logo text

Bab 49 Ego Lelaki

Pada akhirnya Rachel mengabaikan perkataan Dave dan tetap memilih pergi bekerja.
Perkataan Rachel pagi itu sangat berpengaruh pada suasana hati Dave seharian ini. Lelaki pirang itu jadi uring-uringan. Saat ada kesalahan sedikit saja yang dilakukan karyawannya, Dave akan langsung marah dan membuat seisi kantor menjadi tegang.
Pikirannya saat ini sedang tidak fokus. Berulang kali ia salah dalam mengerjakan sesuatu di layar komputernya.
"Argh..."
Dave meremas-remas kertas yang ada di dekatnya sambil berteriak frustasi.
"Ada apa denganku hari ini?" gumam Dave tanpa sadar.
"Harusnya gua yang tanya itu ke lo sekarang, tapi udah ke duluan."
Sebuah suara tiba-tiba menginterupsinya, membuat Dave menoleh dengan cepat. Dari arah pintu, Fabio terlihat berdiri di selaan pintu yang sedikit terbuka. Hanya kepalanya yang julur ke dalam ruangan Dave.
"Mau apa kemari? Kerja sana," usir Dave seketika.
Fabio mengulum senyum kecut. Lelaki itu sudah hapal dengan kebiasaan Dave yang kerap berbicara sembarangan kala suasana hatinya sedang buruk. Jadinya walau sudah di usir pun, Fabio tetap melangkahkan kaki memasuki ruangan Dave dengan santai.
"Galak benar sih lo hari ini. Kenapa sih? Ada masalah apa lagi kali ini?" cecar Fabio seraya mendekati meja kerja Dave.
"Bukan urusan lo," ketus Dave sembari membuang muka.
"Iya sih, memang bukan urusan gua. Tapi kalau pak Damian yang suruh, mau nggak mau jadi urusan gua juga."
Mendengar nama papahnya disebut, Dave lantas merubah posisi duduknya jadi menghadap ke arah Fabio.
"Bokap gua ngomongin sesuatu sama lo?" tanya Dave mendadak penasaran.
"Enggak ngomong apa-apa sih, tapi dia kelihatan nggak suka. Pas liat lo marah-marah ke karyawan cewek tadi pagi," ucap Fabio seraya mengulum senyum tipis ke Dave.
Fabio kembali teringat peristiwa tadi pagi saat dirinya baru sampai di kantor. Saat itu ia tengah bercengkrama dengan Damian. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja mereka mendengar suara Dave yang sedang membentak seorang karyawan wanita.
"Apa? Memang bokap gua ada di kantor sekarang? Bukannya dia lagi ada meeting di luar negeri ya?" tanya Dave sambil mengerutkan kening.
Dave tercengang mendengar penuturan Fabio. Seingatnya Damian ada jadwal meeting dan seharusnya masih berada di luar negeri. Ia tidak menyangka kalau papahnya itu telah kembali pulang dari perjalanan dinasnya. Sialnya, Damian juga tidak sengaja melihatnya yang sempat berselisih pendapat dengan salah satu karyawannya di kantor.
"Baru balik dari bandara, langsung ke sini jam 7 tadi."
Dave mengeleng lalu memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.
"Hadeuh... Bokap gua pasti salah paham lagi," desah Dave sembari mengadahkan kepalanya.
Dave menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi sembari memejamkan matanya untuk beberapa saat. Kepalanya tiba-tiba kembali pening. Ia harus segera menjelaskan kesalapahaman yang di lihat papahnya, tapi pikirannya kini sedang berpusat ke arah lain.
"Tenang saja, Bro. Soal bokap lo, sudah gua beresin. Sekarang orangnya juga udah enggak ada," tutur Fabio sambil matanya melihat-lihat ke seluruh ruang kerja Dave.
Mendengar penuturan Fabio, sontak Dave membuka matanya. Lalu menatap Fabio dengan sorot tajam.
"Enggak ada gimana maksud lo?"
"Enggak ada di kantor. Barusan sudah pergi tadi. Mungkin sekarang lagi istirahat di rumah keluarga lo," sambung Fabio menjelaskan maksud perkataannya.
Dave seketika menghela napas lega mendengar penjelasan Fabio.
"Untungnya gua tadi langsung ajak dia pergi. Kalau enggak mungkin lo tadi udah kena semprot. Karyawan sekantor pasti geger lihat lo kena damprat," ledek Fabio sambil terkekeh pelan.
"Sialan lo. Malah doain gua yang nggak-nggak lagi," umpat Dave seraya melempar gumpalan kertas ke arah Fabio.
Dave tidak marah mendengar ledekan Fabio. Ia justru bersyukur akan sifat Fabio yang termasuk cepat tanggap. Tidak bisa di bayangkan betapa malunya Dave kalau papahnya sampai memarahinya di depan seluruh karyawan yang ada di kantor.
Tanpa di sadari Dave, sedari tadi mata Fabio mengamati gumpalan kertas yang berserakan di meja. Kertas-kertas itu telah berubah rupa bentuknya, akibat remasan tangan Dave. Melihat kekacauan di meja lelaki itu, Fabio menyadari saat ini suasana hati Dave sedang tidak baik-baik saja.
"Bro. Lo kalau ada masalah, cerita saja ke gua. Muka lo dari pagi kelihatan suntuk banget. Enggak sedap di pandang mata," akui Fabio dengan wajah serius.
Dave menoleh sekilas ke arah Fabio. Kemudian menghela napas pelan dengan kepala tertunduk.
"Gua kira Rachel bakal berhenti kerja setelah kejadian itu tapi, ternyata enggak. Pusing kepala gua mikirin dia, sob."
"Hah? Jadi setelah kejadian kemarin, dia masih mau kerja disana? Yang benar saja," decak Fabio sambil mengaruk tenguknya.
"Nah itu. Gua jadi binggung sekarang," sambung Dave sambil mengusap wajahnya kasar.
Fabio seketika iba melihat Dave yang nampak cemas memikirkan nasib istrinya.
"Coba lo kasih tahu dia pelan-pelan soal Emilio. Mungkin dengan begitu dia bakal mau berhenti kerja dari sana," ujar Fabio memberi saran.
"Susah, Bro. Rachel tuh keras kepala orangnya," sahut Dave dengan cepat.
"Keras mana dia sama lo yang kepala batu ini," ledek Fabio tanpa sadar.
Fabio mendadak terkekeh pelan. Entah apa yang sedang di pikirkan lelaki itu hingga dirinya tidak sadar kalau sorot mata Dave kini tengah menatap tajam kepadanya.
"Gua lagi ngomong serius."
Suara Dave yang terdengar lebih berat dari biasanya, membuat Fabio kembali memasang wajah datar.
"Iya. Sorry—"
Fabio menunduk sembari meminta maaf.
"Tapi di coba saja dulu saran gua daripada lo stres sendiri atau coba cari tahu saja keadaannya disana aman apa nggak," sambung Fabio mencoba mencarikan solusi untuk masalah Dave.
Dave seketika teringat akan sosok Dewi yang selama ini membantunya.
"Iya, lo benar. Gua coba tanya Dewi saja dulu. Mudah-mudahan si brengsek itu nggak berani dekat-dekat Rachel lagi," ujarnya sambil mengambil ponsel untuk menanyakkan kabar Rachel.
Fabio hanya mengeleng heran melihat tingkah Dave yang menurutnya lucu.
"Dave... Dave... Gua benar nggak tahu lagi mau ngomong apa sama kalian berdua. Rachel jelas-jelas istri sah lo. Tapi kenapa untuk sekedar tanya kabar istri sendiri saja, pakai perantara segala sih?"
"Lo bisa ngomong begitu karena belum nikah. Coba kalau udah nikah, terus habis berantem sama pasangan, pasti lo juga kaya gua sekarang."
"Justru karena habis berantem. Ini kesempatan bagus buat lo berdamai," saran Fabio sambil tersenyum simpul.
Dave terdiam seketika, namun sorot matanya menatap Fabio penuh tanda tanya.
"Sekarang coba pikir, gimana kalau Rachel tiba-tiba tahu lo sering ngobrol sama Dewi daripada sama dia? Bisa terbayang seperti apa tanggapannya?"
Perkataan Fabio membuat Dave gamang. Entah mengapa hati kecilnya menolak keinginan Dave yang hendak menghubungi Dewi. Namun ego telah menahan dirinya untuk berbicara dengan Rachel.
Dave lantas mengeram sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.
BERSAMBUNG...

Komentar Buku (307)

  • avatar
    Diva

    sangat sangat bagus😍

    25/04/2022

      2
  • avatar
    AmandaDea

    Amazing, suka banget sama karyanya. gak terlalu dewasa juga kontennya, tapi lucu.semangat ya author

    25/01/2022

      4
  • avatar
    CuteEcha

    Bagus banget ceritanya, masih blom bisa ketebak alur ceritanya gmn.. Semangat buat PENULIS😊

    30/12/2021

      5
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru