logo text

21.Akibat Luka Itu

"Nisya! kenapa bisa sampai drop begini, sih."
Arsena, dia datang mengunjungiku berikut pasukannya ikut serta, Mas Biru juga keponakan tengilnya, Wira. Sakitku kemarin berujung aku yang berada di sini, di tempat yang paling kuhindari, apalagi dengan selang infus yang menempel di punggung tanganku.
Aku dilarikan ke rumah sakit oleh Mas Ryan, sehari setelah kepulanganku. Demam yang kurasakan tidak kunjung turun dan malah semakin parah sehingga membuatku harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.
"Aku manusia Sen, bukan robot yang hanya butuh diisi baterai jika tenaganya habis."
"Tetap ya Nis, dalam keadaan sakit pun perkataanmu masih saja ngeselin," ketusnya.
"Sakit apa, Nis?" tanya Mas Biru yang sedari tadi hanya melihat keributan yang tunangannya perbuat.
"Kecapean saja Mas," balasku menatapnya, "terimaksih sudah mau jenguk Nisya," sambungku.
"Bu Nisya, cepat sembuh ya, hampir satu minggu ibu absen tidak ke sekolah, aku kan jadi kangen sama Ibu."
"Terimakasih Wira, doakan saja biar segera pulang dari sini, ibu juga sebenarnya nggak mau seperti ini. Apa kamu mau gantiin ibu disini, Wira?" godaku padanya.
"Ish, Ibu mah sama saja ngedoain Wira biar sakit, terimaksih tapi Wira masih ingin sehat Ibu Nisya yang terhormat!"
Perdebatan kami terhenti ketika pintu kamar rawat inapku terbuka, terlihat Mas Ryan melangkah menghampiri kami dengan membawa kantong belanjaan yang ditentengnya dikedua tangannya.
"Maaf ya, kelamaan nunggunya tadi sekalian beli makanan buat Nisya, dia nggak mau makan sama makanan yang disediakan rumah sakit," ucap Mas Ryan sambil meletakkan barang bawaannya di meja depan sofa yang berada dikamar ini.
"Memang nyusahin banget kan, Mas, kalau dia sakit, aku sudah sering kali direpotkannya dulu. Beruntung sekarang sudah ada Mas Ryan, kalau tidak bisa kupastikan aku yang akan dia jadikan sasarannya, kalau nggak Yasa, siapa lagi yang mau repot-repot ngurusin dia kalau bukan kami."
"Yasa?" tanya Mas Ryan mengerutkan dahinya.
"Teman kami juga, Mas. Kalau nggak salah kantornya lumayan dekat sama tempat Mas Ryan kerja."
"Oh, yang Mas pernah ketemu kamu dijalan waktu itu?" tanya Mas Ryan menoleh ke arahku.
"Iya," jawabku singkat.
Setelah kepergian Sena berikut pasukannya, kami sama-sama diam dan tidak ada yang memulai pembicaraan. Aku yang sedang malas memilih untuk tidur, karena tidak tahu harus ngapain lagi. Berada di dalam satu ruangan dengan kondisi kami yang belum membaik rasanya tidak nyaman dan canggung.
"Jangan tidur dulu, makan ya, Mas suapi."
Aku tidak ingin menyahuti ucapanya dan melanjutkan rencanaku untuk tidur. Kurasakan jemarinya menyentuh wajahku dengan sangat lembut, setelahnya ciuman hangat kurasakan di kedua kelopak mataku.
"Kamu boleh marah sama Mas, tapi jangan siksa badanmu. Mas sudah menyesali perbuatan Mas yang telah melukaimu, bukan hanya fisik yang Mas buat sakit, tapi juga perasaan kamu."
Ada getaran yang kurasakan saat Mas Ryan mengakui kesalahannya, sepertinya Mas Ryan benar-benar merasa bersalah atas sakit yang menimpaku.
Aku tidak tahu apa yang dilakukannya setelah perdebatan kami yang berujung aku menyuruhnya pergi waktu itu, karena aku sudah tidak mendapatinya saat malam kami keluar untuk makan sekaligus merayakan kemenangan yang didapat salah satu muridku yang berhasil memperoleh juara runner-up. 
Kupikir Mas Ryan menuruti ucapanku untuk kembali bersama anak dan mantan istrinya yang sudah menunggu kedatangannya. Namun yang tak kusangka ketika paginya kami semua sudah dalam perjalanan pulang, Mas Ryan muncul kembali berikut dengan aksinya yang cukup membahayakan.
Kami semua dibuat senam jantung olehnya yang secara tiba-tiba menghadang bus yang kami tumpangi dengan mobilnya. Merasa tidak enak dengan semua orang, aku lantas meminta maaf dan memilih pamit untuk pulang bersama Mas Ryan.
Aku yang masih marah dengannya menutup mulutku rapat-rapat, begitupun dia yang tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Pun saat di rumah, aku lanjut mengurung diri di kamar karena badanku yang sangat letih juga demam yang kurasakan belum juga mereda.
Sampai pada kejadian di mana keesokan harinya Mas Ryan mendapatiku tengah tidak sadarkan diri di kamar, dan segera membawaku ke rumah sakit.
"Nisya ngantuk Mas, ingin tidur sebentar."
Bukan upayaku untuk menghindarinya, melainkan aku benar-benar mengantuk, mungkin ini efek dari obat yang belum lama diberikan perawat melalui suntikan di selang infusku.
Kudengar helaan napas dari Mas Ryan, "Ya sudah, tidurlah, Mas akan menemanimu."
Ucapan terakhirnya yang masih bisa kudengar, karena Setelahnya aku sudah tidak bisa mendengar apapun lagi dengan hilangnya kesadaranku perlahan.
************************************************
"Bunda sedang sakit, Al, maaf ya, ayah belum bisa berkunjung kesana menemui Al lagi."
Samar-samar suara itu masuk ke indera pendengaranku. "Tuh Al lihat sendiri, bunda masih terbaring dan harus dirawat di rumah sakit. Apa Al mau jenguk bunda kesini?"
Sepertinya mereka tengah melakukan vidio call, mendengar interaksi yang dilakukannya. Aku tidak sempat mendengar jawaban dari anak itu karena Mas Ryan telah mengakhiri panggilan dengan putra semata wayangnya, ketika menjumpaiku yang sudah membuka mata.
"Kamu sudah bangun?" seraya memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
Melihatku yang ingin beranjak Mas Ryan sigap menolongku, "Mau ngapain?" tanyanya.
"Ke kamar mandi."
"Mas, Nisya bisa sendiri!" sentakku ketika dia ingin memapahku.
Tidak mengindahkan ucapanku, Mas Ryan tetap melakukannya, dan ketika aku ingin masuk kutahan dirinya dan meminta untuk menunggu di luar saja. Demi apapun aku tidak akan pernah mau jika kegiatanku di kamar mandi dilihat olehnya.
"Mas, nggak pulang?"
"Dengan kondisimu seperti ini, apa Mas tega meninggalkan kamu sendirian disini?"
"Mas bisa lakuin itu kemarin! anggap saja seperti itu, bukanya tidak ada bedanya? Hanya tempatnya saja yang nggak sama."
"Maaf, untuk yang kemarin, mas sudah nggak jujur sama kamu mengenai keikutsertaan mas untuk mendampingi kegiatan Alshad. Mas sudah akan bilang sebenarnya makanya mas menyusulmu ke hotel tempat kamu menginap berkat bantuan Sena. Tetapi saat mas melihatmu sedang berduaan sama teman gurumu itu, Mas sudah emosi duluan dan melupakan tujuan utama mas, juga mas yang berujung menyakitimu."
Ada jeda dari perkataan Mas Ryan, kulihat dia tengah mengatur kembali napasnya.
"Mas memang pergi saat kamu menyuruh untuk kembali kepada mereka, tapi bukan untuk pulang bersama, melainkan pamit kepada Alshad jika mas tidak bisa ikut pulang bareng sama dia. Mas kembali setelah teman Mas datang mengantarkan mobil mas pesan, tapi begitu sampai sini sudah sangat larut dan Mas tidak berani menghampirimu yang mungkin sudah tertidur pulas. Paginya ketika mas terbangun kalian sudah tidak ada dan selanjutnya kamu tahu sendiri apa yang mas lakukan."
Penjelasan panjang Mas Ryan tak juga membuatku tersentuh, aku merasa orang yang paling tersakiti di sini, belum tuntas masalah yang dia diam-diam sering mengunjungi anaknya tanpa mengajakku. Sekarang ditambah masalah baru lagi, dengan dirinya yang ikut serta mendampingi anaknya di acara yang diadakan sekolahnya tanpa sepengetahuanku juga.
Untuk kesekian kalinya aku merasa tidak dihargai oleh suamiku sendiri.
Perbincangan kami terhenti saat pintu ruanganku dibuka dari luar, ada beberapa orang yang masuk. Jika dilihat dari baju yang mereka kenakan, sepertinya mereka merupakan teman kantornya Mas Ryan.
Mau tidak mau akupun ikut menyambut kedatangan mereka dengan bantuan Mas Ryan yang menaikan posisi brankar tempat tidurku sehinga aku bisa duduk bersandar. Aku menanggapi pertanyaan dari mereka yang menanyakan bagaimana kondisi dan sakit yang kuderita.
"Maaf, Pak, sebelumnya saya juga sekalian ingin memastikan untuk kedatangan Bapak pada acara serah terima jabatan lusa. Apa Bapak akan hadir? Mengingat acara ini akan dipimpin langsung oleh Pak Bupati, jadi sangat disayangkan jika Pak Ryan absen dari acara tersebut. Apalagi ini merupakan serah terima jabatan yang akan Bapak terima nantinya."
Ucap salah satu dari mereka yang kutahu bernama Bayu, dia yang lumayan sering kutemui saat aku berkunjung ke kantor Mas Ryan, karena pekerjaannya yang berhubungan langsung dengan suamiku.
"Lihat nanti saja Bay, kalau kondisi istri saya membaik dan sudah boleh pulang saya usahakan untuk datang. Namun sebaliknya jika keadaan istri saya masih seperti ini, saya tidak janji bisa datang. Mau sepenting apapun acaranya dan setinggi apapun jabatan yang akan saya terima, jika saya tega meninggalkan istri saya dalam keadaan sakit begini itu sama sekali tidak ada artinya bagi saya, Bayu."
Aku speechless, mendengar pernyataan Mas Ryan barusan. Perkataannya seolah-olah menyiratkan betapa pentingnya aku bagi Mas Ryan, apa benar kalau aku memang seberharga itu? Bahkan Mas Ryan sanggup mempertaruhkan jabatannya demi tetap menjagaku.
"Sayang, kenapa ada yang sakit? Mas panggil dokter, ya," tanyanya khawatir saat mendapatiku tengah menangis.
"Mas," panggilku.
Mas Ryan yang sudah akan membuka pintu membalikkan badan dan segera menghampiriku. Belum sempat dia berucap aku yang lebih dulu mendekap erat tubuhnya. Dengan derai air mata yang kini membasahi bagian depan baju yang dikenakannya.

Komentar Buku (78)

  • avatar
    TeriAdit

    bagus

    13/08

      0
  • avatar
    Tataaaaa

    baguss

    27/03

      0
  • avatar
    1902823728

    kingkong

    15/02

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru