui bersembunyi dibalik Yuan, memegang erat lengan saudara kembarnya.
“Kau bersama Raja Kegelapan, hantu mana yang berani?”
“Tapi, kau tidak seram meskipun Raja kegelapan. wajahmu saja sama denganku,” timpal Yui yang memang benar Yuan manis untuk ukuran Raja Kegelapan yang selalu dibicarakan mengerikan atau menyeramkan.
“Bagaimana tidak sama, kita ini kembar, Yui,” balas Yuan gemas mencubit kedua pipi Yui.
Yui tetap saja takut, dia mengekor Yuan masuk ke dalam kastil.
“Tunggu, mungkin ini kastil drakula kau tahu, yang suka menghisap darah,” celoteh Yui sambil memperlihatkan giginya seakan dialah sang drakula.
“Kau mau masuk atau tidak?” Yuan menatap Yui yang terus-terusan beralasan untuk masuk ke dalam kastil.
“I-itu,” jawab Yui sedikit ragu.
“Marina! Krisan!”
Yuan memanggil keduanya, kedua roh alam itu membersihkan kastil dengan cara yang sangat menggemparkan. Marina menyapu semua debu dengan gelpmbang air dan Krisan membereskan kekacauan yang dibuat Marina, hingga semua perabot yang tersapu air kembali di tempatnya dan kering. Kastil seketika bersih dan tidak lagi menyeramkan.
“Oke, baiklah, aku masuk,” jawab Yui dengan senang hati memasuki kastil yang tak lagi seram.
Yuan menghela napas panjang. lalu menghempaskan dirinya di sofa yang sudah bersih dan kering. Sofa panjang yang cukup bagus meskipun sudah usang dimakan usia. Dia melihat langit-langit ruangan, ada semacam rasa, perasaan mengenal kastil ini. Dia membuka pintu besar di ruang tamu, sebuah aula besar dan sebuah kursi mirip kursi singgasana. Yuan berjalan menuju singgasana itu. Kursi yang pernah ia lihat, tapi dimana? Yuan duduk di kursi itu memandang sekeliling, rasanya ruangan ini tidak asing, batin Yuan.
“Yuan … Yuan … Yuan!” panggil Yui yang tidak melihat keberadaan Yuan di ruang tamu.
“Di sini Yui!” teriak Yuan.
Yui menghampiri Yuan yang sedang duduk di singgasana.
“Kau terlihat seperti …,” Yui mengingat sesuatu dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Ingat tapi lupa.”
“Itu namanya tidak ingat, Yui,” cibir Yuan yang dibuat kesal Yui.
“Tunggu, Coba kau duduk lebih tegak lalu memandang orang dengan wajah sinis seakan semua orang adalah budak,” berondong Yui yang dengan polosnya dituruti Yuan.
“Ah … aku ingat, dia pernah datang dalam mimpiku mengatakan tentang,” Yui berhenti berkata sepertinya dia lupa lagi.
“Sudahlah lebih baik kita tidur, ini sudah malam,” lanjut Yuan bangkit dari kursinya dan meninggalkan aula.
“Yuan …,” panggil gadis itu dengan tatapan memelas penuh harap.
“Apa?” jawab Yuan ketus.
“Kenapa kau tidak seperti Yuan? Dia tidak pernah kasar,” selidik Yui memperhatikan Yuan lebih dekat.
“Kau mau tidur sekamar kan, karena takut,” tebak Yuan yang memang tepat.
“Kau tahu ya,”
“Sudahlah, ayo,” ajak Yuan mengulurkan tangannya kepada saudara perempuannya yang menggelayut manja di lengannya.
Hari berganti, mereka terbangun dengan suara aneh di telinga. Kokok ayam dunia bawah yang menyeramkan dan terasa begitu kencang di kastil.
"Ayam berisik!" Yui menutup telinganya dengan bantal, belum ingin bangun masih terlalu pagi baginya.
Yuan yang sama terganggunya dengan suara ayam yang aneh tak lagi bisa memejamkan mata. Dia memilih bangun dan mencoba membuat sarapan. Sayangnya tidak ada bahan makanan apapun di dapur. Apa harus berburu? batinnya, memandang jendela yang menampakkan hutan lebat di depan sana. Ia kembali ke kamar dan melihat Yui masih melanjutkan tidurnya. Tak ingin mengganggu tidur saudaranya ia pergi sendiri ke hutan dekat kastil.
"Pohon-pohon terlihat kering," gumam Yuan melihat hutan yang tak lagi hijau.
"Bukan, itu kontaminasi," suara Gnome dalam benak Yuan.
Yuan memeriksa satu pohon terdekat, masih ada kehidupan pada pohon itu, bukan kering. Dengan kemampuan roh tanah dia membuat pohon itu kembali hijau.
"Pangeran, bernyanyilah," suara Gnome menggema dalam kepala menyerukan lantunan nyanyian elf. Yuan berjalan sambil bernyanyi. Dari dalam hutan terlihat kelap kelip cahaya mendekatinya mereka seperti kunang-kunang terbang mengikutinya. Ia terus berjalan dan kumpulan cahaya itu semakin banyak berkumpul.
"Gnome, mereka ini apa?" tanya Yuan yang melihat makhluk yang berkelap kelip di sekitarnya.
"Mereka seperti peri di dunia atas," jawab Gnome.
"Semacam roh alam juga?" tanyanya lagi.
"Ya, tapi tidak bisa dipanggil. Mereka menyukai Anda, Anda bisa memerintahkan mereka," jawab Gnome dalam benak Yuan.
"Bagaimana cara berkomunikasi dengan mereka?"
"Seperti kami, telepati. Rasakan kesadaran mereka lalu berikan perintah," jawab Gnome.
Yuan mengikuti arahan Gnome mencari kesadaran makhluk kecil di depannya. Mereka sangat ceria, terasa kehangatan saat menyentuh benak mereka. Mereka meminta energi untuk memulihkan hutan. Yuan dengan senang hati menyalurkan energinya kepada para makhluk kecil itu. Selanjutnya makhluk itu menyebar mengitari pepohonan dan terjadi perubahan pada pohon-pohon di hutan. Pohon-pohon itu kembali hijau.
"Indahnya …," suara yang sangat familiar di telinga Yuan.
"Yu-Yui!" seru Yuan dan gadis itu tersenyum.
"Aku lapar jadi aku mencari makan ke sini," timpal Yui yang langsung mencari makanan yang bisa dimakan. Pandangannya terpaku pada semak-semak dengan buah berwarna merah.
"Yuan, kau mau strawberry?" tanya Yui mengambil buah warna merah.
"Strawberry apa itu kenapa warna bijinya biru?"
"Ini strawberry langka," jawab asal Yui sambil tertawa.
"Dia benar, itu sejenis strawberry di dunia atas," suara Gnome menggema di benak Yuan.
Yuan mencari tanaman lain dan menemukan beberapa umbi-umbian. Setelah cukup dengan hasil memetik buah mereka kembali ke kastil.
"Yui, kita harus mencari cara mencapai Istana Kegelapan di sana kristal hitam berada. Jika kristal itu dimurnikan semua yang ada disini akan kembali seperti semula," terang Yuan.
“Belum, kau belum cukup kuat, Yuan. Tinggallah di dunia ini lebih lama dan berlatih pemurnian hingga kemampuanmu meningkat. Percayalah ada waktunya kita ke sana, tapi bukan sekarang,” jelas Yui.
“Apa kau lihat tadi, makhluk seperti kunang-kunang dia bisa mengambil energi pemurnian dan memurnikan hutan, tapi Gnome bilang hanya bisa untuk hutan karena mereka roh alam hutan, tidak bisa untuk manusia,” lanjut Yuan.
“Bagaimana dengan Krisan, apa bisa dengan angin?” tanya Yui dan Yuan pun menggeleng. Dia melanjutkan menyiangi strawberry yang mereka peroleh.
Sarapan telah siap, ubi rebus dan buah strawberry, cukup sederhana untuk mereka nikmati bersama.
“Bagaimana dengan air? bisa diminum mungkin juga seperti obat,” saran Yui yang membuat Yuan berhenti mengunyah sementara.
“Benar juga, nanti kucoba dengan Marina,” sahut Yuan.
Yuan melakukan percobaan dengan Marina, dia menyalurkan energi pemurnian yang ia miliki ke dalam air lalu mengujinya. Yui sengaja ke pemukiman penduduk untuk melakukan uji coba. Air itu ia tuangkan pada kulit yang terkontaminasi, untuk kontaminasi rendah ternyata sembuh tapi jika sudah tingkat lanjut tidak berpengaruh. Yui kembali mengabarkan hasil percobaan mereka. Belum puas dengan hasilnya, Yuan masih berpikir lagi bagaimana cara menolong penduduk yang terkontaminasi.

Komentar Buku (321)

  • avatar
    Kakanay

    Karya author kece badai ini ngga diragukan lagi! Cerita fantasi yang keren ini bakal nemenin hari-hari jadi makin seru!! 😍💖🥰❤

    26/07/2022

      1
  • avatar
    MumtazAprilya

    yaAllah bgs bgt crta nya..serasa masuk k dunia crystal😃 btw ka.ini sampe episode brpa ya?.

    09/04/2022

      1
  • avatar
    Astirizka Maulidina

    sangat menyukai cerita fantasi dan cerita ini sangattt menarik, di tunggu kelanjutan ceritanya kak

    22/01/2022

      1
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru