logo text

Bab 25 After We Fell

Farzan memandang gadis yang menatapnya tidak berkedip dengan bibir ternganga. Dia ingin tertawa melihat ekspresi lucu Nadzifa, tapi ditahan. Gadis itu tidak boleh marah, agar mau memberi tumpangan kepadanya malam ini.
Setelah berdebat dengan Ayu tadi siang, akhirnya dia mengizinkan sang Ibu menginap di flat miliknya. Namun Farzan enggan untuk berlama-lama di dalam ruangan yang sama dengan wanita paruh baya itu. Alhasil di sinilah pria itu sekarang. Lebih memilih menghabiskan waktu bersama dengan Nadzifa dibandingkan ibunya sendiri.
“Lo nggak bercanda, ‘kan?” gumam Nadzifa masih belum percaya dengan apa yang baru saja didengar.
Kepala Farzan bergerak ke kiri ke kanan.
“Flat gue tipe studio sama kayak punya lo. Mau tidur di mana?” Gadis itu mulai panik.
Ternyata seorang perempuan yang selalu bertindak nekat seperti Nadzifa, masih khawatir jika tidur dengan lelaki dalam satu ruangan.
Farzan menepuk sofa yang diduduki. “Di sini aja.”
Gadis itu mengusap kening dengan keras. “Lo terlalu tinggi tidur di sini. Bisa encok tuh otot.”
“Emangnya mau berbagi kasur?” goda Farzan menyeringai.
Nadzifa menelan ludah yang tiba-tiba memenuhi mulut. Matanya berkedip pelan seiringan dengan kepala menggeleng. Dia mulai membayangkan yang tidak-tidak.
“Mbak nggak mikir yang aneh-aneh, ‘kan?” tanya Farzan bingung.
Kedua tangan Nadzifa langsung bersilang di depan dada. Raut wajah ketakutannya malah membuat Farzan tertawa.
“Kalau lo peluk-peluk gue gimana?” Gadis itu bergidik jenaka.
“Tadi siapa yang peluk-peluk aku waktu boncengan?” balas Farzan tersenyum miring.
Helaan napas singkat terdengar dari hidung tidak terlalu mancung milik Nadzifa.
“Ya udah. Kalau nggak boleh, aku nginap di hotel yang dekat sini. Kita nonton lain kali aja,” tutur Farzan siap berdiri.
“Eh, tunggu dulu.” Nadzifa meraih tangan Farzan dengan cepat. “Sebentar gue bingung nih.”
Mata hitam lebar milik gadis itu menyipit penuh selidik. “Kenapa sih nggak tidur di flat lo aja? Ada dedemit atau kuntilanak?”
Farzan menggeleng. “Lebih menyeramkan dari itu.”
“Kok tiba-tiba? Biasanya juga betah di sana lama-lama,” pancingnya.
Pria itu hening.
“Gue bakal izinin lo nginap di sini satu malam.” Nadzifa mengacungkan jari telunjuk. “Tapi dengan satu syarat.”
“Syarat apa?”
“Lo harus jujur. Bilang sama gue, kenapa tiba-tiba pengin nginap di sini?” Rasa penasaran sudah berada di puncak kepala yang dihiasi rambut hitam panjang itu sekarang.
Nadzifa memiringkan kepala dengan bibir saling berimpitan erat. Kelopak matanya berkedip pelan saat menunggu jawaban dari Farzan. Senyum mengambang di paras cantiknya ketika pria itu duduk lagi.
Farzan diam beberapa saat ketika memikirkan bagian mana yang akan diceritakan. Lagi pula mereka akan menikah, sebaiknya Nadzifa tahu lebih banyak tentang dirinya. Dia menatap layar televisi dengan punggung bersandar di sofa.
“Wanita yang datang tadi itu ibu kandungku,” ungkap Farzan menahan sesak ketika harus mengakui Ayu sebagai ibu yang telah melahirkannya.
Kepala Nadzifa mengangguk pelan. “Pantesan sorot mata kalian mirip.”
“Kelihatan ya?”
“Jelas dong. Bagian wajah lo yang lain boleh mirip bokap lo, tapi pasti ada bagian tertentu yang mirip nyokap,” komentar Nadzifa.
Farzan tersenyum kecut mendengar betapa jujurnya gadis itu mengemukakan pendapat.
“Trus kenapa nggak mau tidur di flat itu?” selidiknya dengan sebelah alis terangkat, “harusnya senang dong, nyokap lo nginap. Apalagi setahu gue nih ya, sebelumnya nyokap lo nggak pernah ke sini.”
Pandangan netra elang Farzan yang tadi tegak, kini turun melihat karpet berwarna abu-abu tua. Dia menarik napas berat sebelum mengalihkan pandangan kepada Nadzifa.
“Mommy-ku bukan orang yang baik, Mbak.”
“Bukan orang baik?”
Farzan kembali mengangguk. Jika saja Nadzifa bukan wanita yang akan dinikahinya, pasti ia tidak akan pernah menceritakan aib yang pernah mencoreng keluarga Harun.
“Mommy mantan narapidana yang pernah terjerat kasus penggelapan dana.” Farzan menahan sesak yang mulai menyergap dadanya.
“Hanya karena itu lo nggak mau terima dia?”
Kepala yang dihiasi rambut model layered itu bergerak ke kiri dan kanan. “Bukan hanya itu.”
Mata Farzan mulai menghangat sebelum menceritakan bagian kelam dari hidupnya. “Aku lahir dari hasil perbuatan jahat Mommy.”
“Maksudnya?” Kening Nadzifa berkerut. Dia tahu kalau Sandy Harun memiliki dua istri, tapi tidak mengetahui kisah di balik kenapa pria itu bisa sampai memadu istri pertamanya.
“Mommy sengaja menjebak Papa sampai hamil, Mbak.”
Tawa Nadzifa langsung pecah mendengar perkataan Farzan barusan. “Menjebak gimana kok bisa sampai hamil?”
“Menurut cerita yang aku dengar dari Mas Brandon, Mommy kasih obat perangsang ke minuman Papa.” Farzan memutar lagi ingatan ketika mencuri dengar pembicaraan Arini dan Brandon, tentang bagaimana Sandy bisa terjebak dengan Rahayu ketika ia masih kecil.
“Trus?” Nadzifa mulai penasaran.
“Singkat cerita, malam itu Papa nggak bisa pulang sendiri dan Mommy yang antarkan pulang. Bukannya diantar ke rumah, Mommy malah bawa Papa ke hotel. Ya terjadilah apa yang diinginkan Mommy,” jelas Farzan menceritakan apa yang diketahuinya.
“Setelah itu nyokap lo hamil dan minta Om Sandy buat tanggung jawab?” Nadzifa menatap tak percaya.
“Benar.”
Gadis itu menyandarkan tubuh dengan kasar ke punggung sofa. Dia tidak menyangka penyebab Sandy Harun harus memadu sang Istri karena dijebak. Selama ini ia telah berburuk sangka dengan pengusaha terkenal tersebut.
“Karena itu lo ngerasa nggak pantas berada di keluarga Harun, sampai-sampai nggak mau urus perusahaan yang banyak itu?” tebak Nadzifa jitu.
“Udah seharusnya aku nggak ada di sana, Mbak,” tanggap Farzan tercekat.
Kedua tangannya mengepal erat di atas paha menahan dada yang menghangat, seakan ingin menyalurkan cairan di kedua matanya.
Nadzifa merasa kasihan dengan Farzan. Ternyata selama ini, pria yang dikenal kaku menyimpan penderitaannya seorang diri. Dia tidak bisa membayangkan, di usia masih kecil harus mengetahui fakta bahwa dirinya bukan anak yang diharapkan.
Kedua tangan kurus milik Nadzifa naik ke pundak Farzan, lalu menariknya ke depan. Pria itu butuh pelukan yang bisa menenangkan. Alhasil, Nadzifa membiarkan Farzan menumpahkan kesedihan di bahu kecilnya.
“Nangis aja. Cowok juga punya perasaan yang sama kayak cewek kok, ngapain malu?” celotehnya menepuk pelan punggung Farzan.
“Harusnya kakak lo nggak perlu cerita juga tentang kejadian itu. Apalagi lo masih kecil,” gerutu Nadzifa dengan wajah berkerut.
“Mas Brandon nggak pernah cerita sama aku secara langsung,” balas Farzan.
Nadzifa melonggarkan pelukan dan memundurkan tubuh ke belakang. “Tadi lo bilang sendiri kalau dengar Brandon cerita.”
“Mas Brandon cerita sama Kak Arini di kamar. Kebetulan aku dengar dari luar.”
Gadis itu tertawa pelan sambil menunjuk tepat ke wajah Farzan.
“Ternyata lo punya bakat nguping juga ya,” tudingnya, “untung nggak dengerin mereka ML. Bisa-bisa berdiri tuh punya lo.”
Farzan menghela napas berat mendengar perkataan Nadzifa yang tidak difilter.
“Kisah lo menyedihkan juga ya?! Nggak nyangka gue,” decak Nadzifa geleng-geleng kepala.
“Gimana? Masih mau nikah sama aku?” Farzan memandang mata hitam Nadzifa satu per satu. “Aku nggak punya apa-apa. Aku juga nggak akan mau ambil alih perusahaan, karena itu yang diinginkan Mommy.”
Nadzifa tergelak mendengar perkataan Farzan. “Emangnya gue mau nikah sama lo, karena lo keturunan sultan? Ya enggak lah.”
Alasan utama gue nikah sama lo karena ingin mewujudkan permintaan terakhir Nyokap dan lo cowok baik-baik. Alasan penunjang karena gue bisa balas perbuatan Brandon sama tante gue. Gara-gara kakak lo, tante gue bunuh diri, sambung Nadzifa di dalam hati.
Dia menyunggingkan senyum penuh makna. Tarikan bibirnya semakin lebar ketika berpikir Ayu pasti memiliki keinginan untuk menyingkirkan Brandon dari perusahaan, agar Farzan bisa menjadi pewaris utama The Harun’s Group.
Sorry, Zan. Bukan maksud gue memperalat lo. Tapi Tuhan mempermudah jalan gue untuk bikin Brandon menderita dan merasakan apa yang dirasakan tante gue sebelum meninggal, batin Nadzifa seraya menatap Farzan dengan mata berkedip pelan.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan review dan follow akun ini sebelum melanjutkan. Tolong pastikan sudah menyalakan kelima bintang sebelum submit review ya, karena rating akan berkurang jika bintangnya juga berkurang. Hiks.
Follow IG @Leena_gie juga yaa ^^

Komentar Buku (87)

  • avatar
    YudistiraAdam

    ggg

    19/03/2025

      0
  • avatar
    Prasasti

    ceritamu slalu bikin nagih Thor 😍❤️❤️

    16/03/2025

      0
  • avatar
    IndananAbdul Manan

    Best banget gua suka

    07/12/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru