logo text

Bab 39 Tunggu Mama Di Surga 1

Sampai dua hari lamannya, aku masih merasa sangat sakit hati dengan apa yang di perbuat Asep. Kiosku tak pernah ku buka, aku pun juga tak ke pasar, malas kalau harus ketemu dengan laki laki ba*****n itu. Malu juga pada kenalan kenalanku disana, yang rata rata tau hubunhanku dengan Asep.
Sungguh tak pernah sebelumnya aku merasa patah hati dan terhina seperti ini, bahkan mengalahkan kasusku dengan Om Justin dulu. Ternyata diselingkuhi itu sakitt banget, mungkin begini juga yang dirasakan Ardi dulu. Mungkinkah ini yang dinamakan karma?.
Kerjaanku seharian hanya berdiam diri dikamar, membuat status status galau di media sosialku. Tak lagi kuhiraukan siapapun yang mengajakku bicara, termasuk Kasih.
Padahal dua hari ini, dia selalu masuk ke kamarku, dan ingin mengajakku bicara, tapi aku tak menghiraukannya, malah membentaknya. Dia juga dua malam ini selalu tidur denganku, meskipun aku hanya mendiamkan nya semalaman, dia tetap tidur sambil memelukku.
Saat waktunya makan pun, dia akan selalu masuk ke dalam kamarku, membawa sepiring nasi untukku, dan memintaku juga untuk menyuapinya. Aku yang memang sedang tak nafsu makan, malah nembentaknya, namun dia tak akan pergi dari kamarku, dia akan tetap makan sendiri disampingku, sambil sesekali mencoba menyuapiku, namun aku tolak.
Heran juga kenapa dia jadi perhatian seperti ini padaku, apa karena dia peka dengan perasaan ku, yang sedang patah hati ini. Atau dia cuma mau menghiburku saja, agar aku kembali ceria lagi. Tak tau lah, yang pasti saat ini aku masih senang menyendiri di kamar ini tanpa gangguan dari siapapun, termasuk Kasih.
****** ******
Semalam, sudah kuputuskan kalau pagi ini, aku akan mulai kepasar. Aku akan menyudahi dukaku karena Asep. Sungguh tak ada gunanya memikirkan dan menangisi laki laki sepertinya. Nanti di pasar aku akan bersikap masa bodoh saja jika bertemu dengan orang orang atau Asep sekalipun.
Saat terbangun, tangan Kasih masih erat memelukku. Maka ketika aku terbangun, dia pun ikut terbangun juga. Senyum manis dihadiahkannya pagi ini untukku.
"Ma, Kasih ikut ke pasar ya. Nanti Kasih bantuin Mama bawa bawa belanjaan deh. Kasih janji tak akan meminta apapun dan tak akan nakal," katanya padaku dengan senyuman dibuat seimut mungkin.
"Ini masih pagi banget lo, kamu bobok lagi saja, nanti capek lho kalau ikut Mama. Hari minggu saja ya kamu Mama ajak,"
"Nggak Ma, Kasih maunya sekarang. Boleh ya Ma"
"Oke deh, ya udah sekarang sana cuci muka dulu sana"
Aku pun akhirnya mengajaknya, tak biasanya dia seperti ini. Biasanya setiap aku berangkat ke pasar dia masih tidur, kalaupun dia sudah bangun, dia tak akan mau kalau ku ajak, males dan dingin katanya.
Kami pun berangkat bersama setelah memakaikan jaket tebal untuk Kasih. Di pasar, seperti dugaan ku banyak kenalan kenalan yang menanyakan hubunganku dengan Asep tapi hanya ku jawab dengan senyum saja. Dan juga kulihat Asep berjualan seperti biasanya. Kami pun tak saling sapa, seperti tak pernah kenal sebelumnya. Sungguh sangat menyesal aku pernah berhubungan dengannya, buang buang waktu dan uang ku saja.
Pagi ini, aku belanja banyak sayuran dan juga bahan untuk membuat gorengan. Bismillah aku akan mulai aktifitas seperti kemarin lagi. Kasih pun terlihat amat senang sekali, dia membantuku membawa belanjaan.
Sesampainya dirumah, Kasih pun membantu menata daganganku. Kemudian dia menungguiku yang sedang memasak aneka gorengan, sambil membantu mengupas pisang dan ubi jalar. Tak biasanya Kasih seperti ini, apa karena kangen ya, karena selama enam bulan ini kan, aku memang sedikit mengabaikannya.
