"Mungkin saya bisa membantu permasalahan yang Ibu alami sekarang!" ucapnya membuatku terdiam memikirkan maksud dari perkataannya. "Masalah apa?" Aku mengernyit bingung, karena masih belum mengerti arah pembicaraan Arka. "Masalah yang sedang ibu alami saat ini, saya bisa membantu jika Ibu bersedia," tegasnya. "Yang bermasalah di sini itu kamu, Arka!" seruku. Sedangkan anak itu terlihat tengah serius menatapku, yang sedang dilanda kebingungan akibat ungkapannya yang seolah tahu jika benar aku sedang ada masalah sekarang ini. "Maaf Bu, bukan maksud saya lancang hanya saja saya memang tahu kalau Ibu tengah menerima teror dari seseorang yang tak dikenal. Benar begitu, Bu Nisya?" "Arka! a-apa kamu meretas data pribadi ibu juga?" "Tidak Bu, Ibu jangan salah paham dulu saya tidak melakukan itu kepada Ibu, sumpah," ucapnya meyakinkanku. "Lantas, kenapa kamu bisa tahu apa yang ibu alami?" Arka betul-betul membuatku merinding, apa jangan-jangan dia bisa membaca pikiranku? Jika iya fix ini lebih berbahaya dari kemampuannya di dunia retas meretas. "Benar Bu, sesuai yang Ibu pikirkan. Saya memang punya kemampuan untuk itu," ungkapnya. Demi apapun dia adalah seorang remeja yang baru berusia empat belas tahun! bagaimana bisa dia menguasai semua itu? Ini sangat tidak wajar, kemampuan yang dimilikinya ini sudah di atas rata-rata. Arka, tak ubahnya menjadi sosok yang menakutkan. Entah aku harus menyebutnya seperti apa, dengan semua kelebihan yang tidak dimiki oleh orang lain. Bukan hanya di dunia nyata, bahkan dia juga mampu berinteraksi di dunia yang kami manusia normal tidak memahaminya. "Oke, kembali ke topik Arka, dan berhenti mengobrak-abrik isi kelapa ibu. Jadi, sudah berapa lama kamu menguasai ilmu di bidang itu?" "Sudah lama Bu, dari saya awal masuk SMP sudah mulai mencoba-coba dan inilah hasilnya." "Terus yang kelebihanmu membaca pikiran orang, memang kamu mempelajari ilmunya atau sudah ada dari kamu lahir?" "Dari kecil Bu, awalnya saya kira mereka seperti halnya kita pada umumnya tetapi ante merasa ada yang aneh sama saya. Kak Alin, juga sama menganggap saya aneh karena suka berbicara dan bermain sendiri. Padaha saat itu saya sedang bermain dengan teman saya, yang ternyata tidak bisa dilihat oleh ante juga Kak Alin. Ante yang merasa khawatir lantas membawa saya kepada salah satu temannya untuk menghilangkan kemampuan saya ini, tetapi tidak ada yang bisa. Malah semakin mereka berusaha untuk menghilangkan, saya malah semakin peka terhadap perasaan orang lain. Sampai akhirnya saya mampu untuk membaca pikiran orang yang sedang bertatap muka dengan saya." Setelahnya tidak ada alasan bagiku untuk tidak terkejut dengan pengakuannya. Aku specles, tidak tahu harus meresponnya seperti apa. Arka benar-benar misterius. Kuambil napas sebanyak yang aku bisa, untuk menenangkan pikiranku kembali, jika tidak mau anak di depanku ini akan semakin leluasa menjelajahi isi kepalaku. "Oke, kita sudahi pembicaraan ini. Tapi Arka, bisa kamu berjanji kepada ibu kalau kamu tidak akan menyalah gunakan kemampuanmu ini lagi? Bagaimanapun juga itu termasuk tindakan kriminal, dan ada konsekuensi yang harus kamu pertanggung jawabkan jika sampai ada pihak yang berwajib mengetahuinya." "Saya janji Bu, saya tidak akan melakukannya lagi, kecuali jika ada yang benar-benar butuh bantuan saya, Bu Nisya." "Jika ada yang membayarmu kembali, bahkan dengan imbalan yang lebih besar dari yang kamu dapatkan apa kamu masih mau melakukannya?" "Untuk di area sekolah saya berjanji tidak akan melakukannya lagi, Bu. Bahkan jika ada yang membayar lebih mahal dari sekarang." "Artinya kamu masih akan melakukan itu di luar sekolah?" "Kenapa tidak, membantu seseorang tidak ada salahnya, bukan? Termasuk Ibu, misalnya." "Baik, tapi sekali lagi ibu tekankan kepada kamu! jangan sekali-kali menyalah gunakan kelebihanmu ini, untuk tindak kejahatan. Terlebih kemampuan membaca pikiran kamu, yang begitu menyebalkan, sangat tidak sopan sekali kamu melakukannya apalagi terhadap ibu." "Bu Nisya, boleh Arka minta tolong sama Ibu?" Segera kuiyakan permintaannya, "Minta tolong untuk apa?" "Tolong jangan adukan masalah ini kepada kakak, ya. Saya takut jika nanti kakak akan kecewa sama Arka." "Tergantung, jika kamu sanggup menepati janjimu ibu tidak akan mengadukan masalah ini kepada siapapun. Tapi sebaliknya jika kamu ingkar, tidak hanya Alina yang akan ibu beri tahu, tapi pihak sekolah, juga berikut wali kamu akan ibu beri tahu tentang ini." "Jangan, Bu! Saya benar-benar akan menepati janji, terlebih Kak Alin, saya tidak ingin membuatnya kecewa," ucapnya sendu. Aku bisa melihat binar kasih sayang yang teramat besar ditunjukannya untuk sang kakak, Alina, melalui sorot netranya. Aku tidak tahu sedekat apa mereka selama ini, yang jelas melalui tatapan Arka ketika dia mengucapkan kata kakak, terlihat begitu jelas betapa tulus perasaan seorang adik untuk kakaknya. "Apa kamu sedang butuh uang, Arka?" "Tidak Bu," Dia menggeleng tegas. "Lantas untuk apa uang yang kamu dapatkan selama ini?" "Untuk masa yang akan datang, Bu." Aku mengernyit merasa ada yang janggal dari jawabannya. "Maksud kamu?" "Bukan apa-apa," kilahnya. Aku merasa jika ada yang sedang dikhawatirkan oleh anak ini entah itu apa, yang jelas ucapannya tadi sangat ambigu buatku. Ingin menanyakan maksud perkataannya, tetapi waktunya tidak tepat sebab Mas Ryan memberi kabar kalau dia sudah berada di depan cafe tempatku berbincang dengan Arka. Mau tidak mau aku harus mengakhiri pembicaraan ini. "Mari ibu antar sekalian" ajakku, tapi dengan tegas langsung ditolaknya. "Tidak perlu Bu, saya bisa pulang sendiri. Ibu silahkan pulang duluan saja." "Ini bukan tawaran Arka, melainkan perintah! jadi ayo ibu akan mengantar kamu pulang." Cukup satu kali dia sudah menuruti perkataanku tanpa perdebatan lagi, Arka segera mengikuti langkahku menuju di mana mobil Mas Ryan berada. Satu rasa kagumku kembali kulihat dari sosok Arka, dengan sopannya dia menyapa Mas Ryan juga mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan suamiku, berikut ucapan permintaan maafnya karena merasa merepotkan. Sebuah tindakan sederhana yang mempunyai makna yang begitu dalam. Arka, dia tumbuh menjadi anak yang tidak fakir adab kesopanan, yang kebanyakan dari mereka seusianya sudah tidak pernah lagi melakukan tindakan tersebut. Berbeda dengan Arka, meski tumbuh sebagai anak korban broken home, dia bisa menjadi sosok yang baik dan bisa menghormati orang yang lebih tua darinya. Dari Arka juga Alina aku bisa belajar bahwa menjadi pribadi yang baik juga santun tidak harus dari keluarga yang utuh. Terbukti bahwa kedua anak remaja yang bahkan sudah sedari kecil hanya tinggal bersama seorang tantenya, yang usianya juga masih sangat muda pada saat itu. Bisa tumbuh menjadi anak yang begitu berprestasi, terlebih kepribadian dari keduanya yang sangat jauh dari kata buruk. Mungkin jika orang yang tidak mengetahui asal-usulnya pasti akan mengira jika mereka tumbuh dari keluarga yang utuh dan harmonis. Namun faktanya bahkan tidak ada peran orang tua sama sekali diantara mereka, hanya sang tantelah satu-satunya orang yang mungkin usianya lebih tua dari mereka, itupun tidak bisa mengurus sepenuhnya Alina berikut Arka, sebab menurut cerita dari Sena sang tante yang pada saat itu masih menduduki bangku kuliah harus bekerja demi bisa menghidupi keduanya. Sungguh arti keluarga yang sebenarnya ada pada diri mereka semua. Aku yang selama ini merasa hidup dengan bergelimang kasih sayang dari mama juga papa masih kurang bersyukur dengan seringnya mengeluh ini itu kepada mama juga papa. Ada saja yang aku ributkan dulu dengan mereka, terlebih masalah sepele yang dengan sengaja aku besar-besarkan, dengan tujuan yang tidak jelas.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus
13/08
0baguss
27/03
0kingkong
15/02
0Lihat Semua