logo text

29. Benar-Benar Bebas

Olivia Finley
“Kebebasanmu. Kau tuli, Olive?” Bukan kasar. Dia hanya tidak sabaran.
Aku yakin, saat ini mataku pasti mengeluarkan banyak bintang-bintang yang bersinar. Berkilau. “Itu artinya, aku boleh pergi darimu? Dari rumahmu? Tanpa kau ikuti?”
Brady sialan hanya fokus menatapku. Seolah sengaja mengabaikan si kurus cantik berambut pirang di depan kami.
“Kita bicara nanti. Lakukan sekarang atau kau—”
“Oke,” selaku cepat. Memang harus cepat, sebelum dia berubah pikiran.
Kulingkarkan lengan kananku di pinggangnya. Balasan perbuatannya tadi. Namun kurasa, Brady sialan tidak akan puas dengan hanya apa yang kulakukan. Karena wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun.
Sialan. Apa lagi yang salah?
Si pirang mengulum senyum. Dia sadar aku bersandiwara yang terkesan dipaksakan. Mereka hebat. Pasti orang-orang yang biasa mengenakan topeng untuk mengelabui siapa pun yang ingin mereka tipu.
Penipu yang tidak mungkin bisa ditipu.
“Kami akan segera pergi. Tolong minta salah satu karyawan untuk mengantarkan pakaiannya ke mobilku.” Brady dengan kurang ajarnya, melepaskan tanganku yang berada di pinggangnya di depan si pirang.
Hei, apa-apaan dia itu? Dia pikir aku dengan senang hati mau melakukannya? Memang si sialan yang satu ini tidak akan bisa dipercaya begitu saja.
Si pirang mengangguk patuh. Tersenyum remeh, namun terkesan canggung ke arahku.
Oh, kau berharap Brady akan mencampakkanku? Tentu saja dia yang akan kucampakkan lebih dulu dan kubuang ke tempat sampah. Jika kau bisa, pungut saja dia!
Brady menyeretku dengan tidak sabaran keluar dari toko miliknya. Aku sudah berniat menendang kakinya, jika dia tidak berhenti secara mendadak.
“Aktingmu buruk!” bentak Brady. Benar-benar membentak.
Karena ucapannya itu, darahku serasa mencapai ubun-ubun sambil mendidih dengan cepat.
“Kau—”
“Cium aku di depan wajahnya. Setelah itu, silakan pergi ke mana pun kau mau.”
“Penipu!” bentakku. Membalas Brady harus jadi lebih mudah. “Kau pikir aku akan mempercayaimu?”
“Cepat lakukan.” Menggertakkan gigi-giginya dengan suara serupa geraman, aku sadar bahwa si pirang semakin dekat.
Aku mungkin sudah terlalu putus asa, hingga jadi gila pada akhirnya. Karena aku melakukannya.
Aku, si ZeeZee yang sudah berubah menjadi Olivia Finley, menggerakkan bibirku lebih dulu untuk menciumnya. Hanya dengan pikiran, bahwa dengan cara ini aku bisa bebas.
Atau bayaran yang paling tepatnya, aku bisa pergi dengan nyaman ke Yellowrin untuk menemui kekasih hatiku, tanpa diikuti oleh si keparat bajingan ini.
Sungguh, aku lelah mengumpatinya terus menerus dalam hidupku.
Brady menggigit lembut bibir bagian bawahku, hingga aku tersadar bahwa kami masih saling menempel bagai perangko.
Oh, ya ampun! Aku terlalu putus asa. Ini gila dan mengerikan!
“Lembut,” bisik Brady akhirnya.
Dia sadar bahwa bibirku berubah kaku dipertengahan jalan, hingga akhirnya dia berhenti lebih dulu untuk menghisap bibirku seperti mesin penyedot debu.
Si pirang canggung dan tercengang. Bahkan bukan cuma dia, pejalan kaki dan entah siapa lagi yang menggunakan jalan untuk lewat di sekitar sini, bisa melihat kami karena mereka punya mata.
Ber—baik lah, hentikan. Jangan mengumpat!
Aku tidak akan lebih baik dari Brady, jika terus mengumpatinya seperti yang biasa kulakukan.
“Terima kasih sudah datang berkunjung. Lain kali, kami akan lebih baik lagi dalam melayani Anda, Tuan dan Nona.” Si pirang bahkan sedikit membungkuk hormat.
Biar kutebak saja, oke? Dia seperti itu bukan karena dia menghormati Brady, tapi ingin menyembunyikan raut wajahnya dari dunia ketika melihat kami berdua yang berciuman.
Terserah lah. Aku harus menagih janji Brady atau dia akan mati di tanganku.
“Si pirang sudah pergi.” Aku meneliti keadaan dan menatap kejam pada Brady. “Sekarang, buktikan ucapanmu—”
“Oke-oke, pergi lah. Pergi sebelum aku berubah pikiran.” Brady bahkan tidak berani atau enggan melihat wajahku. Dia memunggungiku dan bergerak menuju pintu mobil bagian pengemudi.
Setelah mengambil paper bag di bagasi yang berisi setelan jas viridian, aku berlari cepat sambil menyetop taksi yang lewat dijalanan sibuk.
Aku tiba di kamar kecil seberang gedung acara amal tujuh belas menit kemudian. Edgar Vallue sudah ada di sini sehari sebelum acaranya dimulai. Berniat sekali.
Dia mungkin pria baik, ZeeZee.
Dengan tanpa basa-basi, aku mendorong pintu sambil menyerukan namanya.
“Ed!”
Mematung sesaat, aku sedang melihatnya membalut sekeliling perutnya dengan perban. Dia bahkan bertelanjang dada.
“Oh, maaf. Aku masuk tanpa mengetuk dulu.” Menggaruk kepala sebagai bentuk pengalihan, aku membuang pandang ke arah lain.
Tidak munafik. Tubuh Edgar Vallue benar-benar luar biasa bagus.
“Aku yang salah. Tidak mengunci pintunya.”
“Itu kebiasaan yang buruk, Kawan.” Aku menggeleng. Tidak lagi canggung, ketika ternyata aku tidak disalahkan.
Tawa Edgar membahana di ruangan nyaris kosong tanpa perabotan apa pun, selain tempat tidur berukuran sedang dan satu kursi yang tengah diduduki Edgar saat ini.
“Benar. Benar sekali.” Dia mengiyakan tanpa menghilangkan senyuman lebar di wajahnya. “Aku pernah ditemukan setengah telanjang oleh teman wanitaku saat dia menerobos masuk seperti yang kau lakukan barusan.”
Aku ikut tertawa. Mengambil posisi duduk ditepi ranjang tanpa kecanggungan. Dia harus membuat kami benar-benar berakhir sebagai teman. Itu yang kumau.
“Aku beruntung. Mataku belum ternoda.”
Edgar tersenyum dan mengangguk, menyelesaikan balutan terakhirnya.
“Apa yang terjadi padamu?” Kutanyakan itu karena tampaknya parah, tapi dia berhasil menyembunyikan rasa sakitnya.
Meletakkan sisa perbannya disampingku, Edgar mengusap rambut depannya ke belakang dalam posisi berdiri tegak. Dia memang pintar menyamarkan rasa sakitnya.
“Musuh bisnis Brady White mengira aku masih bekerja untuknya. Salah satu dari mereka menyerangku. Nyaris menusukkan pisaunya terlalu dalam hingga berisiko kematian. Bagusnya, aku cepat menangkisnya, hingga lukanya hanya mirip sayatan di bagian kulit luar.”
“Itu tidak ada apa-apanya bagimu, bukan?”
Edgar duduk disampingku. Sama-sama ditepi ranjang. Tidak perlu canggung, karena aku sudah memutuskan untuk memperlakukannya sama seperti kakak-kakakku di keluarga Oxley, kecuali Rhys.
Senyumnya menawan. Dia menatapku lekat. “Dan kau? Kenapa datang sehari sebelum acaranya dimulai?”
Mengangkat bahu, segera kuceritakan padanya bagaimana rasa cemas menderaku jika lebih lama lagi bersama Brady karena bisa saja si sialan itu mengubah janjinya sesuka hati.
Biarkan sesekali aku mengumpat untuknya, karena sulit sekali rasanya mengubah kebiasaan itu.
“Kau bisa tidur di sini. Aku akan menginap di gedung seberang bersama para panitia acara amal yang mempersiapkan semua kebutuhan acara. Mereka bekerja sampai larut malam.”
“Tapi, Ed.” Aku mengubah bahasa tubuhku dengan serius dan hati-hati. “Aku ke sini untuk mengatakan sesuatu padamu.”
“Katakan lah.” Dia menunggu. Terlihat seakan tahu.
“Karena Brady sudah mengizinkanku pergi ke mana pun yang aku mau dan sebelum dia berubah pikiran dengan menyeretku kembali ke rumahnya, aku harus pergi ke Yellowrin, Ed.”
Edgar mengangguk. “Aku mengerti. Sudah kuduga.”
“Kau mengizinkanku pergi?”
Tawa Edgar terdengar dekat dan merdu. “Tentu, Olive. Kau bisa pergi sekarang. Kau tidak perlu izin dariku.”
“Tapi aku sudah berjanji akan membantumu.”
“Janji itu berlaku hanya ketika kita saling membantu satu sama lain. Di bagian ini, aku belum membantumu sama sekali. Kau mendapatkannya karena usahamu sendiri. Jadi, jangan ragu. Pergi lah. Sebelum kau kehilangan keyakinan pada dirimu sendiri untuk pergi.
Brady bisa saja menjemputmu kapan pun itu tanpa kau sadari. Setidaknya, ketika dia menemukanmu, kau sudah bertemu dengan kekasihmu di Yellowrin.”
 

Komentar Buku (239)

  • avatar
    Carl MorrowCarl Morrow

    bbcxx

    08/07

      0
  • avatar
    Ma Man

    nnmntp

    02/07

      0
  • avatar
    novaary

    bagus banget ceritanya

    05/06

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru