logo text

51. Dia dan Kakinya

Rhys Dimitri Oxley
Kata Lucas, kudanya mengamuk karena Stellon meminta Diana menungganginya menuju sungai.
Kandang belakang tidak kekurangan air, seharusnya.
Menurutku, Stellon tak suka pekerjaannya dicampuri. Padahal jelas kuminta Lucas untuk berbagi tugas. Mereka bisa membagi rata atau Stellon tetap memegang peran terbanyak.
Mereka baru saja pergi. William meminta Lucas menemaninya menebus obat. Diana keras kepala dengan memaksa keluar dari rumah sakit, padahal belum juga seharian dia dirawat.
“Kepalamu seperti batu.”
Diana meringis. Kurasa bukan karena mengharap perhatian dariku, sebab kulihat setelahnya dia bisa mengambil gelas dengan tangannya sendiri tanpa minta bantuan padaku yang cuma ada dihadapannya.
“Tapi Anda datang. Itu bentuk kepedulian bagiku.”
Tidak ada yang bisa kukatakan untuk menjawab, apalagi menyangkal ucapannya.
Benarkah?
Kenapa aku tiba-tiba datang ke sini? Setelah tadi Lucas berkata bahwa Diana mengalami patah tulang serius.
“Kulipatgandakan hutangmu jika menetap di rumah sakit. Kembali ke sana. Aku menerima bayaran lebih sedikit tiap bulan darimu.”
“Tidak, Tuan. Rumah sakit malah membuatku merasa semakin sulit untuk sembuh.”
Terserahmu. Aku sudah mencoba menawarkan sesuatu yang hampir tidak pernah kutawarkan pada wanita asing.
Walau memang asing, tapi dia berhasil membuatku memasukinya. Sialan memang!
“Aku akan pergi ke Cosette. Di sana ada penyembuh patah tulang yang akurat mengembalikan seperti semula.”
“Seberapa akurat?” Aku juga pernah mendengar bahwa ada metode sejenis itu yang lebih mirip pengobatan tanpa obat-obatan, tapi langsung melakukan pemijatan atau penarikan pada tulang yang patah. Itu sungguhan?
“Sembilan puluh persen.”
“Berapa uang yang kau butuhkan untuk itu?”
Matanya berubah memicing menatapku. “Aku bicara begitu bukan untuk meminta uangmu, Tuan. Utangku padamu belum benar-benar lunas. Aku tidak mau menambahnya.”
“Terserah padamu. Saat kutawarkan itu, yang kupikirkan cuma William.”
Gerakan yang gelisah terletak di tangan dan kakinya yang tidak cedera. Dia kembali menatapku, tapi tidak dengan mata yang memicing.
“Itu benar. William sampai berlari dari sekolahnya ke rumah sakit. Padahal dia murid baru, tapi sudah berani berbuat ulah lagi.”
William memang selalu bertindak semaunya. Bocah itu menyusahkan, tapi dia pemberani.
Sejenak cuma kudengar desahan napas Diana yang kutahu itu kesakitan yang ditahan sedemikian rupa.
“Tuan Rhys. Bisakah kau menuntunku ke kamar mandi?”
Tidak mau pun, tetap harus kulakukan. Tidak ada orang lain di sini. Lucas dan Will masih belum kembali dari apotek.
“Mana yang harus kupegang?” Aku tidak bisa asal sentuh. Berbahaya bukan untuknya, tapi bagiku juga.
“Rangkulkan lengan Anda di pinggangku, Tuan.”
Ini bukan cara yang kupikirkan, tapi jelas masuk akal untuk dilakukan.
Kulingkarkan lengan kananku di pinggangnya, lalu kutahan dengan sedikit kekuatan untuk mengangkat tubuh yang lebih berisi dari kekasihku itu agar bisa beranjak dari kasur.
Aku tahu dia menahan rasa sakitnya, tapi memilih diam saja dan saat kulirik sekilas, dia sedang menggigit bibirnya.
“Tolong jangan turunkan aku di depan pintu. Lantai kamar mandinya licin.” Dia mencengkeram kemejaku.
“Jadi aku harus masuk?”
Pundak Diana sampai terlonjak karena bentakanku.
“Y-ya sudah kalau begitu. Turunkan aku di sini saja. Tidak apa.”
Kuturuti maunya. Memang tidak kutuntun dia sampai ke dalam kamar mandi. Cuma di depan pintu. Kulepas perlahan, tapi kubantu membukakan pintu untuknya.
Dia mendorong pintu agar menutup. Kujauhi pintu, tapi sedetik kemudian, bunyi gedebuk mengharuskanku kembali.
“Tu-Tuan ....” Dia meringis, mengaduh dan setengah meratap.
“Ada apa? Kau terjatuh?”
Ketika jawabannya iya, aku mendorong pintu perlahan dan menemukannya setengah bugil karena sepertinya dia belum selesai dengan urusannya.
“Kakiku, Tuan. Kakiku.”
Secara jelas kulihat bahwa kakinya tidak berubah bentuk. Maksudku, tidak bengkok atau jadi lebih parah dari sebelum dia terjatuh.
Setengah bugil ke bawahlah yang terlambat kusadari, bahwa aku melihatnya walau tidak berlama-lama. Terpaksa kuangkat tubuhnya sambil membiarkannya menutupi kemaluannya dengan menarik ujung kaus longgarnya. Celana dalamnya tergeletak basah di lantai.
