"Zahra, aku...." Raja mendekap Zahra dalam pelukannya erat. Hampir saja Zahra sulit bernafas dan segera mendorong tubuh Raja dengan kasar. "Apa yang sudah kau lakukan pada calon istri adikmu sendiri mas?" "Aku tidak rela melihatmu bersama Regan bahagia, Zahra." "Apa otakmu sudah miring hah? Kau tidak berhak ikut campur dalam urusan pribadiku." "Tentu saja aku berhak. Karena ini masalah hidup Dafa." "Ada apa denganmu hah? Dulu kau begitu saja membuangku. Setelah kau gagal dengan pernikahanmu yang ke-dua baru menyesal dan ingin kembali. Dimana harga dirimu sekarang, Raja Erlangga?" "Cukup, Zahra! Aku tidak tahan melihatmu ada disamping Regan. Hatiku panas terbakar cemburu. Dulu memang aku bodoh, anggap saja begitu. Tapi, sekarang aku peduli padamu dan Dafa. Aku tidak rela kau dimiliki Regan." Plak. Satu tamparan mendarat di pipi Raja. Ada bekas memerah di sana. Untuk pertama kalinya Zahra menampar dengan keras mantan suaminya dengan berani. Lelaki itu mengusap sudut bibirnya yang meneteskan darah. "Kau memang laki-laki egois, Raja. Kau kira aku mainan yang bisa kau permainkan begitu? Kalau suka boleh dimainkan apabila bosan kau campakkan." Mas Raja terdiam. Netranya terlihat berkaca-kaca. Mas Raja yang selama ini kukenal tegas ternyata begitu rapuh. Bahkan aku hampir tak mengenalinya sebagai sosok yang berwibawa. Di hadapanku ia begitu lemah hanya karena Dafa terlahir ke dunia. Andai Dafa tidak ada mungkin ia akan bertahan dengan keangkuhannya sebagai seorang pria yang tak mau di salahkan. "Plis, Zahra. Pikirkan sekali pernikahanmu bersama Regan. Ada Dafa anak kita yang membutuhkan kasih sayang ke-dua orang tuanya yang utuh," ucapnya memelas. Terlambat sudah penyesalanmu mas. Hatiku tak bergeming dengan permohonanmu yang sudah membuat hidupku hancur. Tidakkah kau melihat bagaimana perjuanganku mengandung dan melahirkan Dafa kala itu. Sakit.... Aku sendirian terlunta dijalanan. Aku tidak punya arah dan tujuan. Ketika aku bertemu dengan nenek Rodiah yang memberiku tempat tinggal dengan suka rela hanyalah dia saudara sekaligus Dewi pelindung bagi malaikat kecilku. "Cukup! Aku tidak ingin mendengar alasan apapun darimu," hardikku. Aku segera meninggalkan kamar mas Raja dan menyusul Regan yang sudah lebih dulu jalan mengendong Dafa. *** Hari yang dinanti pun tiba. Aku akan resmi bersanding menjadi status nyonya dokter Regan. Undangan pernikahan telah disebar kepada teman, saudara dan kerabat dari keluarga Erlangga. Aku akan menjadi ratu sehari duduk bersanding bersama Regan sebagai sepasang raja dan ratu. Selamat menempuh hidup baru dokter Regan Erlangga dan Zahra Amelia. Dalam tulisan undangan itu tertera namaku dan Regan yang ditulis memakai tinta emas. "Selamat, Nak. Kamu sudah mendapatkan gadis idamanmu resmi menjadi pendampingmu. Semoga menjadi kelurga yang samawa," ucap papa sembari memeluk Regan. Wajah Regan merona merah saat papa mengucapkan kata selamat. "Makasih, Pa," balas Regan malu-malu. "Jaga, Zahra baik-baik, Nak! Jangan sia-siakan dirinya," sela mama menimpali. Wanita yang masih kelihatan cantik di usia menjelang lima puluh itu memakai kebaya dengan sanggul di rambutnya. "Tentu, Ma," sahut Regan. Aku melihat mama serta papa memberi ucapan selamat kepada kami yang menjadi raja dan ratu sehari duduk bersanding di atas pelaminan yang berhiaskan begitu indah. Sengaja tema yang aku pilih nuansa putih melambangkan cinta kami berdua yang suci. Banyak saudara papa dan mama dari jauh yang datang memberi ucapan selamat atas pernikahan kami. Mereka datang dari luar kota sengaja menghadiri pernikahan kami karena diundang oleh papa. Hanya satu orang yang tidak kelihatan dan memberi ucapan selamat kepada kami berdua yaitu Raja. Mantan suami sekaligus kakak iparku itu tidak kelihatan sama sekali sedari awal acara berlangsung hingga acara ijab kabul dilaksanakan. Pertengkaranku kemarin bersamanya membuat ia patah hati dan menyadari kesalahan. Tidak semua wanita lemah hatinya dan mau menerima kesalahan yang fatal. "Regan, Zahra ada hadiah untuk kalian bulan madu nanti." Papa mengeluarkan sebuah tiket pesawat terbang. "Apa ini, Pa?" Tanya Regan penasaran. Dua buah tiket pesawat tujuan Bali telah disiapkan papa sebagai kado istimewa pernikahan kami berdua. "Tiket pesawat ke Bali. Papa sengaja memberi kalian tiket bulan madu agar kalian segera memberi kami cucu lagi selain Dafa," Pungkas papa tersenyum. Pria yang sudah berumur lima puluh tahun itu masih terlihat gagah. Bahkan rambutnya tidak ada yang beruban, semuanya masih kelihatan hitam legam. Papa memang selalu menjalankan pola makan sehat, tidur teratur tidak merokok serta menjalankan olah raga. "Wah, Papa bisa aja," kekeh Regan. Bukan hanya Regan saja yang tersipu malu, tapi aku juga ikut menunduk karena candaan papa. Papa memang humoris orangnya hingga kelhatan awet muda. "Mama juga punya hadiah lo buat kalian berdua?" Potong mama cepat. Jarinya yang lentik mengeluarkan sebuah kunci mobil. "Tara...." "Kunci mobil?" Ucap kami berdua serentak. Aku dan Regan saling berpandangan satu sama lain. Mama memberi kami hadiah sebuah mobil mewah sebagai kado istimewa. "Terima ini untukmu, Zahra! Mama memberi hadiah ini sebagai kado pernikahanmu bersama Regan dan telah memberi mama---cucu yang tampan seperti Dafa." Mama meletakkan kunci mobil itu ke tanganku. Aku terharu mendengar penuturannnya. Tidak kusangka hati mama begitu lembut memberikanku hadiah sebuah mobil mewah. "Tapi, Ma...." "Tidak ada kata tapi, Zahra. Mama memberikan mobil ini agar kamu dan Dafa tidak perlu naik ojek saat ke toko. Dafa adalah cucu kesayangan mama. Kamu harus menjaganya baik-baik ya?" Pinta mama tersenyum. "Makasih, Ma," ucapku lirih. Serasa aku melihat penampakan ke-dua orang tuaku pada diri mama dan papa. Mereka begitu baik dan memperhatikanku dengan perhatian yang luar biasa. Mungkin aku tidak pernah mersakan kasih sayang ke-dua orang tua dari kecil. Tapi, dalam diri mertuaku ada cinta yang tulus seperti ayah dan ibu kandungku. Mereka tidak menganggapku menantu, tapi menyamakan kedudukkanku dengan anaknya. Di Tempat lain. "Sudahlah, Ja. Untuk apa kau menyendiri disini seperti manusia bodoh. Bukankah hari ini di rumahmu sedang berlangsung pesta sangat meriah?" Anton yang sedari tadi menemani mas Raja terlihat menasehati sahabatnya. Mas Raja pergi dari rumah untuk menghindari pesta berlangsung. Sungguh mas Raja patah hati dan tidak sanggup melihat aku duduk bersanding dipelaminan bersama Regan tertawa bahagia menjadi raja dan ratu sehari. "Aku tidak terima Zahra mengabaikan aku, Anton. Regan sudah memenangkan hati Zahra. Dia menolakku untuk kembali." Mas Raja mengusap wajahnya dengan kasar. Sudut matanya kini terlihat berembun. Sebuah penyesalan yang tak mungkin bisa ia tarik kembali. Dulu dengan sangat angkuh dan tanpa alasan ia menjatuhkan talak kepadaku. Setelah ia renggut kesucianku dan menodaiku pada malam pertama. Dengan mudah pula ia menjatuhkanku talak seakan aku barang bekas yang layak tidak terpakai lagi. "Kau menyesal?" Mas Raja mengangguk. "Iya." Anton tersenyum miring. "Raja, Raja... Baru kali ini aku melihatmu kena karma sendiri. Menangisi hanya untuk seorang wanita." "Apa maksud ucapanmu, Anton?" "Kau seorang pria playboy. Sudahlah! Untuk apa kau bersedih hanya karena Zahra," cibir Anton. Lelaki yang berkulit kuning langsat itu meneguk air mineral dalam botol pelastik. Tangannya menepuk pundak sahabatnya sembari tersenyum miring. "Apa kau sedang mengejekku, Anton?" Anton bergeming. Ke-dua tangannya ia masukkan dalam kantong celana. "Tidak, Raja. Aku cuma mengingatkanmu saja. Wanita di dunia ini bukan cuma Zahra saja." Mas Raja menarik nafas dan membuangnya dengan kasar. "Apa yang kau ucapkan memang benar, Anton. Dulu aku juga merasa begitu. Aku tidak puas pacaran hanya dengan satu wanita. Tapi, semenjak Dafa lahir dan rumah tanggaku gagal bersama Giska, aku merasa karma sedang menghukumku. Aku kembali jatuh cinta dengan Zahra sebagai wanita yang ideal. Berbeda dengan Giska yang selama ini hanya wanita karir. Zahra lebih mementingkan suami dan rumah tangga. Apa ini hukuman Tuhan yang telah dijatuhkan padaku, Anton?" "Bisa jadi," sahut Anton cepat. "Kau benar, Anton. Karma atas dosaku yang sudah meyakiti Zahra anak yatim-piatu telah menghukumku. Tanpa memikirkan perasaannya aku menjatuhkan talak di malam pertama dengan alasan yang tak masuk akal. Mungkin ini hukuman atas dosa-dosaku selama ini." Mas Raja mengeluh dan menatap undangan yang terletak di atas meja. Undangan pernikahanku bersama Regan tertulis dengan indahnya memakai tinta emas. Undangan itu untuk Anton sahabat mas Raja. Kami sengaja ikut mengundang sahabat mas Raja agar menghadiri pesta pernikahan yang akan dilangsungkan hari ini juga bertempat di kediaman kelurga Erlangga. Mas Raja menghilang bagai ditelan bumi saat pesta berlangsung begitu meriah. Dia tidak sanggup menyaksikanku duduk bersanding, tertawa bahagia bersama adiknya. Kini statusku sudah resmi menjadi istri Regan. Itu berati aku adalah adik iparnya. Diremasnya undangan itu dengan tangan kananya begitu kuat seakan mewakili perasaannya yang hancur berkeping-keping. *** Senja bergulir berganti malam, tapi tamu undangan masih terlihat ramai mengucapkan selamat menempuh hidup baru. Para tamu dan sahabat dari kerabat jauh masih dengan setia memeriahkan pesta pernikahan yang berlangsung dengan sangat meriah. Mama sengaja memilih dekorasi yang mewah untuk pelaksaanan pernikahan kami. Uang bagi mereka bukan masalah, yang penting adalah kebahagian anaknya. Malam ini mas Raja pulang dengan langkah gontai memasuki kamarnya. Ia memakai baju dan dasi yang sudah kelihatan kusut. Sementara jasnya ia sampirkan di bahu. Ia masuk melewati kami begitu saja tanpa menyapa dengan sepatah kata pun. Begitu juga dengan papa yang masih menjamu tamu dilewati begitu saja tanpa menyapa. "Raja, darimana saja kamu jam segini baru pulang?" Tanya papa kesal. *** Bersambung. Ada yang senang Regan menikah dengan Zahra? Tinggalkan jejak jangan lupa ya guys. Biar aku semangat nulisnya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus banget ceritanya
04/09/2025
0bagus
26/06/2024
0bagus
14/06/2024
0Lihat Semua