Sorot mata Farzan menegang seketika. Begitu juga dengan tubuhnya. Wajah pemuda itu berubah pasi, karena sang Kakak telah mengetahui apa yang terjadi antara dirinya dan Arini dua tahun yang lalu. Bayangan bagaimana panasnya mereka berciuman saat itu kembali terlintas. Farzan sangat menikmati setiap sentuhan Arini di bibirnya. Masih terasa bagaimana manis bibir wanita itu dan juga aroma segar yang terendus ketika mereka berciuman. Ketika itulah ia menyadari perasaan yang seharusnya tidak pernah ada, muncul di hatinya. Farzan mengakui bahwa ia menyayangi Arini bukan hanya sebatas Kakak, tapi sebagai seorang wanita. Jika saja wanita itu bukan istri dari Brandon, kakaknya, maka ia pasti akan merebutnya. “Apa yang kalian berdua lakukan dua tahun yang lalu?” ulang Brandon lagi menyentakkan Farzan. Suasana menjadi hening ketika Brandon menunggu jawaban Farzan. Hanya terdengar tarikan napas berat dari sela hidung mancung pemuda itu. Mata elang itu terpejam beberapa saat sebelum kembali terbuka. “Itu … Itu hanya kecelakaan, Mas. Nggak sengaja,” gagap Farzan dengan kening mulai berkeringat. “Mas tanya apa yang terjadi, Farzan. Apa yang kalian lakukan?” desak Brandon mulai meradang. Dia khawatir jika adiknya melakukan hal yang sangat tidak pantas dengan Arini. Farzan mengembuskan napas lesu selaras dengan tatapan yang diperlihatkan. “Aku dan Kakak … berciuman, Mas,” aku Farzan jujur, “tapi itu nggak disengaja.” Tubuh Brandon tersandar di sofa. Dia mengusap keras wajah, lalu mengerang. “Kakak berpikir aku adalah Mas. Jadi—” “Harusnya kamu bisa menolaknya, Zan!!!” sergah Brandon lantang. Bersyukur ruang kerja itu kedap suara, sehingga tidak ada yang bisa mendengarkan dari luar. “Aku bisa menerima alasan Iin, tapi kamu ….” desah Brandon keras. “Kenapa kamu nggak menghindar atau menolaknya?” Farzan menundukkan kepala dengan tangan saling bertautan erat di atas paha. “Jawab Mas, Zan! Kenapa kamu nggak menghindar?” desak Brandon. Mata Farzan terpejam rapat di sela hati yang berkecamuk. Ada rasa menyesal di hati, tapi ada rasa lain yang tidak ingin diutarakannya. Bran masih menunggu jawaban adiknya dengan sorot mata kecewa. “Aku … aku khilaf, Mas,” ungkap Farzan pelan. Dia memilih untuk menutup rapat perasaannya, karena tidak ingin melukai Brandon. “Kamu nggak ada perasaan apa-apa sama Iin, ‘kan?” desis Brandon menahan geram. Dia tidak tahu harus marah kepada siapa sekarang. Farzan kembali hening. Tidak ada jawaban apa-apa yang keluar dari bibirnya. “Maafkan aku, Mas,” ucapnya setelah hening selama beberapa menit. “Zan?” lirih Brandon penuh dengan kekecewaan. “Aku minta maaf karena nggak bisa menolak waktu itu. Aku minta maaf karena udah sakiti, Mas.” Farzan menarik napas panjang. “Aku sayang sama Mas dan Kak Arini. Aku sayang kalian berdua.” Tubuh Farzan bergetar ketika menyelesaikan kalimat terakhir. Hatinya remuk karena telah menyakiti perasaan Brandon, kakak yang sangat disayanginya. “Aku tahu saat ini Mas berpikiran aku sama dengan Mommy.” Kepala Farzan menggeleng tegas sebelum melanjutkan perkataannya, “Aku dan Mommy nggak sama, Mas. Aku nggak akan mengulangi kesalahan yang sama.” Farzan menyeka air mata yang ingin turun di sudut mata elangnya. Brandon mendesah pelan setelah berhasil mengendalikan amarah yang nyaris membuncah. “Apa