“Maaf, maafkan aku, Tuan.” Permintaan maafnya tidak terdengar sungguh-sungguh. Aku tidak bodoh untuk urusan tipu menipu.
Setelah membaringkannya kembali ke tempat tidur, dia mencengkeram lenganku dengan usaha yang kunilai bagus. Soal kekuatan fisik, Diana lebih baik dari ZeeZee.
“Mau apa?” tanyaku setengah membentak.
“Masukkan jarimu ke dalam diriku, Tuan.”
“Tidak.” Kupalingkan wajah dan menghempas tanganku dari cengkeramannya, tapi dia berhasil menarik kembali untuk dituntun ke bagian tersensitif dari dirinya.
“Hei, jangan paksa aku,” geramku sambil menatapnya tajam. Bisa saja dia kudorong atau kupukul bila perlu, tapi kuurungkan niat itu sambil mengancam. “Kau ingat semua perkataanku malam itu, bukan? Kau punya batasan.”
Diana mengangguk, selagi dia gusar begitu, aku menjauh secepat mungkin. William dan Lucas tidak perlu melihat adegan seperti yang barusan terjadi.
“Kenapa Tuan tidak memanggilku?”
“Untuk apa?”
“Melampiaskan hasrat Anda padaku.”
Cuma gelengan kepala kesal yang tidak bermakna yang kuperlihatkan padanya.
“Apa karena kekasih Anda telah kembali?”
Tidak perlu terkejut tentang hal itu, karena dia ada di kandang kuda kediaman Oxley.
“Ya.”
Diana sudah membuka mulut, tapi suara pembicaraan antara Lucas dan William terlalu nyaring di luar.
Pintu terbuka, saat aku duduk dengan tenang dan sempat menggeser kursi jauh dari pembaringan Diana.
“Paman, aku membelikanmu sesuatu.” William memisahkan bungkus obat dari tangan kanannya ke kiri, sementara yang tadi tetap di kanan adalah sebuah kotak kayu kecil.
Bergeming, kutatap dia yang rasanya tumbuh begitu cepat dengan tujuh atau sepuluh tahun lagi yang bisa kumanfaatkan untuk membantu Lucas.
Oh, tidak. Aku pikir, sebaiknya tidak perlu menambah-nambah hubungan terlalu dalam antara aku, William dan Diana.
“Paman tidak mau menerimanya?” Pertanyaan William tepat di depan wajahku.
Mundur dari jangkauannya, kuterima kotak kayu kecil yang tersodor sejak tadi dihadapanku.
“Kubuka nanti saja,” kataku dengan maksud mematahkan harapan di matanya itu. Namun rupanya dia justru menyeringai.
“Silakan, Paman. Lebih bagus begitu. Supaya Paman Lucas dan Ibu tidak perlu melihat hadiah yang kuberikan untukmu.”
Walau perkataannya bisa mengundang senyum bahkan untuk Lucas yang tampak senang mendengarnya, aku tetap diam tanpa ekspresi apa pun.
William masih saja tersenyum-senyum dengan raut konyol, sampai pada saat aku berpamitan padanya, bukan pada ibunya.
“Paman, apa Paman tidak punya waktu untuk pergi bersamaku?”
“Mau ke mana?” Kulirik dia yang mengekoriku sampai ke mobil. Mata berbinarnya tertuju pada kotak kayu kecil pemberiannya yang kugenggam di tangan kanan.
“Cosette.”
“Tidak,” tolakku cepat. Artinya dia mau aku ikut bersamanya menemani pengobatan patah tulang Diana.
William cemberut. Wajah tertekuk sempurna itu tidak memudarkan ketampanannya sama sekali.
“Alasannya?”
Lucas sudah lebih dulu membukakan pintu mobil, padahal tanganku setengah terulur untuk melakukannya. Jadi kini kufokuskan tatapanku pada Will.
“Aku selalu sibuk, Will.”
“Aku tahu,” jawabnya setuju. Kepalanya turut mengangguk.
“Lalu?” Aku mulai terbiasa meladeninya, padahal biasanya tidak sekalipun begini.
“Ibu sangat kesulitan karena kakinya yang terluka. Kami belum pernah ke Cosette sebelumnya, jadi aku takut andai terjadi sesuatu saat diperjalanan.”
“Seseorang yang kumintai tolong akan mengantarkan dan menemani kalian ke Cosette.”
Will bertambah cemberut, sampai bibirnya maju. “Aku inginnya Paman yang menemani kami.”
“Tidak, Will. Masuk sana. Ibumu membutuhkanmu di dalam.”
Perkataanku tadi dan tindakanku selanjutnya yang sudah masuk ke dalam mobil, tidak membuat Will merengek lagi. Entah kenapa dia diam saja tanpa ekspresi apa pun di wajahnya, saat mobil dibawa pergi dari sana oleh Lucas. Dia tidak berteriak memanggil-manggilku seperti biasanya.
Tanpa membuka telapak tangan kananku, kusodorkan kotak kayu pemberian Will melewati pundak Lucas. “Ambil ini dan simpan kalau kau mau. Jika tidak kau pun tidak sudi, buang saja.”

Komentar Buku (239)

  • avatar
    Carl MorrowCarl Morrow

    bbcxx

    08/07

      0
  • avatar
    Ma Man

    nnmntp

    02/07

      0
  • avatar
    novaary

    bagus banget ceritanya

    05/06

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru