logo text

Bab 16 Laksana Raja

Rachel menanti jawaban Dave dengan jantung berdegup. Ia berharap suaminya mengiyakan saja perkataannya.
"Tidak. Biasa saja. Tidak ada yang spesial dari masakanmu," kata Dave dengan wajah datar.
Hati Rachel seketika mencelos mendengar jawaban Dave. Sejujurnya ia ingin mendengar pujian— dari lelaki yang kini telah jadi suaminya— akan masakannya. Namun ternyata harapannya terlalu tinggi.
Padahal kalau dilihat dari gelagat Dave yang dari tadi makan dengan lahap, seharusnya lelaki itu tidak akan berbicara begitu. Dalam hati Rachel beranggapan, mungkin Dave hanya malu mengakui kelezatan masakannya.
"Tidak enak tapi malah mau nambah," sindir Rachel tanpa sadar mengerucutkan bibirnya.
Dave menoleh.
"Ini hanya karena saya lagi lapar," kelitnya sembari mengambil nasi.
"Iya deh. Terserah kamu saja. Masakanku bisa cocok sama lidahmu saja, aku udah senang. Tidak apa-apa juga kalau tidak enak." lirihnya pelan.
Dave memperhatikan Rachel yang tertunduk sambil menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya. Seketika ia menghela napas.
"Seingat saya tadi, saya tidak bilang masakan kamu tidak enak deh. Saya bilang biasa saja dan bukan berarti tidak enak. Kau sendiri yang asal menyimpulkan."
Rachel seketika mendongak. Matanya yang sempat berkaca-kaca itu seketika berbinar senang. Sudut mulutnya melengkung membentuk senyuman. Memandang wajah Dave dengan tatapan seakan memberi isyarat ucapan terima kasih. Namun yang di pandangi wajahnya malah memasang wajah datar.
"Ambilkan capcay itu," titah Dave sambil melirik ke piring berisi capcay yang ada di dekat siku Rachel.
Senyum di bibir Rachel terlepas begitu saja saat Dave menyodorkan piringnya. Rachel seketika menghela napas dengan mata memandang kesal ke arah Dave.
"Kenapa malah memandang saya begitu? Cepat ambilkan dan taruh di piring ini," desaknya terdengar memaksa.
Perkataan Dave saat ini bagaikan sebuah titah dari sang raja. Mau tidak mau, Rachel menyendokan capcay ke piring Dave dengan gerakan cepat. Bunyi suara sendok yang beradu dengan piring terdengar keras bagai tengah menyuarakan isi hati Rachel yang kesal.
Dave mendongak ketika mendengar bunyi keras dari sendok Rachel. Matanya kini tertuju pada wajah Rachel yang membuang muka padanya.
"Bisa pelan sedikit tidak makannya? Wanita kok makannya gaduh," cibir Dave menatap Rachel dengan wajah serius.
Bibir Rachel malah makin mengerucut.
"Kenapa mukamu begitu? Kesal? Mau marah sama saya?" tantang Dave dengan alis terangkat.
Rachel mengeleng dengan cepat.
"Mana boleh aku marah padamu. Bisa-bisa nanti aku diusir dan tidak di perbolehkan tinggal disini lagi," sindir Rachel sedikit melirik ke Dave.
Entah Dave menyadari atau tidak perubahan raut wajah Rachel yang kini terlihat sudah tidak sedap lagi di pandang.
"Nah itu kamu tahu. Maka dari itu bersikap baiklah pada saya," celetuk Dave tanpa menoleh ke istrinya.
Rachel seketika mendongak, menatap Dave dengan alis menyentak bersamaan.
Sedetik kemudian, matanya melotot sembari mengepal ujung garpu. Dengan cepat tangannya bergerak, mencabik-cabik mulut Dave.
Sayangnya itu semua hanya khayalan dalam kepala Rachel.
Dave menoleh. Kedua mata mereka saling bertatapan. Namun Rachel dengan cepat mengalihkan pandangan seakan engan menatap mata Dave.
Dalam hati Rachel membatin. Kalau ia tetap diam saja bagaimana mungkin Dave akan menyadari kelakuannya. Tapi...
Dave melirik Rachel sembari tangannya bergerak menyuapkan nasi ke mulutnya sendiri.
"Aku tahu kalau keberadaanku disini mungkin seperti parasit yang menumpang hidup padamu, tapi bukan seperti caranya memperlakukan wanita. Bertingkah bagai raja pada pelayannya," sembur
Rachel meluapkan kekesalannya.
"Uhuk.. Uhuk... Uhuk..."
Dave tersedak hingga terbatuk-batuk. Rachel menoleh, melihat Dave tengah menepuk-nepuk dadanya. Tangan Rachel tergerak, mengarahkan gelas berisi air minum ke sisi Dave. Dengan cepat Dave menyambar air minum itu. Lalu melihat ke arah Rachel.
"Bilang apa kau tadi?"
"Bukan apa-apa. Lupakan saja," elak Rachel enggan mengulang perkataannya.
Dave bukannya tidak mendengar. Ia hanya ingin memastikan saja.
"Saya tidak ada maksud bertingkah raja seperti yang kau tuduhkan barusan—" Wajah Dave nampak tenang namun, rahangnya mengeras.
"Saya hanya ingin dilayani saat makan seperti kebanyakan pria yang sudah beristri. Apa menurutmu saya salah?"
Rachel mengeleng dengan wajah tertunduk. Ia bingung menanggapi perkataan Dave.
"Bukan begitu. Ehm... Aku bukannya tidak mau, tapi apa kita sudah sedekat itu untuk... um..."
Rachel yang bingung mengutarakan maksud perkataannya malah jadi berbicara tak jelas.
"Bicaralah yang jelas. Saya tidak mengerti maksud omonganmu," keluh Dave sembari mengerutkan kening.
"Itu... Kau... Bukankah dulu kau pernah bilang tidak suka kalau aku menyentuh barang-barang yang kau pakai, tapi ini kau malah memintaku untuk melayanimu makan. Apa kau sudah tidak merasa asing lagi denganku?"
Rachel memandang Dave dengan bahu gemetar. Ia takut Dave akan kembali marah dan berteriak padanyaan.
Namun Dave malah menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Ia berdecek kecil ssmbari menatap wajah istrihnya
"Pertanyaan macam apa itu. Aku hanya tidak mau kau berkeliaran di malam hari. Karena kau sampai kenapa-kenapa aku juga yang akan repot nantinya. Jadi jangan berbuat yang macam-macam," ujar Dave seraya bangkit dari tempat duduknya.
Ia berjalan ke cucian piring dengan membawa piring dan minum bekasnya makan. Rachel terdiam namun kepalanya mengikuti kemana Dave pergi.
Melihat gelagat suaminya yang hendak berangkat kerja, Rachel seketika panik. Hingga tanpa sadar memegang pergelangan tangan Dave. Membuat lelaki itu tidak bisa pergi dan kini memandangi wajah Rachel sembari mengerutkan kening.
"Kau mau berangkat sekarang?" ujar Rachel saat melihat Dave hendak mengambil tasnya.
Dave hanya menggumam pelan.
"Pinjam hapemu sebentar," pinta Rachel sambil mengulurkan telapak tangannya.
"Untuk apa? Kau 'kan juga punya sendiri?" tanya Dave seakan ingin protes.
Walaupun begitu Dave tetap memberikan ponselnya ke Rachel.
"Aku hanya ingin tahu nomormu. Jadi aku gampang menghubungimu kalau ada perlu sesuatu nantinya," ujar Rachel sambil menekan-nekan layar di ponsel Dave.
Dave diam saja saat ponselnya di pegang Rachel, namun matanya melirik terus ke layar ponselnya.
"Save. Nah, sudah. Ini kukembalikan—"
Rachel mengulurkan ponsel Dave.
"Hapemu itu sudah kusimpan sekalian nomorku. Jangan dihapus ya," ucap Rachel seraya berjalan ke dapur.
Dave memandang sekilas Rachel yang kini tengah membersikan piring-piring dan gelas bekas mereka makan tadi. Ia melirik sekilas ke arah jam dinding. Kemudian menengak air putih dengan cepat. Lalu mengambil tas dan kunci mobil, lalu berjalan ke luar apartemen.
Rachel menghela napas pendek saat menyadari Dave pergi begitu saja. Tanpa pamit ataupun kecupan selamat tinggal.
Rachel mengeleng, membuang jauh-jauh khayalannya itu. Ia kembali tersadar pernikahannya berbeda dan mereka berdua juga tidak mungkin bisa seperti pasangan lainnya.
Lagipula ia juga telah berjanji akan kembali bersama Alex setelah pernikahannya berakhir. Memikirkan sosok Alex mampu mengukir senyum di wajah Rachel.
Tring... Tring... Tring...
Tepat saat itu, ponsel Rachel tiba-tiba berbunyi.
BERSAMBUNG..

Komentar Buku (307)

  • avatar
    Diva

    sangat sangat bagus😍

    25/04/2022

      2
  • avatar
    AmandaDea

    Amazing, suka banget sama karyanya. gak terlalu dewasa juga kontennya, tapi lucu.semangat ya author

    25/01/2022

      4
  • avatar
    CuteEcha

    Bagus banget ceritanya, masih blom bisa ketebak alur ceritanya gmn.. Semangat buat PENULIS😊

    30/12/2021

      5
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru