Petugas Kepolisian Seoul tengah sibuk menghubungi para wali dari siswa yang terlibat perkelahian antar sekolah tersebut. Tak terkecuali, mereka semua merasakan ketakutan akan dimarahi oleh orang tua mereka. Kegelisahan melanda tiap-tiap hati yang ada disana. "Nak, sekarang giliranmu menghubungi keluargamu! Awas jangan membohongi dengan menghubungi orang lain. Yang kami perlukan wali mu, mengerti?" ujar salah satu polisi kepada Jungkook. Ketakutan mendominasi perasaannya saat ini, takut kakek, ayah, bahkan bundanya akan sangat marah padanya. Namun Jungkook menggunakan kesempatan ini untuk mendapat perhatian keluarga nya, tapi bukan Taehyung. Gagang telepon telah digenggam Jungkook dengan tangan bergetar kemudian ditekannya angka yang di tuju perlahan. "Bunda." Jungkook memilih menghubungi Bunda nya. "Iya sayang, Jungie dimana?" Tanya Bunda lembut. "Jungkook sedang di kantor polisi, apa Bunda bisa menjemput Jungkook sekarang?" tanyanya hati-hati. "Mwo? (Apa?) Jungkook di kantor polisi? Ada apa nak? Baiklah Bunda akan kesana bersama Ayah. Jungkook tunggu Bunda ya." Jelas Bundanya kemudian menutup telepon sepihak. Jungkook tersenyum, akhirnya ia berhasil mendapatkan perhatian orang lain selain Taehyung. *** Suasana di kediaman Jungkook menjadi agak sedikit kacau. Ayah yang baru saja mendudukan bokongnya di kursi terpaksa harus langsung bersiap untuk menjemput salah satu anaknya di kantor polisi. "Jihoon-ah, Ayah akan menjemput Hyung mu di kantor polisi. Tolong jangan kemana-mana ya. Temani Kakek dirumah." Pinta Ayah. "Hyung? Hyung yang mana yah?" Tanya Jihoon bingung sambil meneguk air dingin yang ia ambil dari lemari es di dapur. "Jungkook, Jungie Hyungmu." Jelas Ayah sambil mengambil kunci mobil yang tergantung di dekat lemari es. "Baiklah, hati-hati yah" jawab Jihoon. Ayah berbalik menatap Jihoon kemudian mengecup dahi sang anak. "Anak pintar, ayah pergi dulu ya." Jihoon hanya menggangguk mengiyakan. Terlihat Bunda nya telah berlari menuju garasi. Bunda menyayangi ketiga anaknya sama. Tak dikurang-kurangi dan tak dilebih-lebihkan. *** Kim Taehyung merupakan Mahasiswa Jurusan Seni Musik di Seoul National University bersama dengan Park Jimin. Mereka telah bersama sejak di sekolah dasar. Keduanya memiliki suara yang merdu dengan pitch yang berbeda. Jika mereka sudah melakukan kolaborasi, maka akan menjadi sesuatu yang menakjubkan. Murid terbaik di bidangnya yaitu Kim Taehyung dan Park Jimin. Mereka banyak menghabiskan waktu di studio musik, entah hanya menulis beberapa lirik lagu atau hanya sekedar menghibur diri dengan bermain alat musik. Seperti mahasiswa umumnya, mereka juga bersosialisasi di kampus. Kim Taehyung yang memiliki segudang prestasi menjadi terkenal tanpa perlu membuat sesuatu diluar nalar untuk menjadi tenar. "Tae, minggu depan ada kontes bernyanyi dengan lagu buatan sendiri. Kau ingin ikut?" Tanya Jimin sambil mengambil posisi duduk didepan Taehyung. "Minggu depan ya, tanggal 1 September kan Jim, sepertinya aku tak bisa ikut Jim. Tahu kan Babyku ulang tahun saat itu" ujar Tae. Jimin membuat huruf O dengan bibirnya. "Baiklah, aku hanya menawarkan saja, karena aku berniat ikut. Akan lebih baik lagi kalau kau juga ikut. Jadi aku bisa berlatih bersamamu." Jimin mengutarakan maksudnya. "Memang acaranya jam berapa Jim?" tanya Taehyung dengan seketika wajah Jimin kembali cerah. "Pukul 8 pagi Tae, jadi tak akan menghalangi acara mu di rumah bersama Jungkook bukan?" jawabnya antusias. Taehyung meringis melihat reaksi Jimin. "Baiklah-baiklah, aku ikut demi dirimu. Puas?" tanya Taehyung di akhir. Jimin meloncat kegirangan sambil memeluk Taehyung "Kau memang terbaik Tata" puji Jimin. Taehyung hanya tersenyum sambil membalas pelukan tersebut. "Ayo, kita makan Tae. Kurasa cadangan energiku telah habis" keluh Jimin dengan usapan di perutnya yang terlihat agak membuncit. Taehyung menyetujui dengan menganggukan kepalanya kemudian memasukkan beberapa kertas yang berisi untaian kata untuk lagu barunya kedalam tas. Saat hendak keluar ruangan musik, ponsel Jimin berdering. "Yeoboseyo" "Yeoboseyo, Hyung, ini Jinyoung" suara Jinyoung terdengar bergetar. "Jinyoung-ah, Wae geurae? (Ada apa?)" tanya Jimin panik. "Hyung, nyoung sedang di kantor polisi. Saat ini nyoung sedang di tahan karena terlibat perkelahian pelajar. Bisakah Hyung kesini?" "MWO? Bagaimana bisa? YA! Park Jinyoung!" teriak Jimin. Sontak Jinyoung menjauhkan telepon dari telinganya, untuk pertahanan saja. Bisa tuli bila mendengar suara sekencang itu, pikirnya. "Hyung, mianhae. Disini juga ada Jungkook" terang Jinyoung. "Mwo? Jungkook juga? Baiklah, hyung dan Taetaehyung akan kesana sekarang. Tunggu! Arasseo! (mengerti!)" tegas Jimin kemudian mematikan sambungan telepon. Taehyung telah ada didepan Jimin menatapnya menuntut penjelasan atas apa yang terjadi. "Jim, ada apa? Kenapa Jungkook?" tanya Taehyung tak kalah panik. "Tak ada waktu menjelaskan, jadi sebaiknya kita bergegas ke kantor polisi Seoul sekarang" ajak Jimin sambil berlari menuju lokasi dimana mobil mereka terparkir. *** Taehyung mengendarai mobil dengan cukup kencang berharap lekas sampai di kantor polisi. Penasaran atas apa yang dilakukan Jungkook kenapa bisa sampai ditahan oleh polisi. Jimin tak ingin mengambil resiko, ia hanya mengendarai mobil dengan kecepatan normal. Toh Jinyoung akan aman di kantor polisi. Bergegas hingga membahayakan nyawanya tak akan pernah dilakukan Jimin demi Jinyoung. Berbeda dengan Taehyung yang saat ini mencoba peruntungannya dengan membawa mobil di jalan umum dengan kecepatan diatas normal. Beberapa kali lolos dari maut, Taehyung berakhir menabrak trotoar jalan. Tak ada korban selain dirinya dari kecelakaan itu. Dahinya terlihat mengeluarkan darah akibat benturan tersebut. Namun ia kembali melajukan mobilnya menuju Kantor Kepolisian Seoul. Taehyung tiba di kantor polisi terlebih dahulu. Jimin masih belum terlihat tanda-tanda keberadaannya. "Akhirnya sampai juga" Taehyung mengambil tasnya hendak keluar namun tertahan karena kepalanya sedikit pusing. Salahkan benturan yang cukup keras tadi. "Ah sial, berdarah." Keluh Taehyung kemudian mengusap darahnya dengan sapu tangan dan menggunakan topi untuk menutupi luka. "Oke, begini lebih baik" ujarnya lalu turun dan berlari masuk ke kantor polisi. Taehyung melihat beberapa anak yang ia tahu merupakan teman Jungkook. Kedua netranya sibuk mencari sosok yang begitu ia rindukan. Berhasil menemukan Jungkook, membuat lengkungan indah nampak di wajahnya. Saat hendak menghampiri Jungkook terlihat Bunda dan Ayah nya keluar dari salah satu ruang pemeriksaan. Taehyung menghentikan langkahnya, niatnya untuk