"Ma, kapan ya bisa ketemu Koko lagi, aku kangen banget lho,"
"Belum tau Nak, sekarangkan dia lagi ada diluar negeri. Tapi pasti suatu hari nanti kita berdua akan mengunjungi Koko saat dia pulang ke Indonesia,"
"Nggak bisa ya Ma, kita menemui Kokonya sekarang?"
"Nggak bisa sayang, Koko itu tinggalnya juauhhh banget dari sini. Kalau mau ketemu Koko, kita harua naik pesawat terbang dulu,"
"Oooo begitu. Nanti, kalau Mama bertemu dengan Koko, sampaikan salam ku padanya ya. Bilang kalau aku kangen dan sayang banget sama dia,"
"Loh ya nanti Kakak sampaikan sendiri sama Koko, kan nanti Kakak pasti Mama ajak kalau ketemu Koko," mendengar jawabanku, dia hanya tersenyum menampakkan gigi putihnya.
"Sudah jam tujuh nih, sana kamu mandi dulu, siap siap sekolah, ini gorenganya sudah selesai. Mama juga mau siap siap,"
Dia pun langsung lari kedalam untuk mandi, setelah sebelumnya dia memeluk dan mencium pipiku. Jadi manja banget dia hari ini, tapi aku suka juga.
Aku pun juga membersihkan diri, bersiap siap mengantarnya sekolah, setelah mendandani kasih, aku pun langsung mengeluarkan motor, sementara kasih menungguku di pinggir jalan.
"Kasih, Mama mau masuk dulu ya ambil dompet, jangan main dipinggir jalan Nak, banyak kendaraan lewat lo," teriakku, dan hanya dijawab dengan anggukan olehnya.
Aku pun mencari dimana tadi aku meletakkan dompetku tersebut, ternyata ada dikamar. Ketika aku akan keluar rumah, tiba tiba terdengar suara yang keras dari arah depan rumah, aku jadi langsung ingat dengan Kasih yang dari tadi main si pinggir jalan
BRAKKKKK...
Yang disusul oleh suara jeritan jeritan.
Aku langsung berlari keluar, ibu yang dari tadi di dapur juga segera ikut berhambur keluar, perasaanku tak enak sekali saat itu.
Dan, apa yang kulihat didepan rumahku, membuat seluruh aliran darahku berhenti seketika.
"KASIHHH!!!"
Aku berlari menghampiri anakku yang telak tergeletak bersimbah darah di tengah jalan. Langsung kurengkuh dia, namun dia tak bergerak, darah mengalir deras dari kepala belakang, hidung dan berbagai tubuh lainnya.
Kuhentak hentakkan badanya agar dia terbangun, kutampar pipinya, kuciumi, kupanggil namanya, tapi nihil, kucoba lagi mencubit lengannya, namun Kasih tetap diam dan menutup matanya.
Bapak mendekat, memegang nadi dan meletalkan tangan di depan hidung Kasih.
"Kasih sudah meninggal Nduk, ikhlaskan," ucap bapak sambil mengelus pundakku.
"Tidak, tidak mungkin, dia cuma tertidur saja, bapak pasti bohong, aku akan mengantarnya sekolah sekarang dan nanti kami akan menemui Koko bersama sama, ayo Nak bangun, kita berangkat sekolah sekarang sebelum terlambat,"
Aku masih menangis sambil berusaha menggendongnya. Ibu, bapak dan beberapa tetanggangga mencoba menenangkanku, berusaha menarik ku agar meninggalkan Kasih.
"Kasih, Kasih bangun Nak, ayo kita ke pasar bersama lagi, bangun Nak," teriak ku sambil menangis meraung raung, sebelum akhirnya semua menjadi gelap, dan aku tak ingat apa apa lagi.

Komentar Buku (147)

  • avatar
    Loezee

    ceritanya bagusss....banyak hikmah yg bisa diambil. semangat berkarya buat author

    10/04/2022

      0
  • avatar
    Tri SusilaningsihPatmawati

    aq suka alur ceritanya spt kehidupan nyata banyak masalah yg terjd yg mana kuat menerima dng iklas endingnya pasti tak terduga terasa manis.

    29/12/2021

      4
  • avatar
    Zhahra Syfa

    saya suka bnget 😍😍5 episode terakhir gx kuat nngis 😭😭sedih aplgi pas di pisahkan sama anak" nya 😭😭hati seorang ibu meronta ronta

    23/12/2021

      1
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru