bab 68

Mika menekan bel rumah Demian, berkali-kali. Tak ada yang membukakan pintu Mika memilih mengambil ponsel dan menelefon Laura.
“Laura, kau dimana?” tanya Mika
“Saya sedang di mal tante, memangnya ada apa?” jawab Laura di telefon.
“Tante akan menyusul. Kirimkan alamat malnya!” Kemudian Mika menutup panggilnya, dengan cepat ia kembali ke mobil.
Mobil meluncur ke mal, Laura turun dari lantai atas ke bawah. Berniat menunggu ibu mertuanya di bawah, supaya Mika tak perlu mencari Laura.
Mika masuk ke dalam mal, langsung toleh kanan kiri, menyapu sekitarnya. Laura melambaikan tangannya memberi tanda pada Mika.
Namun, Ia tak melihatnya, akhirnya Laura yang berjalan mendekat pada mika. Barulah Mika melihat Laura yang tertuju padanya.
Laura tersenyum, “Tante?” ujar Laura.
“Kita mengobrol sambil berjalan saja.” Mika dan Laura berjalan entah ke mana tujuan mereka.
“Kenapa tante mencariku?” Laura membuat topiknya.
“Tante ingin mengajakmu, untuk menemani berbelanja. Tadi tante datang ke rumahmu tapi tak ada orang di sana.” Mika menceritakannya.
Mereka sedang berada di eskalator, menuju ke lantai dua. Sampai, mereka berjalan lagi.
“Kalau kau kenapa di sini?” Mika bertanya.
“Kulkas kosong, Demian meminta saya untuk berbelanja.” Sahut Laura.
“Tante akan temani kau membelinya. Dimana tempatnya?”
Laura tersenyum, Lalu mereka berdua pergi ke tempat penjualan bahan-bahan pokok. Mika merasa senang melihat sayuran hijau dan warna buah-buahan yang berwarna-warni.
“Tante tidak pernah ke sini?” Tanya Laura melihat Mika lebih antusias memasukkan beberapa sayuran ke dalam keranjang yang ia bawa.
“Pembantu tante, yang selalu membeli bahan masakan seperti ini. tante hanya datang ke mal untuk membeli pakaian atau kebutuhan pribadi tante.”
Selain bahan masakan milik Laura dengan beberapa buah-buahan dan daging. Mika juga membeli beberapa buah segar seperti Laura, untuk dirinya.
“Biar tante yang membayar semua ini.” Mika berkata sambil tersenyum.
“Tidak tante, akan saya bayar sendiri saja.” Laura menolak, karena merasa tidak enak dengan ibu mertuanya.
Mika merebut keranjangnya, “Sudahlah, tidak apa. Biar tante yang membayarnya.”
Laura mengalah, Mika pergi ke tempat pembayaran di susul Laura di belakangnya. Ia memberikan keranjangnya pada karyawan yang melayani di sana.
Selesai dengan transaksinya, Laura mengambil bungkusan plastik bahan yang di belinya tadi.
“Mau ke mana lagi?” Tanya Mika, sambil memasukkan kartunya ke dompet.
“Saya sudah tidak ada perlu lagi di sini. Semuanya sudah di beli.” Plastik belanjaan diangkat sedikit oleh Laura.
“Baiklah, kita cari tempat duduk saja dan mengobrol.” Ajak Mika.
Mereka duduk di salah satu tempat penjualan makanan, dan minuman di sana. Kemudian Mika pesankan dua jus untuk dirinya dan menantunya.
“Kau tidak bekerja?” Pertanyaan dari Mika.
“Tidak, Saya sedang cuti.” Laura belum mau jujur pada Mika.
“Lalu kenapa tadi bosmu mengatakan kalau kau sudah tidak bekerja lagi di sana.” Sindir Mika.
“Tante datang ke restoran?” Kaget Laura.
“Iya, sebelum pergi ke rumahmu. Tante pergi ke tempat kerjamu dulu.”
Obrolan berhenti sejenak, tersela seorang pelayan wanita yang membawakan jus untuk mereka berdua.
Tak bisa membuat alasan lagi Laura berkata yang sebenarnya bahwa ia di pecat. “Saya di pecat tante, mungkin karena kerja saya tidak becus,” Laura tidak mengatakan alasan dibalik pemecatannya.
Mika sudah tahu semuanya, ia tak langsung menceritakan apa saja informasi yang ia dapat dari Rafa tadi. ia sebenarnya ingin mendengar ceritanya langsung dari Laura, namun tetap saja Laura jujur berkata jika dirinya di pecat namun bagaimana dengan alasannya?
Mika tak mau bertanya lebih dalam lagi, ia akan menunggu sampai dia mau menceritakan semua, atas kemauannya. “Oh, seperti itu. Lalu apa rencanamu selanjutnya. Kau sudah menemukan pekerjaan lain?”
