Rosaline yang keluar dari gerbang dimensi di hutan Onyx segera mencari cara untuk ke istana secepatnya. Ia melihat ada kuda yang sedang merumput di dekat sungai yang mengalir jernih. Tanpa perlu berpikir panjang, Rosaline segera menjinakkan kuda itu dan menjadikannya tunggangan untuk ke istana. Dengan menaiki kuda diperlukan waktu lebih singkat dibandingkan berlari. Kuda ia pacu tanpa henti hingga Istana Cahaya terlihat. Rosaline melompat dari kudanya dan membiarkan kuda itu kembali ke asalnya, di hutan. Rosaline berlari menuju kediaman Raja, tidak ada tanda keberadaan Pangeran Yuasa di sana lalu ia berlari menuju aula timur. Aula timur sudah berubah menjadi hutan kecil yang artinya Raja Yuichi sedang menggunakan kekuatannya. Perlahan ia mencari keberadaan Pangeran Yuasa. Dia sedang terbaring di atas bunga es yang berbentuk teratai. Hawa dingin terasa menusuk hingga tulang, Rosaline mengeratkan tangannya memeluk dirinya sendiri. "Yang Mulia," panggil Rosaline kepada Raja Yuichi yang ada di samping Pangeran Yuasa. "Rosaline, apa tatomu sudah hilang?" jawab Raja Yuichi tanpa menoleh. "Sudah," balas Rosaline mendekat ke arah Raja Yuichi. "Bagaimana keadaan Pangeran Yuasa?" tanya Rosaline memandang Pangeran Yuasa yang terlihat tertidur. Raja Yuichi menghela napas panjang. "Buruk, aku tidak bisa merasakannya. Dia terasa sangat jauh, yang bisa kulakukan hanya mempertahankan raganya." Raja Yuichi menoleh ke arah Rosaline kesedihan terpancar di matanya. Rosaline mengeluarkan botol yang berisi ramuan dari Xavier dan menyampaikan pesannya. "Yang Mulia, jiwa Pangeran Yuasa tersegel bersama sang pembawa petaka," ucap Rosaline. Raja Yuichi mengambil botol yang diberikan Rosaline, membuka dan mencium aromanya. "Masih belum cukup, Rosaline. Tidak ada sesuatu yang bisa mengikatnya di dunia ini. Tanpa ikatan tubuhnya akan rusak dimakan waktu. Ramuan ini hanya bisa mempertahankan tubuh Yuasa dalam beberapa bulan." Raja Yuichi terlihat putus asa, memikirkan nasib putranya yang dalam keadaan hidup dan mati. "Apa yang bisa mengikatnya?" tanya Rosaline perlahan mendekat ke arah Raja Yuichi yang duduk di samping Pangeran Yuasa. "Banyak hal, sudah kucoba tapi masih belum cukup. Kasih sayang orang tua masih belum membuatnya tertahan. Belum bisa menjangkaunya." Raja Yuichi memandang ke arah Rosaline. Gadis manis yang selama ini selalu bersama putranya. Ia melihat gadis itu sedih, tatapan cemas terlihat jelas. Pandangan mata Raja Yuichi terpaku pada cincin yang melekat di jari Rosaline. Cincin mawar merah delima, yang ia kenali pasti berasal dari bunga mawar di pegunungan Jade. "Rosaline, apa Yuasa yang memberikan cincin itu?" tanya Raja Yuichi yang kembali menemukan harapan. "Iya," jawab Rosaline. Raja Yuichi beranjak dari duduknya dan memeluk Rosaline. "Syukurlah, kita bisa menolongnya. Apa kau bersedia membantu?" "Apapun, untuk Pangeran Yuasa," jawab Rosaline. "Tunggu di sini!" Raja Yuichi keluar ruangan dengan tergesa- gesa. Rosaline hanya memandangnya lalu menunggu sesuai permintaanya. Tak lama Raja Yuichi kembali bersama Ratu Sawatari. "Rosaline, boleh kupinjam sebentar cincinmu?" Raja Yuichi meminta cincin Rosaline. Rosaline memberikan cincinnya, lalu Raja Yuichi memberikan cincin itu kepada sang ratu. Ia juga membuka cincin yang ada di jarinya. Cincin mawar putih dari Raja Yuichi. "Kita mulai!" Raja Yuichi membuat lingkaran sihir, cahaya lingkaran sihir muncul di bawah tubuh Pangeran Yuasa. Lalu kedua cincin diletakkan di atas tubuh Pangeran Yuasa. Cincin itu terangkat, mengambang lalu berpendar dan masing-masing kembali ke wujud aslinya, bunga mawar. Ratu Sawatari mendekati Rosaline dan berbisik, "Tolong Yuasa, hanya kamu yang bisa." Ratu menarik tangan Rosaline, menuntunnya mendekati lingkaran sihir. Dia kembali berbisik, "Carilah dia, tapi kau tidak bisa membawanya bersamamu." Ratu Sawatari mengambil mawar merah milik Rosaline dan memberikannya kepada si pemilik. "Berikan ini padanya, hanya itu dan kembalilah. Doa kami menyertaimu, sayangku." Rosaline menerima bunga mawar dari Ratu Sawatari dan mengangguk. Ia masuk ke dalam lingkaran sihir lalu seketika kesadarannya berpindah ke tempat lain. Tempat ini gelap, cahaya dari bunga mawar yang bersinar menerangi jalan di depan Rosaline. Ia berjalan mengikuti benang merah yang keluar dari bunga mawarnya. Ia teringat kisah benang merah takdir. Mereka yang berjodoh terikat dengan benang merah. Karena itu ia yakin benang merah ini akan menuntun ke tempat Pangeran Yuasa berada. Meski dia tidak tahu apakah mereka benar-benar berjodoh, tapi hatinya sudah terpaut pada pangeran bermata biru itu. Rosaline terus berjalan, hingga keluar dari tempat gelap digantikan dengan pemandangan yang lebih mengerikan. Bagai di dalam neraka, panas, kanan kiri jalan yang ia lewati mengalir lava pijar yang siap meluluhkan apapun yang masuk kedalamnya. Rosaline terus berjalan hingga keluar dari tempat itu digantikan hamparan hijau lembah nan indah. Masih belum ada tanda-tanda keberadaan Pangeran Yuasa. Ia terus berjalan karena benang merahnya masih terlihat panjang tak berujung. Rosaline kembali dihadapkan dengan tempat yang aneh, hamparan padang pasir. Tandus. Ia berjalan dengan kesusahan di setiap langkah kaki yang melesak ke dalam pasir. Pandangannya terkunci pada warna emas di hadapannya. Seekor naga berwarna keemasan yang meringkuk, seperti melindungi sesuatu dalam pelukannya. Rosaline berlari, menuju naga emas yang ia lihat. Pandangannya tertuju pada pemuda yang berada di pelukan naga itu. Rambut keemasan, tak salah lagi itu adalah Pangeran Yuasa. Naga yang melindungi Pangeran Yuasa menatap Rosaline. Gadis itu merasa takut, naga yang begitu besar itu menjulurkan kepalanya ke arah Rosaline. Moncong sang naga menyentuh dahi Rosaline dan suara terdengar di dalam kepala gadis itu. "Rosaline, namaku Aurum, naga Pangeran Yuasa," suara dalam benak Rosaline bergema. "Kau tahu namaku?" Rosaline terkejut dengan naga emas yang mengenal dirinya. "Selama ini aku berada di tubuh Pangeran Yuasa, kami terlahir bersama. Ragaku masih belum terbentuk, tapi aku bersyukur karena dengan gagalnya menetas waktu itu saat ini aku bisa melindungi Pangeran Yuasa," terang Aurum. "Apa yang terjadi? Kenapa Pangeran Yuasa tertidur?" tanya Rosaline, ia membelai lembut wajah pemuda yang tertidur itu. Hangat, menandakan masih ada kehidupan. "Xavier menguras habis darahnya, benar-benar habis hingga jiwanya melayang. Mutiara mimpi menangkap jiwanya dan membawa kami kemari. Masuk dalam tubuh Raja kegelapan." "Tunggu, masuk ke dalam tubuh raja kegelapan? Tapi …," Rosaline berpikir sejenak, bukankah yang dibangkitkan Xavier ternyata sang pembawa petaka. Anak yang diabaikan dunia dan menuntut balas dunia yang mengabaikannya. Aurum seperti tahu keraguan Rosaline, dan berkata, " Raja kegelapan ini memang anak pembawa petaka. Dia menobatkan dirinya sebagai raja setelah membunuh raja terdahulu. Xavier benar, membangkitkan Raja Kegelapan sayangnya ia tidak memiliki kemampuan pemurnian yang diharapkan Xavier." "Bagaimana menolong Pangeran Yuasa?" Naga itu diam, hening beberapa saat hanya menatap jauh ke dalam.mata gadis dihadapannya yang terlihat cemas. "Kau harus membuatnya bangun, Rosaline," jawab sang naga. Rosaline memanggil nama Pangeran Yuasa, mengguncang tubuhnya berharap pangeran tidur ini akan bangun. Nihil. "Pangeran! Pangeran Yuasa!" teriak Rosaline yang mulai kalut. Kenapa? Kenapa tidak bangun juga. Jika seperti ini aku tidak bisa menolongnya, batin Rosaline. Air mata mulai mengalir. Sesal mulai menyelimuti hati gadis ini. Seharusnya, seharusnya aku kembali setelah tatoku hilang. Berada di sisimu, menjagamu. Batin Rosaline terus bergejolak menyalahkan diri sendiri. "Rosaline!" Suara Aurum menyadarkan Rosaline. "Maaf, maafkan aku!" Tangis pecah seketika. Naga itu hanya bisa menunggu, menunggu gadis ini tenang kembali. "Rosaline!" Naga itu kembali memanggil namanya. "Apa kau mencintai Pangeran Yuasa? Kau belum menjawabnya waktu itu." Rosaline memandang naga keemasan yang menanyakan perasaanya. "Aku, aku mencintainya. Sangat mencintainya. Apapun akan kulakukan untuknya." jawab Rosaline yang membuat sang naga puas. "Dia akan bangun Rosaline, percayalah. Cobalah lagi, bangunkan dia," ucap sang naga yang terdengar lembut dan penuh keyakinan. Bunga mawar di tangan Rosaline berpendar lalu berubah menjadi cincin kembali. Rosaline memasang cincin itu dijari Pangeran Yuasa. Lalu mengecup punggung tangannya. Perlahan ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Pangeran Yuasa. Membangunkan pangeran itu seperti membangunkan putri tidur dalam dongeng. Mata pangeran Yuasa perlahan terbuka, menampilkan warna biru indah. "Rosaline," Lirih Pangeran Yuasa. Rosaline memeluk pemuda di depannya dan mengucapkan syukur berkali-kali. Tubuh Rosaline berubah menjadi transparan. Hingga tidak bisa lagi disentuh. "Rosaline!" Pangeran Yuasa panik melihat Rosaline yang akan menghilang. "Pangeran, aku mencintaimu," ucap Rosaline sebelum menghilang. "Rosaline!" Teriak Pangeran Yuasa. Dia memeluk angin karena yang ingin ia peluk telah menghilang. "Aurum, apa yang terjadi?" "Dia kembali, kaulah yang terjebak disini. Percayalah gadis itu pasti akan mencari cara menyelamatkanmu," jawab Aurum kembali meringkuk. "Aurum, kau dengar? Dia mencintaiku," lirih Pangeran Yuasa dengan bibir tertarik menampilkan senyuman. "Ya, sangat jelas," jawab Aurum.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (321)
Kakanay
Karya author kece badai ini ngga diragukan lagi! Cerita fantasi yang keren ini bakal nemenin hari-hari jadi makin seru!! 😍💖🥰❤
26/07/2022
1
MumtazAprilya
yaAllah bgs bgt crta nya..serasa masuk k dunia crystal😃
btw ka.ini sampe episode brpa ya?.
09/04/2022
1
Astirizka Maulidina
sangat menyukai cerita fantasi dan cerita ini sangattt menarik, di tunggu kelanjutan ceritanya kak
Karya author kece badai ini ngga diragukan lagi! Cerita fantasi yang keren ini bakal nemenin hari-hari jadi makin seru!! 😍💖🥰❤
26/07/2022
1yaAllah bgs bgt crta nya..serasa masuk k dunia crystal😃 btw ka.ini sampe episode brpa ya?.
09/04/2022
1sangat menyukai cerita fantasi dan cerita ini sangattt menarik, di tunggu kelanjutan ceritanya kak
22/01/2022
1Lihat Semua