Malam harinya Rachel tidak bisa tidur. Entah mengapa ia sangat gugup sekaligus bersemangat menantikan hari esok. Rachel lantas ke dapur dan membuat segelas coklat panas. Ia berharap dengan meminum hot chocolate itu, kegugupan di benaknya dapat berangsung mereda. Saat tengah asyik mengaduk-aduk gelas, tiba-tiba saja Rachel mendengar sebuah suara dari pintu kamar Dave yang perlahan terbuka. Dave keluar dari balik sana dengan mengenakan piyama berwarna ungu kebiruan. Wajahnya tampak sayu dengan lingkaran hitam di sekitar matanya. "Rachel..." Cetrek... Dave meraih steker, membuat lampu-lampu yang ada di dapur seketika menyala terang. Wajahnya nampak terkejut saat melihat Rachel yang duduk di tengah kegelapan. "Kau belum tidur?" tanya Rachel saat melihat Dave berjalan ke arahnya. "Kau sendiri kenapa tidak tidur dan malah duduk di sini?" "Nanti aku tidur setelah menghabiskan minuman ini," kata Rachel sambil mengangkat gelas. Dave berjalan mendekat. Kemudian duduk di kursi panjang yang berhadapan dengan Rachel. Ia melirik ke dalam gelas yang di minum Rachel, lalu melihat mata Rachel secara bergantian. "Kenapa? Kau mau juga?" tanya Rachel menebak. Dave mengangguk pelan. Rachel lantas berdiri untuk membuatkan Dave coklat panas. "Ini minuman dari mamahmu tidak pernah kau minum ya?" tanya Rachel saat membuka kulkas. "Untukmu saja," kata Dave singkat "Tidak mau, Ah. Kau yang minum saja. Lagipula kau yang dikasih juga bukan aku." "Saya tidak minum minuman seperti itu," tolak Dave dengan tegas. "Kau pikir aku suka minuman seperti ini. Sudahlah, kita minum berdua atau aku buang saja minuman ini." "Buang sajalah kalau begitu," ujar Dave menyerah. "Benar nih minumannya di buang saja. Nanti kalau mamahmu tanya bagaimana?" tanya Rachel sembari menatap Dave ragu. "Bilang saja sudah di minum atau apalah terserahmu—" Dave mengeleng kesal mendengar pertanyaan Rachel. "Cari saja alasan bagus yang sekiranya tidak menyingung perasaan mamah. Hal begitu saja pakai tanya segala," dumel Dave seraya mengulurkan tangan ke Rachel. Seolah mengerti dengan bahasa tubuh Dave, dengan sigap Rachel memberikan segelas coklat panas yang baru dibuatnya. "Owh.. Panas." Dave meringis, merasakan panasnya seduhan coklat buatan Rachel. "Kenapa panas sekali sih?" keluh Dave sambil meniup-niup gelas ditangannya. "Wajar kalau panas, kau juga liat 'kan baru dibuat tadi. Pelan-pelan saja minumnya," celetuk Rachel sambil mengeleng heran. "Iya, saya tahu." Rachel mengendus sebal ketika Dave berbicara ketus padanya. Detik berikutnya, suasana menjadi tenang. Keheningan melanda meraka berdua. Dave melihat wajah Rachel yang kini tengah memandangi langit malam dari kaca ruang dapur. Tatapan Rachel nampak kosong, namun bulu matanya terus mengerjap berulang kali. "Ada apa? Apa ada kau sedang di rundung masalah?" tanya Dave tiba-tiba. Rachel menoleh, menatap wajah Dave dengan mengerutkan kening. "Tidak biasanya kau belum tidur di jam segini. Kalau tidak ada masalah, kenapa belum juga tidur?" tanya Dave menatap serius ke dalam mata Rachel. "Sudah lama aku tidak melakukan interview. Rasanya..." Rachel menghela napas, tidak melanjutkan perkataan. "Kenapa? Kau ragu bekerja disana? Belum terlambat kalau kau ingin membatalkannya." "Bukan begitu. Aku hanya takut tidak bisa melakukannya dengan baik." Sebelah tangan Dave lantas menopang dagunya sambil masih menatap wajah Rachel. "Apa yang kau risaukan sebenaranya? Kau tidak yakin dengan kemampuanmu?" Mata Rachel seketika berkilat menatap tajam Dave. "Kau meremehkan kemampuanku?" ketus nya terdengar tidak suka dengan perkataan Dave. Dave menghela napas panjang. "Kau salah paham lagi 'kan." Tatapan matanya perlahan melembut. "Sudahlah. Tidur sana! Kalau kau jadi pergi besok. Saya juga tidak ingin kerepotan membangunkanmu," titah Dave menyuruh Rachel ke kamarnya. "Siapa juga yang minta di bangunkan olehmu?" Rachel perlahan berdiri dan berjalan menuju ke kamarnya. Namun ia tiba-tiba berbalik badan. "Aku akan beneran marah kalau kau berani masuk ke kamarku dan menyiram air lagi ke wajahku," ujarnya sebelum masuk ke kamar. ☆☆☆ Dave sedang sarapan pagi bersama Rachel yang duduk di depannya. Ia sengaja bangun lebih pagi karena tahu istrinya itu akan berangkat untuk panggilan interview kerja. "Berangkat jam berapa?" tanya Dave saat melihat Rachel yang sudah berpakaian rapi. "Sebentar lagi. Aku pergi setelah kau pergi dan membereskan piring-piring ini," ucap Rachel sambil mengedarkan pandangan ke arah piring bekas mereka makan. "Berangkat bersama saja kalau begitu," ujar Dave sembari menyendokkan makanan ke mulutnya. Rachel terbelalak kaget. Ia tidak menyangka Dave akan mengajaknya pergi bersama. Matanya menerawang wajah Dave cukup lama, memastikan perkataan suaminya bukanlah bualan belaka. Nyatanya Rachel melihat keseriusan di wajah Dave. Dave menyadari tatapan mata Rachel. Sebelah alis matanya seketika terangkat. "Kenapa menatapku begitu? Kau keberatan pergi denganku?—" Dave tersenyum tipis. "Ya, sudah kalau kau tidak mau berangkat bersama. Toh bukan saya yang rugi juga," ucapnya sambil perlahan menyesap kopi panas. Rachel menggeleng dengan cepat. "Tidak. Aku ikut denganmu." Rachel menjawab dengan cepat, takut Dave berubah pikiran dan malah tidak jadi pergi bersamanya. Ia mulai hapal watak Dave yang gampang berubah sesuai suasana hatinya. Tidak berselang lama, mereka berdua pun berangkat dengan mobil Dave. Dave rupanya mengantar Rachel sampai ke tempat istrinya itu interview kerja. "Kau pergilah. Nanti malah kau yang terlambat masuk kantor," usir Rachel secara halus. Dave mengangguk pelan. Kemudian menancap gas, melaju cepat meninggalkan Rachel yang tengah memandangi kepergian suaminya. ☆☆☆ Berulang kali Rachel menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Ia duduk di kursi tunggu dengan tangan gemetar. Jantungnya berdegup kencang sambil mulutnya komat-kamit menghapal sesuatu. Sesekali ia berdiri dan berjalan beberapa langkah, berusaha menepis rasa cemas yang bergelayut dalam pikiran. Hingga tibalah saatnya Rachel di panggil ke ruang interview. Rachel berjalan di belakang, mengikuti seorang wanita yang memandunya ke ruang interview. Ia berjalan pada koridor yang ada pintu di sekelilingnya, terhubung ke ruangan lain. Setiap pintu tertulis sebuah tulisan yang menunjukkan ruangan di dalamnya. "Ruangnya ada di paling ujung ya," ucap si wanita sambil tersenyum ramah Mata Hazel Rachel menerawang lurus ke depan. Disudut koridor terlihat sebuah pintu kembar yang terlihat berbeda dari pintu lain di sekitarnya. "Terima kasih," ucap Rachel yang ikut tersenyum simpul. Wanita itu lantas membungkuk sebelum pergi meninggalkan Rachel. Rachel berjalan perlahan ke arah pintu yang dimaksud wanita tadi. Rachel mengambil napas dan menghembuskan napas pelan sebelum membuka pintu. Di ruang itu nampak seseorang tengah duduk membelakanginya. "Permisi, saya Rachel di panggil kemari untuk interview." Tidak ada sahutan, membuat Rachel berjalan mendekat. "Selamat pagi, Pak." Tiba-tiba saja kursi itu berputar menghadap kearahnya. Rachel terbelalak kaget melihatnya. BERSAMBUNG...
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (307)
Diva
sangat sangat bagus😍
25/04/2022
2
AmandaDea
Amazing, suka banget sama karyanya. gak terlalu dewasa juga kontennya, tapi lucu.semangat ya author
25/01/2022
4
CuteEcha
Bagus banget ceritanya, masih blom bisa ketebak alur ceritanya gmn..
Semangat buat PENULIS😊
sangat sangat bagus😍
25/04/2022
2Amazing, suka banget sama karyanya. gak terlalu dewasa juga kontennya, tapi lucu.semangat ya author
25/01/2022
4Bagus banget ceritanya, masih blom bisa ketebak alur ceritanya gmn.. Semangat buat PENULIS😊
30/12/2021
5Lihat Semua