“Mungkin aku akan mencoba mencari pekerjaan baru.” Laura menyahut.
“Kenapa tidak di rumah saja?”
“Demian juga memintaku untuk di rumah saja, tapi pasti sangat membosankan. Lucunya lagi dia bilang dia akan menafkahi saya.” Laura bercerita sambil tersenyum lebar.
Mika ikut tersenyum, “Memang tugas lelaki kan untuk menafkahi istri.”
“Benar, tapi aku lebih suka menggunakan uang hasil kerja keras sendiri. Rasanya lebih puas.” Laura memberikan pendapatnya.
“Ya sudah, sekarang temani tante untuk membeli pakaian.” Ajak Mika.
“Baik, tante.”
Mereka berdua pergi mencari tempat penjualan pakaian. dengan tangan kanan menenteng bawaannya, Laura melihat-lihat pakaian di belakang Mika.
“Jika ada pakaian yang kau suka ambil saja. akan tante belikan.” Mika memandang Laura.
“Tidak tante, Demian juga memberi kartu kreditnya. Akan saya manfaatkan masa menganggurku dengan uang Demian.”
Mika tertawa kecil lirih, “Kau benar, hamburkan saja uangnya.” Suruh Mika.
Ibu mertua dan menantunya sudah ada di depan mall, tepatnya di parkiran mal di samping mobil Mika terparkir.
“Ayo tante antar kau pulang!” seru Mika.
“Tidak tante, saya masih ada urusan sebentar.” Tolak Laura.
“Kalau begitu, tante pulang dulu.” Mika masuk ke dalam mobilnya, ia turunkan kaca jendela mobilnya. “Tante pamit.” Ujarnya dari dalam mobil.
“Hati-hati tante.” Laura menepi untuk lewat mobilnya.
Mobil Renita sudah meninggalkan parkiran, Laura lanjutkan pada tujuan sebenarnya. Ia ingin mencari lowongan pekerjaan.
Ia memberhentikan taksi, masuk ke dalam. “Pak tolong jalanya sedikit pelan.” Laura meminta pada sopir tersebut, supaya dia bisa melihat ke sisi kanan kiri jalan. Siapa tahu dia bisa menemukan tempat untuk dirinya melamar.
Ia tengok kanan-kirinya, “Berhenti pak!” seru Laura. “Bisa tunggu di sini sebentar?” Tanya Laura.
Sopir taksi tersebut mengangguk, “Saya akan tunggu.”
Laura turun dari taksi, ia pergi ke sebuah restoran untuk bertanya apa di sana dibutuhkan pekerjaan.
Ia menemui pemiliknya, “Pak apa di sini sedang membutuhkan seorang juru masak?” tanya Laura penuh harap.
“Maaf, apa Anda melihat kertas bertuliskan mencari seorang juru masak di depan?”
“Tidak.” Ujar Laura.
“Berarti kami tidak membutuhkannya.” Sahut pemilik dengan sopan.
Laura keluar dengan kekecewaan, ia masuk ke dalam taksinya lagi. ia menghentikan taksi di setiap tempat makan. Berharap ia bisa menemukan pekerjaan. Namun, hasilnya tetap nihil tak ada yang sedang membutuhkan karyawan baru.
“Pak antarkan saya pulang saja.” Laura meminta taksi tersebut untuk pulang dan mengatakan alamat rumahnya.
“Terima kasih pak!” Laura memberikan kartu Demian untuk membayarnya.
Selesai dengan pembayaran, Laura keluar dengan membawa belanjaannya. Buah-buahan milik Mika sudah di bawanya tadi, yang ia tenteng adalah belanjaan miliknya.
“Aku lelah sekali.” Laura membuka pintu.
Laura langsung pergi ke dapur, ia keluarkan dan letakan sayuran, buah dan daging itu ke dalam kulkas. Ia menatanya dengan rapih. Supaya teratur.
Ia masuk ke dalam kamar meletakan tas, dan keluar lagi setelah berganti pakaian dengan ponsel di genggamannya.
“Akan aku coba mencari lagi di internet.” Ucapnya.
Ia pergi ke ruang tengah, sambil berebah di sofa dan mulai mencari di internet.


Komentar Buku (97)

  • avatar
    SusantiSusi

    please lanjutkan dong ceritanya, gantung bgt pdhl baguss🥺

    24/07/2025

      0
  • avatar
    AraaaClaraaaraaa

    baguss banggtt kakk

    21/03/2025

      0
  • avatar
    atinShafiqah

    jalan cerita lancar,menarik membuat pembaca mau lebih membaca ,rangka cerita kekeluarga yang jenis,emosi character terselah dengan kemas

    28/07/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru