Bab 46

Setelah pertengkaran dengan adiknya kemarin, Sonya terus menutup dirinya di kamar. Kemarahan dan kebencian semakin besar pada Laura. ia termenung menatap ponsel, menunggu dering panggilan telefon dari Demian, berharap dia mengatakan permintaan maaf padanya.
“Kenapa dia tidak menelefonku sampai sekarang.” maki Sonya frustrasi.
Kesal menunggu Demian yang tak kunjung menelefon, ia akhirnya memilih untuk membuka media sosialnya, mengalihkan perhatian sejenak dari pikiran yang terus memikirkan Demian.
Mulai saat itu, ia kenal dengan Arga. Percakapan dalam chat tersebut berlanjut. Hingga menjadi pertemuan di antara mereka.
Pertemuan pertama Arga dan Sonya tidak hanya sebatas bertemu, Arga lanjut mengajak jalan Sonya dengan mobil mewahnya. Arga juga kaya, dia adalah seorang pebisnis.
“Kau sudah punya kekasih?” tanya Arga saat mereka di dalam mobil yang sedang melaju itu.
Sonya diam bimbang, ingin menjawab sudah tapi, hatinya sudah meleleh dengan ketampanan Arga.
“Jika belum, jadilah kekasihku.”
Baru beberapa jam mereka bertemu, Arga langsung berterus terang meminta Sonya menjadi kekasihnya.
Sonya terkejut menoleh ke Arga yang sedang menghadap ke depan fokus menyetir.
“Terlalu cepat bukan? Aku akan memberimu waktu.” Sambung Arga dengan ucapan santai.
Sonya tak bisa berkutik, nafasnya tersengal. Kalimat itu sama sekali tak terbayang akan terucap dari mulut Arga. Karena mereka belum terlalu mengenal satu sama lain.
Pertemuan berakhir, Arga mengantar Sonya pulang.
“Terima kasih untuk hari ini.” ucap Sonya dari luar kaca mobil.
Arga tersenyum. “Sampa jumpa. Aku memberimu waktu hingga besok.” Ia melajukan mobilnya pergi.
Wajah Sonya memerah, di tambah dengan senyum yang menghiasi wajahnya. Apa hatinya untuk Demian sudah terganti dengan sosok baru yang ia temui?
Sore hari, Laura sudah merasa lebih baik. setelah tidur lama dari tadi. Ia ambil handuk yang menempel pada dahinya.
Laura turun dari kasur, meski badanya masih lemas dan wajahnya masih sedikit pucat, keluar dari kamarnya, ia merasa sangat haus.
“Kenapa kau keluar kamar?” tanya Demian yang berada tepat di hadapan Laura yang baru selesai menutup pintu kamarnya dari luar.
“Aku haus, minggir.” Dengan tangan yang tidak bertenaga ia dorong Demian menyingkir.
“Akan aku ambilkan, masuk saja ke kamarmu.”
“Tidak, perlu. Aku sudah berbaring berjam-jam. Akan bertambah sakit jika aku tidak bergerak.” jawab Laura.
Laura terus berjalan, ke dapur mengambil air. Demian membuntut di belakangnya. Air ditunangkan ke gelas, kemudian meneguk hingga air dalam gelas itu hilang.
“Kau benar-benar haus?” tanya Demian, melihat Laura menghabiskan air dalam sekali minum.
Laura letakan gelas kosongnya di meja, berjalan perlahan ke ruang tengah atau ruang santai. Demian mengikut di belakang seperti seorang pengawal.
Laura duduk, Demian juga ikut duduk. “Apa yang kau rasakan sekarang?” tanya Demian.
“Aku masih merasa sedikit pusing, lemas dan mual.”
“Wajar saja, satu hari saja belum terlewat. Bagaimana bisa sudah sembuh, badanmu juga sangat panas tadi.” sambung Demian.
“Terima kasih, sudah mengompresku tadi.”
Demian mengangguk. “Aku ingin bertanya tentang mobil yang ada di depan, Kau tahu punya siapa?”
“Aku lupa memberitahumu kemarin, mobilmu rusak, jadi ibumu mengirimkan mobil baru untukmu. Sopir ibumu yang datang mengantar. Dan kuncinya, aku lupa di taruh dimana.” Jelas Laura.
“Kuncinya tergeletak di meja tamu, aku sudah mengambilnya. Dan juga, aku bisa membeli mobil sendiri, kenapa ibu repot-repot membelikannya.” Ujar Demian.
“Kau seharusnya berterima kasih pada ibumu.” Ucap Laura menatap perban Demian. “Perbanmu belum kau ganti?” tanya Laura.
Demian tidak menjawab. “Ambil kotak P3Knya akan aku ganti,”
Demian hanya diam saja tidak bergerak pura-pura tidak mendengar, “Kau juga seorang pasien di sini.”
Tak tahan mendengar ocehan Laura, Demian ambil dan membawa kotak P3K. Laura mengganti perbannya. Luka Demian sudah membaik. Mungkin dua atau tiga hari ia tak perlu memakai perban lagi untuk menutupi lukanya.
“Kau pasti memikirkan kejadian kemarin, hingga kau sakit seperti ini.” terka Demian saat Laura merekatkan plester untuk menempelkan perbannya ke luka.
“Sepertinya begitu,” Laura menjawab jujur. “Sudah selesai, kau bisa ambil obatmu di laci kamarku.” Laura lanjut berkata.
“Aku minta maaf atas nama Sonya.” jawab Demian.
Laura tersenyum paksa menjawab. “Aku berangkat bekerja besok hari Kamis, Aku tidak bisa ada sewaktu-waktu jika kau membutuhkanku. jadi ganti perbanmu sendiri mulai besok.”
Laura beranjak pergi kembali ke kamar sekalian membawa kotak P3Knya, dan menaruhnya di tempat semula.
Teringat dengan Sonya, Demian dari kemarin belum menelefon Sonya. Demian yang ditinggal sendiri di ruang tengah itu, ikut beranjak dari duduknya, melangkah ke kamarnya untuk menelefon Sonya.
Sonya yang sedang duduk menghadap di depan cermin sedang memakai masker wajah, meraih ponsel yang ada di depannya dan langsung mengangkat telefon.
“Kau ingin meminta maaf?” tanya Sonya dengan ketusnya.
“Iya, aku minta maaf. Karena membentakmu kemarin.” Ucap Demian
“Kau pikir aku akan memaafkanmu?” balas Sonya dengan ketus lagi
“Bagaimana, sebagai ganti permintaan maafku kita pergi makan malam ke restoran mewah yang waktu itu pernah kita kunjungi. Jika kau mau aku akan menjemputmu.”
“Bukanya mobilmu rusak waktu kecelakaan? Bagaimana kau bisa menjemputku?” balas Laura yang sedang mengipas-ngipas maskernya. Sonya berpindah tempat duduk di kasur.
“Tenang saja, tunggu saja aku menjemputmu. Tapi, kau mau atau tidak?”
Bagaimana Sonya menolak ajakan Demian yang sangat menggiurkan itu, datang ke restoran mewah bersama kekasihnya seperti dulu. Sonya juga tidak bisa berlama-lama marah pada Demian. ini bisa jadi jalan untuk mereka berbaikan.
“Aku, mau. Jemput aku pukul delapan malam nanti.”
Sonya merasa sangat senang, kebetulan dirinya memakai masker wajah hari ini, ia jadi bisa tampil lebih cantik malam ini.
“Kau mau pergi ke mana?” tanya Laura yang sedang membawa segelas air dari dapur.
Laura bertanya setelah melihat Demian berpakaian rapi dan wangi seperti hendak pergi kencan.
“Aku akan makan malam dengan Sonya.” Jawab Demian dengan tersenyum. “Sebagai permintaan maafku karena sudah membentaknya kemarin.” Sambungnya.
Laura mengangguk, “Kepalamu sudah tidak terasa sakit kan?” Laura bertanya, ia masih mengkhawatirkan kondisi Demian, yang pergi dengan kepala yang masih terluka.
“Jangan pedulikan aku, kau juga istirahat saja di kamar.” Pinta Demian. ia pergi begitu juga Laura, ia kembali berjalan menuju ruang tengah untuk menonton televisi, ia merasa sangat bosan terus di kamar.
Laura duduk memandang siaran di televisi, bukan fokus menonton ia malah melamun, teringat dengan perkataan Sonya waktu perkelahian itu, bahwa dirinya tidak bisa memiliki hati Demian.
Melihat Demian yang begitu peduli padan Sonya, hingga dalam kondisinya yang masih sakit, ia ajak Sonya makan malam, supaya Sonya tidak marah lagi padanya. Itu membuat hati Laura seperti teriris.
 

Komentar Buku (97)

  • avatar
    SusantiSusi

    please lanjutkan dong ceritanya, gantung bgt pdhl baguss🥺

    24/07/2025

      0
  • avatar
    AraaaClaraaaraaa

    baguss banggtt kakk

    21/03/2025

      0
  • avatar
    atinShafiqah

    jalan cerita lancar,menarik membuat pembaca mau lebih membaca ,rangka cerita kekeluarga yang jenis,emosi character terselah dengan kemas

    28/07/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru