"Kabar nenek, baik." melangkah mengikuti Thea yang menempati sofa empuk di ruang tengah. "Kamu gimana kabarnya?" "Sama, aku juga baik-baik saja." "Kenapa kamu ga ikut Nathan? Kan kamu asisten pribadinya," seru Barsha merasa penasaran. Secuil pertanyaan mampu membuat gadis itu terdiam dengan bibir kaku, begitu sulit untuk mencari alasan. "Ng, disi--ni lagi-- lagi ada kerjaan! Jadi Thea ngurus dan ngehandle tugas yang ada di kantor." diakhiri dengan senyum paksa, Hati kecilnya berharap agar pertanyaan tadi tidak bercabang ke arah lain, dengan segera memutar setir yang sama. "Terus, ada maksud apa kok Nenek tiba tiba datang? Dan kenapa tadi sore nelpon lewat nomor rumah. Kok ngga langsung ke hp Thea aja," tambahnya berhasil merubah topik obrolan, "Yah gapapa, cuma iseng aja." dengan raut santai mengalihkan pandangan demi menutupi tujuan, Tak mungkin dia bercerita tentang rasa khawatir serta bahaya yang tengah mengintai keluarga Briella, setelah berhasil menjebak mereka berdua di tengah pulau seluruh masalah terasa menghilang namun kembali bagai badai saat tahu jejak rencana yang mengancam. "........" Kata bungkam tak pantas jika disematkan dengan wanita tua tadi, tentu saja kebisuannya membuat Thea merasa curiga, begitu sigap melontarkan tatapan penuh tanda tanya yang menyudutkan Barsha, "Kok kayaknya ada yang Nen-" "Aduh. Nenek kebelet! Nenek ke toilet dulu ya?" segera beranjak bangun dan berlari ke arah lain, meninggalkan gadis tadi bersama dengan rasa penasarannya. Kedua manik hitam sibuk menyorot punggung yang perlahan menjauh, "Kenapa sih? Aneh banget.." "Ha! Jangan-jangan mau ngejebak aku lagi." berseru dalam hati, Dari arah lain seorang wanita tua bersetelan biru tengah melangkah dengan nampan berisi gelas di tangan, pandangan sekilas menyusuri tempat kosong di ruang tengah. "Loh, Shasa kemana?" pikirnya mulai menata dua gelas serta sepiring kudapan ke atas meja. "Nenek ada di kamar mandi," sahut Thea seakan dapat membaca rasa penasaran yang wanita tua itu lontarkan. "Oh." ber oh ria seraya menyodorkan segelas jus, "Ini! Nyonya saya bikinin juga," "Makasih," menerima dengan senyum singkat. Sekilas gadis itu menyadari bahwa yang selama ini berdiri dan tinggal di rumah adalah teman baik neneknya, namun meski begitu dia masih bersikap layaknya pembantu tanpa mengurangi rasa hormat. "Peny.." "Iya?" lugasnya dengan kedua alis terangkat setelah mendengar panggilan, "Bisakah aku merubah panggilan itu?" Sepasang manik mereka saling memandang, rasa penasaran muncul dalam benaknya setelah melihat raut antusias di wajah Thea. "Bisakah aku memanggilmu Nenek?" "Apa saya terlihat setua itu!" sontaknya sedikit terkejut, "Bukan, bukan begitu. Aku-- aku hanya merasa bahwa hubungan kita terlalu formal. Mulai sekarang kau bisa memanggilku dengan nama, aku merasa tidak nyaman dipanggil nyonya-- apalagi kau adalah teman nenek." ".........." Sejenak mereka terdiam, "Aku mengerti maksudmu.." "Aku memanggil kau dengan sebutan nyonya, itu karena kau adalah istri dari Tuan. Jangan merasa terbebani dengan hal itu," "Tapi kalau kau mau, aku akan berbicara non formal jika kita sedang berdua. Dan kau bisa memanggilku dengan sebutan apapun!" sanggah Peny tersenyum cerah, Kalimat persetujuan yang terlontar berhasil mengukir senyum di wajah gadis itu, entah kenapa merasa senang hanya karena hal kecil. "Tapi ingat. Hanya kau yang ku izinkan untuk memanggilku dengan sebutan nenek, sebelum ini aku tidak pernah menerima sebutan kuno seperti itu." tambahnya menekuk bibir, Drt.. Drt.. Drt.. Obrolan singkat itu terhenti berkat bunyi bising yang muncul dari arah lain, tas berukuran sedang tergeletak di atas sofa sedang sibuk menyeruakkan dering ponsel. Sorot keduanya dengan sigap menoleh ke sumber suara, "Sepertinya ada yang nelpon ke hp Shasa," gumam Peny melirik lekat benda yang masih tertutup rapat. Detik selanjutnya tanpa ragu gadis tadi beranjak meraih ponsel dari dalam tas, menatap notif panggilan dari salah satu kontak. "Paman.." gumamnya menggeser ikon hijau, seraya mendekatkan benda tipis tadi ke samping telinga. "Hal-" "Ibu. Kau sudah hubungi pria itu? Pastikan bahwa Thea baik baik saja, kalau perlu biarkan dia tinggal bersamaku." "Barusan kakak menelpon dan memberitahu semuanya. Target mereka adalah Thea, meski belum pasti apa alasannya tapi mereka sangat berbahaya. Mereka menganggap enteng sebuah nyawa, dan tidak segan untuk membunuh!" seru suara pria dibalik telepon. Terdengar dari intonasi ucapan yang begitu antusias bahwa memang ada rahasia dibalik kunjungan ini. "Halo ibu? Kenapa diam saja--" Tut. Reflek jemari itu mengetuk satu tombol pemutus untuk menghentikan panggilan, benak yang masih berusaha menelaah tentang setiap ucapan tadi perlahan beralih pada sosok wanita yang baru saja datang ke hadapannya. "Siapa yang nelpon?" tanya Barsha dengan santai, sekilas menatap paras kedua wanita yang ada disana. Atmosfer ruangan mulai berubah bersama kebungkaman Thea, wajah dingin tanpa ekspresi itu masih enggan melontarkan pernyataan. "Ng, kayaknya kau harus menjelaskan sesuatu." gumam Peny melirik sebagai isyarat, "Paman yang nelpon, katanya Thea dalam bahaya. Nenek disuruh menghubungi pria itu- maksudnya, Pak Nathan kan?" "Hh.." menghela nafas, "Apa yang mau Nenek omongin? Bahaya apa. Dan- dan bahkan orang tua yang ga pernah menghubungiku sampai harus ikut campur," ujarnya dengan raut penuh harap untuk mendapat jawaban dari setiap rasa penasaran. ******************* "Bukankah kau bilang, ingin makan malam?" tegur seorang pria kemeja merah yang tengah duduk di kursi belakang. Aroma kopi tercium samar berkat benda tergantung di cermin tengah, terlihat bangku mobil belakang terpenuhi dengan kehadiran orang berpakaian formal sebuah setelan kemeja serta dress mewah, Batin Nathan sedikit bingung menatap arah jalan serta suasana asing yang sedang mereka datangi. Sesuai janji seharusnya mata itu memandang gedung atau ruang luas berhias lampu serta meja, namun kini hanyalah area kosong semacam basement dan papan putih berukuran besar. ****Bersambung.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (291)
Jessica Sherly20
alur cerita yang mudah dipahami dan bahasa cerita yang tidak rumit sehingga lebih banyak memikat banyak orang untuk membaca cerita tersebut dan semakin banyak yang tertarik untuk membacanya
10/01/2022
4
TuhuleleMirna
lanjut dong ceritanya.. pokoknya cerita sangt seru.. bisa buat saya terbawa dalam ceritanya
alur cerita yang mudah dipahami dan bahasa cerita yang tidak rumit sehingga lebih banyak memikat banyak orang untuk membaca cerita tersebut dan semakin banyak yang tertarik untuk membacanya
10/01/2022
4lanjut dong ceritanya.. pokoknya cerita sangt seru.. bisa buat saya terbawa dalam ceritanya
04/01/2022
0ceritanya sangat menarik dan bagus buat di baca
21/07
0Lihat Semua