logo text

56. Brady dan Diana

Rhys Dimitri Oxley
Yang kutemukan adalah kepanikan. Para pelayan rumah masih di sini, karena membantu menyelesaikan semua sisa dari acara pertunangan Brady dan Eri.
Merekalah yang panik dan ketakutan.
“Ada apa ini?”
Bukan aku yang bertanya, tapi Hugo. Bahkan Leon dan Adorjan juga ada di sana.
“Tu-tuan tamu, oh maksudku, tuan Brady dan tunangannya terjatuh dari lantai tiga.”
“Kalian melihat langsung saat mereka terjatuh?” tanyaku sambil mendekat. Semua mata mendadak mengarah padaku.
“Tidak, Tuan Rhys. Kami sedang di dapur saat kejadian berlangsung. Jeritan nona Eri mengejutkan kami. Saat kami keluar rumah, keduanya sudah ada di atas mobil tuan Leon dalam keadaan tidak sadarkan diri dan berdarah-darah.” Salah satu dari keempat pelayan memberi keterangan.
“Bagaimana sekarang?” Leon bertanya padaku.
Kenapa bertanya? Harusnya mereka bergerak untuk mengatasi hal ini atau setidaknya memastikan keadaan kedua orang itu.
Karena memang sudah jadi kesepakatan antara kami dan para pekerja di rumah ini untuk tidak ikut campur jika sesuatu terjadi di kediaman Oxley. Mereka harus tutup mulut dari orang luar dan tidak mengambil tindakan apa pun, seperti menelepon polisi atau ambulans.
“Pastikan keadaan mereka sekilas. Jika terlalu parah, aku akan hubungi rumah sakit untuk meminta ruang perawatan khusus.” Berjalan menuju lantai tiga, aku sebaiknya menerka apa yang terjadi dari atas.
Aku berhenti di anak tangga terbawah dengan mata mencari pelayan yang tadi memberi kesaksian padaku. “Sudah berapa lama kejadiannya?”
Dia tidak langsung menjawab. Berpikir beberapa detik sebelum akhirnya menjawab. “Tidak lebih dari lima belas menit yang lalu, Tuan.”
Kupercepat langkah kakiku menaiki setiap anak tangga. Kuyakin sebelumnya bahwa Brady dan Eri berada di kamar ZeeZee. Mereka pasti bertengkar. Walau tidak yakin benar, dugaanku bahwa Brady berniat menikahi Eri jelas dengan syarat.
Bukan ikut campur, tapi Brady tampak tidak mencintai Eri. Sungguh jelas terlihat di mataku seperti itu.
Bahkan mungkin ZeeZee pun mencurigai hal itu, sebab dia menyayangi Eri melebihi seorang teman. Keluarga. Tepatnya begitu.
Dari atas sini kulihat ke bawah dengan dugaan mereka berdua keluar dari kamar ZeeZee dan bisa saja bertengkar di sepanjang lorong, sampai saling dorong atau kegiatan fisik lain yang menyebabkan keduanya terjatuh.
Ini rumit bagiku. Karena pertama kalinya aku membiarkan bukan bagian dari keluarga kami untuk berulah di kediaman Oxley. Namun aku tidak bisa begitu keras pada Brady, karena pria itu terlampau banyak menolongku dalam setiap kesulitan yang kutemui belakangan ini.
Aku mempercayainya? Tidak juga. Tidak sepenuhnya. Jika hutang budi dan nyawa ini selesai, aku akan mencurigainya seperti dia itu orang lain dalam hidupku. Bahkan bukan tidak mungkin sebagai musuhku.
Kalian semua tahu sifatku yang tidak suka berhutang apa pun pada orang lain. Aku penyuka kebebasan atas setiap apa yang kupunya dalam hidupku. Tidak terikat hutang atau apa pun namanya, kecuali pada keterikatan cintaku pada ZeeZee.
“Kau menemukan sesuatu?”
Saat menoleh, kutemukan Ludwig yang tadi tidak kulihat ada di bawah.
“Tidak. Memangnya apa yang harus ditemukan? Mereka cuma jatuh.”
Ludwig sampai di sisiku, melongok keluar jendela. “Temanmu itu mencurigakan.”
“Kalau pun dia sengaja mendorong Eri, itu bukan urusan kita. Karena seperti yang kau tahu, dia temanku.”
Ludwig dan aku bertatapan tanpa kata. Biasanya jika sudah begini, itu artinya aku tahu sesuatu. Begitu pun sebaliknya. Hanya saja kami akan menyimpan semua itu sampai nanti. Sampai saat diskusi darurat yang dibutuhkan.
“Di mana ZeeZee?”
“Di kamarku.” Sekarang kuperhatikan Ludwig yang ingin tahu soal keberadaan ZeeZee-ku.
“Nikahi dia segera, Rhys. Gagal sekali, kurasa ada kaitannya jika kali kedua kau coba lagi.”
Aku segera paham maksudnya. “Orang yang sama?”
“Orang yang sama,” ulang Ludwig. Dia yakin tampaknya.
Kutemukan hal lain bersamaan dengan bagaimana aku harus melihat masalah ini seperti atau tidak sama sekali berkaitan.
Mencoba melangsungkan kembali pernikahan kami yang sempat gagal, kurasa ini bisa dijadikan sebagai umpan untuk melihat orang itu bertindak atau tidak di saat momen yang sama seperti waktu itu.
Ponselku berdering. Rupanya Lucas. “Tuan, nona Eri sepertinya mengalami patah tulang. Tuan Brady mungkin tidak separah itu meski dia kepalanya berdarah. Aku menunggu perintah darimu.”
“Segera bawa mereka ke rumah sakit dan lakukan seperti biasa.”
“Kurasa kau perlu tahu jika wanita yang bekerja di kandang kuda bicara padaku sehari sebelum dia mengalami kecelakaan.”
Kuterka tujuan si kakak kembar dari Luigi itu mengatakan hal tentang Diana Heller. Sepertinya, dia tahu sesuatu. Tentang ... kami?
“Apa yang perlu kutahu?”
Ludwig duduk ditepi jendela. Menyilangkan kaki dan melipat tangan di depan dadanya. “Dia ... dia menanyakan banyak hal tentangmu.”
Diana Heller sialan! Akan kubungkam mulut wanita itu dengan sesuatu yang bisa membuatnya diam selamanya.
“Lalu? Bukannya itu hal yang biasa kau dengar dari seorang wanita tentangku?”
“Tapi dia cuma pekerja di kandang kuda. Tidak ada pelayan di rumah ini yang benar-benar berani lancang bertanya, meski itu hal yang sepele tentang anggota keluarga kita, terutama mengenai kau, Rhys.”
“Hmm ... itu mencurigakan sekali. Benar, ‘kan?” Aku tahu Ludwig ingin mencari celah dan cara untuk menjatuhkan kakak tertuanya, setidaknya sekali saja dalam hidupnya. Dan sayang sekali tidak akan kubiarkan hal itu terjadi.
Kernyitan di kening Ludwig menghilang. “Kau dan wanita itu memiliki hubungan.”
“Kau bernyali sekali mengurusiku ya, Ludwig?”
Ludwig menghela napas. Raut wajahnya menjadi tidak terbaca, karena tahu bahwa tuduhannya padaku bisa berarti alasan untukku memberinya pelajaran. Meski, mungkin tuduhannya itu benar sekalipun.
“Bukan begitu. Kau hanya harus waspada padanya, sebab dia memiliki hubungan dengan temanmu si Brady itu.”
Apa? Diana dan Brady?
“Kau menyelidiki mereka?”
“Bukan untukmu,” bantah Ludwig. “Aku melakukan itu karena alasan lain.”
“Apa yang kau temukan?” Aku tidak peduli dengan tujuan utama Ludwig terhadap Brady, apalagi Diana.
“Hanya itu. Meski tidak ada bukti, tapi Brady dan wanita di kandang kuda memiliki hubungan.”
Ponselku bergetar. Ludwig beranjak dari duduknya, bertepatan denganku yang menjawab panggilan telepon.
“Tuan, nona Eri harus dioperasi. Dokter membutuhkan penanggungjawabnya. Anda diminta menandatangani beberapa dokumen. Karena beberapa prosedur berubah, mereka tidak bisa memberi izin perwakilan lagi padaku. Maaf, Tuan.”
“Tak apa. Bagaimana dengan Brady?” Saat kutanya soal pria itu, Ludwig yang sudah berjalan siap menuruni anak tangga, menoleh melewati bahunya sekilas.
“Tuan Brady sudah sadarkan diri. Dia mencari Anda untuk meminta maaf.”
“Aku segera ke sana.” Panggilan kuakhiri dan saat menuruni tangga, Leon menantiku di lantai dasar.
“Kemungkinan Eri akan mengalami koma.”
Aku menatapnya. Kenapa dua adikku mendadak jadi peduli? Bukan pada Eri. Mereka jelas tertarik pada Brady. Tertarik untuk menggali informasi dan mencari tahu siapa pria yang berkedok sebagai temanku itu.
“Aku belum menemui dokternya. Jadi simpan dulu dugaanmu.”

Komentar Buku (239)

  • avatar
    Carl MorrowCarl Morrow

    bbcxx

    08/07

      0
  • avatar
    Ma Man

    nnmntp

    02/07

      0
  • avatar
    novaary

    bagus banget ceritanya

    05/06

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru