logo text

53. Malam Bahagia

Olivia Finley
Eri masih mau bercerita panjang lebar, tapi calon suaminya yang bajingan itu, tiba-tiba sekali menelepon. Seolah tahu kalau kami sedang membicarakannya.
“Ya, Brad? Ah, aku di kamar ZeeZee. Oh, tidak usah. Tidak perlu ke sini. Aku akan segera ke sana sekarang. Ya? Hmm ...” Eri menatapku dengan malu-malu, “aku mengerti. Pasti kukenakan.”
Haih, demi apa? Kurasa Eri bisa mati sanking senangnya.
“Kenapa?” Sungguh, aku cuma basa-basi. Tidak sepenasaran itu, kecuali tentang bagaimana Eri akhirnya tertangkap hidup-hidup oleh Brady.
Masih seperti tadi, malu-malu yang tidak ada gunanya, Eri menggigit bibirnya. Entah kapan terakhir kali aku pernah melihat tingkahnya seperti ini.
“Brady memberikan gaun padaku, dia memintaku untuk mengenakannya saat kami bertemu.”
“Sekarang?”
Eri mengangguk. Buru-buru pergi dari kamarku seperti dikejar sesuatu. Tidak akan kususul. Biarkan saja. Aku perlu tidur sebentar. Paling nanti dia datang kembali sambil merengek memintaku menilai dirinya dalam balutan gaun pemberian Brady.
Sebenarnya, aku tidak tahu kenapa Rhys begitu mudahnya mendatangkan semua orang ke kediaman Oxley. Bukan masalah bisnis. Hanya pertemanan antara Rhys dan Brady. Tidak ada Eri, seharusnya.
Memang pasti Brady yang mengundang Eri untuk datang karena pria itu ada di sini, tapi rasanya agak lancang menurutku. Namun entahlah. Rhys mungkin sama seperti Eri. Terbawa pesona Brady.
Belum juga mataku terpejam, pintu kamarku diketuk. Itu bukan Rhys. Pasti Eri. Cepat sekali dia berpakaian? Atau berencana mengenakannya di sini?
“Hei, Eri. Kau—mau apa kau, Brady?” Suaraku tertahan dalam emosi yang dalam. Melihat wajahnya menaikkan segala rasa amarahku sampai puncak.
“Eri tidak di sini?”
“Jangan berpura-pura. Eri menjawab teleponmu disampingku. Dia sudah melarangmu mendatanginya ke kamarku. Pergilah. Dia pasti di kamar tamu.” Pintu kututup secepatnya, tapi kaki Brady lebih kuat menahan. Masuk hampir setengahnya ke kamarku.
“Brady! Aku serius—”
“Ssst!” Brady mendorong pintu. Aku pun tidak mau kalah, tapi dia menyelinap masuk dalam himpitan pintu yang celahnya pas-pasan seukuran tubuhnya.
“Sebentar saja. Kumohon.” Brady memindahkan tanganku selagi masuk dan menutup pintu dibelakangnya.
Aku melotot menahan gemetar emosiku. “Mau apa, Brady?”
“Memeluk—aww! Kenapa kau menamparku, Olive?” Brady mengusap pipi kanannya yang kutampar, meski tidak bersuara nyari. Malah mirip pukulan, daripada tamparan.
“Bajingan kau. Keluar sekarang, Brady. Eri menunggumu.” Kudorong-dorong pundak menjauh, tapi kedua tangannya menangkap pergelangan tanganku.
“Kalau kau tidak tenang, aku bisa memfitnahmu. Tidak ingat bahwa aku dipercaya oleh Rhys dan Eri?” Mata Brady berkilat penuh taktik licik yang membuatku merinding.
Kelima adik Rhys jauh lebih baik dari satu orang Brady.
“Rhys dan Eri lebih mempercayaiku,” ancamku balik. Benar. Pasti mereka lebih berpihak padaku.
“Okay. Katakanlah begitu. Sesuai perkiraanmu. Tapi, apa setelah itu Rhys dan Eri masih bisa percaya padamu? Tidakkah banyak keraguan dalam hati mereka yang mendadak timbul saat melihat kita berduaan di kamarmu seperti ini?”
Memang bajian si berengsek satu ini. Sebab dia memang benar.
“Aku tidak minta banyak darimu, Olive. Peluk aku. Cuma itu.”
“Kau merencanakan sesuatu, sialan. Kau pasti menjebakku. Saat kita berpelukan, kau bisa saja merekam atau membiarkan Rhys dan Eri melihat kita. Jangan coba—”
Brady sudah memelukku, erat. Dia mengusap-usap rambutku.
“Aku tak akan ingkar janji, sumpah mati. Aku bersungguh-sungguh.”
Tidak kubalas pelukannya. Cuma berusaha menghindari ketika bibir panasnya mencium leher dan pundakku.
“Sudah, hentikan.” Kudorong Brady menjauh, tapi sempat mengecup bibirku sekilas. Jantungku nyaris meledak karena takut.
Aku ... berdosa pada Rhys. Pria lain menciumku di rumahnya. Dan pria lain itu adalah seseorang yang dipercayai oleh Rhys.
“Aku dan Eri akan bertunangan di sini beberapa jam lagi. Kuharap kau mengerti bahwa ini—”
“Pergilah, kumohon. Aku tidak perlu alasan,” selaku cepat. Benar, aku tidak butuh penjelasannya. “Tapi jangan permainkan Eri. Dia sungguh-sungguh padamu.”
Sempat-sempatnya Brady mengusap pipiku. “Tenang. Ada yang lebih penting dari itu.” Dia mengedip, lalu pergi. Menutup pintu dengan sangat pelan, nyaris tidak bersuara.
Berbalik, aku bersandar di bagian belakang pintu. Merosot jatuh ke lantai karena rasa bersalah yang semakin memuncak. Rasa lelah dan kantukku hilang seketika.
Tidak ada yang benar-benar terpikirkan olehku selagi mandi dan berpakaian, selain rasa bersalah, sampai akhirnya waktu yang dimaksud oleh Brady benar-benar tiba.
Aku lupa berpakaian selaras dengan acaranya. Hanya jeans biru tua dan blus putih bermotif lotus kecil bertebar.
Rhys mendekat dan memeluk pinggangku. Membawaku sedikit menjauh. “ZeeZee Sayang, Eri tidak mengatakan apa pun padamu soal pestanya?”
“Oh, tentu saja ada. Aku yang lupa. Tadi sempat ketiduran dan terbangun antara sadar dan tidak.”
Suara tawa pelan Rhys terasa menenangkan perasaan bersalahku yang mulai pintar berbohong sejak mengenal bajingan bernama Brady White.
“Kau kelelahan? Apa kita masuk saja dan istirahat?” Rhys mencium pelipis dan pipiku dari samping, tetap memeluk pinggangku.
“Sebaiknya ...” Kulihat Eri melambai ke arahku, wajahnya cerah seketika, “aku berganti pakaian sebentar.”
“Kutemani?” goda Rhys.
Aku mengangguk senang, tapi Brady menepuk pundak kekasihku itu dari belakang. Mata Brady sudah sedari tadi begitu awas. Sejak Eri ada di sisinya ketika wanita itu melambai padaku.
Entah sejak kapan Brady bisa ada di belakang Rhys dengan begitu cepat.
“Rhys, aku butuh kau untuk memberi kata sambutan sebelum aku menyambung ucapanmu.”
Aku mundur selagi mereka sibuk berdua. Heran memang, Rhys bisa sejenak lupa padaku ketika Brady ada di antara kami.
Serius. Aku sampai curiga pada mereka berdua. Ah, tolol!
“Nona Olive, ‘kan?” Seorang wanita berseragam menghampiriku dengan gaun dibungkus plastik putih sambil ditenteng.
“Ya. Aku Olive.” Kutunggu dia menghampiriku dengan terburu-buru. Rhys menyiapkan gaun untukku? Luar biasa—
“Tuan Brady White memesankan ini khusus untuk Anda.” Menyerahkan gaun itu padaku, dia segera permisi, juga dengan terburu-buru.
Brady? Kenapa dia memesankan gaun untukku? Dia sudah gila. Benar-benar gila.
Kuperiksa gaunnya dan dengan cepat menemukan tempelan secarik catatan tagihan lunas yang mengatasnamakan ‘Olivia Finley’ oh, cerdas dan licik sekali.
Brady membelinya untukku, tapi seolah ini gaun yang kupesan sendiri. Memang ciri khas-ku jika menggunakan gaun. Bagaimana bisa dia tahu?
Gaun midi dengan smocked back, lengan pendek yang mengembang, menampilkan garis leher dan berwarna lembut, permukaan buah persik.
Setelah dipakai, tentu bagus. Cukup bagus.
“ZeeZee!” Eri berjalan tidak sabar ke arahku. Dia terlihat cantik dengan dandanan pas, tidak berlebihan.
Gaun kamisol bermotif kelopak putih yang menampilkan siluet pensil dan garis leher V. Belahan dadanya pun tidak terlalu rendah, pas. Tanpa kesan murahan. Dia sungguh cantik malam ini.
Brady pintar menyamakan dengan gaunnya. Berwarna dasar gelap, tapi tidak memadamkan pesona Eri malam ini. Navy dikombinasikan bersama putih. Itu bagus. Kuat dan lembut sekaligus.
“Kenapa kau lama sekali?” Eri protes. Cerewet untuk malam ini saja akan kuterima.
“Tidak lihat tadi aku salah kostum?”
Dia tertawa, lalu memutar tubuh yang artinya aku harus menilai penampilannya.
“Bagus. Sembilan puluh lima persen,” kataku dengan satu ibu jari teracung.
Raut wajahnya seketika bersemu lagi. Dia bertingkah malu-malu. “Ayo, cepat. Kekasihmu akan memberi kata sambutannya sekarang. Kita tidak boleh melewatkan itu.”
Ah, iya. Rhys dan kata sambutan.
“Nona-nona, apa aku terlambat?”

Komentar Buku (239)

  • avatar
    Carl MorrowCarl Morrow

    bbcxx

    08/07

      0
  • avatar
    Ma Man

    nnmntp

    02/07

      0
  • avatar
    novaary

    bagus banget ceritanya

    05/06

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru