Beranda/The Ex Brother 2/
27. Jinak Merpati
Olivia Finley
“Habiskan sarapanmu, Olivia. Setelah ini, aku akan mengajakmu memancing ikan besar di sungai.”
“Hem, oke.” Aku mengangguk. Tidak antusias sama sekali. Masih mengantuk. Semalam itu terlalu larut untuk datang ke Prerana. Dua jam dari Halbur dan tujuh puluh menit untuk memasuki kawasan pedalamannya.
Walau begitu, Brady White sialan akan tetap tahu tentang keberadaanku di sini.
“Kau tidak sayang nyawamu?” Berdiri di sisi kanan setelah menghabiskan sarapan, kulipat tangan sambil bersandar di dinding.
“Brady sudah memecatku. Dia tidak akan suka jika harus berurusan dengan bawahannya lagi.” Edgar Vallue sedang mempersiapkan alat memancingnya. Memang raut wajahnya itu tidak menyiratkan rasa takut akan sesuatu, terutama pada Brady White.
“Kalau begitu, kenapa tidak menjelaskan padanya tentang hal yang membuat si gila itu salah paham?”
Edgar tertawa. Berhenti hanya untuk melihatku. “Kau pun perlu bicara baik-baik dengannya, Olivia.”
“Oh, itu tidak perlu. Brady tidak butuh mendengar apa pun dariku. Si gila itu benar-benar menebalkan telinganya saat aku bicara padanya.”
Masih tertawa, Edgar menatapku. “Sebenarnya, tidak ada salah paham di antara kami.”
Mataku memicing curiga. “Jadi, kau benar-benar menyukaiku?”
Edgar mengangguk. “Maaf, semalam itu aku sengaja mengatakan bahwa semuanya adalah salah paham, agar kau mau ikut denganku tanpa merasa canggung padaku.”
Mengerjapkan mataku masih dengan rasa shock karena berhasil ditipu, kutinju pelan pundak kanannya. “Padahal, kau tidak perlu mengatakan kebohongan seperti itu karena aku tidak akan merasa canggung sama sekali padamu, meski aku tahu kau menyukaiku.”
Edgar memiringkan kepalanya. “Sungguh?”
“Yap. Aku bukan tipikal orang yang menjadi canggung karena hal seperti itu. Perasaan suka terhadap seseorang bukan satu kesalahan.”
Edgar menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum. “Pantas saja Brady tergila-gila padamu.”
“Dia dan tindakan sembarangannya itu membuatku muak!”
“Seperti kataku tadi, coba bicarakan baik-baik dengannya, Olivia. Sepanjang mengenalnya selama kurang lebih tiga tahunan ini, dia itu seseorang yang menyukai kelembutan. Hanya saja, dia memang keras pada orang-orang yang berani membantahnya.”
Aku menghempaskan bokong di kursi dekat Edgar berdiri. Meluruskan kakiku. “Kurasa, semua orang akan bersikap seperti itu, Ed. Menyukai kelembutan dan menjadi keras saat sesuatu yang tidak sesuai keinginannya, menjadi di luar kendalinya.”
“Kau benar, tapi apa salahnya mencoba.”
Aku mengibaskan tangan dengan perasaan malas. “Aku sudah lelah mencoba segala kemungkinan. Dia tetap tidak berubah.”
“Aku juga tidak pernah melihatnya seperti ini sebelumnya.”
“Seperti ini?”
Edgar sudah selesai dengan alat-alatnya. Dia menarik satu kursi dan menyeretnya sampai ke hadapanku. Duduk di sana sambil menatapku.
“Brady tidak pernah membawa wanita ke rumahnya. Dia memiliki lima rumah atas namanya, tapi tidak satu pun di antara lima rumah itu yang pernah diizinkannya untuk ditempati oleh seorang wanita.”
Aku tidak ingin terkejut. Ini bisa jadi hanya perkiraan Edgar.
“Kau sungguh-sungguh? Bukannya si gila itu sangat menjaga privasi-nya dari siapa pun?” Karena sepertinya begitu. Selama ini, aku melihatnya begitu.
“Tidak juga.” Edgar menggeleng. “Brady memperlihatkan dirinya pada kami. Para pengawal dan pelayan rumah. Dia hanya tertutup dari orang luar dan keluarganya sendiri.”
Hmm, ini baru berita.
“Itu sebabnya dia sangat marah padamu?”
Dengan tawa yang lepas, Edgar mengangguk. “Entah bagaimana dia tahu aku menyukaimu. Dia marah besar seolah aku mengkhianatinya. Padahal, aku tidak berniat merebutmu darinya.”
“Tidak kau jelaskan seperti itu padanya?”
“Tentu saja sudah.”
“Dan si gila itu tidak mempercayaimu sama sekali.”
“Benar. Begitulah tepatnya. Brady memang seperti itu. Saat ada di antara kami yang dianggapnya telah mengkhianatinya, dia akan langsung memecat bawahannya. Bagusnya, dia tidak membunuh orang-orang yang bekerja untuknya. Malah memberikan tunjangan akhir untuk bertahan hidup.”
Aku mendengus. Ternyata si bajingan itu masih memiliki sisi baik dalam dirinya, tapi sikapnya itu tidak pernah diberlakukan untukku.
Sialan memang.
“Bagaimana denganmu?”
“Aku?”
Edgar mengangguk dengan senyum yang mendadak jadi lembut. Menurutku, hanya karena profesionalisme kerja dia merubah sosoknya menjadi lebih pendiam. Pada dasarnya, sepertinya dia orang yang ramah dan lembut, mungkin.
“Maksudmu tentang asal usulku?”
“Mengenai itu aku tahu. Brady hanya tidak membuka hal lain tentangmu secara detail. Dia juga tidak menceritakannya dan kami pun enggan bertanya mengenai kehidupan pribadinya denganmu.”
Menghela napas, kuusap keningku yang mendadak berkeringat. Padahal ini masih musim gugur.
“Aku mencintai kekasihku. Kekasih yang jauh dari pandangan mataku.”
“Sudah kuduga kau memilikinya, saat kau bersikeras ingin lari dari Brady.”
“Tapi aku tidak melihatmu atau yang lain saat terus mencoba melarikan diri.” Benar, seingatku begitu.
“Banyak pelayan yang bergosip tentang kalian setiap hari. Malah ada yang mengatakan bahwa Brady menculikmu di hari pernikahanmu dengan kekasihmu itu.”
Oh, itu benar. Sekarang, kedengarannya itu memang benar.
“Lebih tepatnya, dia menjebakku dengan caranya yang meyakinkan. Ketika aku sudah masuk ke dalam perangkapnya, maka akan sangat sulit untuk melepaskan diri.”
Entah terdengar seperti keluhan atau ujaran yang pasrah, Edgar menatapku lebih lekat lagi.
“Kau butuh bantuan?”
Dan baru kali ini ada yang mengerti kondisiku, tanpa harus kuceritakan dari awal secara detail.
“Kau juga butuh bayaran?”
Edgar tersenyum yang bermakna penuh arti. Kepalanya mengangguk. “Tentu saja. Imbalan dari bantuanku adalah tenagamu.”
“Tenaga?” Walau aku senang karena itu artinya tabunganku tidak perlu berkurang, tapi aku penasaran kenapa tenaga lebih penting dari uang.
Edgar sudah pergi meninggalkan kursinya. Dia menuju sebuah lemari kaca di mana banyak piring dan gelas antik yang terpajang di sana. Mengambil sesuatu, lalu kembali ke tempat duduknya.
“Tolong jadi relawan di acara amal tahunan ini dan aku ingin kau menjadi negosiator yang bisa memenangkan hati seorang pemilik barang antik di Prerana.” Edgar menyerahkan sebuah undangan yang terbuat dari kertas berwarna emas.
Aku tertawa canggung sekaligus sedikit kesal. “Dua hal sekaligus?”
Edgar menanggapi itu dengan senyum dan anggukkan. “Aku akan membantumu dengan nyawaku.”
Ah, ya. Benar juga. Tentu itu setimpal karena Edgar harus bertaruh nyawa dalam membantuku lepas dari Brady. Oke. Mari kulihat. Sejauh mana dia bisa diandalkan.
“Sepakat?” Kuulurkan tangan agar kami bisa saling berjabat tangan.
Edgar tersenyum lebar. Menyambut uluran tanganku. “Sepakat.”
Dan begitulah. Aku memaksa Edgar membatalkan acara memancing yang begitu disukainya itu dengan saling bertukar informasi.
Aku butuh banyak keterangan sebelum terjun menjadi relawan dan negosiatior untuk tugas yang berdekatan jadwalnya itu.
“Kau tetap harus kembali pada Brady.”
Aku mulai kesal kembali karena nama itu mengudara disekelilingku lagi.
“Harus? Bukannya katamu kau akan bertaruh nyawa untuk membantuku lari dari Brady?”
Edgar mengunci tatapan kami dengan fokus mata melawan mata.
“Dengar, Olivia. Perlihatkan pada Brady sesuatu yang ingin dia lihat. Jika kau berjanji padanya bahwa kau hanya akan berada di luar semalam saja, maka tunjukkan kebenaran ucapanmu.”
“Bukannya dia akan semakin curiga melihat sikapku yang tiba-tiba melunak?”
“Itu justru bagus, Olivia. Dengan begitu, pikirannya hanya akan fokus pada dirimu. Tentang bagaimana kau yang tiba-tiba menjadi jinak seperti merpati.”
Benarkah begitu? Apa Edgar benar-benar akan membantuku tanpa ada niat terselubung lainnya?Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (239)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
bbcxx
08/07
0nnmntp
02/07
0bagus banget ceritanya
05/06
0Lihat Semua