karena itu kamu nggak mau tinggal di rumah ini lagi?” Bran menatap dingin Farzan. Perlahan kepala pria itu bergerak ke atas dan bawah. “Aku nggak mau terjadi kesalah pahaman di antara kita, Mas.” Bran mengusap dagu yang ditumbuhi cambang dengan keras. “Kalau begitu segera menikah. Dengan begitu Mas baru bisa lega,” titahnya. Rupanya Brandon masih khawatir jika Farzan bisa menjadi duri di dalam rumah tangganya. Apalagi ia tahu saat ini adiknya tidak sedang menjalin hubungan khusus dengan wanita manapun. Usia Farzan juga sudah matang untuk menikah. Farzan menatap nanar kedua tangan yang masih menyatu di atas paha. Beberapa saat kemudian pandangannya naik melihat Brandon. “Jika itu yang bisa membuat Mas tenang, akan kulakukan. Aku akan menikah dalam waktu dekat,” balas Farzan setuju. Artinya dia harus mencari wanita yang akan dijadikan istri secepatnya. Brandon mengangguk singkat. “Bagus. Segera menikah sebelum pernikahan Alyssa diselenggarakan.” “Jangan pernah dekat-dekat lagi dengan Iin, jika tidak ingin ada hal buruk yang terjadi di antara kita!!” sambungnya memberikan ultimatum. Pemuda itu menahan segala perasaan yang ingin tumpah ruah sekarang. Dia menatap sendu ke arah Brandon yang melangkah gontai meninggalkan ruang kerja. Farzan tahu kakaknya sedang kecewa dengan apa yang telah terjadi. Istri yang begitu dicintai malah berciuman dengan adik yang juga disayanginya. “Apa yang harus aku lakukan sekarang, Mas? Haruskah aku nikah dengan perempuan yang nggak aku cintai?” lirihnya menahan sesak di dada. *** Malam itu juga, Farzan kembali lagi ke Cikarang tanpa menemui Arini terlebih dahulu. Dia memutuskan benar-benar menjaga jarak dengan wanita yang telah membesarkannya tersebut. Sungguh ia tidak ingin menyakiti perasaan Brandon, pun membuatnya khawatir. Langkah kakinya diayunkan gontai menuju flat tempat tinggal. Sebelum menekan tombol pin, pandangannya beralih ke pintu flat yang ditinggali Nadzifa. Sesaat rasa penasaran menyelinap, mengingat gadis itu tidak menghubunginya sejak kejadian tadi siang. Tidak ada tanda-tanda gadis itu berada di sana. Bisa jadi ia pergi ke klub malam hanya sekedar minum-minum. Seperti biasa, ketika ada masalah, Nadzifa memilih melepaskannya dengan alkohol. Farzan memasuki flat tak lama kemudian. Dia meletakkan lagi tas ransel yang sempat dibawa ke Menteng Dalam di atas sofa. Tubuhnya terempas di bantalan sofa, sebelum direbahkan. Mata elang itu terpejam erat menghalau penat yang terasa. Fisik dan batinnya sama-sama lelah sekarang. Selang beberapa menit kemudian, sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Kening Farzan berkerut saat memikirkan kemungkinan siapa yang menelepon? Apakah itu Nadzifa atau Arini yang menanyakan kenapa ia tidak jadi pulang ke Menteng dalam? Tangannya bergerak masuk ke saku celana jeans yang dikenakan. Desahan pelan keluar dari sela bibir saat melihat nama Bramasta tertera di layar ponsel. “Kenapa malam-malam telepon, Bram?” tanya Farzan malas. “Biasa gabut (tidak ada kerjaan) pas malming (malam minggu). Lo udah tidur?” Bram malah mengajukan pertanyaan. Farzan mengurut pangkal hidung sebelum menjawab. “Belum. Gue baru aja tiba di apartemen.” “Loh, bukannya tadi mau pulang? Kenapa masih di apartemen?” Pemuda itu mendesah pelan. “Feeling gue nggak enak nih,” kata Bram sok tahu. “Gue lagi males cerita, Bram.” “Nggak, lo harus cerita sama gue sekarang!” desaknya. Tiba-tiba sebuah permintaan video call masuk ke ponsel Farzan. “Astaga, Bram. Seriusan gue lagi males.” “Makanya biar nggak males, cerita sama gue. Terima gih request gue. Kali aja semangat lo muncul begitu lihat muka gue,” celoteh Bramasta. Meski enggan, Farzan akhirnya menerima permintaan tersebut. Dalam hitungan detik wajah Bram memenuhi layar ponsel. “Duh, tambah nggak mood lihat muka lo,” komentar Farzan tidak semangat. “Paling nggak lo bisa lihat ekspresi prihatin gue, ‘kan?” Farzan tergelak singkat. “Sialan lo.” “Tuh ‘kan bener. Wajah lo sedikit lebih cerah dari tadi.” Bram dan rasa percaya dirinya. “Sekarang cerita. Kenapa nggak jadi nginap di rumah? Kenapa juga lo balik lagi dengan mood yang buruk banget,” cecarnya kemudian. Pemuda berahang tegas itu menarik napas panjang. Dia menceritakan apa yang terjadi di Menteng Dalam kepada sahabat yang bisa dipercayainya. Tahu apa reaksi Bramasta mendengarkan pemaparan Farzan barusan? “Oh my God! Seriusan Mas Brandon suruh lo cari istri segera, hanya karena tahu tentang ciuman dahsyat lo itu?” lontar pria berkacamata itu dengan ekspresi lebay. Farzan mengangguk singkat, senyum kecut tergambar di parasnya. “Gue emang jahat, Bram.” “Lo nggak jahat, Zan. Takdir aja yang sedang main-main sama lo.” “Mau dicari ke mana coba calon istri sebelum Al nikah?” “Ponakan lo kapan nikahnya?” Bram jadi kepo sendiri. “Dua tahun lagi. Begitu umurnya 20 tahun.” “Shit, Man. Mana cukup?” celetuk Bramasta, “cowok kaku kayak lo pasti butuh waktu lama cari cewek. Seleksi inilah, itulah. Terlalu banyak prosedur kayak ujian CPNS.” “Belum lagi pedekate. Trus nunggu jatuh cinta dulu.” Bola mata cokelat di balik kacamata itu terangkat saat berpikir. “Nggak, nggak bisa itu. Terlalu cepat.” Farzan mengurut pelipis yang mulai nyut-nyutan. “Itu yang bikin gue sakit kepala.” Bram mendadak diam. Sepertinya masih memikirkan solusi atas permasalahan yang membelit sahabat karibnya. Wajah pemuda itu perlahan cerah, secerah matahari yang bersinar di belahan dunia sana. “Eh, gampang sih, Zan,” cetusnya semringah. “Gampang apanya?” “Jawaban dari permasalahan lo sekarang ada di dalam flat depan. Tetangga depan lo.” Kening Farzan berkerut bingung. “Lo pura-pura lemot atau emang lemot beneran sih?” ledek Bram. Pria berkacamata itu mengibaskan tangan malas. “Mbak Nadzifa pusing cari calon suami, ‘kan?” Farzan mengangguk. “Lo pusing cari calon istri, ‘kan?” Farzan mengangguk lagi. “Ya udah, klop. Kalian nikah aja. Bikin perjanjian atau apalah namanya, terserah. Yang penting masalah kalian berdua sama-sama teratasi,” usul Bramasta dengan kedua alis naik turun dengan cepat. Farzan melongo mendengar saran dari sahabatnya. Namun, menikah dengan Nadzifa? Hah! Kepalanya bertambah pusing. Bersambung.... Jangan lupa tinggalkan review dan follow akun ini sebelum melanjutkan. Tolong pastikan sudah menyalakan kelima bintang sebelum submit review ya, karena rating akan berkurang jika bintangnya juga berkurang. Hiks. Follow IG @Leena_gie juga yaa ^^
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
ggg
19/03/2025
0ceritamu slalu bikin nagih Thor 😍❤️❤️
16/03/2025
0Best banget gua suka
07/12/2024
0Lihat Semua