Leiz terdiam di dalam ruang kerjanya, ia berpikir keras bagaimana caranya mengendalikan sang pembawa petaka. Dari segi kekuatan ternyata dia sangat kuat dan dirinya bukanlah tandingannya. “Sial, kenapa seperti ini,” umpatnya. Rencananya menguasai dunia akan gagal dan dia hanya akan menjadi kacung saja. pesuruh dari sang penguasa dan hal itu paling ia benci. Susah payah menyingkirkan para raja, tetapi dirinya tidak bisa dinobatkan menjadi raja. Tidak ada keturunan maupun kemampuan membuatnya frustasi hingga mencari jalan lain. Dan kini jalan lain itu juga buntu. Tiba-tiba terbesit rencana jahat darinya, senyum melebar dan tawanya menggema di ruangannya. Ia berdiri, bangkit dari kursinya dan segera melancarkan apa yang baru saja terpikir olehnya. Leiz mendatangi sang pembawa petaka yang sedang duduk di singgasananya. “Yang Mulia, bagaimana kabar anda?” “Ada perlu apa?” jawab Nacht, Sang Pembawa Petaka. Leiz mendekat dan berbisik di telinganya, “Apa anda tertarik dengan gadis pemilik kristal tanpa warna? Dia juga seorang summoner sama seperti anda.” “Apa ada yang seperti itu?” Rasa penasaran sudah muncul dari sang pembawa petaka. “Dia cantik dan kuat. Kurasa anda pasti suka,” lanjut Leiz menggoda Nacht. “Bawakan dia ke hadapanku,” ucap Nacht yang mulai tertarik. Tidak bisa dipungkiri di masa lalu pria ini suka dengan para gadis dan itu kelemahannya. Tidak ada yang sempurna semua punya titik lemah. “Sayangnya dia tinggal di dunia atas,” jawab Leiz mulai mempermainkan kata-katanya. “Dunia atas, apa dia juga campuran?” tanya Nacht. Ia teringat dengan dirinya yang juga berasal dari dua dunia. kedua orang tuanya menentang aturan dan jatuh cinta melintas dunia atas dan bawah. “Lebih bagus lagi, dia putri Raja Cahaya, bukankah akan sangat bagus menjadikannya ratu anda, Yang Mulia,” kata-kata Leiz sungguh meracuni pikiran Nacht ia sangat tertarik dengan gadis yang dibicarakannya. “Siapa namanya?” tanya Nacht semakin penasaran. “Yui, dan ada saudara kembarnya di dunia ini, Yuan,” bisik Leiz. Melihat raut wajah Nacht ia sangat yakin bisa menjatuhkan pria di depannya. Tanpa tahu apa yang direncanakan oleh Leiz, Xavier dan yang lain sudah bersiap menyelamatkan Selana. Mereka mengendap-endap masuk ke dalam laboratorium. “Aku ingin melihatnya,” gumam Nacht yang penasaran dengan gadis yang diceritakan Leiz. Rencana Leiz setengahnya berhasil saat Nacht mulai tertarik. Dia tahu gadis itu tidak akan menerimanya dan pasti Nacht akan hilang kendali lalu menghancurkan segalanya dan tak ingin lagi menjadi raja. Dia akan patah hati dan pergi tanpa perlu di usir dan ia akan menduduki tahta yang kosong itu. Bagi Leiz itu rencana yang bagus. Diluar dugaan Nacht menggandakan dirinya, ada satu sosok yang hampir sama dengannya. Namun, tidak terikat oleh segel. “Bayanganku, pergilah dan temukan dia,” ucapnya pada sosok yang baru saja terbentuk. “Leiz, dia adalah bayanganku kekuatannya hanya seperempat milikku, tapi itu sudah cukup. Apa yang dia lihat aku juga melihatnya,” lanjut Nacht. Leiz mematung, dia tidak menyangka pria di depannya dapat membuat bayangan dirinya. Bayangannya sama dengan Nacht hanya saja dia dalam versi Nacht muda. Sementara Xavier telah sampai di tempat kerjanya dan menunjukkan Selena kepada Yuan. “Kontaminasinya cukup parah,” gumam Yuan yang memperhatikan wanita cantik yang berada di dalam tabung kaca. Tak sedikitpun kecantikannya berkurang meskipun terlihat tertidur di dalam sana. Yuan segera memurnikan kontaminasi Selena, disaat itu pula hati Xavier kembali merasa teriris. Kenapa dia tidak percaya Rafael, saat itu ia mengatakan anak Yuichi akan memiliki kemampuan ini. Dan terbukti Yuan memiliki kemampuan pemurnian, anak yang baik hati dan lembut. Tidak seperti sang pembawa petaka yang jelas-jelas akan menghancurkan dunia. Yuan selesai dengan pemurniannya menyisakan segenggam kristal hitam di tangannya. “Paman, simpanlah ini,” ucap Yuan menyodorkan kristal hitam itu kepada Xavier. Xavier mengangguk dan mengambil kristal itu lalu menyimpannya. Kini ia berkonsentrasi membuka tabung kaca dimana Selena berada. Setelah menunggu akhirnya Selena keluar dari tabung itu masih dalam keadaan tidak sadarkan diri. Razen mengulurkan sebuah ramuan dalam botol kecil kepada Xavier. Ramuan buatan Ernest yang katanya akan membuat Selena lebih baik. Karena Selena tidak sadarkan diri, ia tidak dapat menelan ramuan yang diberikan. Akhirnya Xavier menggunakan cara lain, ia meminum cairan itu lalu memberikannya kepada Selena lewat mulut ke mulut. Dan ternyata berhasil, wanita cantik yang ada di hadapannya itu menelan ramuan itu dengan perlahan. Sesaat kemudian Selena tersadar, matanya mulai terbuka perlahan lalu mengamati sekitarnya. “Xavier? di manakah ini?” lirih Selena yang tak mengerti keberadaanya saat ini. “Tenanglah, kita pergi dari sini, ceritanya nanti saja,” ucap Xavier lembut membelai wajah istrinya. Mereka mengendap-endap kembali bersama Selena. Namun, Naas kepergok salah satu penjaga di sana. “PENYUSUP!” Teriakan yang membuat banyak prajurit lain segera datang di tempat mereka. Kini mereka terkepung dari segala sisi. “Bagaimana ini?” Razen tak tahu harus kabur kemana, dia bisa membawa Yuan pergi tapi tidak bisa jika ketiganya. “Razen, jika terpaksa tinggalkan kami berdua dan bawa Tuan muda,” bisik Xavier. Selena berlindung di balik tubuh besar Xavier sementara Yuan ada di sampingnya di belakang Razen. Mundur pun tak bisa, satu-satunya cara hanya menerobos kawanan prajurit. “Aku bisa bertarung!” seru Yuan yang memulai menyerang kawanan prajurit di depannya dengan pedang es miliknya. “Salamander!” teriak Yuan dan makhluk api itu keluar dengan panas membara. “Apa boleh kuhabisi semua?” tanya Salamander yang tak sabar membantai. “Lakukan saja sesukamu!” teriak Yuan yang mulai melesak menyerang prajurit di depannya, jalanan terbuka Xavier menarik tangan Selena dan berlari di belakang Yuan yang membuka jalan bersama Salamander sementara Razen berjaga di belakang jika ada yang menyerang mereka. “Belok kanan!” teriak Xavier saat mereka berada di jalan yang bercabang, tentu saja keduanya segera berbelok ke arah yang sesuai arahan Xavier. Pintu keluar sudah terlihat, dan disini pula sudah menunggu makhluk mengerikan yang berdiri dengan angkuhnya.Pria itu memandang Selena yang merupakan satu-satunya wanita dalam kelompok Xavier. “Bukan dia,” gumamnya lalu beralih ke arah Yuan. Wajah cantik Yui tergambar jelas karena mereka kembar, senyum pun terlihat di bibir pria itu.”Cantik, saudarimu pasti lebih cantik lagi,” gumam pria yang menghadang mereka. “Jangan sentuh Yui!” Yuan menerjang pria itu dengan pedangnya, pertarungan tak terelakkan. Diluar dugaan tubuh kecil Yuan mampu mengimbangi gaya bertarung pria itu. “Hebat, kukira Tuan muda tidak sekuat itu,” lirih Xavier yang baru pertama kali melihat permainan pedang Yuan. “Tentu saja dia hebat, Tuanku tidak mungkin orang yang lemah,” sahut Salamander yang pernah merasakan bagaimana disayat olehnya. Pria itu tersenyum makin lebar saat melihat Yuan mengendalikan air di tangannya. “Ternyata benar, summoner apa dia juga sama sepertimu,” bisik pria di depan Yuan saat ini ia bergerak dengan cepat dan berada di hadapan Yuan. “Semakin dekat terlihat cantik, tak sabar melihat kecantikan saudarimu,” lirik ucapannya. Yuan mundur satu langkah untuk menjaga jarak dan melancarkan serangannya yang ditepis dengan susah payah pria itu. Seekor naga hitam keluar dan meraung dengan keras. “Bukan kau saja yang summoner, aku juga!” teriak pria itu terlihat menggila menyerang segala di depannya termasuk prajurit yang tak sengaja ada di depannya. “Razen, kita pergi dari sini!” teriak Xavier yang berlari menjauh dari jalan keluar, menghindari sang naga hitam. “Krisan!” teriak Yuan. Seorang wanita cantik dengan gaun putih muncul dan segera berdiri di samping Yuan. “Apa kau bisa membawa ku dan Kak Selena?” tanya Yuan yang dijawab dengan gelengan kepala. “Hanya anda,” tegas Krisan. “Razen bawa Selena, tinggalkan aku!” teriak Xavier masih melawan naga hitam yang terus menyerang mereka. “Tapi …,” Razen ingin membantah tapi di sela dengan cepat oleh Xavier. “Sekarang!” teriak Xavier. Tanpa menunggu lagi, Razen menarik tangan Selena dan menghilang dalam tanah, Sementara Yuan terbang bersama Krisan menjauh dari kekacauan. “Saatnya kita mengamuk!” kekeh Salamander yang ternyata tetap di sana. “Kau tidak pergi?” tanya Xavier yang bersiap melancarkan tombak hitamnya, meghunjamkannya ke arah sang naga hitam. “Ya, sebentar lagi setidaknya masih bisa ku bakar tempat ini,” balas Salamander. “Pergilah saat ada kesempatan,” bisik Salamander. “Bagaimana denganmu?” tanya Xavier. “Tuanku akan memanggilku,” senyum penuh percaya diri tersirat di wajah Salamander. Xavier benar-benar kagum dengan Yuan, roh api setangguh ini tunduk padanya. Xavier kabur saat laboratorium mengalami kebakaran besar, semua panik dan berusaha menyelamatkan diri. Sementara pria dengan naga itu kehilangan mangsanya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (321)
Kakanay
Karya author kece badai ini ngga diragukan lagi! Cerita fantasi yang keren ini bakal nemenin hari-hari jadi makin seru!! 😍💖🥰❤
26/07/2022
1
MumtazAprilya
yaAllah bgs bgt crta nya..serasa masuk k dunia crystal😃
btw ka.ini sampe episode brpa ya?.
09/04/2022
1
Astirizka Maulidina
sangat menyukai cerita fantasi dan cerita ini sangattt menarik, di tunggu kelanjutan ceritanya kak
Karya author kece badai ini ngga diragukan lagi! Cerita fantasi yang keren ini bakal nemenin hari-hari jadi makin seru!! 😍💖🥰❤
26/07/2022
1yaAllah bgs bgt crta nya..serasa masuk k dunia crystal😃 btw ka.ini sampe episode brpa ya?.
09/04/2022
1sangat menyukai cerita fantasi dan cerita ini sangattt menarik, di tunggu kelanjutan ceritanya kak
22/01/2022
1Lihat Semua