Rachel menyadari sorot mata Dave yang nampak terluka dan penuh kebencian saat membahas tentang Alex. Mungkin memang sudah seharusnya bagi Rachel membuka hatinya untuk Dave dan menerimanya sebagai suami seutuhnya. Seketika ia sadar. Jika lelaki yang jadi suaminya bukan Dave, mungkin orang itu tidak akan mau menunggu selama ini. "Saya tidak bisa hidup bersama wanita yang pernah di miliki lelaki manapun. Itu prinsip saya. Kamu paham?" Rachel mengangguk patuh. Entah mengapa matanya mendadak berkaca-kaca saat bertemu pandang dengan manik grey lelaki itu. "Maaf ya, Dave. Aku mengaku salah dan nggak seharusnya minta cerai hanya karena menuruti permintaan konyol Alex waktu itu," sesal Rachel sambil mengusap tangan Dave. "Sudahlah, Hel. Jangan bahas hal itu lagi. Kamu tidak perlu meminta maaf begitu. Tidak ada yang salah diantara kita." Melihat matanya bergenang, Dave menangkup pipi Rachel dengan kedua tangannya. Mengusap lembut pipinya dengan sayang. "Aduh... Istriku ini jadi cengeng banget ya sekarang," goda Dave sambil terkekeh pelan. Rachel mengalihkan pandangan matanya kala wajahnya mendadak memanas akibat sentuhan tangan Dave. Senyum seketika terukir di bibirnya, tanpa sadar ikut tertawa bersama. "Balik lagi soal Emilio tadi, lantas aku harus bagaimana?" tanya Rachel sambil menyuapkan nasi ke mulutnya. "Emilio biarlah jadi urusanku. Kamu lebih baik keluar dari perusahaan itu secepatnya." "Haruskah? Tapi disana aku..." "Come on, Rachel. Kamu berhak bekerja di tempat yang lebih baik daripada bertahan disana. Saya juga tidak mau kau terseret dalam lingkaran hitam yang dibuat Emilio. Kalau tidak keluar sekarang juga, nanti kamu akan sudah sendiri. Percayalah padaku sekali ini saja ya," bujuk Dave dengan tatapan memohon. "Baiklah. Aku akan memikirkan dulu." Dave menghela napas. Walaupun belum berhasil membuat Rachel untuk berhenti bekerja setidaknya, istrinya itu mendengarkan saran darinya. Mungkin di lain waktu ia akan kembali membujuknya. ☆☆☆ TOK! TOK! TOK! Mendengar suara ketukan pintu, Dave yang sedang serius menatap layar ponsel pun menoleh. "Ada apa, Hel?" Rachel mengigit bibirnya pelan. Ia mendadak bingung menjelaskan tujuannya masuk ke kamar Dave. Matanya tak sengaja teralih saat melihat bagian atas baju tidur Dave. yang setengah terbuka. Belum lagi posisi duduk lelaki itu yang bersandar di pinggiran ranjang, makin membuat Rachel panas dingin melihatnya. Lain halnya dengan Dave yang wajahnya nampak biasa saja. Mata grey lelaki itu menatap bingung ke arah wanita hamil yang berdiri di balik pintu dengan sebuah bantal besar di tangannya. "Rachel..." Panggilan lembut Dave seketika menyadarkan Rachel dari lamunan singkatnya. Ia mengeleng pelan, menghapus segala fantasi yang sempat muncul dalam benaknya kala tak sengaja melihat dada bidang suaminya yang terekspos. "Ehm... Itu... Aku nggak bisa tidur, Dave. Boleh nggak kalau malam ini aku tidur di kamarmu?" tanya Rachel seraya menunduk malu-malu. Dave tersenyum tipis. Dengan cepat ia bergeser sedikit, memberi celah kosong untuk Rachel agar bisa tidur di ranjangnya. Melihat isyarat tangan Dave, Rachel pun berjalan mendekat. Rachel melirik sekilas ke layar ponsel yang ada di gengaman Dave. Melihat tampilan layar di ponsel yang menampilkan deretan grafik dan simbol-simbol yang tidak di mengertinya, Rachel menyadari suaminya masih sibuk bekerja walau sudah berada di rumah. "Ada kerjaan penting ya?" "Enggak. Cuma sedikit beresin kerjaan tadi siang," jawab Dave tanpa menoleh. Rachel mengangguk paham. Beberapa bulan mengenal Dave, ia menyadari kalau suaminya itu sangat perfeksonis dalam bekerja. "Mau aku buatkan kopi?" tawar Rachel. "Enggak usah, Hel. Untuk menghindari begadang sampai pagi. Saya nggak suka minum kopi kalau sudah malam." Tidak ingin menganggu suaminya yang tengah sibuk dengan pekerjaan kantornya, Rachel memilih beranjak turun dan keluar kamar tanpa bersuara. Tidak berselang lama, ia kembali dengan segelas susu cokelat di tangannya. Rachel ingin menemani Dave sembari duduk bersantai di sofa. Sesekali ia meminum susu ibu hamil itu sambil memandangi wajah Dave dalam diam. Ini pertama kalinya ia melihat wajah sang suami saat sedang bekerja. Cukup lama Rachel memandangi wajah Dave yang terlihat serius menatap layar ponsel. Tatapan matanya yang tajam namun tetap tampan itu membuatnya kagum. Rachel menghela napas pelan. Ia melirik gelas di tangannya yang hampir habis, tapi Dave belum juga selesai berkutat dengan pekerjaannya. "Masih lama, Dave?" "Hmm... Mungkin sebentar lagi selesai. Kamu lebih baik tidur saja duluan," balas Dave tanpa menoleh. Rachel mengangguk pasrah. Ia meminggirkan gelas kosong bekas minum susu itu, kemudian beranjak ke atas ranjang. Sedikit kesal karena Dave mengabaikannya dan lebih memperhatikan benda pipih berukuran kurang lebih lima inci itu, Rachel memutuskan berbaring duluan. Ia tidur dengan posisi memunggungi lelaki itu. Pemandangan punggung sang istri yang terekspos hingga memperlihatkan tali bra yang di kenakannya, menarik perhatian Dave untuk menoleh. Dave mengangkat sebelah alisnya, menatap pakaian tidur Rachel yang nampak berbeda dari biasanya. Baju tidur berwarna hitam transparan yang di kenakannya malam ini sangat mengundang perhatian lelaki itu. "Tumben dia pakai baju tipis begini," batin Dave dalam hati. Dave mengeleng pelan sembari menarik selimut untuk menyelimuti tubuh istrinya agar tidak kedinginan. Tidak berselang lama, Rachel nampak mengeliat dalam tidurnya. Tubuhnya mendadak berbalik badan menghadap ke Dave. Lelaki pirang itu sempat terlonjak kaget saat tangan Rachel terulur memeluk tubuhnya. Senyum tipis menghiasi wajahnya saat merasakan dekapan hangat lengan Rachel yang bersentuhan dengan kulitnya. Dengan perlahan Dave mengambil bantal di samping tempatnya tidur sembari mengeser lengan Rachel. Mengantinya dan menyusun bantal itu agar membuat tidur istrinya nyaman. Perhatian lelaki itu kembali teralihkan saat merasakan jemari Rachel yang bergerak meraba-raba pingangnya. Seringai kecil mendadak muncul di bibirnya sembari mematikan ponselnya. Dengan cepat ia meraih telapak tangan Rachel sedangkan tangan yang lain memindahkan ponsel ke nakas di sebelahnya. "Sudah mulai berani nakal ya kamu. Raba-raba badan saya," bisik Dave tepat di telinga Rachel. Rachel mengulas seuntas senyum tanpa dosa, memperlihatkan gigi putihnya. Matanya menatap mata Dave sembari memasang wajah memelas. "Aku tadi mimpi buruk pas tidur di kamar sebelah, tapi disini malah nggak bisa tidur." "Kamu nggak bisa tidur karena mimpi buruk atau kangen tidur sama saya?" goda Dave sembari menahan senyumnya. Rachel pura-pura tidak mendengar pertanyaan Dave. Ia hanya melepaskan gengaman tangan lelaki itu sembari mengalihkan pandangan ke arah lain. "Hey, orang tanya itu di jawab. Bukannya diam saja begitu. Saya ngomong sama manusia bukan sama patung," tegur Dave merasa di acuhkan. Rachel menghela napas pelan. "Tadi aku sudah bilang bukan kalau nggak bisa tidur karena mimpi buruk. Kamu pura-pura nggak paham atau sengaja mau ngajak aku berdebat semalaman sih?" BERSAMBUNG...
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (307)
Diva
sangat sangat bagus😍
25/04/2022
2
AmandaDea
Amazing, suka banget sama karyanya. gak terlalu dewasa juga kontennya, tapi lucu.semangat ya author
25/01/2022
4
CuteEcha
Bagus banget ceritanya, masih blom bisa ketebak alur ceritanya gmn..
Semangat buat PENULIS😊
sangat sangat bagus😍
25/04/2022
2Amazing, suka banget sama karyanya. gak terlalu dewasa juga kontennya, tapi lucu.semangat ya author
25/01/2022
4Bagus banget ceritanya, masih blom bisa ketebak alur ceritanya gmn.. Semangat buat PENULIS😊
30/12/2021
5Lihat Semua