"Varo?" Adinda terkejut saat melihat sosok Alvaro berdiri di depan pintu rumahnya pukul sepuluh malam. Ia baru saja ingin memejamkan mata saat terdengar pintu rumahnya diketuk pelan. Adinda pikir ia sedang bermimpi, tetapi ternyata malah laki-laki ini yang sedang berdiri di sana. "Kamu udah mau tidur?" Alvaro memindai penampilan Adinda yang sudah mengenakan setelah piyama bergambar bunga. "Iya, kamu ada perlu apa?" Adinda mengamati wajah Alvaro yang entah mengapa tampak keruh. Seperti tengah menahan beban yang begitu berat. "Mau ngabisin malam ini sama aku?" Pertanyaan ambigu yang membuat Adinda bingung dan juga waswas. Melihat jika Adinda mungkin saja salah paham dengan kalimatnya, Alvaro tertawa lirih. Diraihnya tangan wanita itu dan meremasnya lembut. "Jangan mikir yang aneh-aneh, aku cuman mau ngajak kamu muter." Alvaro mengamati wajah Adinda yang tampak kebingungan. "Anggap aja, ini kado ulang tahun buat aku." Adinda mencoba mengingat ulang tahun Alvaro yang akan tiba dua hari lagi. Dan nyaris saja hal itu ia lupakan. "Mau, ya." Adinda ingin menolak karena memang sesungguhnya ia sudah sangat lelah, tetapi karena tidak tega dengan wajah Alvaro yang meminta dengan sangat maka ia pun terpaksa mengangguk. * Sesekali Adinda menoleh ke arah Alvaro yang terus fokus pada kemudinya. Entah mengapa laki-laki itu tampak lain. Ada sesuatu yang seperti tengah membuat laki-laki itu tertekan dan juga sedih. Ingin menanyakan apa yang terjadi, tetapi bibir Adinda terasa kelu. "Mau makan jagung bakar?" Adinda hanya mengangguk saat mendengar tawaran itu. Dan saat Alvaro menyuruhnya untuk tetap duduk diam di mobil, maka ia hanya diam. Memperhatikan Alvaro yang turun setelah memarkirkan mobil, lalu berlari kecil ke arah penjual jagung bakar. Tidak lama laki-laki itu kembali dengan dua jagung bakar dam membuka pintu penumpang. "Di situ saja, kamu duduk aja di situ," ujar laki-laki itu menahan gerakan Adinda yang sudah berniat turun. Adinda yang bingung masih tetap diam, hanya bisa memperhatikan tingkah aneh yang Alvaro tunjukkan. Keduanya menikmati jagung bakar dalam hening. Sesekali Adinda melirik ke arah Alvar yang terus saja memperhatikan wajahnya. "Ada yang salah?" tanya wanita itu pada akhirnya karena merasa tidak tahan. Alvaro malah menggeleng, lalu mengusap bibir Adinda yang kotor, diraihnya air mineral yang selalu ia siapkan di samping pintu. "Minum," katanya seraya menyodorkan air bening yang sudah dibuka penutupnya itu. Agak ragu, tetapi Adinda menerima botol minum itu dan meneguknya sedikit, lalu kembali memperhatikan wajah Alvaro yang masih menyiratkan banyak tekanan. "Kamu baik-baik aja?" tanya wanita itu sedikit khawatir. Alvaro segera menjawab dengan gelengan. "Kamu udah ngantuk?" Adinda menggeleng karena memang rasa kantuknya hilang,. Namun, tubuhnya lelah meminta untuk diistirahatkan. "Tapi aku capek," jujurnya. Alvaro melongok arlojinya yang sudah menunjuk setengah dua belas malam. "Satu kali putaran lagi, ya," pintanya. Dan lagi-lagi Adinda tidak bisa menolak. * "Sebenarnya ada apa, Va?" Pertanyaan itu akhirnya meluncur. Adinda sangat yakin ada sesuatu yang terjadi. Dan tingkah Alvaro kali ini sangat janggal. Seperti ada sesuatu yang sedang laki-laki itu sembunyikan. Alvaro yang mendengar pertanyaan itu pun akhirnya sadar jika sudah tiba waktu untuk mengakhiri semuanya. Sejak tadi ia terus memperhatikan sosok Adinda yang nyatanya memang tidak lagi terlihat nyaman berada di sisinya. Hal yang membuat Alvaro yakin jika hati wanita itu tidak laki menjadi miliknya. Laki-laki itu memutuskan untuk membelokkan mobil di sebuah restoran fast food yang buka 24 jam. Memesan dua porsi ayam karena tidak mungkin hanya numpang duduk. "Tadi siang ada yang nemuin aku," ujar laki-laki itu setelah hening menguasai beberapa waktu. Hanya terdengar musik dan suara pengunjung lain. "Kamu bisa tebak siapa?" Alvaro menanyakan hal itu seraya menatap wajah Adinda. Dan wanita itu menjawab dengan gelengan kepala. "Mantan mertua kamu." Adinda tampak melebarkan mata, tetapi tidak mengatakan apa pun. "Kamu tahu apa yang dia minta sama aku?" tanya Alvaro lagi dengan senyuman sedih. Dan kali ini Adinda tidak berani menatap wajah itu. "Dia minta kebahagiaan kamu." Alvaro melempar pandang ke arah lain saat Adinda menatap matanya. Ada senyum getir yang tampak di wajah tampan itu, dan Adinda bisa membacanya dengan jelas. "Sekarang aku mau kamu untuk jujur." Giliran Adinda yang menundukkan wajah saat Alvaro menatap ke arahnya. "Apa rasa itu masih ada untuk aku?" Akhirnya pertanyaan itu berhasil Alvaro keluarkan. Tentu saja bukan hal yang mudah, karena jawaban dari pertanyaan yang ia ucapkan akan menentukan segalanya. Meski sebenarnya Alvaro sudah bisa menebak apa yang akan ia terima sebagai jawaban, tetapi akan lebih mudah untuk ia mengambil keputusan jika mendengar langsung dari bibr Adinda. "Tolong kamu jujur, jangan lagi berkorban untuk kebahagiaan siapa pun. Satu kali saja, pikirkan apa yang kamu inginkan." Wajah Adinda masih menunduk, wanita itu terlihat tengah berperang dengan batinnya sendiri. "Din …." Alvaro menyentuh telapak tangan Adinda, wanita itu pun mendongak. Ada resah yang kini menguasai wajah cantik itu. Ini adalah waktu yang tepat untuk dirinya mundur. Bukankah hal seperti ini sudah dinantikan sejak lama? Namun, mengapa saat melihat wajah Alvaro yang begitu sedih, semuanya terasa begitu sulit untuk diungkapkan. "Aku minta maaf atas semua sikap buruk yang mami papi aku berikan ke kamu. Mungkin ini terlambat, tapi aku benar-benar minta maaf," ujar Alvaro tulus. Ada senyum tipis yang laki-laki itu berikan. Ingin terlihat baik-baik saja agar wanita di depannya mampu memilih keputusan yang tepat, tetapi tentu saja itu semua adalah hal sulit. Harus tetap tersenyum di saat hati kita tidak baik-baik saja bukanlah perkara mudah. Hal yang selama ini Adinda mampu lakukan agar lawan bicaranya merasa baik. Kini Alvaro sadar jika tidak seharusnya ia percaya begitu saja dengan senyum yang wanita itu berikan padanya. "Aku udah lupain itu, Va." Adinda akhirnya mengeluarkan suaranya, berusaha untuk memberikan senyuman agar Alvaro yakin jika kini ia memang berbicara tulus. Adinda memang bukan tipe pendendam. "Aku coba mengerti dengan sikap mami papi kamu yang seperti itu. Mereka hanya sedang melindungi putra semata wayang mereka dari sesuatu yang mereka anggap tidak baik." Lagi, senyuman tulus itu muncul di bibir wanita yang memiliki lesung pipi di sebelah kanan itu. Alvaro menghela napas, mengamati wajah Adinda yang begitu teduh. "Hati kamu terbuat dari apa si, Din?" Dan dalam hati terus membodohkan diri sendiri karena membuat Adinda kesulitan selama ini. "Aku benar-benar baik-baik saja," ujar Adinda sungguh-sungguh. Walaupun tidak baik pun ia akan selalu bilang seperti itu. "Jadi apa yang kamu mau?" tanya Alvaro sekali lagi. "Tolong jujur, semenyakitkan apa pun itu, aku akan berusaha menerimanya." Laki-laki itu tidak mau Adinda kembali mengorbankan diri seperti kemarin. Mulai hari ini, Adindanya harus bahagia. Tidak langsung menjawab, Adinda tampak berpikir keras, lalu seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak sanggup. "Apakah masih ada aku di hati kamu?" Akhirnya laki-laki itu memutuskan untuk menanyakan itu karena Adinda tidak juga mau bersuara. Alvaro sudah menyiapkan hati untuk semua kemungkinan yang akan terjadi. Dan sepertinya, malam ini adalah kemungkinan terburuk yang akan ia dapat. Adinda hanya mengerjab, tidak bisa menjawab cepat karena kini hatinya tengah bertanya-tanya. Masih adakah Alvaro di dalam sana? Sementara Alvaro yang tidak juga mendapat jawaban mampu menyimpulkan sendiri jawaban apa yang kini seharusnya ia terima. "Aku tahu jawabannya," ujar laki-laki itu dengan senyuman sendu. "Di hati kamu udah nggak ada lagi aku." Meski berat, tetapi itulah kenyataan yang harus ia tanggung. Terbukti dari cara Adinda yang kali ini hanya diam sembari menundukkan wajah. Hal yang membuat laki-laki di depannya merasa yakin jika kalimat yang dikatakan adalah benar. "Kamu sudah menjatuhkan hati pada laki-laki itu." kali ini Alvaro yang menundukkan wajah. Menyembunyikan kesedihan serta luka yang kini ia rasakan. Hal yang memancing satu bulir air mata meluncur begitu saja dari mata Adinda. Wanita itu pun masih enggan mendongak. Ia tidak yakin akan baik-baik saja saat melihat wajah yang kini Alvaro tunjukkan. Laki-laki itu berusaha untuk tegar agar Adinda tidak merasa bersalah karena memang semua ini bukan kesalahan wanita itu. Entah siapa yang harus disalahkan di sini karena apa yang terjadi memanglah sudah menjadi garis takdir dari Tuhan. "Mulai sekarang, kejarlah cinta yang kamu punya. Dan jangan lagi pikirkan orang lain," ujar Alvaro berusaha untuk melapangkan dadanya yang terasa sesak. Senyum penuh ketulusan itu coba ia tunjukkan pada Adinda yang kini perlahan mengangkat wajah untuk menatapnya. Air mata sudah bersusulan turun dari netra lentik itu. "Aku melepasmu untuk mengejar kebahagiaan." Tentu saja bukan hal mudah untuk mengatakan itu semua. Namun, Alvaro yakin ini adalah yang terbaik. Ia ingin melihat cintannya bahagia meski tidak ada dia di hidup wanita ini. "Va …," isak Adinda di sela-sela tangisnya. Pandangan matanya sudah mengabur karena tertimbun air mata. Kini ia tahu masih ada cinta di hatinya untuk Alvaro, karena rasanya sakit saat laki-laki itu berkata untuk melepasnya. Namun, kondisi yang tidak memungkinkan membuat cinta itu tidak lagi sebesar dulu. Kadarnya sudah berkurang banyak bahkan sebelum Alvin hadir dalam hidupnya. Dan tempat yang dulu menjadi hunian untuk nama Alvaro di hatinya, telah terisi oleh nama Alvin. Laki-laki itu datang di waktu yang begitu tepat hanya saja dalam kondisi salah. "Aku minta maaf," bisik Adinda tanpa bisa mengatakan apa pun lagi. Bagaimana pun kondisinya saat itu, ia tetap bersalah karena sudah mengkhianati Alvaro. Laki-laki di depannya menggeleng, "Nggak ada yang perlu dimaafin. Kita akan mengakhiri ini dengan cara baik." Adinda mengangguk, lalu tidak berusaha mengelak saat Alvaro berpindah posisi duduk untuk memerangkapnya dalam pelukan. Tidak lagi sehangat dulu, tidak lagi terasa seindah dulu. Hati dan jatung Adinda tidak berulah seperti dulu. Jadi semuanya sudah terasa jelas. Cinta untuk Alvaro hanya memiliki kadar yang tidak lagi bisa dipertahankan. "Kejar bahagia kamu, dan jangan buat aku menyesal karena sudah melepasmu untuk laki-laki lain. Berikan aku bukti jika keputusan yang aku lakukan hari ini adalah yang terbaik." Adinda tidak mampu menjawab dengan kalimat apa pun karena air matanya kembali jatuh bercucuran. Ia menangis bukan untuk dirinya, tetapi untuk kehancuran hati yang pasti kini tengah Alvaro rasakan.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
seorang dengan tipe tenang
11/08
0keren
15/08/2025
0asik
02/04/2025
0Lihat Semua