logo text

Bab 12 Kecewa

Humaira terpaku di depan pintu kamar saat melihat sosok Revan. Wanita itu tak menyangka jika suaminya tiba-tiba datang tanpa memberi kabar. Dia pikir lelaki itu akan pulang bulan depan.
Ternyata setelah selesai meeting, Revan memilih untuk pulang. Apalagi setelah Rahma menelepon dan menanyakan kabarnya.
"Maira," sapa Revan mesra. Lelaki itu Langsung memeluk istrinya untuk melepas kerinduan.
"Apa kabar, Mas?"
"Sehat. Kamu gimana kuliahnya?"
"Lancar, Mas."
Revan mendorong kursi roda istrinya dan menggendong Humaira ke ranjang. Keduanya tampak kaku dan sungkan. Wanita itu begitu takjub melihat perlakuan suaminya. Entah mimpi apa dia semalam.
"Bentar, Mas ganti baju dulu." Dengan santai, Revan berganti pakaian di depan istrinya. Lelaki itu bahkan bersiul dan bernyanyi untuk mencairkan suasana.
"Mas rencananya Senin subuh baru pulang. Terus langsung ke kantor," ucap Revan membuka pembicaraan. Dia membawa mobil dan menempuh perjalanan sejauh seratus kilo demi memenuhi permintaan Rahma.
"Apa nanti gak capek?' tanya Humaira.
"Ya capek. Tapi gak apa-apa, kan mau ketemu istri."
Sebenarnya Revan tak benar-benar merindukan Humaira. Hanya saja permintaan mamanya untuk segera menimang cucu, membuat lelaki itu akhirnya mengalah. Selama tiga hari ini dia harus berusaha maksimal agar istrinya segera hamil.
Humaira merona lalu menunduk. Untuk sesaat mereka saling terdiam karena tak tahu harus berkata apa. Dua bulan menikah tak membuat keduanya mesra, tetapi malah semakin berjarak.
"Mas kangen kamu," lirih Revan.
Humaira tersentak, lalu menunduk. Sejak pertengkaran mereka bulan lalu, keduanya bahkan tak berkomunikasi sama sekali. Seperti dua individu asing tetapi terikat pada pernikahan.
"Makan dulu sana."
"Pengen makan kamu aja," goda Revan.
Humaira tak pernah berpacaran sebelumnya langsung merona mendengar itu. Sejenak dia lupa akan pemgkhianatan Revan. Wanita itu memaafkan suaminya ketika merasakan sentuhan pertama.
***
Drrrt!
Getaran ponsel yang berbunyi mengganggu tidur lelap Humaira. Wanita itu menyalakan lampu kamar dan melirik ke arah dinding. Pukul lima pagi dan tubuhnya begitu pegal.
Revan mencumbu istrinya tanpa ampun, sehingga membuat Humaira kelelahan. Wanita itu perlahan berdiri sembari menatap suaminya. Dengan pelan dia melangkah agar tak ketahuan.
Mendengar dengkur Revan yang cukup keras, Humaira merasa aman. Dia segera mandi dan berganti pakaian, lalu berjalan menuju meja. Ponsel kembali bergetar. Wanita itu meraihnya dan mengernyitkan dahi saat melihat nama yang tertera di layar.
"Siapa Dokter Aslan ini?"
Humaira bertanya-tanya dalam hati.  Dia menjadi khawatir jika Revan menderita suatu penyakit. Selama ini suaminya memang jarang menceritakan tentang kesehatan. Lagipula lelaki itu tampak baik-baik saja.
Di tengah kebimbangan, Humaira menarik napas sebelum menjawabnya. Beberapa saat dia menunggu hingga terdengar suara seorang wanita berbisik.
"Halo Mas."
Humaira tersentak saat mendengar siapa yang berbicara. Lalu, tersadar siapa penelepon di balik nama Dokter Aslan itu.
"Halo, Mas. Kok diam?" Suara di seberang sana bertanya.
Dada Humaira tiba-tiba bergemuruh.
"Mas aku kangen."
Tangan kiri Humaira terkepal karena menahan emosi. Ternyata selama ini Revan menyamarkan selingkuhannya menggunakan nama orang lain.
"Kapan kita ketemu lagi?"
Humaira hanya terdiam dan mendengarkan Rasti berbicara. Wanita itu tak mau menyela, tangannya bergetar saat memegang ponsel, dengan air mata yang perlahan luruh membasahi pipi.
"Mas masih ngantuk, ya? Kok gak ada suaranya?"
Bip!
Humaira memutuskan panggilan dan luruh ke lantai. Dia menutup mulut untuk menahan tangis. Wanita itu tak menyangka jika Revan masih berhubungan dengan Rasti hingga sekarang.
"Ya Allah, apa dosaku hingga kau titipkan cobaan seperti ini?"
Humaira segera menghapus air mata sekalipun merasakan sesak di dada. Wanita itu melirik ke arah ranjang dan melihat Revan masih terlelap. Dia hendak menghapus bukti panggilan tadi, tetapi ponsel itu terkunci.
Humaira meletakkan ponsel suaminya di meja dengan posisi semula. Wanita itu memilih untuk mengambil wudu dan menunaikan dua rakaat untuk menenangkan diri. Dia memanjatkan doa-doa meminta kepada yang maha kuasa agar diberikan kekutaan menghadapi cobaan ini.
"Mas video call, yuk?"
"Mas aku beli lingerie baru. Mau lihat gak?"
Bisikan itu terus ternginag-ngiang di benak Humaira. Sepertinya Rasti tak tahu jika Revan pulang ke rumah orang tuanya. Gadis itu nekat menelepon duluan karena seharian kekasihnya tak memberi kabar.
"Ternyata selama ini, Mas Revan tetap berhubungan dengan Rasti. Apa yang dia janjikan ternyata palsu. Dasar pembohong!"
Berbagai macam dugaan berkelebat di benak Humaira. Yang pasti dia benar-benar kecewa. Wanita itu merasa jijik kepada diri sendiri karena tadi menyambut hangat sentuhan sang suami.
"Maira ."
Humaira sedang melamun saat mendengar namanya dipanggil. Wanita itu menoleh dan meilhat mata suaminya masih terpejam.
Bergegas, Humaira meraih kursi roda dan memutar posisi mengarah ke kiblat. Untungnya tadi Revan hanya mengigau, sehingga tak melihat istrinya berdiri.
"Maira."
Suara Revan kembali terdengar. Kali ini mata lelaki itu perlahan terbuka. Lelaki itu terkejut saat melihat sang istri masih mengenakan mukena di kursi roda.
"Subuh?"
"Iya, Mas," jawab Humaira gugup.
"Jam berapa ini?" tanya Revan sembari meregangkan tubuh. Lelaki itu masih merasa lelah setelah perjalanan yang jauh.
"Setengah enam," jawab Humaira enggan.
"Kok kamu gak bangunin? Kan kita bisa salat bareng," protes Revan.
Humaira tersenyum pahit, mencoba mengendalikan hati. Rasanya dia ingin mengamuk dan mengungkapkan kekecewaan. Namun, wanita itu mencoba menenangkan diri.
"Mas kayaknya capek banget. Jadi aku duluan aja," lirih Humaira hingga suaranya nyaris tak terdengar.
Revan bergegas bangun dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia mandi dan melakukan salat subuh dua rakaat dengan khusyuk.
Entah apa yang Revan mohon saat berdoa tadi. Yang pasti Humaira sudah tak peduli. Rasa yang perlahan dia pupuk sejak kebersamaan mereka tadi, kini perlahan memudar.
Humaira memutar kursi roda dan meraih ranjang lalu berbaring. Biasanya dia akan membantu Rahma di dapur, entah itu mengiris bawang atau memotong sayur.
"Capek, ya?"
Revan mendekati sang istri dan memeluknya dengan mesra. Mendapat perlakuan itu, Humaira merasa risih. Dia melepaskan rengkuhan itu dan bergeser menjauh.
"Kenapa, Sayang?"
Revan menempelkan wajahnya di punggung Humaira. Entah mengapa kali ini dia merasakan ketenangan hati. Untuk sejenak lelaki itu melupakan berbagai macam masalah yang sedang dialaminya.
"Jangan nempel lagi, Mas," tolak Humaira halus.
"Kalau mas masih kangen," bisik Revan.
Dada Humaira bergemuruh menahan emosi. Rasanya dia ingin berucap bahwa Revan tak perlu berpura-pura lagi.
"Aku capek, Mas," lanjut Humaira. Wanita itu menggigir bibir saat mengucapkannya. Dia melihat dinding dengan tatapan kosong.
Istri mana yang tak merindukan suaminya, begitupun ia. Rasanya Humaira masih ingin bermanja sebelum Revan pulang. Namun, dia harus menerima kenyataan bahwa suaminya tak pernah mencintainya.
"Yaudah kalau gitu mas mau ke dapur dulu. Lapar."
Revan meninggalkan kamar sembari bersiul. Begitu pintu tertutup, air mata Humaira tumpah ruah. Wanita itu terisak sembari menutup wajahnya dengan bantal. Hingga akhirnya kembali terlelap dengan mata bengkak.

Komentar Buku (55)

  • avatar
    Sri Sunarti

    bagus banget

    22/06

      0
  • avatar
    2Anesabela

    bagus sekaliiii kerenn

    20/06/2025

      0
  • avatar
    HanasOkahan

    baguss

    14/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru