logo text

Bab 59 Wajah Pucat

Dave hanya bisa merengut sambil mengerucutkan bibirnya. Ia akan selalu kalah kalau Rachel sudah bicara tentang surat perceraian mereka.
"Saya sudah bilang berkali-kali bukan? Jangan bahas masalah perceraian dulu untuk saat ini. Beri saya waktu untuk..."
Rachel tiba-tiba membungkam mulut Dave dengan kecupan kilat. Hanya sekilas namun mampu membuat Dave terdiam membisu.
"Kamu juga... Jangan paksa aku buat berhenti kerja terus," tegur Rachel sambil tersenyum lembut.
Dave memandang sendu wajah Rachel. Sejujurnya ia hanya takut Rachel menderita jika masih bekerja di perusahaan yang dikelola oleh Alex. Namun ia belum bisa bercerita pada 11Rac1hel akibat bukti yang belum kuat.
"Jangan menatap aku begitu, Dave. Aku cuma mau pergi kerja, bukan mau pergi berperang."
"Kamu memang mau pergi perang," gumam Dave pelan.
Rachel yang sedang mengunyah makannya itu pun menolah.
"Kamu bilang apa tadi, Dave?"
"Eung.. Enggak bilang apa-apa."
Rachel mengangguk pelan dan kembali melanjutkan makannya yang tertunda.
Mata Dave seketika tertuju pada Rachel. Melihat istrinya makan dengan lahap, membuat Dave menjilat bibir dan mengaruk hidungnya.
"Rachel..." panggil Dave lembut.
"Hmm..."
Rachel tidak menyadari Dave mengeser kursinya, mendekat ke arahnya.
"Sebelum kita pergi boleh nggak saya minta sesuatu ke kamu?" tanya Dave dengan senyum mengembang.
"Minta apa?"
"Minta..."
Dave mengantungkan kalimatnya, membuat Rachel menoleh ke arahnya.
Rachel mengamati wajah Dave yang nampak gelisah. Dave menatap istrinya dengan sangat dalam. Perlahan kepalanya semakin condong ke wajah Rachel. Saat jarak mereka tinggal beberapa jengkal lagi, Rachel mengalihkan pandangannya.
"K1ita harus berangkat sekarang, Dave. Kalau tidak nanti akan terlambar," tegur Rachel sambil melirik ke arah jam dinding.
Dave menoleh ke jam dinding sekilas, kemudian mendesah pelan.
"Baiklah. Ayo! Kita berangkat sekarang," ajak Dave dengan wajah lesu.
☆☆☆
Dave merasa pernikahannya terasa membosankan. Beberapa minggu belakangan ini hubungannya dengan Rachel semakin membaik dan jarang bertengkar. Namun Dave merasa Rachel jadi lebih pendiam dan menjaga jarak dengannya.
Walaupun komunikasi keduanya berjalan dengan baik, namun Dave merasa janggal. Dave kerap merasa Rachel nampak tidak nyaman setiap ia berusaha mendekatinya untuk sekedar bersentuhan kulit.
Dan ketika tadi Rachel tiba-tiba mengecupnya terlebih dulu, hati Dave terasa berbunga-bunga saking senangnya. Namun sayangnya Dave tidak punya kesempatan lebih untuk mencumbu Rachel lebih lama.
Akibat hasrat yang belum tertuntaskan itu, membuat Dave merengut sepanjang perjalanan mengantar Rachel bekerja.
"Kamu marah sama aku, Dave?" tanya Rachel sambil menatap mata Dave.
"Enggak. Biasa aja."
"Oh. Baguslah kalau begitu," ucap Rachel seraya kembali menatap ke arah jalanan.
Saat mobil mereka sampai di tujuan, wajah Dave masih nampak merengut.
"Nanti pulang kamu jemput seperti biasa 'kan, Dave?" tanya Rachel seraya membuka sabuk pengamannya.
"Hmm."
Dave hanya berdeham sambil memperhatikan Rachel yang merapikan sekilas riasan wajahnya. Saat Rachel hendak turun dari mobil, Dave seketika menahan pergelangan tangannya.
"Ada apa, Dave? Aku mau turun. Keburu telat ini."
"Kamu nggak mau pamit dulu sebelum pergi? Kasih kecupan atau apa begitu?" rajuk Dave sambil mengerucutkan bibirnya.
Rachel hanya mengeleng pelan. Beberapa minggu belakangan ini, Dave jadi sering sekali mencuri-curi kesempatan untuk menyentuhnya. Jika tidak di turuti, lelaki di hadapannya ini akan lebih menganggunya.
Sempat ragu, Rachel pun memberanikan diri untuk mencium pipi Dave. Namun Dave malah menoleh dan menyentuh tengkuk Rachel, membuat bibir keduanya saling bersentuhan.
Rachel terbuai dengan cumbuan Dave yang menyesap bibirnya lembut. Sangat perlahan hingga membuat Rachel serasa melayang, hanyut dalam sapuan lembut bibir Dave. Rachel hampir kehabisan napas kalau Dave tidak segera melepas pangutan mereka.
Dengan napas yang tersengal-sengal, Rachel melirik Dave yang tengah menatapnya lembut.
"Terima kasih, Sayang."
"Hah?"
Rachel terkejut Dave mengucapkan terima kasih dan memanggilnya sayang. Sedangkan kepala Dave segera beralih sembari menyembunyikan senyum di bibirnya.
"Kamu bilang apa tadi, Dave?"
"Eng... Enggak bilang apa-apa. Sudah sana berangkat. Nanti telat jangan salahin aku ya," tegur Dave sambil mendorong pelan bahu Rachel.
"Iya, aku turun sekarang."
Rachel lantas turun dari mobil dan berlari kecil ke dalam kantor. Dave memandangi kepergian Rachel dari dalam mobil hingga istrinya itu menghilang dari pandangan matanya.
Ia mengusap dadanya pelan, terselamatkan dari rasa kegugupannya. Kalau saja waktunya tidak mempet, mungkin Rachel akan memcecar Dave dengan berbagai pertanyaan.
Rachel mempercepat langkah kakinya dan mengulurkan jempol tangannya ke mesin scanner.
"Huft... Hampir saja telat satu menit," gumamnya saat melirik jam di mesin scanner.
"Telat lagi, Hel. Bangunnya kesiangan lagi?"
Rachel hanya tersenyum simpul saat Dewi menyapa di dalam kantor.
"Untung pak Alex masih di luar negeri ya. Kalau tidak, entah apa yang akan di lakukan setelah tahu kamu sering telat begini."
Rachel menudukkan kepala, berpura-pura tidak mendengar perkataan bernada sindiran yang di lontarkan Dewi padanya. Ia ingin menyanggah, namun teringat kembali kesalahannya di masa lalu.
Awalnya Rachel memang sengaja mengulur waktu dengan datang telat agar tidak berpapasan dengan Alex di kantor. Tapi begitu Alex ada urusan di luar negeri dalam waktu yang cukup lama, Rachel mulai merubah kebiasaannya itu. Dan baru hari ini ia tidak sengaja datang dengan waktu yang nyaris terlambat.
Namun sepertinya Dewi menganggap Rachel sering telat dan mulai sering menyindir belum lama ini. Entah apa tujuannya, Rachel tidak peduli. Ia hanya mau fokus bekerja.
Tapi sepertinya hari ini tidak akan mudah untuk Rachel. Kepalanya tiba-tiba pusing dan membuatnya hampir jatuh tersungkur jika tidak berpegangan dengan tembok.
Setelah sakit di kepalanya mulai menghilang, Rachel mencoba kembali berjalan pelan. Namun baru beberapa langkah kepalanya kembali sakit.
Pandangannya mengabur, serasa berputar-putar saat melihat sekitarnya. Kesimbangannya sedikit goyah, membuat Rachel mengulurkan kedua tangannya untuk meraih apapun yang dapat menjadi pegangan.
Tiba-tiba saja Rachel merasakan seseorang menyentuh pundaknya dan mengengam sebelah tangannya dengan erat.
"Kamu nggak apa-apa?"
Samar-samar Rachel mendengar suara lelaki yang tidak asing ditelinganya. Saat ia menoleh, matanya membulat seketika.
"Pak Alex..."
Alex menatapnya dengan tatapan cemas.
"Kamu sakit, Hel. Mukamu pucat sekali," ujar Alex sambil menatap cemas wajah Rachel dengan jarak dekat.
Rachel mengeleng pelan. Ia berusaha melepaskan diri dari Alex. Namun pandangan kembali mengabur dan perlahan mengelap.
"Hel... Rachel, buka matamu. Rachel," panggil Alex sembari menepuk-nepuk pipinya berulang kali.
Tanpa pikir panjang lagi, Alex mengendongnya dan berjalan ke ruangannya.
"Wi... Tolong bikinkan segelas teh manis hangat dan bawa ke ruangan saya sekarang," pinta Alex saat melihat Dewi ada di ruangannya.
Dewi tidak menjawab. Ia melongo kala melihat Rachel berada dalam dekapan Alex.
"Kamu dengar saya bicara tidak, Wi?"
BERSAMBUNG...

Komentar Buku (307)

  • avatar
    Diva

    sangat sangat bagus😍

    25/04/2022

      2
  • avatar
    AmandaDea

    Amazing, suka banget sama karyanya. gak terlalu dewasa juga kontennya, tapi lucu.semangat ya author

    25/01/2022

      4
  • avatar
    CuteEcha

    Bagus banget ceritanya, masih blom bisa ketebak alur ceritanya gmn.. Semangat buat PENULIS😊

    30/12/2021

      5
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru