24. Byakko (3)

Light mendekati Yui dan berbisik, “Kenal dimana dengan half human ini?”
Yui tersenyum dengan tangan di depan mulut menutupi senyumannya dan menjawab, “Serius mau tahu?”
Light mengangguk karena penasaran dari mana asal Kyara yang manis.
“Dia itu ...,” kata Yui sengaja mengulur jawabannya.
“Iya apa?” Light sudah penasaran ingin mendengar.
“Kyara itu adalah ...,” jawab Yui yang masih menggantung.
Light sudah gemas dengan jawaban Yui dan menggoyangkan badannya seraya berkata,“Cepat katakan!”
“Dia itu Byakko,” bisik Yui tepat di telinga Light. Antara percaya dan tidak Light mematung setelah mendengarkan jawaban Yui. Dalam pikirannya dia membayangkan Kyara yang manis berubah menjadi Byakko yang garang dan ganas.
“Ayo Kyara kita belanja!” seru Yui.
“Yey,” sahut Kyara mengikuti Yui.
Mereka berdua menuju toko baju yang paling besar di antara toko baju yang lain. Rafael dan Light hanya bisa menunggu dua gadis yang sedang memilih baju. Dua jam mereka memilih baju, dan segera dibayar oleh Rafael semua belanjaan Yui dan Kyara. Lalu keduanya masuk ke toko aksesoris.
“Paman tidak masalah mereka memborong semua itu, apa tidak takut uang paman habis?” tanya Light yang memperhatikan Rafael begitu mudahnya mengeluarkan uang.
“Tak masalah, satu ginseng saja mereka bayar 1,5 juta jadi uangku cukup banyak jika hanya untuk menuruti keinginan Yui,” jelasnya sambil tertawa ringan.
“Ginseng apa yang harganya 1,5 juta?” batin Light.
Yui dan gadis half human itu sudah memenuhi keranjang mereka dengan pernak-pernik aksesoris. Dan segera dibayar semua oleh Rafael.
Kini tinggal menunggu Light membeli baju. Mereka berada di toko pakaian khusus pria. Light hanya mengambil beberapa potong baju.Baju laki-laki hanya seperti itu tidak sebanyak model baju perempuan. Rafael mengambil dua buah jas formal dan beberapa buah kaos.
“Untuk apa membeli jas?” tanya Light. Terasa aneh menurutnya melihat Rafael membeli jas. Setiap hari dia hanya mengenakan kaos saja.
“Owh, untuk pesta, mana mungkin hadir ke pesta dengan kaos setidaknya sedikit elegan dengan jas,” jawab Rafael.
Jawaban Rafael lebih mengejutkan karena dia merasa Rafael tidak pernah bergaul. Ternyata dia juga menghadiri acara semacam pesta.
“Kau pasti berpikir orang sepertiku tidak pernah ke pesta, kau salah besar anak muda,” sahut Rafael sambil memilih beberapa dasi yang pas.
Rafael mencoba jas yang dia pilih. Dengan setelan jas, Rafael terlihat berbeda. Aura seorang bangsawan terlihat hanya karena berganti baju. Dengan gayanya dia bertanya kepada Yui yang merupakan seorang putri.
“Maukah berdansa denganku Tuan Putri,” ucapnya seraya membungkuk dan mengulurkan tangan.
“Tentu,” jawab Yui menerima uluran tangan Rafael. Pemilik toko yang melihat adegan itu memasang musik mengiringi keduanya.
“Tak kusangka Paman pandai juga berdansa,” ucap Yui yang bergerak mengikuti alunan musik.
“Tidak seperti tampangnya, begitu menurutmu. Aku juga tahu caranya bergaul,” balas Rafael.
Light yang melihat saudara kembarnya menari bak Cinderella di pesta dansa merasa tidak puas. Sifat jahilnya muncul. Dia menuju meja pemilik toko dan mengganti musik klasik dengan salsa. Saat alunan musik berubah Rafael berhenti bergerak. Yui yang mengenal alunan musik itu sudah bersiap dengan posenya, mengulurkan tangan untuk kembali menari.
Light tersenyum senang dengan senyum kemenangan. Pria jangkung itu pasti tidak bisa menari. Namun yang dia pikirkan tidaklah benar. Pria itu menarik tangan Yui, Yui berputar hingga pinggangnya dipegang dan mereka berada dalam posisi yang cukup dekat. Pria itu menikmati alunan musik Salsa dan menari mengikuti dentang lagunya. Light benar-benar kesal dan mematikan musiknya.
“Sudah selesai belum belanjanya, toko mau tutup,” celetuk Light.
Setelah membayar, Rafael meminta maaf atas keributan yang telah mereka lakukan. Pemilik toko tidak mempermasalahkan hal itu dan justru memberikan bonus karena telah menghibur. Mereka semua kembali setelah semua yang diperlukan telah dibeli. Orang yang menyapa Rafael pagi tadi, sedang menunggu dengan senyumannya.
“Apakah hari Anda menyenangkan Tuan Blackdragon?” tanya pria itu.
“Ya, terimakasih telah menjaga Fury,” jawab Rafael sembari melemparkan kantong emas ke arah pria itu. Membuka sejenak isi kantongnya, pria itu berterima kasih dan melambaikan tangan.
“Silakan datang lagi Tuan Blackdragon,” ucapnya saat kami sudah berada di atas Fury bersiap untuk kembali ke rumah. Hari sudah berganti malam saat mereka sampai di rumah.
Yui kembali membaca bukunya ditemani Byakko dalam wujud manusia setengah binatang.
“Menurutmu apa bisa memanggil yang lain, Genbu dan Suzaku?” tanya Yui memperlihatkan bukunya kepada Byakko.
“Tunggu sampai kau menguasai kemampuan Seiryu dan kemampuanku lebih baik lagi, setelah itu Kau bisa memanggil Genbu,” jawab Kyara dengan suara manisnya yang lucu menurut Yui.
“Owh begitu, besok kucoba memanggil Seiryu dan berlatih lagi,” ucap Yui.
“Yui, ini sudah malam, tidurlah dan Kyara kau boleh bersama Yui,” kata Rafael.
Yui dan Kyara naik ke lantai dua, dimana kamarnya berada. Sebuah kamar khas dengan warna pink dan ornamennya. Pemilik rumah mengganti cat kamar tersebut karena si pemilik kamar selalu protes dengan warna cat yang lama.
“Hei Kyara, dulu aku pernah bertemu dengan saudara kembarku di dunia Seiryu. Menurutmu kenapa aku bisa bertemu dengannya?” tanya Yui yang sudah mengganti bajunya dengan piyama.
“Mungkin dia juga summoner sepertimu, dunia kami adalah dunia yang berbeda dan hanya makhluk yang bisa dipanggil saja yang menghuni tempat itu,” jawab Kyara.
“Begitu ya, apa dia juga summoner guardian compass?” tanya Yui makin penasaran.
“Bukan, hanya ada satu summoner guardian compass setiap periode, jadi dia mungkin summoner yang lain,” sahut Kyara yang mulai bersiap tidur.
“Apa kau tidak apa-apa tidur di dunia ini? Maksudku kau itu harusnya di duniamu,” ucap Yui. Dia mulai menarik selimutnya.
“Tidak masalah Yui, selamat tidur,” jawab Kyara.
“Selamat malam Kyara,” jawab Yui yang tak lama kemudian terlelap dalam tidur tenangnya.
Yui masuk dalam dunia mimpi, tempat yang asing baginya. Daratan tandus yang gelap dengan awan mendung disertai kilatan petir yang menyambar. “Tempat apakah ini?” batinnya. Setiap kali berada di tempat asing satu hal yang terlintas dalam pikiran Yui yaitu Yuan. Dimanakah dia? Yui mencari memandang sekelilingnya. Tidak ada tanda-tanda Yuan dimanapun. Yui mulai berjalan di tanah tersebut, bahkan binatang pun tak terlihat. Pandangan Yui teralih pada sebuah kastil di atas bukit. Yui bergegas menuju tempat itu. Kastil itu megah dengan gaya kuno seperti kastil-kastil abad pertengahan. Kokoh dan megah, serta terkesan menyeramkan. Perlahan Yui mendorong pintu gerbangnya dan masuk ke dalam kastil itu. Sepi, bagai tanpa penghuni. Pintu kastil dibuka olehnya. Hanya kegelapan yang terlihat. Yui menyusuri jalan dengan berpegang tembok karena matanya tak mampu menangkap apapun namun instingnya menyuruh kedua kakinya melangkah maju. Tiba-tiba lampu penerangan menyala dengan sendirinya satu persatu menyala hingga menampakkan sosok penghuni kastil yang duduk dengan angkuh di singgasananya.
“Siapa dia?” batin Yui.

Komentar Buku (321)

  • avatar
    Kakanay

    Karya author kece badai ini ngga diragukan lagi! Cerita fantasi yang keren ini bakal nemenin hari-hari jadi makin seru!! 😍💖🥰❤

    26/07/2022

      1
  • avatar
    MumtazAprilya

    yaAllah bgs bgt crta nya..serasa masuk k dunia crystal😃 btw ka.ini sampe episode brpa ya?.

    09/04/2022

      1
  • avatar
    Astirizka Maulidina

    sangat menyukai cerita fantasi dan cerita ini sangattt menarik, di tunggu kelanjutan ceritanya kak

    22/01/2022

      1
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru