Vienna Intl. Airport - Flughafen Wien "Selamat datang, Tuan." Pria dengan setelan Armani abu-abu gelap menghampiri Raphael dan membungkukkan badan. "Hmm, bagaimana kabar perusahaan, Donovan?" Tanya Raphael seraya membuka ponselnya. "Baik dan aman terkendali. Anda tak perlu khawatir." Raphael sekilas melihat ke arah Dnovan dan berkata, "Kenapa bukan kau saja yang menjadi wakilku." Donovan hanya diam dan terheran mendengar sang CEO mengatakan hal demikian, namun ia tak memiliki hak untuk menjawab sesuatu yang bukan ranahnya. "Lalu, bagaimana dengan WAKILKU?"tanya Raphael menekan intonasi bicaranya. "Beliau sedang ada perjalanan ke luar kota, Tuan." "Luar kota? Ke mana?" "Salzburg, Tuan. Nona Bien sedang menjamu calon klien kita dan kebetulan sang klien sedang berada di Salzburg," terang Donovan. "Hmm, begitu. Baiklah, tak masalah. Lalu, IRC?" "Saya sudah menghubungi sekretaris pribadi Nona …," Donovan berhenti sejenak dan melihat Raphael. ''Kenapa berhenti? Teruskan. Aku juga tak peduli apa status yang disandangnya kini." "Nyonya Rachel. Sekretarisbeliau sudah mengetahui akan kedatangan Anda," jelas Donovan. "Oke. Kita ke kantor!" perintah Raphael. **** Kediaman Raphael "Tuan Muda, Anda harus makan. Jika tidak, nanti Anda akan sakit. Tuan Muda … Tuan Muda." Rebecca yang beberapa kali mengetuk pintu kamar Reyen tak jua mendapat jawaban dari sang pemilik kamar. ‘Bagaimana ini? Jika terus begini, maka Tuan Reyen akan …." "A-apa Anda ingin sesuatu yang lainnya, Tuan?" tanya Rebecca tak putus asa. Sekali lagi, tak ada jawaban. Dddrrtt … dddrrtt ‘Tuan besar.’Gumam Rebecca melihat ponselnya mengernyitkan dahinya. "Halo, iya, Tuan. Apa Anda sudah sampai?" [Hnn, sudah. Bagaimana Reyen?] "Shock, Tuan. Tuan muda, dia terus menangis memanggil nama Anda dan tak mau keluar kamar." Raphael terdiam. "Bukankah sekarang waktunya dia sekolah?" tanyanya lagi. [Benar, Tuan. Tapi, Tuan Reyen sama sekali mengacuhkan dan mengunci dirinua di kamar. Apa yang harus saya lakukan, Tuan?] "Hah, anak ini … mirip sekali dengan ibunya …," Deg! Raphael terdiam sesaat, 'kenapa aku tiba-tiba menyebut wanita itu.' "Aa apa, Tuan? Apa Anda sedang tak enak badan?" tanya Donovan terlihat khawatir. "Tidak. Tak apa-apa." Ucapnya kembali bicara dengan Rebecca. "Kirim seseorang ke sekolahnya dan izinkan Reyen dengan wali kelasnya!" Perintah Raphael langsung menutup ponselnya. "Apa Tuan Reyen baik-baik saja, Tuan? Sepertinya Anda terlihat gelisah dan cemas." Donovan, salah satu orang kepercayaannya Raphael selain Rebecca dan Michelle. Hampir seluruh masa kelam Raphael telah diketahui tiga serangkai itu, bahkan jauh sebelum Raphael menjadi seorang CEO. "Panggil saja namaku, Dove. Kita sedang tak di kantor." Ucap Raphael melirik sahabat sekaligus asistennya. "Hmm, bagaimana kabar Reyen? Apa dia baik-baik saja?" tanya Dove, panggilan Raphael untuk Donovan. "Buruk!" Sahut Raphael menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil mewahnya dan memijat keningnya. "Buruk? Apa maksudmu buruk?" "Aku adalah ayah yang tak bertanggung jawab! Tak dulu juga tak sekarang, aku selalu melakukan kesalahan yang sama," keluh Raphael. Donovan hanya melihat sahabatnya datar dan heran. "Coba perjelas!" seru Donovan. "Kurasa kepindahan kami ke Indonesia memang belum tepat dan terburu-buru. Aku menyekolahkan Reyen di tempat yang recommended, tapi nyatanya …," Raphael melihat Donovan, "dia sering membuat ulah. Parahnya dia hampir membuat salah satu teman kelasnya pingsan. Untung saja nyawanya masih tertolong." "A-apa? Reyen? Tak mungkin, Ralph. Aku tahu betul watak dan sikap Reyen, tak mungkin dia begitu!" ngotot Donovan. "Aku ayahnya, Dove. Aku yang melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana dia hampir menghajar anak itu. Tapi …," "Tapi? Tapi apa?" tanya Donovan penasaran. Raphael tersenyum. Jarang sekali seorang Raphael tersenyum di depan orang asing, jika itu bukan orang atau sahabat dekat. "Kenapa kau tersenyum? Katakan padaku, apa kau mulai menyukai wanita Asia, huh?" Senggol Donovan. "Tidak! Mana mungkin aku menyukai wanita Asia. Kau tahu bagaimana seleraku, bukan?" Senyum nakal ala badboy mulai dikeluarkan Raphael. "Hah, aku hanya ingin yang terbaik untukmu, Ralph juga Reyen. Kasihan dia, semenjak peristiwa itu, kan." Donovan melihat Raphael sendu. "Haha, sudahlah, Dove. Jangan kau bahas masa lalu. Apa kau tak lihat bagaimana aku sekarang, huh? Tiap orang pasti punya masa lalu, tapi apa kita harus selalu melihat ke belakang dan membuang masa depan?" Donovan sedikit terkejut seakan tak percaya sahabat yang dulu dikenal sebagai 'dirty naughty prince of Vienna' mulai berubah. Dengan mengulas senyum tipis Donovan berkata, "Aku bangga padamu, Ralph." **** Sementara itu, di tempat dan benua lain, seorang pria sekitar umur 40-an, berpakaian safari dan berkacamata hitam serta sepatu mengkilap tengah berjalan menyusuri lantai sekolah Reyen. Dilihatnya kelas per kelas dan tak sengaja pria itu melihat Aleya yang sedang menunggu sang adik, Kija. "Permisi, Mbak. Selamat pagi." Sapa pria itu dengan senyum. "Pagi, Pak. Iya, Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Aleya ramah. "Saya mau tanya, kalau kelas dua itu ruangannya sebelah mana, ya?" "Dua apa ya, Pak? Di sini banyak kelas dua. Ada dua A, B, C, D," jelas Aleya. "Waduh, saya kurang tau, Mbak. Tapi yang jelas kelasnya tuan muda." "Tuan muda? Tuan muda siapa ya, Pak?" Tanya Aleya bingung dan mengernyitkan keningnya. "Eh, ma-maksud saya Tuan Reyen Jordan," sahut pria berumur itu. 'Reyen Jordan? Apa mungkin …,' Aleya bergumam sambil melihat ke arah pria itu. "Mbak … Mbak," panggil pria itu. "Eh, m-maaf, Pak. Ini kelasnya." Aleya menunjuk sebuah ruangan tepat di belakang pria itu. "Terima kasih, Mbak." Balas pria itu tersenyum. 'Reyen Jordan? Benar juga, aku tak melihat anak bule itu sejak tadi. Apa dia sakit atau …," Aleya langsung memasang wajah sedihnya kala ingat kata-kata yang telah ia ucapkan pada anak kecil tak berdosa itu. Sekitar 5 menit kemudian, pria itu keluar dari ruangan kelas Reyen dan Kija. Pria itu menengok ke arah Aleya sambil tersenyum dan pamit padanya. "Pak," Panggil Aleya memberanikan diri menghampiri sang pria tersebut. "Iya, Mbak. Ada apa?" "Mmm, anu … ke-kenapa anak bule eh, maksud saya Tuan Reyen tak sekolah hari ini?" tanya Aleya sedikit sungkan. "Sedang tak enak badan, Mbak." Sahut pria itu mengulas senyumnya lagi. "Oh, begitu. Kalau begitu saya doakan semoga dia cepat sembuh ya, Pak." Balas Aleya dengan senyuman. "Terima kasih, Mbak. Nanti akan saya sampaikan. Dengan Mbak siapa kalau boleh tahu?" "Aleya. Nama saya Aleya, adik saya, Kija, temannya." "Baik, Mbak. Kalau begitu saya permisi dulu." Pria itu menundukkan sedikit kepalanya tanda sopan dan menghormati lawan bicara, begitu pula dengan Aleya. 'Aku sangat merasa bersalah pada anak itu. Ingin rasanya aku minta maaf, tapi bagaimana caranya?' **** Kantor Pusat Josc, Vienna, Austria Mobil Lexus hitam kekar berhenti tepat di depan pintu masuk utama perusahaan JoSC. Kantor yang selalu sibuk dan terletak tepat di jantung Kota Mozart itu memang beda dari yang lain. Jika umumnya gedung menjulang tinggi, tapi tidak dengan JoSC. Bangunan JoSC terkenal akan keunikannya, mengambil tema 'Green and Life', sang CEO lebih mengutamakan kesederhanaan dan kehangatan di dalamnya. Bangunan yang menyerupai kubus tersebut terdapat ruang yang disebut 'Natural Forest' karena di dalamnya memang terdapat banyak pepohonan yang dilapisi oleh kaca tebal sehingga kita bisa berjalan di atasnya, layaknya manusia yang berjalan di awan. Karena bangunannya yang unik itulah, JoSC dengan cepat menjadi perusahaan ecogreen paling terkenal di negara Mozart itu. "Rasanya seperti meninggalkan rumah lama sekali, padahal baru kemarin aku menginjakkan kaki di sini." Ucap Raphael merapikan setelan kemeja Burberry-nya yang berwarna biru gelap. Donovan hanya tersenyum mendengar ocehan sang sahabat dan berkata, "Para karyawan Anda telah 'merindukan' Anda, Tuan Ralph. Apa Anda tak rindu mereka?" "Hah, baiklah. Let the show begin." Ucap Raphael masuk ke dalam lobby utama gedung itu dan tak pelak, seluruh mata langsung mengarah pada CEO hot daddy, terutama kaum hawa. Mereka yang jarang bertemu dengan sang CEO langsung terkejut dengan kehadiran Raphael yang tiba-tiba. "Selamat siang, semuanya." Sapa Raphael di pintu lift. "S-selamat siang, Tuan Ralph," sapa para pegawai JoSC. "Bagaimana kabar kalian? Apa aku mengejutkan kalian?" Senyumnya. Bukan senang, mereka justru bertanya-tanya dan saling pandang mengenai kehadiran Raphael. "Aku tahu pasti kalian akan terkejut dan saling pandang, tapi tenang saja. Anggap aku tidak ada dan selesaikan tugas serta pekerjaan kalian karena aku akan MENGAWASI kalian!" Senyum seringai Raphael dan keduanya segera masuk ke dalam lift. Donovan hanya menggelengkan kepalanya, "Kau menakuti mereka, Tuan." "Somebody has to," sahutnya. "Hubungkan aku dengan wakil direktur. Aku ingin dia melaporkan padaku tiap detailnya juga laporan perkembangan kerjasama kita dengan beberapa perusahaan rekanan!" perintah Raphael. Ting …. Lift berhenti di angka 18 gedung JoSC, tepat di ruangan milik Raphael. Dengan langkah tegap, kedua pria tampan nan menawan itu memasuki ruang besar dan luas dengan kaca tipis namun kuat serta sinar matahari yang bisa langsung tembus masuk ke dalam. "Hah, I miss my second home." Senyum Raphael langsung duduk menyandarkan tubuhnya dan memejamkan matanya. Donovan hanya tersenyum melihat tingkah laku Raphael. Tak lama, ponsel miliknya berdering dan keningnya tampak mengernyit. Donovan yang melihat nama sang penelepon itu langsung mengambil jarak dari Raphael yang sepertinya mengalami jetlag. "Ya, halo. Oh, A-Anda. Ba-baik, tunggu sebentar, Nyonya." Donovan menghampiri Raphael yang sedang memejamkan matanya. "Tuan … Tuan," panggil pelan Donovan. "Ada apa?" Sahut Raphael masih terpejam." "Seseorang ingin bicara denganmu." "Bicaralah sendiri dan kau akan tahu." Donovan memberikan ponselnya. "Apa kabar, mantan?" Raphael terkejut ketika mendengar suara di ponsel itu. Matanya langsung membuka sempurna dan berkata, "Aku sudah tiba."
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Bagus novelnya🥰
04/06/2025
0bgus
27/05/2025
0Bagus banget kak
14/05/2025
0Lihat Semua