menjadi wali Jungkook pun sirna. Kenyataannya Jungkook sudah tak membutuhkannya lagi saat ini. "Ku pikir ia takut aku marah bila aku tahu ia ditangkap polisi makanya tak menghubungiku. Ternyata ia sudah menghubungi Ayah dan Bunda. Baiklah, sebaiknya aku pulang" ujarnya tersenyum. Saat hendak pergi, Yoongi yang melihat Taehyung menghampirinya lalu menarik tangannya. "Tae, Jungkook- MWO? Tae itu darah mengalir dari dahi mu" panik Yoongi yang langsung membawa Taehyung ke ruangan kesehatan kepolisian. "Kau ini bagaimana sih? Kenapa bisa seperti ini?" cerocos Yoongi. Taehyung menjelaskan kronologisnya kenapa ia bisa terluka seperti ini. Yoongi hanya menatap si pemilik hazel cokelat dengan tatapan sendu. Taehyung tak ingin dikasihani, ia mencoba meyakinkan Yoongi. "Tak apa Hyung, tak perlu menatapku seperti itu. Aku baik-baik saja" jelasnya seraya merebahkan tubuhnya di ranjang. "Jungkook tertangkap Tae, bersama Woojin dan Jinyoung juga, mereka terlibat perkelahian antar pelajar" ucap Yoongi. Tae hanya diam, perasaannya tidak baik saat ini. Yoongi hanya memperhatikan, enggan mengajukan pertanyaan sampai akhirnya Taehyung angkat bicara. "Hyung.... Apa aku bukan Hyung yang baik?" tanya Taehyung dengan raut wajah sedih. "Kau sempurna Tae, untuk menjadi Hyung, kau benar-benar melakukan tugasmu dengan baik. Sampai terluka seperti ini karena mengkhawatirkan Jungkook. Aku saja belum pernah sampai sebegitunya pada Woojin" jelas Yoongi masih dengan kegiatannya membersihkan dan menekan luka Taehyung yang tak kunjung berhenti mengeluarkan darah. Taehyung hanya tersenyum, Yoongi tahu Taehyung sedih saat ini. "Tidurlah sejenak Tae, aku akan panggil Jungkook untukmu" Yoongi hendak keluar ruangan namun ditahan oleh Taehyung. "Jangan hyung, jangan katakan pada Jungkook aku ada disini. Aku mohon" pinta Taehyung. "Baiklah, perlu hyung temani" tanya Yoongi. Taehyung menggelengkan kepala "Tak perlu Hyung, aku ingin sendiri". Yoongi menatap kedua matanya mencari kebohongan disana, namun tak terlihat. Nyatanya Taehyung memang membutuhkan waktu seorang diri saat ini. Dengan berat hati, Yoongi mengangguk dan keluar meninggalkan Taehyung sendiri. *** Merasa kau kian lama semakin jauh. Tak lagi mampu ku lintasi pembatasmu dengan kasih. Kehampaan relung hati tak ku pungkiri. Apakah aku kembali sendiri? *** Taehyung tak mampu memejamkan matanya walau hanya sejenak. Senyum yang terpatri di wajah Jungkook tadi menjadi begitu menyakitkan untuknya. Bukan ia tak ingin sang adik bahagia, bukan. Hanya saja ia merasa tersisihkan. Bukankah harusnya ia bahagia atas bahagianya Jungkook? Lantas mengapa ia menjadi melankolis seperti ini? Biarlah logika berperang dengan hati saat ini. Mungkin akibat benturan yang cukup keras membuatnya menjadi tak bisa berpikir jernih. TBC
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (44)
fathirayusra
bagus
04/08/2024
0
Tri Antara FirzaJuli
bagus
19/04/2024
0
SakiengDam
Ada cerita buat Astro kpop dan super junior ngak? kalo bisa buat satu yah kami setia membacanya seperti sorrowful ini karna kami obses gitu sama korea idol hehehhe
bagus
04/08/2024
0bagus
19/04/2024
0Ada cerita buat Astro kpop dan super junior ngak? kalo bisa buat satu yah kami setia membacanya seperti sorrowful ini karna kami obses gitu sama korea idol hehehhe
04/08/2023
0Lihat Semua